Main Dukun

Main Dukun
Menemui Arka


__ADS_3

"Mas Arka?"


Melati sungguh terkejut melihat Arka, laki-laki yang sudah tiga tahun menemaninya itu kini muncul dengan senyum manis dan wajah menenangkan.


"Biar Mas saja." ucapnya lagi menatap lembut pada Melati.


Melati mencoba fokus pada kantong yang sedang di serahkan Bu Tuti, lalu meninggalkan uang sepuluh ribu di atas meja.


"Terimakasih Bu." Melati berbalik meninggalkan warung Bu Tuti.


"Mel." panggil Arka, terdengar lembut dan merdu.


Sempat berhenti langkah Melati, tapi ingat jika dia harus pulang seperti kata Iyan. 'Jangan kemana-mana kalau tidak terlalu penting, di rumah saja ya.' begitu suara Iyan mengisi kepalannya.


Melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu.


"Mengapa rasanya berbeda ya, dada ku berdegup kencang saat melihat mas Arka." gumam Melati menyandar di pintu yang tertutup.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk.


"Astaghfirullah." Melati terkejut dan semakin menekan pintu rumahnya.


"Assalamualaikum Mel."


Melati mendekatkan telinganya ke daun pintu yang tertutup, memastikan siapa yang memanggilnya.


"Assalamualaikum Mel." ulang suara tersebut.


"Mas Iyan." ucapnya membuat pintu terburu-buru.


"Mel!" panggil Iyan lagi, menautkan alisnya menatap heran wajah sang istri.


Melati memanjangkan lehernya, melihat keluar dan ujung jalan tak ada siapa-siapa.


"Lihat apa?" tanya Iyan heran.


"Tidak ada Mas." jawabnya masih dengan kantong plastik berisi gorengan di tangannya.


"Masuk yuk, Mas beli mangga tadi, sengaja pulang sebentar." Iyan merangkul bahu Melati masuk ke dalam.


"Aku lapar Mas, tapi masih tidak suka nasi." jawab Melati menyandar di bahu Iyan.


"Mas juga mau makan gorengan Bu Tuti." Iyan tersenyum melirik apa yang di bawa Melati.


Melati mengangkat kantong plastiknya lalu meletakkan di atas meja makan.


"Mas buatkan teh ya." Iyan langsung membuat teh untuk mereka berdua.


Tak lama kemudian Iyan duduk dan menemani istrinya makan.


"Tadi ada Mas Arka." ucap Melati pelan, tak mau ada salah paham, apalagi tadi bertemunya di warung Bu Tuti. Sepertinya Arka sengaja ada di sana agar Ibu tukang gosip itu berbicara dan melapor kepada Iyan.


Iyan tersenyum menatap wajah istrinya, tapi kemudian menarik nafas yang mendadak berat.

__ADS_1


"Melati langsung pulang." sambungnya lagi, sambil terus mengunyah makanan. Tingkah polos dan wajahnya yang lemas tak berdaya membuat Iyan gemas sekaligus semakin sayang.


"Ya, kamu memang harus pulang, ingat kalau sekarang kita sudah menikah. Ada anak kita di dalam sini." Iyan mengusap perut Melati yang masih rata.


"Aku tahu Mas." jawabnya meraih teh yang di buatkan Iyan.


"Mas balik kerja ya, jangan lupa nanti dimakan buahnya. Maaf mas tidak sempat mengupas buahnya." Iyan melihat jam di pergelangan tangannya.


"Melati bisa sendiri Mas." jawabnya pelan.


"Mas berangkat." Iyan mengecup pucuk kepala Melati. "Assalamualaikum Sayang."


"Wa'alaikum salam Mas." jawab Melati memandangi wajah Iyan yang tak juga menjauh dari wajahnya.


Sejenak namun terlihat aneh.


"Ada apa Mas?" tanya Melati lagi mengedipkan matanya. Tapi ada ke khawatiran di wajah Iyan saat ini.


"Melati kosongkan pikiran lalu lihat Mas." pinta Iyan lembut.


"Apa?" tanya Melati namun ia menurut.


"Tidak boleh memikirkan siapapun apalagi Arka, dia tidak baik buat kamu Sayang." bisik Iyan menatap dalam pada bola mata Melati.


Melati semakin memperhatikan mata Iyan hingga benar-benar terfokus dan bibirnya sedikit terbuka.


