
Setelah amukan badai reda tiga hari setelahnya, Dimitri tidak mengulur waktu untuk segera berlayar menuju kerajaan Navarre. Dia menyewa satu kapal besar sehingga mereka tidak berdesakan dengan penumpang lainnya.
“Lihat! Kita sudah mau sampai!” seru Chloe sambil menunjuk ke ujung lautan.
Draven yang sibuk mengelus punggung Adreana karena pacarnya itu mabuk laut, langsung bangkit berdiri.
Adreana mengangkat kepalanya untuk melihat Draven dan bertanya pelan, “Benarkah?”
Ternyata vampir juga bisa mabuk laut! Wajah Adreana sungguh pucat.
“Sekitar 10 menit lagi kita sampai ke daratan. Sabar sebentar lagi, sayang.” Draven tersenyum dan mengelus kepalanya.
“Sabar, Adreana. Sebentar lagi kita bisa bertemu dengan Dwayne. Ngomong-ngomong, Dimitri dimana?”
Draven mengangkat bahunya dan menunjuk dengan ibu jarinya ke arah pintu kabin kapal. “Dia masih di dalam kabin bersama Edric. Main kartu mungkin.”
“Oh, kenapa kamu tidak ikut dengannya, Draven?” Chloe menyelipkan rambutnya yang beterbangan diterpa angin kencang ke belakang telinganya.
Dia masih belum merasa nyaman dengan kehadiran Draven dan Adreana karena dia sama sekali tidak ingat pernah berteman dengan dua orang itu. Terlebih lagi Adreana. Chloe punya firasat kalau mereka tidak terlalu akrab dulunya.
“Aku cowok yang setia pada kekasihku, Chloe. Tidak mungkin aku meninggalkan Adreana sendirian dan pergi bermain kartu. Aku bukan cowok seperti itu.”
Chloe tersenyum melihat sepasang kekasih itu. Sepertinya Adreana tidak marah lagi sejak Draven menyelamatkan dia di Penjara Noxus. Ah, hubungan Chloe dan Dimitri sendiri juga semakin erat.
Dia memalingkan wajahnya ke lautan lagi untuk menyembunyikan ekspresinya dari dua orang itu, tersipu malu ketika dia mengingat apa yang Dimitri lakukan selama menunggu badai reda.
Sementara itu, di dalam kapal tampak Dimitri dan Edric duduk berhadapan dengan wajah tegang. Dua gelas anggur berada di atas meja, namun mereka bukan bermain kartu seperti dugaan Draven.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya? Sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini semua dari Chloe? Dia berhak tau kalau Dwayne adalah anaknya.”
Dimitri menuangkan anggur ke gelas Edric. “Aku memang sengaja menunggu sampai mereka bertemu. Jika ingatan Chloe tidak kembali, maka aku akan menjelaskannya. Tapi kalau begitu dia melihat Dwayne dan ingatannya pulih…,”
Dimitri bahkan tidak tau apa yang akan terjadi kalau Chloe mengingat semuanya.
Edric menggenggam erat gelas anggurnya. “Kalau dia tidak ingat, apa penjelasanmu itu juga termasuk bagaimana perlakuanmu padanya?”
Dimitri mengangkat satu alisnya ke atas, “Perlakuan seperti apa?”
__ADS_1
Edric tidak pernah tau kalau Dimitri pernah melarang Chloe melihat wajah anaknya sendiri, menghapus ingatannya dan mengasingkannya di Ivy Cottage.
“Aku tau pasti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian! Kalau tidak, bagaimana Chloe bisa melupakan semua ingatan tentang kamu dan anaknya sendiri. Kamu sendiri tega mencambuknya, jadi aku tidak ragu kalau kamu tega melakukan hal yang lebih gila lagi!”
Dimitri mengeraskan rahangnya. “Semua yang aku lakukan pasti ada alasannya, Edric.”
“Kamu benar-benar!” Edric bangkit berdiri, hendak mencabik pria yang duduk di depannya.
“Pikir, Edric. Chloe dan aku memang ditakdirkan untuk bersama. Bahkan setelah dia lupa semuanya dan bertemu denganku, dia jatuh ke pelukanku lagi.”
“Itu karena dia belum ingat semuanya!” Edric merutuk, kenapa harus anaknya yang ditakdirkan dengan Dimitri?
Dimitri meneguk anggurnya, “Kita akan lihat bagaimana dia bereaksi setelah melihat Dwayne. Tapi jangan lupa, Edric, kalau kamu berencana untuk menghasut atau memisahkan Chloe dariku, siapa yang akan lebih tersakiti?”
Edric terduduk kembali dengan lemas, “Dwayne…”
Dimitri memegang kartu AS. Dia sulit untuk dikalahkan. Anak kecil itu sangat lengket dengan papanya. Kalaupun Edric berusaha merebut Dwayne dan mengembalikannya pada Chloe, tetap saja Dwayne akan kehilangan sosok seorang ayah. Begitu juga sebaliknya.
