Main Dukun

Main Dukun
Menemukan Melati


__ADS_3

"Hanya kau yang bisa menemukan keberadaan istrimu." ucap Aryo menatap Iyan serius.


"Aku akan ke hutan belakang, aku merasa jika Melati ada di sana."


"Aku ikut denganmu." Aryo beranjak bersama Iyan, merak segera pergi ke arah belakang rumah Melati. Hanya beberapa puluh meter saja jarak antara hutan dan rumah itu, meskipun banyak tetangga di kiri dan kanan tapi hutan yang berseberangan itu tampak lebat dan menyeramkan di malam hari.


"Berani sekali dia membawa Melati." ucap Aryo di sela pencarian yang baru akan memasuki hutan.


"Dia tidak sendirian Paman, ada dukun hitam dan anak buahnya yang merupakan makhluk halus." jawab Iyan tampak menajamkan matanya ke kiri dan kanan.


"Itu yang aku takutkan." Aryo menoleh Iyan.


"Ya, terlebih lagi Melati sedang mengandung." jawab Iyan lagi seperti mengerti apa yang sedang dikhawatirkan Aryo.


"Kita harus cepat."


Mereka terus saja memasuki hutan tersebut, namun hak aneh terjadi ketika keduanya masuk semakin jauh.


"Yan." panggil Aryo meminta Iyan berhenti.


Iyan menoleh pamannya yang tampak sedang mengatur nafas kelelahan.


"Kita gak kemana-mana ini, dari tadi muter di pohon ini saja." Aryo menunjuk pohon di depan mereka.


Iyan yang sejak tadi tak menyadari karena terlalu fokus dengan Melati, kini berbalik dan duduk sejenak di dekat Aryo.


"Merokok dulu." Aryo mengeluarkan bungkus rokok dan korek api.


Iyan meraih bungkus rokok dan ikut menyalakan sebatang rokok.


"Coba lihat bintang dan bulan di atas sana." Aryo menunjuk langit di atas kepala mereka.


"Ternyata Paman Aryo romantis juga." canda Iyan di sela nafas yang masih kejar-kejaran.


Aryo terkekeh geli, ternyata menantunya tersebut bisa bercanda juga.


"Ya begitu, kalau mau bikin betah seorang wanita harus bisa romantis, garis miring gombal." ucap Aryo masih terkekeh.


"Jangan hanya gombal Paman, tapi tulus dan serius." Iyan menyahut sambil meniupkan asap rokok di sekitar mereka.


"Ya, itu penting." jawab Aryo berdiri lalu melihat arah jalan kembali.


"Bismillah, semoga tidak kembali ke tempat ini." Iyan ikut berdiri dan melanjutkan perjalanan bersama Aryo.


Di tempat yang berbeda.


Seorang wanita tengah berbaring di atas sebuah batu yang lebar, di kelilingi oleh tiga orang laki-laki tapi yang satunya bukan manusia.

__ADS_1


"Jaga tempat ini, aku tidak mau mereka menemukan Melati." perintah Arka kepada makhluk hitam yang bermata merah itu.


"Gerrrrghhh..."


Makhluk itu mengangguk lalu keluar dari goa tersebut.


Arka memandangi wajah Melati yang tak sadarkan diri, kecantikannya masih sama, tak pudar bahkan bertambah dengan wajah tirus, mungkin sebab hamil muda membuat ia sedikit kurus.


"Kau tidak takut Ki?" tanya Arka kepada laki-laki berumur itu.


"Tak ada yang perlu ditakutkan Arka, hutang memang harus di bayar, bukan malah menghindar." jawabnya tenang menikmati cerutu di atas batu.


"Aku akan menghabisi suaminya." ucap Arka lagi dengan seringai kejam.


"Itu urusanmu, saat pertarungan kita tiba. Aku tak bisa berbuat apa-apa jika sudah berhadapan dengan Dimas Mahendra.


Tak berapa lama kemudian, suara teriakan dari berbagai arah terdengar hingga ke goa tersebut, tampak cahaya-cahaya kecil kelap-kelip di seberang mereka berdiri.


"Cepat atau lambat mereka akan menemukan kita." ucap Aki Juno.


"Aku belum selesai Ki, Melati harus meminum air dari jampi dan semedi ku. Aku harap kau bisa menahan mereka."


