
"Mas Arka mengancam ku?" tanya Melati menatap tajam Arka.
"Ya, jika Ibu tahu maka dia akan meminta kita segera menikah?" Arka tersenyum menang.
"Kalau aku menurut maka hasilnya akan sama. Artinya aku tak punya pilihan?" tanya Melati masih dengan tatapan yang sama.
"Ya itu, menurut atau aku akan mengatakan semuanya kepada ibumu." Arka meraih tangan Melati.
"Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi Mas Arka, aku ingin kau mengerti jika percuma saja kita melanjutkan hubungan kita, jika akhirnya tidak bahagia." Melati masih mencoba setenang mungkin.
"Kita bahagia Mel, kita sangat bahagia sebelum datangnya Iyan di dalam hidup kita. Kau menurut sekali padaku, kau sangat mencintaiku. Aku masih ingat betul bagaimana kau menikmati semuanya setiap waktu kita berdua." Arka meraih tangan Melati yang terhalang meja.
"Stop Mas, ini sudah malam lebih baik Mas Arka pulang." Melati semakin pusing dengan sikap Arka, terlebih lagi selalu mengungkit masa lalu. Di tambah lagi dengan mengancam perihal hubungan mereka.
"Aku masih rindu." Arka menatap sayu wajah Melati yang cantik.
"Kalau begitu aku masuk lebih dulu Mas, aku benar-benar mengantuk." Melati tak lagi meninggikan suaranya, mencoba baik-baik berbicara dengan Arka.
"Baiklah, tapi aku akan tetap di sini, aku tidak mau Iyan datang setelah aku." Arka tersenyum sinis.
"Ya, Mas tunggu saja." sedikit tersenyum namun menahan kesal setengah mati.
Melati masuk ke dalam kamarnya, entah tidur atau malah berpikir. Ancaman Arka membuatnya jadi gelisah, membayangkan seperti apa hari-hari selanjutnya.
"Bagaimana jika Mas Arka benar-benar memberi tahu Ibu? Bisa-bisa pernikahanku dengan Mas Iyan benar-benar gagal, terlebih lagi sikap Ibu yang saat ini lebih mendukung Mas Arka." Melati menarik nafas, mencoba membuang sesak di dadanya.
"Sebaiknya memang aku menuruti Mas Arka untuk sementara, tunggu setelah Ibu kembali baik." gumam Melati lagi.
Tentu hal ini tak bisa ia ceritakan kepada siapa saja, termasuk Iyan. Melati benar-benar sedang dilema dengan suasana yang semakin rumit antara Iyan, Arka, Ibu, dan dirinya.
Pagi itu Melati bangun pada pukul Tujuh, gelisah semalaman membuat tubuhnya merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Kerja Mel?" tanya Ibu sambil duduk santai di meja makan.
"Iya Bu." Melati ikut duduk dan sarapan.
"Nanti izin sama Adi, pulang siang seperti kemarin." pinta Ibu sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya. Sepertinya ibu tidak akan pergi ke perkebunan sayur, ia masih santai dan hanya melihat Melati yang sedang sarapan.
"Iya." jawab Melati tak mau bertanya apapun, mungkin sudah ada kabar dari Paman Aryo, begitu pikir Melati.
Melati menghabiskan sarapannya dan kemudian berangkat bekerja. Gadis cantik itu sengaja kembali berjalan kaki walaupun ada dua orang pria yang bersedia mengantar jemput dirinya. Jenuh dengan Arka yang semakin hari semakin berani dan nekat walaupun sudah di tolak, terkadang Melati ingin pergi dari desa itu menjauhi Arka dan semuanya. Tapi kembali lagi ia mengingat seseorang yang membuatnya tak lelah bertahan dan memperjuangan hubungannya, yaitu Iyan.
"Izin pulang cepat? Kamu mau kemana Mel?" tanya Iyan menatap heran kekasihnya.
"Ibu yang minta Mas, paling mau ke rumah Paman Aryo lagi." jawab Melati sudah membawa tas di bahunya.
