Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Halusinasi


__ADS_3

Dimitri keluar dari tenda setelah urusannya selesai, meninggalkan kedua raja yang masih melakukan perbincangan santai dengan Edric. Geoffrey sudah duluan keluar karena dia tidak akan ikut berperang membantu Raja Azov.


Tampak gerombolan prajurit membentuk lingkaran dan berteriak dengan ramai. Baju prajurit berwarna merah dari Kerajaan Rudolmuv dan baju berwarna hijau gelap dari Kerajaan Azov berkumpul menjadi satu.


Pasti sedang ada duel yang terjadi sehingga menyatukan semua prajurit dari kedua negara yang berselisihan itu.


“Hajar dia!!”


“Ayo Geoffrey kamu pasti menang!!”


Dimitri bergerak maju dan beberapa prajurit yang melihatnya datang dengan sigap memberi jalan.


Di tengah lingkaran manusia itu, Geoffrey sedang berduel dengan komandan perang Raja Azov.


Dimitri memperhatikan ketangkasan dan keringanan tubuh sang Dewa Kematian saat dia mengayunkan pedang serta masih memakai baju zirah yang berat itu.


Oh, sang Dewa Kematian sudah pasti adalah seorang vampir karena saat Dimitri melewatinya, tidak ada bau darah manusia.


Serangan beruntun datang dari arah Geoffrey dan sang Dewa Kematian terlihat bosan, dia mengelak setiap hunusan pedang perwira menengah itu.


Sepertinya dia hanya bermain-main dengan Geoffrey karena dari sikapnya mengayunkan pedang seperti tidak serius melawan.


Saat sang Dewa Kematian sudah mulai bosan dan ingin mengakhiri permainan, dia membuat pedang Geoffrey terpelanting.


“A-apa?!”


Geoffrey menelan ludahnya saat ujung mata pedang berada tepat di tenggorokannya. Hanya perlu satu dorongan untuk membunuhnya di saat itu juga.


Gelak tawa membahana menertawakan kekalahan Geoffrey.


“Siapa yang kamu sebut dengan pria kecil, Geoffrey? Buktinya kamu kalah dengan pria kecil ini,” sang Dewa Kematian menarik pedangnya kembali.


Wajah Geoffrey merah padam dan kerumunan pun perlahan bubar setelah memberi decakan kagum dan tepuk tangan untuk kemenangan komandan perang Azov.


Sang Dewa Kematian menatap Dimitri lalu tanpa sepatah kata pun, membalikkan badannya untuk pergi.


Geoffrey tidak terima karena dia telah dipermalukan di hadapan semua orang. Dia mengambil pedangnya yang terpelanting di tanah.


“Arrrghhh!!”


Belum sempat pedangnya menghunus punggung sang Dewa Kematian, Dimitri membelah pedang Geoffrey menjadi dua.


Kerumunan yang sempat bubar, kembali menatap tiga orang itu.


“Hentikan, Geoffrey. Jangan bertingkah seperti anak kecil.”


Geoffrey menelan ludahnya saat Dimitri memberinya tatapan tajam.


“A-aku hanya iseng, Jenderal Dimitri. Dia juga pasti bisa menghindar. Ini cuma duel persahabatan.”


Geoffrey hanya bisa nyengir dan memberi satu anggukan sebagai permintaan maaf pada Chloe.


“Maaf, lagi-lagi Geoffrey berulah.”


Dari dalam baju zirahnya Chloe mengangkat alisnya tak percaya, sudah dua kali pria ini mengatakan kata ‘maaf’ atas kesalahan yang tidak dia perbuat.


Chloe melihatnya dari atas ke bawah.


Dia pria yang tampan dan sangat kuat. Pedang perwira sialan itu termasuk pedang yang bagus, namun hanya sekali tebasan terbelah menjadi dua. Not too bad.

__ADS_1


“Hm.”


Hanya itu jawaban yang Chloe berikan dan dia bergegas pergi ke tendanya yang terpencil, jauh dari tenda yang lain. Dia sudah tidak tahan untuk melepas baju zirah ini, namun si Jenderal Dimitri mengikutinya dan berjalan di sampingnya.


