
“Kamu dari mana saja? Aku pikir akan kembali ke sini untuk melihatmu bersama Dwayne.”
“Itu karena Raja Lewis memanggilku ke bawah,” ucap Chloe sambil menepuk-nepuk punggung anaknya. “Apa caraku menggendong anak sudah benar?”
Chloe tidak pernah menggendong anak kecil sebelumnya. Dia hanya mempraktekkan apa yang dia lihat dari Dimitri. Dia berjalan ke cermin besar yang tertempel di dinding dan melihat dirinya sendiri dari atas kepala sampai bawah kaki sambil menggendong Dwayne.
Dwayne menunjuk ke arah kaca, “Dwayne… Mama…”
Saat Dimitri berdiri di samping mereka, Dwayne kembali menunjuk dan berkata, “Papa.”
Dimitri menc*ium kepala anaknya lalu kening Chloe. “Kita akan hidup bahagia bertiga selamanya.”
“Dimitri, nanti malam setelah Dwayne tidur, aku ingin kamu menceritakan semuanya padaku. Dari awal pertemuan kita sampai bagaimana aku bisa melahirkan Dwayne ke dunia.”
Dimitri menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat dibaca Chloe. Dia mengangguk pelan, “Baiklah. Mungkin dengan aku menceritakan semuanya, kamu akan ingat.”
*
*
*
Setelah menemani Dwayne makan di kamar, Chloe bersiap-siap dengan mengganti bajunya, meskipun terlalu sederhana untuk acara jamuan makan malam dengan seorang raja. Namun tidak ada pilihan lain lagi. Rencana awal mereka datang kesini hanya untuk menjemput Dwayne, jadi Chloe hanya mengemas pakaian yang nyaman untuk bepergian.
“Mama sangat cantik. Dwayne juga mau ikut, ma.” Dwayne memeluk kaki Chloe.
Dimitri yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menarik anaknya menjauh. “Nanti baju mama kusut, peanut. Mama dan papa mau pergi makan malam dengan raja sebentar saja.”
“Tidak apa-apa, Dimitri.” Chloe berlutut di lantai, tidak mempedulikan bajunya. “Dwayne, setelah selesai makan, mama langsung naik ke atas ya. Untuk sekarang Dwayne sama kak Fiona main-main dulu.”
Suara pintu diketuk terdengar dan Dimitri bergegas membukanya. Pelayan muda itu berumur panjang karena baru saja namanya disebut, orangnya sudah muncul.
“Fiona, tolong jaga Dwayne sebentar ya.”
“Dengan senang hati, nona.” Fiona menggendong Dwayne yang tidak menangis meskipun ditinggal pergi. Anak itu sudah terbiasa dijaga oleh Fiona selama beberapa hari ini.
Dengan berat hati, Chloe menutup pintu kamarnya setelah Dwayne melambaikan tangan ke arah mereka.
“Kamu terlihat menawan, calon istriku.” Dimitri mengedipkan sebelah matanya.
Chloe tertawa, “Aku hanya memakai pakaian biasa, kamu terlalu memuji, calon suamiku.”
Chloe memegang lengan kiri yang disodorkan Dimitri. “Aku ingin cepat-cepat selesai makan dan kembali di sisi Dwayne. Kamu pernah bilang kalau Dwayne lahir sepertiku. Apa kekuatannya sudah terlihat?”
__ADS_1
Mereka berjalan turun menuju ruang makan istana.
“Tentu saja dia sudah memiliki kekuatan karena lahir dari rahimmu saat kamu masih seorang manusia, Chloe. Bahkan kekuatannya sudah terlihat begitu dia lahir.”
“Oh ya? Kalau begitu apa kekuatan anak kita?” Chloe tersenyum. Memikirkan kemungkinan anaknya juga memiliki kekuatan teleportasi.
“Untuk saat ini, kekuatannya yang paling mencolok adalah dia bisa membuat orang lain jatuh hati padanya. Kekuatan ini termasuk dalam kekuatan proteksi, yaitu melindungi diri sendiri.”
“Pantas saja Nelson tidak mencelakakan Dwayne….”
Chloe berpikir mungkin dia juga langsung bisa menerima kenyataan bahwa dia pernah melahirkan seorang anak ke dunia karena terpengaruh dengan kekuatan dari Dwayne, membuatnya sangat tenang. Tapi Chloe tidak menyuarakan hal itu di hadapan Dimitri.
