
“Aku jadi berpikir, apa yang membuatmu berakhir menjadi budak?”
“Saya adalah putri seorang—“
Setetes air dengan bulir yang besar jatuh tepat di atas kepala Kiara, lalu sedetik kemudian rintik hujan semakin deras.
“Hujan! Kita harus segera mencari tempat berlindung!” Kiara membuka kedua tangannya, mengetes intensitas hujan yang turun. “Tuan! Kenapa anda diam saja? Saya tahu anda tidak bisa mati karena hujan, tapi setidaknya bantu saya cari tempat berlindung.”
“Tempat berlindung itu ada di punggungmu.”
“Ah! Saya lupa!” Kiara segera menurunkan barang bawaannya dari punggung dan mengeluarkannya. Dia kelihatan bingung memasang tenda itu. “Tuan, bisakah anda membantu saya?”
“Kamu tidak pernah mendirikan tenda sebelumnya?” gerutu Ansel yang masih duduk di atas kudanya. Tidak ada tanda-tanda dia akan membantu.
Kiara menggelengkan kepalanya dan wajahnya penuh dengan harapan bahwa Ansel akan membantunya mendirikan tenda itu.
Akhirnya Ansel turun dari kudanya dan mendirikan tenda dengan cepat. Saat tenda itu selesai didirikan, hujan sudah semakin deras dengan angin menerpa kencang. Pulau yang selalu diselimuti badai ini seakan sedang mengamuk.
Pakaian Kiara basah. Meskipun Ansel menyuruhnya untuk tidak memakai pakaian pelayan, dia tetap tidak menggantinya.
__ADS_1
“Tuan, anda mau kemana? tanya Kiara saat Ansel hendak keluar dari tenda.
“Aku mau pergi berburu.” Hanya itu jawaban Ansel sebelum dia pergi dari hadapan Kiara.
Mengangkat bahunya ke atas, Kiara mencari posisi nyaman dan membuka bekal makanannya. Ada beberapa roti dan minuman yang dia ambil dari dapur untuk dirinya sendiri.
Tidak beberapa lama setelah Kiara selesai makan dan perutnya terisi, Ansel kembali masuk ke dalam tenda dengan mantel super basah dari hujan di luar sana.
Ansel menyeka wajahnya dengan tangannya sendiri. Dia kelihatan sebal seperti vampir yang tidak menghi*sap darah selama berhari-hari.
“Apa yang terjadi, Tuan?”
Kiara melebarkan mata bulatnya. Dia dari tadi duduk manis di sini, tidak mengganggu siapapun. “Salah saya?”
“Ya, karena kamu berjalan begitu lambat seperti keong.” Ansel bergerak ke sisi ujung tenda. “Lalu aku harus mendirikan tenda untukmu. Alhasil, aku tidak mendapatkan buruan sama sekali!”
Kiara berdiri, tidak terima kalau amarah Ansel ditujukan padanya. “Pertama, aku sudah menolak ketika kamu mengajakku ke hutan untuk berburu. Kedua, kamu senang melihatku berjalan dan kelelahan, benar bukan? Kalau saja kamu menawarkanku seekor kuda, mungkin kita bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat! Jangan salahkan aku!”
***
__ADS_1
Untuk sesaat, Ansel tertegun dengan sikap Kiara. Baru kali ini dia temui budak seberani Kiara.
Kehadiran Kiara benar-benar menguji kesabaran Ansel. Manik mata biru yang tahu terlalu banyak, bibir ranum yang selalu membalas perkataannya, tenggorokan yang bergerak saat dia menelan ludahnya…
Tatapannya turun ke arah dada Kiara yang bergerak naik dan turun dengan cepat. Walaupun sudah bergerak ke ujung tenda, sejauh mungkin dari wanita itu, Ansel bisa mendengar degup jantung Kiara yang berdetak cepat.
Kesabaran Ansel semakin menipis.
“Kenapa kamu mendadak bisu? Terlalu lapar hingga tidak punya tenaga untuk berbicara??” pancing Kiara lagi.
Mendengar kata bisu membuat Ansel teringat dengan ibunya. Dengan cepat, dia mengontrol emosinya.
“Diam sebelum kamu kutendang keluar.”
Kiara membuka mulutnya, namun berpikir dua kali ketika tatapan tajam itu untuk sedetik berubah warna menjadi merah.
Dia kembali duduk sambil memeluk kedua kakinya. Mereka berada di tenda yang sama, saling diam dan mendengar suara badai yang semakin kencang.
Ansel dapat melihat Kiara menyembunyikan kedua tangannya dalam lengan pakaian panjang itu. Tubuh kecilnya gemetaran dan bibirnya membiru.
__ADS_1
“Kamu kedinginan?”