Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Balas Dendam


__ADS_3


[Dimitri’s POV]


Suara burung-burung bernyanyi mulai terdengar, matahari telah terbit. Sepanjang malam aku duduk di samping tempat tidur Dwayne dengan kedua tangan memegang kepalaku. Ketakutan dan kerisauan berseliweran di dalamnya.


Chloe hanya beberapa langkah jauhnya dariku. Semalam setelah aku meninggalkannya untuk memberinya waktu berpikir, aku menjemput Dwayne dari kamar Draven dan menidurkannya di kamarnya sendiri.


Apa keputusan yang akan diambil Chloe? Tidak mungkin dia tega untuk membunuhku karena itu sama saja dengan membunuh ayah dari anaknya. Kalau dia mau berpisah dan tidak jadi ikut pulang ke Rudolmuv? Ah, tapi rumah Dwayne di sana. Anak ini pasti akan bertanya kenapa mamanya tidak ikut pulang.


Apa yang sedang Chloe lakukan? Aku beranjak dari dudukku dan berjalan ke arah pintu yang menghubungkan dua kamar ini. Tanganku sudah berada di gagang pintu, tapi aku mengurungkan niat untuk membukanya.


“Mama…” rengek Dwayne dari kasur. Begitu terbangun dia langsung mencari mamanya. Biasanya dia akan memanggilku.


Aku segera berada di sampingnya. “Good morning, peanut.”


“Morning, papa. Dwayne mau cari mama…,” dia mengucek matanya dan mengangkat kedua tangannya ke atas untuk digendong.


“Come on big boy. Kita cari mama ya.” Aku mengangkatnya dari kasur dan berjalan menuju pintu yang tidak jadi kubuka tadi.


CEKLEK!


Pintu kamar terbuka namun tidak ada siapa-siapa di dalamnya.


“Chloe?”


Tidak ada jawaban. Aku berusaha meredam kepanikan yang muncul, namun Dwayne dapat merasakan perasaanku.


“Mama? Mama di mana?” rengeknya, “Aku mau mamaaa…”


“Sshh, mungkin mama ada di bawah. Kita turun untuk mencarinya ya.”


Melewati kamar Edric, aku mencarinya di sana. Namun Edric juga tidak ada di kamarnya. Aku bertanya kepada pelayan yang ada di aula sedang membersihkan vas bunga besar, namun dia juga tidak melihat Nona Eliza.


Hari masih pagi dan tidak tampak begitu banyak aktivitas di Istana Navarre. Dwayne sudah menangis sekarang. Biasanya dia tidak cengeng begini kalau ditinggal. Aku berjalan menuju taman, dan itu sedikit membuat pikiran Dwayne teralihkan.


Setelah berjalan beberapa saat, aku menangkap dua sosok tengah duduk di salah satu kursi taman yang menghadap ke laut. Chloe dan Edric. Mereka merasakan kehadiranku, Edric duluan berdiri sedangkan Chloe diam mematung tidak menoleh.


“Pagi, Dwayne. Sudah bangun ya?” Edric tersenyum pada cucunya, lalu melirik Chloe.

__ADS_1


Apa yang mereka bicarakan?


“Mama.” Dwayne menunjuk Chloe dan itu membuatnya beranjak dari kursi dan menoleh.


Dia tersenyum, sangat mulus dan tidak terkesan dipaksa. Dia menggendong Dwayne tanpa menatap mataku, lalu dia berjalan agak menjauh sambil mendengarkan ocehan Dwayne yang menunjuk ke arah pohon.


Edric berdehem, mengalihkan pandanganku dari Chloe.


“Dimitri, kita jadi pulang hari ini?”


“Ya, kapal akan berangkat siang ini.”


Edric menoleh sebentar lalu berdehem lagi. “Begini, setelah membicarakannya dengan Chloe, dia tidak mau pulang dulu. Dia meminta kita semua untuk pulang duluan. Tapi dia mau Dwayne ikut bersamanya.”


Aku mengeraskan rahangku. “Mana mungkin aku meninggalkannya, Edric. Kalian pulang duluan hari ini. Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Chloe.”


“Kamu beruntung karena kamu adalah ayah Dwayne. Kalau tidak, aku sudah memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian!”


“Chloe adalah istriku. Aku akan menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri.” Dimitri sedikit menundukkan kepalanya, dan berjalan ke arah Chloe.


“Edric bilang kamu belum mau pulang hari ini?” tanyaku.