“Kamu mengerti, Edric? Berikan Dwayne keluarga yang lengkap. Aku akan membuat mereka berdua bahagia.”
Edric hanya diam menatap isi gelas anggurnya.
“Apa aku mendapatkan restumu sekarang?”
Nahkoda sudah melabuhkan kapalnya ke pelabuhan Navarre yang sangat ramai dan sibuk dengan aktivitas bisnisnya.
Banyak yang menatap kelima orang itu karena sangat jarang ada tamu yang datang ke kerajaan kecil mereka, apalagi tamu yang berpakaian mewah. Beberapa awak kapal ikut menurunkan koper dan barang angkutan mereka.
“Kami mau membeli semua kudamu yang tersedia di sini.” Dimitri menunjuk pada dua ekor kuda coklat yang terikat.
Mata penjual kuda itu langsung bersinar, “Baik, tuan, dua ekor kuda sehat ini seharga 500 perak satu ekornya. Kalian dari Kerajaan Rudolmuv, benar?”
“Aku butuh tiga lagi.” Dimitri mengeluarkan kantong uangnya.
Penjual kuda berbadan gempal itu menggelengkan kepalanya. “Maaf, hanya tersisa dua ekor saja. Tidak banyak turis datang semenjak negara kita berperang. Puluhan kuda yang kubesarkan juga dirampas untuk kendaraan prajurit.”
Hati Chloe meringis, “Jadi, bagaimana dengan kehidupan kalian sekarang setelah perang usai?”
“Pelan-pelan kehidupan sudah membaik sejak Pangeran Lewis, anak kedua Raja Navarre, naik tahta menggantikan saudaranya. Barang rampasan dari rakyat juga dia tebus. Banyak yang senang dengan cara kerja Pangeran—Raja Lewis sekarang.”
“Oh begitu… Karena ini pelabuhan kecil, mungkin kamu empat hari yang lalu ada melihat seorang anak berumur sekitar dua setengah tahun turun dari kapal terakhir sebelum badai menerpa?”
__ADS_1
Pria itu menggaruk kepalanya dan mengernyitkan dahinya. Dia berpikir beberapa saat lalu matanya membesar. “Oh ya!! Aku ingat seorang anak kecil berambut hitam seperti tuan ini. Dia digandeng seorang wanita.”
Dimitri menyela dengan cepat, “Bagaimana ciri-ciri wanita itu?”
“Dia bertubuh gempal, memakai topi renda berwarna hitam dan lipstik merah yang tebal. Hanya itu yang dapat aku ingat, tuan.”
Chloe menatap Dimitri, “Apa kamu tau siapa wanita itu?”
“Tidak. Pasti cuma utusan yang berada di bawah pengaruh Nelson. Kita harus segera pergi ke Istana Navarre. Apakah ada penjual kuda yang lain disini?”
“Maaf, hanya saya penjual kuda di pelabuhan ini, tuan.”
“Itu ada satu kuda lagi.” Dimitri menunjuk pada seekor kuda yang terikat agak jauh, dipisah dari kawanannya.
“Itu kuda saya, tuan. Tidak untuk dijual.”
“Aku akan membayar dua kali lipat.”
Pria itu menimbang-nimbang beberapa saat. Antara mendapat untung dan pulang dengan berjalan kaki atau tidak.
Akhirnya dia berkata, “Baik. 1000 perak untuk kuda saya. Jadi totalnya 2000 perak, tuan.”
Pria itu dengan senang hati menerima koin demi koin yang dikeluarkan Dimitri. Dia mengucapkan terima kasih tanpa henti. Bersyukur karena hari ini jualannya laris manis.
Draven dan Adreana menunggangi kuda yang sama, Edric mendapat kudanya sendiri dengan barang bawaan mereka di belakangnya, sedangkan Dimitri bersama Chloe.
“Selamat jalan, tuan dan nona! Semoga perjalanan anda menyenangkan!” seru penjual kuda itu.
Langkah kaki tiga ekor kuda berderap pergi meninggalkan pelabuhan menuju Istana Navarre. Dimitri memacu kudanya lebih cepat lagi, dengan Chloe duduk di depannya.
Dwayne, papa datang! Akhirnya kamu bisa melihat mamamu.
...----------------...
Karena masih banyak yang bingung dengan kekuatan Chloe, jadi bisa simak penjelasannya ini ya\~
Kekuatan teleportasi Chloe nggak bisa digunakan kalau dia belum pernah melihat tempat tujuan itu sebelumnya. Belum bisa menempuh jarak yang jauh juga untuk saat ini karena dia baru berumur 2 setengah tahun (umur vampir)
Setelah umurnya semakin bertambah dan kemampuannya terasah, dia bisa menempuh jarak yang jauh seperti pertama kali dia berubah (tidak sadar menggunakan kekuatannya sendiri untuk pergi jauh)
__ADS_1