Di dalam ruang makan istana, semuanya telah berkumpul kecuali Raja Nelson.
“Hei, pasangan yang sedang kasmaran.” Draven menepuk bahu Dimitri dengan seringainya, “Aku ucapin selamat dulu ya untuk pernikahan kalian besok.”
“Thanks, Draven.”
“Draven, kamu kapan menyusul? Jangan biarkan Adreana menunggu terlalu lama atau dia bakal meninggalkanmu lagi.” Chloe mengedipkan matanya ke arah Adreana.
Draven tertawa seperti baru saja mendengar lelucon. “Kalau begitu kita menikah massal saja besok.”
Draven mengambil tangan Adreana dan mengec*up punggungnya, “Fine. Semua yang kamu mau akan kukabulkan. Hanya saja kamu harus berjanji, setelah menjadi istriku, kamu tidak boleh lari lagi.”
“Aku lari karena siapa? Ya karena kamu, Draven!” desis Adreana yang tidak suka diingatkan dengan kesalahannya yang membuat kekacauan ini semua.
“RAJA LEWIS AKAN MEMASUKI RUANGAN.”
Pintu terbuka dan mereka semua berdiri untuk menyambut kedatangan Raja Lewis.
“Selamat malam, semuanya. Aku sangat senang karena kalian semua bersedia hadir di sini. Silahkan duduk.”
Beberapa pelayan memasuki ruangan dengan membawa makanan pembuka yang khas dengan Kerajaan Navarre.
“Bagaimana? Apakah kalian suka dengan rasa masakan koki istana?” tanya Jerrick.
“Ya, ini sangat enak dan disajikan begitu unik,” jawab Edric sambil menikmati Smoked Salmonnya yang hampir habis.
“Bagaimana, Nona Eliza? Apakah makanan ini cocok dengan lidahmu?”
Chloe duduk di samping sebelah kiri Lewis, sedangkan Adreana di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Aku setuju dengan Edric, Yang Mulia. Walaupun aku tidak terlalu gemar makan seafood.”
Aku lebih suka berburu makananku sendiri daripada disajikan pelayan. Aku lebih suka darah segar hewan daripada bangkai hewan yang sudah mati, lalu dimasak lagi.
“Kalau begitu, apa makanan kesukaanmu, nona Eliza?”
Chloe melirik Adreana yang secara terang-terangan tidak diikutkan dalam pembicaraan. Empat pria lainnya sibuk membicarakan politik dengan penasihat raja Lewis.
“Oh, aku lebih suka makanan sederhana seperti umbi-umbian. Bagaimana dengan kamu, Adreana?”
Adreana menurunkan gelas champagne-nya. “Kalau aku tentu saja lebih suka hewan yang berkaki empat.”
Raja Lewis tertawa. “Hewan berkaki empat? Maksudmu seperti daging sapi? Cara yang lucu untuk mengatakannya.”
“Mungkin Yang Mulia akan lebih terkejut lagi kalau tau sebenarnya aku lebih suka darah manusia. Chloe juga sama.”
Chloe mendelik dan menggerakkan bibirnya tanpa suara, “Adreana!”
“Chloe? Maksudmu Nona Eliza?” tanya Raja Lewis bingung, memandang kedua wanita di sampingnya.
“Maaf, Yang Mulia. Biasanya saya dipanggil Chloe.”
“Kalau begitu mulai sekarang aku juga akan memanggilmu Chloe, nona. Apakah kamu keberatan?”
Pelayan-pelayan mulai mengangkat piring kosong mereka untuk menyajikan makanan berikutnya.
“Tentu saja tidak, Yang Mulia.”
Chloe hanya ingin acara makan malam ini segera berakhir. Makanan utama disajikan dan Raja Lewis tidak berhenti melanjutkan percakapan dengan dua orang wanita itu, tanpa sadar membuat Dimitri dan Draven yang duduk di ujung meja kepanasan.
Mereka pria yang sama-sama bersifat posesif dan teritorial, namun masih bisa menyembunyikan rasa cemburu mereka dengan elegan. Draven tidak berhenti meneguk champagne-nya sambil mencuri pandang ke arah Adreana. Pacarnya itu kelihatan sibuk berbincang dengan Raja Lewis.
Saat Adreana tertawa dengan begitu merdu, Draven tidak bisa berdiam diri lagi. Dia hendak beranjak dari kursinya ketika suara Dimitri menghentikannya.
“Draven.”
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...
__ADS_1