"Mas Antar ya?" Iyan meraih tangan Melati, wajah tampan Iyan tampak sendu dan membuat Melati ikut merasa sedih.
"Tidak usah Mas." jawab Melati lembut sekali.
"Mas percaya aku?" tanya Melati sungguh ingin membuat Iyan percaya.
"Mas percaya sama kamu, cuma Mas tidak percaya sama Arka. Kamu tahu sendiri dia sangat menginginkan kamu, bahkan tak segan melakukan hal seperti kemarin Mel. Dan aku juga khawatir kamu akan ikut menikmati permainannya. Kalau sudah begitu?"
"Tidak Mas." Melati ingin sekali meyakinkan Iyan, tapi entahlah. Melati takut dia tak akan percaya setelah semua yang di lihat Iyan malam itu.
"Ya sudah, pergilah." Iyan berusaha tersenyum, sekaligus mencoba percaya kepada Melati, dan tetap percaya kepada Allah, kalau jodoh tak akan kemana.
Melati meraih tangan Iyan dan mencium punggungnya sebelum akhirnya berlalu tanpa menoleh lagi.
Iyan tersenyum sedikit, walau hati masih tak tenang, tapi ciuman singkat di punggung tangannya cukup membuat senang.
Sesampainya di rumah, Melati masuk dan masih dengan pemandangan yang sama, sosok laki-laki berkulit putih itu duduk di ruang tamu, sepertinya memang sudah janjian dengan Ibu.
__ADS_1
Melati tak menyapa, bahkan tak ada salam seperti biasa. Langsung menuju kamar dan mengganti baju.
"Sudah makan Mel?" tanya Ibu mengintip di gorden pintu kamar Melati.
"Sudah Bu." jawab Melati tak mau banyak bicara. Selain lelah, juga akan semakin lelah karena ibu yang lebih suka berdebat akhir-akhir ini. Semoga saja ustadz bernama Ahmad itu sudah pulang, dan bisa mengobati ibunya yang semakin hari semakin aneh.
"Kita berangkat, jangan lupa pakai jaket." ibu Nur mengingatkan.
"Tumben?" gumam Melati, biasanya tak seperti itu jika hanya ke kampung Aryo.
Tak lama kemudian Melati sudah siap begitu juga ibunya, tampak memakai jaket dan celana panjang. Melati memperhatikan ibunya dari kepala hingga kaki.
"Ayo berangkat, kamu sama Arka." pinta Ibu Nur menunjuk Arka yang sudah menghidupkan sepeda motornya.
Melati menurut, tak bisa melawan bukan? Dia hanya sendiri, sedangkan Arka dan Ibunya sedang akur.
Arka melaju lebih kencang dari biasanya membuat Melati mau tak mau berpegangan dengan Arka, takut terjatuh tapi juga sibuk berpikir dengan jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumah Aryo.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Melati sambil menoleh ibunya juga sedang mengikuti dari arah belakang.
"Ke rumah orang pintar." jawab Arka sambil tetap fokus dengan laju motornya.
"Orang pintar bagaimana Mas? Kenapa tidak bilang dulu?" kesal Melati merasa di bohongi, terlebih lagi ibunya juga tak menjelaskan apapun.
"Sudah, kamu diam saja." ucap Arka lagi, satu tangannya meraih jari lentik Melati dan membuatnya memeluk perut Arka.
Melati menarik tangannya, namun Arka menahan hingga akhirnya pasrah daripada jatuh berdua di jalanan.
Hampir dua jam, hari sudah menunjukkan pukul 14:00, mereka baru saja tiba di sebuah rumah yang terbilang sangat sederhana dan sepi, di bawah pohon beringin yang rimbun, membuat Melati bergidik melihat sekitarnya.
"Ini rumahnya?" tanya Ibu Nur sedikit heran, jauh berbeda dengan rumah ustadz Ahmad yang terlihat bersih dan nyaman.
__ADS_1
"Iya Bu." Arka meletakkan helmnya di atas motor, kemudian berjalan menuju pintu dan mengetuknya.