Ketika Chloe tidak menjawab, Dwayne mengernyitkan dahinya. “Kenapa mama nggak mau pulang?”


“Tapi aku juga mau papa.”


Senyuman di wajah Chloe langsung hilang. Aku ingin mendekapnya dalam pelukan yang erat. Aku tau dia bertahan untuk tidak lari dari sisiku karena ada Dwayne.


“Papa juga tidak ikut pulang. Kita bertiga akan bersenang-senang di sini.”


Chloe menatapku dengan ekspresi tidak percaya. Baru kali ini dia melihatku dan aku memberinya satu senyuman. Sepertinya itu semakin membuatnya marah.


Dwayne menepukkan kedua telapak tangannya. “Yaaayy!! Liburan.”


Kami menghabiskan pagi itu berjalan-jalan di taman. Tampak seperti keluarga kecil yang harmonis, padahal ada badai begitu besar yang menerjang rumah tangga kami.


*


*

__ADS_1


*


Draven, Adreana dan Edric sudah berlayar pulang siang tadi. Raja Lewis tidak menentang keinginan Chloe untuk menginap beberapa hari lagi di istananya. Sepertinya dia tau ada sesuatu yang terjadi di antara aku dan istriku.


Saat makan malam, aku pikir Chloe tidak akan turun. Namun dia ikut bergabung di meja makan panjang dan besar, duduk di samping Raja Lewis dan berbincang dengannya sepanjang malam. Aku mengepalkan tanganku begitu erat. Menahan diri untuk tidak menarik Chloe pergi dan menyembunyikannya dari Lewis.


Chloe tertawa dan tangannya memegang lengan Lewis. That’s it! Aku berdiri dan semua mata tertuju padaku.


“Kenapa, Dimitri? Kamu butuh sesuatu?” tanya Chloe.


Oh, aku mengerti. Ini permainannya untuk menyiksaku.


“Tidak apa-apa, istriku. Aku hanya ingin meregangkan kakiku.”


Aku duduk kembali dan melanjutkan makanan yang terasa hambar di lidahku.


Setelah acara makan malam selesai, aku bernapas lega karena Chloe menolak ajakan Lewis untuk menikmati kudapan dan pertunjukan di ruangan yang lain. Dia bilang mau menemani Dwayne di atas.


Tangannya berada di lenganku dan kami berjalan ke atas, ketika tidak ada orang di sekitar kami, dia melepas tangannya dan menghilang dari sisiku.


Aku menghela napas panjang. Setidaknya Chloe mau berpura-pura bahwa hubungan kami baik-baik saja di depan orang lain, dan yang paling utama, di depan Dwayne.


Kalau dia ingin berpisah, pasti dia sudah mengatakannya. Aku masih memiliki harapan! Dengan semangat itu, aku menyusul Chloe ke kamar Dwayne.


Setelah puas bermain dan mengantuk, dia meminta kedua orang tuanya untuk tidur di samping kiri dan kanannya, lalu terlelap dengan cepat.


Chloe mengec*up keningnya dan menghilang sebelum aku bisa membuka mulutku untuk mengucapkan sepatah kata. Aku memastikan selimut Dwayne sudah menyelimuti seluruh tubuhnya, tidak menutup jendela terlalu rapat agar angin malam dapat masuk, lalu membuka pintu penghubung kamar kami.


Aku pikir akan menemukan Chloe di sana. Tapi dia tidak ada. Aku mencarinya ke seluruh istana yang sudah hening dari aktivitas. Hanya satu ruangan yang masih disinari cahaya lilin. Itu adalah ruangan di mana tadi ada pertunjukan yang berlangsung.


Tidak ada lagi kegiatan di dalamnya namun apa yang kusaksikan di sana membuat kedua mataku terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang kulihat.


“Chloe…” Aku memanggil namanya.


Chloe duduk di atas seorang pria dan menghadap ke pintu, aku hanya bisa melihat punggungnya namun aku tau siapa orang itu tanpa harus melihat wajahnya. Chloe mengangkat kepalanya dan menji*lat bibirnya dari sisa cairan merah yang menempel. Bau darah manusia memenuhi seluruh isi ruangan.


“Oh, hai suamiku.”


...----------------...

__ADS_1


1 Chapter lagi update sore/malam ini


Menantikan komen-komen kalian yg buat author senyum-senyum sendiri. Sampe dikira lagi chatting sama pacar! 🤣


__ADS_2