“Raja Rudolmuv mengutusku untuk bergabung dengan perang kalian melawan Navarre. Karena kamu tidak ikut rapat tadi, jadi aku ingin berbicara denganmu.”


Hal terakhir yang ingin Chloe lakukan adalah berbicara! Dia memang tipe yang lebih suka diam dan mengobservasi. Lagipula, sungguh susah untuk mengatur nadanya selalu rendah.


Apalagi tatapan tajam pria ini seakan bisa mendeteksi semua kebohongan dan melihat diri Chloe yang sebenarnya dari balik baju zirahnya.


“Jika ada masalah katakan saja pada Edric.”


Chloe berharap pria ini segera pergi namun dia masih nempel mengikutinya.


“Apa hubunganmu dengan Edric? Aku lihat dia juga sangat mengkhawatirkanmu saat kejadian tadi.”


Ah, kejadian saat pedang mereka beradu? Chloe hanya ingin menguji kekuatan komandan perang Rudolmuv. Tangan Dimitri sangat cepat saat menarik pedangnya yang panjang dengan gagang hitam dari sabuk.


“Dia orang yang berjasa dalam hidupku.”


Tidak biasanya Dimitri begitu ingin tahu tentang seseorang. Mungkin karena dia begitu tertutup, bukan hanya wajah dan badannya namun kepribadian Dewa Kematian ini juga.


Dimitri semakin penasaran.


“Hey, kita akan menjadi partner dalam perang nanti. Kalau kamu mau kita menang, kita harus lebih saling mengenal,” ucap Dimitri ketus.


Lama-lama sikap pria kecil ini menguji kesabaranku. Kalau saja Rudolmuv tidak memerintahku untuk berperang denganmu, aku sudah pergi jauh!


Chloe tiba-tiba berhenti dan Dimitri hampir menabrak punggungnya. Dia membalikkan badannya, tinggi Chloe hanya mencapai bahu Dimitri, itu pun sudah ditambah dengan sepatu zirahnya yang dibuat lebih tinggi sedikit.


“Besok kamu siapkan dirimu karena aku ingin melihat seberapa hebat kamu hingga mendapat julukan Sang Penghancur.”


Mulut Dimitri terangkat ke atas, ini reaksi yang dia inginkan.


Mata mereka beradu dengan api yang berkobar di baliknya.


***


Api unggun besar sudah dinyalakan di tengah perkemahan, menyinari gelapnya langit dan menghangatkan dinginnya malam di dataran hijau yang luas itu.


Prajurit dari dua kerajaan berkumpul, ada yang masih makan, bernyanyi, bermain alat musik dan bahkan menari dengan riang.


Raja Rudolmuv dan Raja Azov telah kembali ke tenda mereka masing-masing. Rudolmuv dan Geoffrey akan berangkat pulang duluan untuk mengatur dan memilih 500 orang prajuritnya pergi ke perbatasan utara.


Dimitri masih akan menetap di perkemahan Azov dengan 10 orang prajuritnya lalu bertolak ke Kerajaan Azov dan berada disana untuk mempersiapkan rencana perang melawan Navarre sambil menunggu 500 prajurit bantuan Rudolmuv.


Setidaknya dengan kesibukan ini, dia dapat melupakan seseorang untuk sementara waktu.


Dimitri menghela napas saat dia mencari udara segar sendirian, jauh dari keramaian.


Lupa? Mana mungkin aku lupa. Wajahmu selalu membayangi hari-hariku.


Dimitri menengadahkan kepalanya ke atas langit, sebuah bintang berkelip padanya.


Apa itu kamu, Chloe? Kamu menyapaku dari atas sana? Aku masih berjuang sendiri disini untuk membesarkan anak kita. Dwayne sudah berumur 2 tahun lebih sekarang.


Anak kecil itu sudah pandai berbicara dan ayahnya saja kewalahan dalam membalas setiap pertanyaan Dwayne. Untung masih ada paman dan bibinya di kastil D’Arcy. Dan juga Edric yang hampir setiap bulan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Dwayne.


