
[Chloe’s POV]
Aku tidak bisa berhenti. Dia bagaikan racun yang sudah menyebar ke seluruh sel di dalam tubuhku. Apa perasaan aneh yang menyelimuti hatiku ini adalah cinta? Dia sering membisikkan kata itu, bahkan mengatakannya dengan lantang. Tapi aku tidak pernah membalasnya, benar bukan?
Atau tanpa kusadari, aku juga sudah membalas cintanya dari perlakuanku. Aku bahkan setuju untuk menikah dengannya. Oh tidak, aku setuju demi anakku, Dwayne. Tapi kenapa aku menginginkan kehadirannya? Bahkan sedikit saja sentuhan dari Dimitri sanggup meluluhkan diriku.
“Aaahhh, uhmmm….” Aku tidak berhenti memompa tubuhku di atasnya. Dia meletakkan kedua tangan di belakang kepalanya, dengan mata sayu dan seringai menghiasi wajah tampannya. Membiarkanku mengambil kontrol dalam permainan panas kami.
Pandangannya turun melihat dua buah dada yang berguncang hebat dan itu semakin menambah gairahku. Aku menutup kedua mataku dan menggigit bibirku dengan harapan bisa bertahan lama. “Nngghh…”
Tapi sia-sia. Tubuhku menegang, otakku tidak dapat mencegah rangsan*gan akibat gesekan demi gesekan yang terjadi. Aku dapat merasakan diriku mengapit miliknya yang besar dengan begitu erat, dan berteriak kencang saat mencapai kli*maks.
“Fu****ck, Chloe!!”
Dia menahan dirinya sampai aku selesai, lalu aku menjatuhkan diriku ke atas dadanya, namun dengan cepat dia sudah membalik posisi kami hingga aku berada di bawahnya. Dia membuka kakiku lebar, kami masih terhubung di bawah sana, seakan aku tidak mau melepasnya.
Dimitri memegang kedua kakiku yang terangkat ke atas dan mendorong dengan kuat. Aku dapat merasakan kejanta*nannya yang keras, namun lembut menyentuh leher rahimku.
Aku ingin melingkarkan lenganku di lehernya, namun posisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk digapai. Dia begitu konsentrasi menatap miliknya menghun*jam masuk ke dalam ronggaku yang basah.
“I love you.” Bibirku bergerak, namun tidak ada suara yang keluar.
Di saat itu juga dia menegang dan aku dapat merasakan cairan hangatnya masuk ke dalam diriku. Dalam sekejap, banyak kejadian aneh yang melintas di benakku. Ditambah dengan perasaan campur aduk yang tiba-tiba saja menyatu.
Dimitri hampir jatuh di atasku namun dengan sigap merebahkan badannya di atas kasur, mendorong kepalaku ke atas dadanya.
Aku ingat! Aku sudah mengingat semuanya. Aku yang dulu dan aku yang sekarang menyatu. Kepingan demi kepingan tersusun kembali. Semua yang Dimitri ceritakan itu benar, namun bedanya, aku dapat merasakan langsung apa yang dulu Chloe rasakan.
Aku turun dari ranjang dengan pelan.
“Chloe? Kembali kesini, darling.” Nadanya penuh kebingungan.
__ADS_1
Darling. Dia juga memanggilku dengan sebutan itu dulu.
Aku berjalan menuju sofa tanpa suara langkah kaki. Saat masuk ke istana Navarre, semua pedang telah disita. Namun satu belati yang selalu kusembunyikan di dalam sepatuku lolos dari sitaan pengawal. Sekarang aku mencarinya di balik baju tidur yang kulempar di sofa tadi pagi.
“Chloe? Kamu sedang mencari apa?”
Saat belati itu berada di tanganku, aku langsung duduk di atas tubuhnya tanpa sehelai pakaian dan tanpa ragu mengayunkan belatiku ke atas, hendak menikam dadanya.
Ya, aku sudah gila mau membunuh suami yang baru saja kunikahi beberapa jam yang lalu!
“Chloe!!” Dia memegang tanganku, mencegah mata tajam belati itu tertancap di dadanya.
Aku mengeluarkan erang*an karena dadaku terasa sesak. Aku bahkan sudah tau aku kalah sebelum dia memutar tanganku dan mendorongku jatuh ke atas kasur. Dimitri memegang kedua lenganku dengan begitu erat, keningnya berkerut.
“Kamu sudah ingat…” Dia menatapku dengan seksama. “Kamu sudah ingat semuanya…”
Dia tidak bertanya, tapi menyatakan pengamatannya.
