Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
As Red as Blood II


__ADS_3


Aku sibuk menyantap buruanku dan tidak mempedulikan pria yang berdiri di sampingku, lalu dengan tidak sopan dia bergabung untuk menghisap darah rusa besar yang berhasil kubunuh.


Matahari sudah terbenam sepenuhnya dan langit menjadi sangat gelap. Suara his*apan kami berdua bergabung menjadi satu dalam kesunyian malam.


Tidak butuh waktu lama aku sudah kenyang, sedangkan Dimitri masih menikmatinya. Matanya berubah merah dan tanpa sadar aku suka melihatnya menghi*sap darah hasil buruanku.


Aku jadi membayangkan bagaimana wajahnya saat dia minum darahku. Apa jantung manusiaku berdegup kencang untuknya?


Seakan dia mendengar pertanyaan yang tidak aku utarakan, Dimitri mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata semerah darah yang masih tersisa di mulutnya. Dia terlihat sangat eksotis dengan gigi taring yang masih keluar.


Sedetik yang lalu aku menji*lat bibirku dan sedetik kemudian bibirnya melu*matku. Siapa yang duluan memulai? Aku tidak tau karena aku juga membalas setiap ciuman yang dia berikan. Rasa darah menambah kenikm*atan.


Dia menjatuhkanku ke atas tanah, mengungkung tubuhku dari atas dan tanganku melingkar di lehernya. Aku menggeram saat dia menciumku dengan lembut. Aku tidak mau ciuman yg lembut!


Aku membalikkan tubuh kami sehingga sekarang aku yang berada di atas tubuhnya, tanpa melepas bibir kami yang beradu. Aku pikir dia pria dominan yang akan marah ketika aku mengambil kontrol, namun Dimitri malah terkekeh.


Aku duduk di atas perutnya, kedua tanganku menangkup wajahnya. Dia mengelus kedua kakiku, semakin naik ke atas dan aku mene*gang. Namun tangannya turun lagi dan dia melakukannya berulang kali.


Tidak tahan lagi, aku melepas bibirnya dengan tatapan mematikan. Oh, tapi aku tidak bisa marah melihat sebuah senyum tersungging di wajahnya. Dia terlihat sangat… Mengga*irahkan.


Lalu dia membalik posisi kami sehingga dia yang berada di atasku sekarang. Aku mendesis walaupun sebenarnya aku tidak keberatan saat dia mendominasiku.


“Aku suka kamu yang agre*sif.” Dia berbisik di telingaku.


Tanganku sudah selesai melepas bajunya dan menyentuh dada bidangnya. Napasnya semakin tidak dapat dia kontrol. Tangannya mengepal di atas tanah. Apa aku tidak salah? Dimitri sedang menahan dirinya sendiri.


“Aku ingin melakukannya, Dimitri.”


Dia menggeram dan dalam sekejap tidak ada lagi pakaian yang memisahkan tubuh kami. Dia mengapresiasi setiap lekuk tubuhku, begitu juga denganku.


“Sial! Aku tidak mau mengambilmu di tengah hutan! Aku sudah membayangkan memilikimu kembali di atas kasur yang empuk!”


Mata Dimitri terpejam dengan ekspresi kesakitan saat tanganku menyentuh sesuatu yang keras dan lembut itu. Sangat besar hingga telapak tanganku tidak dapat melingkar seutuhnya.


“Aku tidak peduli, Dimitri! Ambil aku sekarang juga!”


Kalau memang dulunya hubunganku dengan Dimitri bukan hanya sebatas pelayan dan majikan, maka ini bukan pertama kalinya aku berhubungan dengan seorang pria.


Tidak perlu waktu lama, dia menyibak kedua kakiku, terbuka lebar untuk invasinya. Aku menjerit dengan keras saat dia mele*sak masuk memenuhiku.


“Sebut namaku, Chloe.” Dia berbisik di sampingku, tidak bergerak.


Mulutku masih menganga lebar. Tidak menyangka bahwa bisa ada perasaan seperti ini. Aku menggerakkan pinggulku saat dia masih bergeming.


“Namaku, Chloe. Aku ingin mendengarnya keluar dari mulutmu. Hanya ada aku sekarang.”

__ADS_1


Pria sialan! Dia benar-benar percaya aku melakukannya dengan pria lain.


Aku mendesis tapi semuanya sudah terlambat, akhirnya aku menyebut namanya.


“Dimitri.”



Pagi menjelang, Dimitri tidak pernah melepasku untuk satu detik pun. Oh, dan dia tidak berhenti membuatku menjerit malam itu. Kami sudah berpindah tempat ke kamarku. Aku bahkan tidak sadar telah menggunakan kekuatan teleportasi untuk memindahkan tubuh kami.


