Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Undangan Menghadap Raja


__ADS_3

[Third POV]


Chloe mendadak terbangun dalam tidur lelapnya, keringat dingin membasahi sekujur tubuh dan jantungnya berdegup kencang.


“Chloe…” suara Dimitri menyadarkannya bahwa dia hanya bermimpi.


“Kamu mimpi buruk, darling?”


Chloe melihat ke luar jendela yang masih tertutup gorden, belum ada cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam ruangan. Jam dinding menunjukkan pukul 04:05.


Tenggorokannya kering saat dia menelan ludah dan dengan suara serak dia berkata, “Aku mimpi berada di depan gubuk tua itu, membunuh seorang vampir yang sedang menghisap darah dari leherku tapi…”


Chloe menatap mata hitamnya, “Vampir itu adalah kamu, Dimitri. Aku menusuk pisau itu tepat di jantungmu dan kamu mati.”


Dimitri mengelus alisnya, “Sshh.. Itu hanya mimpi buruk.”


Sejak Dimitri memaksa Chloe untuk mengandung anaknya, gadis itu tidak pernah memanggilnya ‘tuan’ lagi.


“Aku takut Dimitri… Aku belum siap akan semua yang terjadi padaku. Aku belum siap untuk melahirkan anak ini.”


Dimitri tidak tau harus berkata apa lagi untuk menenangkan hati Chloe. Dia sedang hamil dan tertekan, menambah rasa khawatir yang seharusnya tidak perlu ada karena Dimitri akan menjaganya.


Jadi Dimitri melakukan satu-satunya hal yang dia tau dapat membuat wanita rileks. Chloe tidak melawan, bahkan dia begitu penuh gairah membalas setiap hunjaman Dimitri ke dalam tubuhnya.


Saat Dimitri menahan dirinya untuk bergerak pelan, gadis dibawahnya mendesak, “Ahh… Lebih cepat, Dimitri! Berikan semuanya padaku!”


Dimitri tidak ingin menyakiti ibu dari anaknya, seperti terakhir kali dia menggunakan tubuh Chloe dengan kasar di atas meja dapur. Jadi dia menggigit dan menghisap darah Chloe, seluruh tubuhnya terasa hidup ketika tenggorokannya meneguk tiap tetes darah manusia yang ditakdirkan untuknya.


Gadis itu masih terengah di pelukannya, dia membenamkan wajahnya di dada Dimitri dan mengecupnya.


“Saat aku diculik Lazarus, bagaimana perasaanmu, Dimitri?”


Dimitri mengelus perutnya, “Aku sangat murka sampai aku hampir membunuh Gladys, lalu Draven mencegahku. Dia bilang nyawamu lebih penting untuk diselamatkan terlebih dahulu.”


“Gladys! Dimana dia sekarang?”


Chloe bisa mengerti mengapa Gladys sangat membencinya. Wanita itu hanya ingin dicintai oleh pria yang tidak mencintainya.


“Dia sudah kupecat dan kuusir selamanya dari tanah D’Arcy. Gladys tidak akan mencelakakanmu lagi…”


Kasihan Gladys! Entah bagaimana nasibnya sekarang.


“Maaf, aku juga salah karena menyetujui rencana Gladys,” bisik Chloe.


“Aku sudah memaafkan semuanya, Chloe. Jika vampir terus hidup di masa lalu, kita semua akan berakhir seperti Lazarus yang tidak pernah mau menerima kenyataan.”


Itu sebabnya hati Dimitri sedingin es, dia tidak pernah mau membuka hati walaupun banyak vampir dari kalangan elit yang mengincarnya sebagai pasangan.


“Jika kamu melahirkan anakku dengan selamat, aku akan membebaskanmu. Kamu bisa bertemu dengan pria yang kamu cintai, menikah dengannya dan memiliki anak lagi.”


Seakan tersambar petir, Chloe mengangkat kepalanya dan melihat wajah serius Dimitri.

__ADS_1


“Aku akan menganggap anak ini sebagai hadiah darimu, Chloe. Dari seorang wanita spesial yang pernah hadir dalam hidupku. Mungkin aku egois, tapi aku ingin ada yang mengingatkanku padamu saat kamu pergi dari dunia ini duluan.”


Dimitri dapat melihat wajah Chloe berubah dari terkejut menjadi marah. Bibirnya bergetar saat dia berkata, “Kalau begitu, setelah aku melahirkan anakmu, ubah aku menjadi vampir, Dimitri.”


“Tidak, Chloe. Kamu pikir hidup dalam keabadian itu menyenangkan? Makanya aku terus mencari kesenangan dengan bertempur. Lagipula aku tidak yakin akan tertarik denganmu jika kamu berubah menjadi vampir.”


“Yang membuatmu spesial adalah karena kamu manusia biasa, Chloe.”


Dimitri harus mengatakannya! Walaupun itu akan menyakitkan hati Chloe.


Sangat lama Chloe memperhatikan wajah Dimitri, seakan ingin melihat bahwa Dimitri tidak berbohong. Dia benar-benar tega memisahkan Chloe dari anaknya!


***


[Chloe’s POV]


Aku tidak ingin berpikir terlalu jauh. Masih ada waktu 1 bulan untuk mengubah pikiran Tuan Dimitri. Mungkin saja saat anak ini lahir, dia tidak akan tega melakukan itu padaku.