Aku menatapnya dengan penuh kebencian. Dendam dan amarah yang tersimpan dalam diri Chloe manusia, masih membekas begitu dalam.
“Aku salah. Mendengar dan merasakan langsung adalah hal yang berbeda. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan perbuatanmu, Dimitri!! Kamu mencegahku untuk melihat anakku sendiri!! Kamu menghapus ingatanku! Dan saat aku mengingatnya kembali, itu seperti menuangkan alkohol pada luka terbuka. Aku bahkan memilih untuk mati!”
Aku meronta dengan panik, dan dalam kepanikan itu aku lupa bahwa aku bisa lepas dari cengkeramannya dengan mudah. Namun aku mencurahkan isi hati Chloe manusia, semua kesakitan dan penderitaan yang dia alami.
“Kalau aku hanya manusia biasa, mungkin aku tidak akan sesial ini untuk bertemu denganmu lagi! Kenapa aku harus dipertemukan denganmu lagi, Dimitri?!”
“Kita ditakdirkan untuk bersama, Chloe! Kamu milikku dan aku milikmu. Please, maafkan semua perbuatanku di masa lalu. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku telah berubah. Kamu sendiri juga merasakan bagaimana hampanya dirimu saat berubah menjadi vampir! Itu yang aku rasakan selama berabad-abad hidup di dunia ini seorang diri!”
Aku menggelengkan kepalaku, tidak ingin mendengarnya. Air mataku jatuh setetes, dan yang lain menyusul begitu deras.
“Aku tidak menyangka bahwa kehadiranmu di hidupku bisa membuatku merasakan cinta. Aku tidak mau percaya bahwa aku jatuh cinta pada seorang manusia mortal, yang hidupnya sangat singkat. Aku akui bahwa aku egois. Aku memaksamu untuk hamil dan melahirkan Dwayne. Itu karena aku mau seorang anak sebagai pengingat bahwa ibunya pernah singgah di hidupku.”
“Lalu kenapa kamu menghapus ingatanku padahal aku memohon padamu untuk tidak melakukannya?”
__ADS_1
“Aku harus membuatmu lupa, Chloe, atau aku tidak akan tahan dan mengubahmu menjadi vampir sepertiku. Tapi takdir berkata lain. Aku menyesal, sangat menyesal. Please, jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk jatuh karena perbuatanku.”
Aku tertawa seperti maniak, walaupun air mataku tidak mau berhenti menetes. Dimitri menatapku bingung.
“Kamu pikir aku menangis karenamu? Kamu salah! Aku menangisi diriku yang dulu. Begitu bodoh dan tidak berdaya. Tapi sekarang aku bisa dengan mudah melawanmu, Dimitri.”
Dimitri melepas cengkeraman tangannya. “Lalu apa, Chloe? Kamu mau membunuhku? Silahkan. Aku sudah siap mati saat mengetahui kamu memilih terjun dari tebing Ashridge. Tapi ingat, apa yang akan kamu katakan pada Dwayne saat anak itu mencari ayahnya?”
Dimitri beranjak dari kasur dan mengenakan jubah tidurnya. Dia menatapku yang masih bergeming dengan kedua tangan di samping kepalaku. Aku tidak bisa bergerak walaupun dia sudah melepasku.
Aku salah. Aku masih saja tidak berdaya. Bagaimana mungkin aku mencoba untuk membunuh ayah dari anakku? Aku ingat perkataan yang kuucapkan pada Edric sebelum pernikahan ini terjadi.
Yang lalu biarlah berlalu, aku mau membuka lembaran baru, aku mau memberikan keluarga yang bahagia untuk Dwayne.
“Dia baru saja bertemu dengan ibunya. Tapi sekarang kamu mau memisahkan dia dari ayahnya?” tanya Dimitri, dia duduk di atas kasur, di bawah kakiku.
“Aku mengerti. Ingatanmu baru saja kembali dan pikiranmu pasti sedang kacau. Ambil napas sejenak dan renungkan semuanya. Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya? Setelah kamu mendapatkan jawabannya, beritahu aku.”
Dimitri berdiri dari kasur. “Aku akan membawa Dwayne kembali untuk tidur di kamarnya. Dia butuh istirahat yang cukup untuk perjalanan pulangnya besok. Good night, Chloe.”
Aku tidak menjawabnya. Hanya menatap langit-langit dalam keadaan tela*njang bulat. Dimitri menatapku begitu lama sebelum keluar dan menutup pintu kamar.
Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Membunuh Dimitri itu mustahil. Aku harus memikirkan Dwayne. Berpisah? Kalau begitu, Dwayne tidak akan bisa mendapatkan keluarga yang utuh.
Bertahan?
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...
__ADS_1