***


Sementara di luar goa tersebut, Iyan dan Aryo sudah tiba dan berdiri mengamati tempat yang tampak rata seperti semak biasa.


"Aku merasa ada orang di sini Paman." ucap Iyan menajamkan mata dan pendengarnya.


Aryo melangkah perlahan.


"Aduh." Aryo meringis ketika kakinya membentur sesuatu tapi tak terlihat.


Iyan mengarahkan telapak tangannya hingga mengeluarkan angin yang berputar seperti saat ia bertarung dengan Arka. Membuat daun bertaburan lepas dari tangkainya, juga semak yang bergoyang tampak menyibak dan memperlihatkan jalan masuk menuju goa.


"Goa Yan, masuk!" Aryo melompat mendahului Iyan namun langkahnya terhenti ketika sosok hitam bermata merah menghadang.


Iyan maju di depan Aryo, menatap mata merah itu dengan tajam.


"Kita bertemu lagi." ucap Iyan langsung menyerang lebih dulu.


Tentu saja itu bukan Iyan yang seperti hari-hari biasanya, pemuda yang tak kan memukul duluan jika dia tidak di serang. Tapi kini rasanya Melati tak bisa menunggu terlalu lama, Iyan merasa Melati sedang butuh pertolongannya.


Gerakan lincah dan mematikan membuat Aryo terkagum dengan mata terbuka lebar. Tak menyangka jika menantunya itu sungguh hebat saat berkelahi, tapi sangat lembut dan sopan ketika berhadapan dengan mertua, terlebih lagi istri.


"Arrggghhh...." suara makhluk itu menggelegar ketika satu pukulan maut Iyan mengenai wajahnya.


"Menyingkir atau mati." gumam Iyan mengancam makhluk itu..

__ADS_1


Namun tak di dengar olehnya, makhluk itu kembali menyerang dengan lebih buas lagi.


"Yan!"


Aryo berteriak ketika tubuh Iyan terpental terkena tendangan makhluk tersebut.


Iyan kembali bangkit dan dan melesat lebih cepat, tangan pemuda yang tampak halus itu mendadak kuat dan mencengkeram dada makhluk seram itu, memukul dan mendorong hingga menghantam di dinding goa.


Cleegarrrr.


Terdengar sangat keras benturan tubuh besar itu seperti meledak.


Perlahan Iyan melepaskan tangannya dari tubuh yang lemas tak berdaya itu. Jika tak mati, maka dapat dipastikan makhluk itu pingsan atau sekarat.


Aryo kembali melangkah menuju mulut goa bersama Iyan.


Dan keanehan kembali terjadi di bibir goa itu seperti transparan tapi memantul ketika akan melewatinya.


"Kita harus bagaimana?" tanya Aryo bingung, terlebih lagi ia yakin jika di dalam sana ada Melati.


"Minggir Paman." Iyan mundur beberapa langkah mencoba mendobrak pintu tak kasat mata tersebut.


"Tak bantu Yan." Aryo mengambil batang kayu roboh dan mengarahkan ke pintu tersebut.


Tak seperti yang di bayangkan malah Aryo terpental jauh.


"Paman." Iyan menoleh Pamannya.


"Teruskan saja, dia ada di dalam." ucap Aryo yakin, saat pintu itu itu memantul, ada bayangan Melati ikut terlihat dalam pantulan seperti kaca.


Iyan kembali menyerang hingga berkali-kali, dan terkahir Iyan mengerahkan seluruh tenaganya.


Blarrr!


Pintu transparan itu pecah sendiri.


Iyan menatap terkejut, namun akhirnya ia menyadari jika saat ini mereka tidak hanya berdua.


"Masuklah, istrimu dalam bahaya." perintah laki-laki gagah itu dengan tersenyum.


Pakaiannya tak seperti orang desa pada umumnya, memakai celana tapi juga sarung yang bagus, wajahnya bersih dan tampan.


"Cepat!" perintahnya lagi tak ingin Iyan menunda.


Tanpa berpikir lagi Iyan masuk dan segera mencari keberadaan Melati.


"Mel!" teriak Iyan tak sabar.

__ADS_1


Hanya suara memantul namun kemudian ada pergerakan dari arah sebelah kiri.


Sosok laki-laki berbaju hitam itu memukul punggung Iyan, sehingga ia tersungkur di lantai goa yang lembab.


__ADS_2