Aku beranjak dari kasur, dan dia menahan tanganku, “Mau kemana, Chloe? Tidur saja lagi. Matahari juga belum terbit. Nanti aku akan menemanimu jalan di sekitar kastil.”


Kenapa sekarang kamu baik padaku, Dimitri? Kamu takut aku tidak akan memberikan anak ini padamu?


“Kamu sudah memecat Gladys, itu artinya aku yang harus bekerja sendiri. Kalau tidak siapa lagi?” dengusku.


Tuan Dimitri mengangkat satu alisnya ke atas, “Bekerja? Yang benar saja, Chloe… Kamu sedang mengandung anakku, ingat? Itu membuat statusmu terangkat disini.”


Aku menatapnya dingin, “Status? Di mata mereka aku hanya wanita murahan yang sekarang hamil anakmu. Itu status yang ku sandang sekarang, ‘wanita murahan’!”


Wajah Tuan Dimitri berubah, tidak ada lagi kelembutan seperti tadi.


“Baik, tuan,” ucapku patuh tapi mataku menantangnya.


“Kabar tentang kematian Lazarus sudah tersebar. Saat kamu tidur, Draven menyampaikan bahwa raja mengundang kita ke istana minggu depan.”


“Kita?” tanyaku bingung.


Aku hanya pelayan biasa, aku tidak punya urusan untuk datang ke istana raja!


“Kamu juga ikut, Chloe. Raja ingin bertemu dengan orang yang telah membunuh komandan kerajaan Azov.”


“Lazarus adalah komandan raja Azov?!” pekikku kaget.


Gawat! Beribu-ribu gawat! Aku pasti akan dihukum mati karena telah membunuh orang sepenting itu.


Tapi Tuan Dimitri terkekeh, “Kamu tidak usah panik, babu kecil. Raja hanya penasaran pada pelayan kecilku yang bisa membunuh seorang komandan.”


“T-tapi apakah raja juga tau kalau kalian adalah vampir?”


Aku beranjak dari kasur dan mondar mandir di depan kasur dengan perasaan kalut.


“Tentu saja, kita sudah memiliki kesepakatan tertulis dan semua keturunan raja dari zaman dulu sudah mengetahui kalau vampir itu ada.”

__ADS_1


Aku berhenti dan berkacak pinggang di hadapan pria yang masih santai tiduran di atas kasur.


“Tapi aku nggak punya satu pun pakaian yang pantas untuk dikenakan di hadapan raja! Dan juga aku tidak tau bagaimana hormat kepada seorang raja!”


Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, matanya menatap tubuhku dari atas ke bawah, dan aku sadar bahwa tidak ada satu helai pun di tubuhku!


Aku menarik selimut dari kasur dan menutupi tubuhku, “Serius dong Dimitri!! Aku tidak usah pergi ya?” pintaku.


“Loh.. Kamu berani menentang permintaan raja? Kadang keberanianmu membuatku takut.” Dimitri tertawa kecil.


“Nanti seorang pembuat baju akan datang, urusan lainnya kamu tidak perlu khawatir. Eden bisa membantumu.”


Eden! Aku masih sebal dengan nenek tua itu.


Tiba-tiba perutku berbunyi dengan begitu keras, wajahku tersipu malu ketika Dimitri juga mendengarnya.


“Anakku pasti lapar. Aku akan membawa makanan untuk kalian.”


Wajah Tuan Dimitri langsung secerah mentari, dia pergi ke luar kamar dengan cepat.


Dasar! Hanya ada anak ini di dalam pikirannya.


Kamu harus tumbuh sehat, nak. Mama juga akan melindungimu mulai sekarang. Kamu sungguh beruntung ada dua orang yang begitu mencintaimu.


***


Dalam beberapa hari, aku sibuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengan raja. Baju-baju mewah sudah tersedia, Eden juga mengajariku tata krama layaknya gadis bangsawan.


Dimitri begitu lembut dan perhatian, selalu bertanya padaku apakah aku lapar. Aku memang lapar terus sejak ada anak vampir dalam rahimku. Anehnya, aku tidak pernah muntah. Selera makanku juga meningkat tajam.


Aku menjadi orang yang pemilih makanan, kalau dulu sih bisa makan aja udah syukur.


Kami sedang duduk di meja aula ketika pelayan yang baru menggantikan Gladys mengantar makan siang untukku, “Ini nona Chloe.”


Aku mengendus ayam panggang itu dan mengernyit, “Aku tidak suka, ini dipanggang terlalu matang dan kering. Ugh…”


Dimitri menyuruh pelayan baru itu untuk menggantinya sesuai dengan yang kumau.


“Maaf, Dimitri. Tapi aku memang tidak selera dengan yang tadi.”


“Sepertinya peanut akan jadi anak yang pemilih.” Tuan Dimitri tersenyum.


Peanut, nama panggilannya untuk anak yang ada di rahimku.


“Sebentar lagi dia tidak akan sebesar kacang, tuan,” aku memanyunkan bibirku dan melihat ke perutku yang sudah terlihat membesar sedikit dari beberapa hari yang lalu.


Tuan Dimitri mengecup keningku lalu perutku, “Aku sudah tidak sabar melihat peanut.”


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...

__ADS_1


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...


__ADS_2