Dimitri menggelengkan kepalanya. Dia harus fokus dalam perang yang akan datang. Dwayne sudah aman bersama Draven dan Adreana.

__ADS_1


Tanpa sadar dia berjalan ke arah tenda Dewa Kematian yang terpencil dari yang lain. Dua orang penjaga bertugas di depan lalu seorang pelayan wanita keluar dari tendanya.


Seorang penjaga menepuk bagian belakang pelayan itu dan dia berkelakar sebentar dengan dua orang penjaga itu lalu pergi untuk berkumpul bersama yang lain menikmati hangatnya api unggun.


Dimitri tidak perlu repot-repot untuk meminta izin pada mereka berdua. Dia menjentikkan jarinya dan dengan mudah menyelinap masuk ke tenda komandan perang Azov.


Ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh Dimitri.



Tenda komandan perang lebih besar dari tenda prajurit namun tidak sebesar tenda para raja. Lilin-lilin kecil sudah menerangi, semerbak aroma bunga mawar memenuhi tenda itu.


Dimitri pikir dia akan mendapati sang Dewa Kematian menikmati waktu santainya setelah dia mendapat ‘jatah’ dari si pelayan yang baru saja keluar tadi.


Alangkah terkejutnya Dimitri saat dia melihat seorang wanita berdiri dari bak mandinya yang ada di tengah tenda, sedang memeras rambutnya yang panjang dan basah.


Gulp!


Dimitri menelan ludahnya saat melihat pinggang kecil dan ramping, bok*ngnya memikat, tidak terlalu besar ataupun kecil. Dua kaki yang jenjang melangkah keluar dari bak mandi kayu berukuran sedang.


Ternyata Dewa Kematian punya selera yang bagus. Dari bagian belakang saja tubuh wanita ini sangat indah bak gitar spanyol.


Sepertinya wanita itu sadar ada orang yang menyusup masuk dan memandanginya. Tubuhnya langsung berdiri tegak disana.


“Maaf, aku tidak tau kalau komandan perang Azov membawa seorang wanita untuk menemaninya.”


Dimitri membalikkan badannya untuk pergi. Dia sudah lama tidak melihat tubuh seorang wanita sampai terpana begitu. Tapi belum sempat kaki kirinya bergerak maju, dia tersentak.


Tunggu.


Dia terlalu terpikat dengan tubuh wanita itu hingga tidak sadar dua hal.


Pertama, dia tidak mencium ada bau darah manusia.


Kedua, di punggung wanita itu ada kelopak bunga mawar yang persis seperti tanda lahir Chloe!


Dimitri membalikkan badannya namun wanita itu sudah menghilang. Dia mengusap matanya dan melihat sekeliling tenda itu.


Tidak ada siapa-siapa.


Chloe, bahkan sampai sekarang kamu masih mempermainkanku? Kamu bukan hanya menghantui pikiranku, sekarang kamu juga muncul begitu nyata di hadapanku.


Sebelum Dimitri menghancurkan semua isi tenda Dewa Kematian, dia sebaiknya segera pergi dari sini.


...----------------...



Yuhuu \~


Buat yang uda nggak sabar crazy up MTD, nih udah keluar jadwalnya… Moga author sanggup ya karna pas di tanggal 22 & 23 sebenarnya ada acara nikahan sodara 🥺


Tapi demi kalian author belain crazy up. Uda mulai nyicil nulis dari sekarang dulu karna jadwal minggu ini padat banget.


(Banyak bgt yang nikah di bulan 11 & 12. Mungkin Chloe & Dimitri juga nikah akhir bulan nanti… LOL mereka bakal sebar undangannya buat pembaca setia MTD pastinya 😝)


Kalau memang semua cerita bisa terselesaikan setelah up 3 bab per hari berarti akhir bulan MTD uda tamat.


Kalian sukanya cerita yang panjang atau pendek sih?

__ADS_1


...LIKE & VOTE VOTE VOTE ...


...biar author semangat 🔥...


__ADS_2