
Pagi-pagi sekali Iyan pulang dengan tubuh lemas, wajahnya pucat dan butuh ditopang bahunya agar bisa masuk ke rumah orang tua Iyan Rahendra.
"Kamu kenapa Yan?" Angga keluar dari kamarnya dengan wajah khawatir.
Iyan tak menjawab, sulit baginya menjelaskan bagaimana kejadian semalam, hingga membuat Iyan terluka.
"Baringkan di sini." Ayah dan ibunya membentang kasur yang biasa dipakai Iyan untuk menonton tv.
"Maaf Bu, gara-gara keponakan ku Iyan jadi seperti ini." Adi duduk di samping Iyan dan menunduk.
Ayah Iyan ikut duduk di samping Iyan. "Kau berkelahi dengan siapa?"
"Arka Pak, dia memukulku dengan sangat cepat. Aku tidak bisa melihat seperti apa tangannya bergerak." jawab Iyan sambil memegang dadanya.
"Kamu obati adikmu." perintah Pak Yanto kepada Angga.
"Iya Pak." Angga membantu Iyan duduk memunggunginya.
"Serius Mas?" Iyan menoleh Angga yang mulai duduk bersila di belakangnya.
"Ya iya, kok tanya serius. Bukan cuma kamu saja yang punya kekuatan yang aneh, aku juga." Angga meminta Iyan menghadap lurus ke depan.
"Soalnya aku tidak yakin Mas." Iyan kembali menoleh.
"Mau sembuh tidak?" Angga menjadi kesal dengan adiknya yang terlalu banyak bicara.
"Mau Mas!" jawab Iyan duduk menghadap lurus ke depan.
"Kalau tidak diobatin kamu ga jadi nikah ini." Angga masih mengoceh.
"Melati sudah membatalkannya." Jawab Iyan sendu.
"Kan terpaksa?" jawab Angga membuat adiknya semakin menoleh bahkan berbalik kali ini.
"Mas tahu darimana?" tanya Iyan menatap Angga dengan penuh selidik.
"Mau sembuh tidak?" Angga semakin kesal.
"Iya Mas." Iyan menurut, dia harus membuang rasa penasarannya terhadap Angga. Untuk saat ini kesembuhannya yang paling penting.
Angga mulai menempelkan dua telapak tangannya di punggung Iyan, mata keduanya terpejam hingga beberapa saat. Hingga kemudian dada Iyan terasa kembali sesak dan merasa mual.
Iyan kembali memuntahkan darah, tapi bukan darah segar seperti sebelumnya melainkan darah yang sudah hitam membeku.
__ADS_1
"Minum Nak." Ibunya memberikan gelas bening berisi air hangat kepada Iyan.
Adi meraihnya dari tangan Ibu, kemudian membantu Iyan untuk meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Adi setelah Iyan meneguk setengah gelas air putih.
"Lebih baik." jawab Iyan menarik nafas lega, sementara Angga sudah menurunkan tangannya dan beralih posisi tidur di kasur Iyan.
"Alhamdulillah." Adi ikut merasa lega.
"Terimakasih ya Mas, ternyata Mas Angga hebat." puji Iyan menoleh saudaranya yang sedang kelelahan.
"Duit-duit." jawab Angga sedikit bercanda.
"Tidak ada Mas, sudah ku berikan sama Paman Aryo, buat nikah." Iyan tertawa.
"Ya sudah, istirahat saja sebentar. Jam 9:00 kan rencananya?" Angga meletakkan bantal di sebelah ia berbaring.
"Tapi Melati sudah _"
"Assalamualaikum." suara lembut seorang wanita membuat semua orang yang ada di dalam menoleh ke arah pintu.
"Wa'alaikum salam." jawab semuanya merasa kenal dengan siapa yang datang.
"Maaf, Melati mengganggu." ucapnya berdiri di depan pintu, tangannya bertaut karena merasa takut.
"Sini masuk." ucap Ibu tersenyum ramah.
Melati melangkah pelan dengan wajah masih menunduk. "Maaf Bu, gara-gara Melati Mas Iyan jadi terluka." ucap Melati pelan.
"Dia sudah sembuh." Angga menyahut, pria itu tersenyum melihat Melati duduk di dekat Ibu.