Satu catatan penting yang baru aku tau, ternyata aku bisa membawa orang lain untuk berpindah tempat juga.


Tanganku membe*lai rambut hitamnya dan menekan kepalanya lebih dalam ke dada kiriku, satu tangannya mere*mas yang kanan.


Dia melepas bibirnya dan aku menger*ang karena merasa kehilangan.


“Shh. Ada orang yang datang.”


Benar saja, pintu kamarku diketuk.


Suara Layla terdengar, “Nona Eliza.”


“Tunggu, Layla! Jangan masuk!”


Dimitri tertawa saat melihatku turun tergesa-gesa dari kasur. Aku asal mengenakan jubah tidur yang tergantung dan menyisir rambutku yang berantakan dengan tanganku.


Dia masih terbaring dengan santai di atas kasur, menarik selimutku untuk menutup tubuh bagian bawahnya. Aku menahan air liur yang hampir jatuh saat melihat dada bidangnya. Ditambah lagi dia menganggap kasurku sebagai miliknya sendiri.


“Ada apa, Layla?”


“Nona, ada orang yang mencari Tuan Dimitri di bawah. Tapi aku tidak menemukan Tuan Dimitri di kamar tamu padahal kudanya masih ada disini. Jadi…” wajah Layla berubah merah.


“Siapa nama orang yang mencari Dimitri?”


“Dia bilang namanya Draven, nona.”


Tiba-tiba Dimitri sudah berdiri di sampingku dengan pakaian lengkap.


“Aku akan turun sekarang juga. Draven adalah temanku.”


Aku membuka pintu lebih lebar untuk Dimitri keluar, ada sesuatu dari wajah seriusnya yang membuatku juga hendak ikut turun.


Layla mencegahku, “Nona anda mau turun berpakaian seperti ini?”


“Oh, aku lupa.”


Akhirnya aku mengganti pakaianku dengan cepat dibantu oleh Layla dan bergegas turun ke ruang tamu.

__ADS_1



Mereka berdiri di ruang tamu Edric dengan raut muka gelisah, membicarakan sesuatu. Pria itu berambut pirang, tubuhnya hampir sama tinggi dengan Dimitri.


“Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa saya bantu dengan kedatangan anda?”


Apa ada nada kesal yang terselip disana? Sepertinya iya. Kesal karena pria bernama Draven ini telah mengusik waktuku bersama Dimitri.


Dia membalikkan badannya dan membeku dengan ekspresi terkejut ketika melihatku.


“Chloe?”


Aku memicingkan mataku. “Apa aku mengenalmu, tuan?”


Draven menoleh pada Dimitri lagi seakan meminta jawaban darinya.


Dimitri tampak mengusap wajahnya, “Aku akan menjelaskan semuanya padamu, Draven.”


“Apa aku mengenalnya, Dimitri?” tanyaku.


“Ya, kalian sudah pernah bertemu di kediamanku dulu sebelum kamu lupa semuanya, Chloe.”


“Tunggu… Chloe yang selama ini kita pikir sudah meninggal dan membuatmu hampir menyusulnya pergi ternyata masih hidup?”


“Tidak ada waktu untuk membicarakan ini, Draven. Singkatnya, Chloe ternyata sama seperti Dwayne. Ayahnya adalah Edric Suarez dan saat kita pikir dia terjun dari tebing dan meninggal, ternyata dia teleportasi ke Kerajaan Azov.”


“Dwayne siapa? Dia sama sepertiku?”


Aku tersenyum girang. Aku pikir hanya aku yang terlahir aneh ternyata ada yang sama denganku!


“Dwayne itu…”


Dimitri memegang bahu Draven dan menatapnya tajam.


“Sebenarnya aku kesini untuk memberitau Dimitri bahwa Dwayne dan pacarku, Adreana, melarikan diri dua hari yang lalu! Aku pikir dia tidak akan berani membawa Dwayne tapi saat aku lengah, dia sudah pergi dengan kereta kudanya. Aku sudah mencarinya di rumah Petrova tapi dia tidak pergi kesana.”


Draven mondar mandir sambil memegang kepalanya.


“Aku pikir dia akan menyusulmu ke Kerajaan Azov. Tapi ternyata dia tidak ada disini! Bagaimana ini, Dimitri?”


...----------------...


...Chloe akan bertemu dengan Dwayne sebentar lagi...


...Are you ready guys? 🔥...


...Thank you semuanya yang uda setia support...

__ADS_1


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...


__ADS_2