"Kamu istriku, jangan memikirkan Arka, dia tidak baik buat kamu." ulangnya lagi.


Melati mengangguk menatap Iyan penuh damba.


"Iya Mas." jawab Melati sedikit bingung.


Tapi dapat di rasakan jika Iyan sedang khawatir dengan dirinya, terutama dengan adanya Arka.


Iyan kembali bekerja dengan banyak pikiran kali ini, sepeda motornya melaju pelan tapi pikirannya berkeliaran.


"Pulang Yan?" tanya Adi melihat Iyan memarkirkan sepeda motornya.


"Iya sebentar." jawabnya tak bersemangat.


"Kok lemes? Ngambek istrimu?" tanya Adi penasaran.


"Tidak, dia nurut, baik dan menyenangkan." jawab Iyan duduk di mejanya.


"Tapi mukamu kusut begitu." Adi masih penasaran.


"Gimana enggak kusut! Arka menemui Melati di warung depan rumah." jelas Iyan mengusap wajahnya.


"Hah!" Adi tercengang mendengarnya.


"Dan dia datang dengan ilmu yang bikin wanita lemah iman klepek-klepek. Sedangkan Melati baru saja memperbaiki diri, imannya belum sekuat itu." ucap Iyan semakin khawatir.


"Kamu ajak pindah saja itu si Melati." usul Adi mengerti kekhawatiran Arka.

__ADS_1


"Sepertinya begitu, tapi tetap saja Arka bisa menjangkaunya. Mau dibawa kemanapun kalau niatnya orang jahat, nekat pasti ketemu." Iyan semakin bingung.


"Betul kata ustadz Ahmad, kalau mencari istri jangan terlalu cantik." Adi mengingat obrolan mereka ketika beberapa waktu lalu.


"Tidak ada yang ngincer Di, cuma satu itu belum bisa move on." kesal Iyan.


"Ya itu juga maksudnya, bikin pusing, tidak bisa tenang hidupmu." Adi menertawai Iyan.


"Terserah apa katamu, aku lebih suka istri cantik. Capek langsung hilang pas pulang lihat wajahnya." Iyan membalas Iyan.


"Kamu pintar membuatku iri, tapi pas pusingnya aku juga yang diajak. Lagian ribet banget urusan kalian tidak selesai-selesai."


Aku juga maunya selesai Di!" jawab Iyan dengan nafas berat.


"Itu resiko kalau merebut punya orang." gumam Adi.


"Aku suaminya keponakan mu lho!" kesal Iyan lagi.


"Ya sudah, kamu ajak pindah, daripada galau sepanjang hari."


"Bukan solusi."


"Kamu pelet saja istrimu, biar tidak bisa berpikir yang lain-lain." usul Adi semakin membuat Iyan kesal.


"Yang ada istriku bodoh kebanyakan makan pelet." jawab Iyan.


"Ikan saja gemuk kok." Adi malah bercanda.


"Kaya kamu, gemuk doang manis enggak, dagingnya lembek!"


"Asem!"


Adi melempar Iyan dengan kertas, gantian dia kesal mendengar ejekan sahabatnya.


Sore hari kemudian, rasa tak tenang Iyan semakin menggerogoti hatinya, pemuda itu pulang tapi melewati jalan yang sedikit berliku. Tujuannya adalah memergoki Arka sedang nongkrong di tempat biasa dimana banyak pemuda juga di sana. Dia butuh bicara, tak mungkin rasanya hanya berdiam dengan kelancangan Arka menemui Melati istrinya.


Dari kejauhan tampak beberapa pemuda sedang duduk dan mengobrol seperti biasa saat Iyan masih lajang juga seperti itu. Iyan melambatkan laju sepeda motornya, mencari sosok Arka di sana.


"Yan." seseorang menyapa dan melambaikan tangannya.


Iyan berhenti tapi tidak di hadapan orang yang memanggil, melainkan Arka yang duduk paling ujung dengan penampilan barunya.


"Selamat sore Mas." sapa Iyan turun dari motornya, sejak awal ia tak memakai helm.


"Hem, ada apa kau menemuiku setelah merebut kekasihku." jawab Arka membusungkan dada, dia benar-benar sedang menyombong penampilan yang terlihat lebih tampan dari biasanya.


*


*


*


Akhir bulan kita end ya, ...

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komen.


terimakasih....


__ADS_2