"Itu Mas Angga, kakak tertua Iyan. Yang kedua masih di Kalimantan." jelas Ibu kepada Melati.
"Oh." Melati mengangguk dan tersenyum sopan kepada Angga.
"Mengapa ke sini? Ibu sama siapa?" tanya Iyan kepada Melati yang masih terlihat khawatir, wajah cantik dan halusnya semakin menggemaskan tanpa polesan.
"Khawatir dengan Mas Iyan." jawabnya jujur, membuat Pak Yanto yang sejak tadi diam ikut tersenyum.
"Sama aku tidak khawatir, Mas Angga lemes ini." Angga menggoda Melati, sengaja membuat Iyan kesal.
"Apa sih Mas?" Iyan menyikut lengan Angga yang menempel padanya.
__ADS_1
"Habisnya calon istrimu cantik, kalau kamu tidak mau menikahinya biar aku saja." Angga melirik Melati yang semakin menunduk malu menyembunyikan wajahnya.
"Enak saja, aku yang berjuang Mas Angga yang petik hasilnya." Iyan beranjak dari kasur tipis itu, menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Melati mau lanjut atau benar-benar batal?" tanya Ibu penasaran.
"Aku tidak tahu Bu, aku tidak mau menyusahkan Mas Iyan lagi. Gara-gara aku Mas Iyan terluka parah, dan Mas Arka tak akan menyerah." Melati berbicara dengan matanya berkaca-kaca, membuat Ibu merasa sangat kasihan kepada Melati.
"Kasihan kamu Nduk (Nak)." Ibu mengusap pundak Melati penuh kasih sayang.
Ibu jelas tahu persis permasalah sebenarnya, tak hanya berhubungan dengan Melati, tapi kisah cinta masa lalu juga ikut andil di sini. Belum lagi wajah Melati yang menurut ibu sangat cantik, sama seperti ibu Iyan saat itu, dia sangat cantik melampaui anak gadis pada umumnya. Dan karena kecantikannya itulah sehingga mengundang petaka.
Iyan sudah keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat segar dan tampan, terlebih lagi rambutnya yang rapi habis di pangkas kemarin sore membuat dia semakin sempurna di mata Melati.
"Mas mau bicara sebentar." Iyan berbicara kepada Melati, matanya mengisyaratkan untuk ikut keruangan belakang.
Ibu mengangguk, mereka memang perlu bicara sebelum menentukan keputusan.
"Permisi ya Bu, Bapak." Melati meminta izin, kemudian beranjak mengikuti Iyan.
Iyan melonggarkan kursi di meja makan, meminta Melati duduk dekat dengannya.
"Ada apa Mas?" tanya Melati seraya duduk di kursi di dekat Iyan.
"Waktunya tidak banyak." Iyan meraih tangan Melati dan menggenggamnya.
"Iya Mas." Melati paham, maksud Iyan adalah jam yang sudah menunjuk pukul tujuh, sedangkan rencana pernikahan mereka dua jam lagi.
"Apakah setelah tahu Mas juga punya kemampuan aneh ini Melati masih bersedia menikah?" tanya Iyan menatap kedua bola mata Melati.
Melati tak menjawab, hanya sorot matanya berbicara bahwa dia sungguh ingin bersama Iyan.
"Kalau Melati tanya balik, tentu jawabannya adalah... Mas ingin kita tetap menikah. Mas tidak mau kehilangan kamu, Mas tidak rela melihatmu memilih laki-laki lain. Mas tidak bisa membayangkan itu, apalagi jika kamu kembali bersama Arka, Mas tidak rela."
"Tapi Mas, dia tidak akan tinggal diam. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Melati menatap sendu wajah tampan Iyan.
"Bagaimana kalau aku menikahi gadis lain, apakah kamu rela?" Iyan semakin mendekati wajah Melati.
Gadis itu menggeleng, membayangkannya saja dia tak mampu, bagaimana jika itu menjadi nyata? Rasanya Melati bisa gila.
"Aku tidak mau." jawab Melati halus sekali.
"Kalau begitu kamu bersiap, berdandan yang cantik dan jangan memikirkan apapun. Paman Aryo sudah menunggu kita." Iyan menyibak rambut Melati lembut dan mesra.
__ADS_1
"Mas yakin?" tanya Melati lagi.
"Ya, Mas sangat yakin."