
“Apa kepentingan kalian datang ke Istana Navarre?!” seru penjaga gerbang dari atas.
Edric mengeluarkan sebuah lencana berwarna hijau gelap dengan tanduk rusa, “Aku Edric Suarez, duta perdamaian dari Kerajaan Azov ingin menemui raja kalian atas utusan Raja Azov!”
Tampak mereka berbisik, lalu yang satunya menganggukkan kepala dan berteriak. “BUKA GERBANGNYA!!”
Perlahan gerbang besar menuju Istana Navarre pun terbuka lebar untuk lima orang tamu itu. Tidak tampak banyak kegiatan di dalam halaman luas istana, beberapa pelayan yang mondar-mandir melakukan tugas mereka hanya menatap dan memberi senyuman ramah.
Sesampainya di depan pintu besar, seorang pria berjenggot panjang dan berjubah cream sudah menunggu kedatangan mereka.
“Selamat datang, anda pasti Edric Suarez, duta perdamaian Kerajaan Azov.” Dia menjabat tangan Edric.
“Betul. Kalau saya tidak salah, anda pasti Jerrick, penasihat Raja Navarre.”
“Penasihat Raja Lewis sekarang.” Dia tersenyum, lalu memandang empat orang lainnya, “Kalian…,”
Edric mengenalkan mereka satu per satu.
“Ah, jadi anda yang membantu Kerajaan Azov dalam menggagalkan rencana gila Nelson? Terima kasih banyak, Tuan Dimitri. Ehmm… Sayang sekali Komandan perang Azov tidak bisa ikut, padahal saya sangat ingin bertemu dengannya.”
Dimitri menatap Chloe, “Dia pasti juga ingin bertemu denganmu, Jerrick. Tapi kami datang bukan untuk mendengar ucapan terima kasihmu.”
Jerrick mengangkat alisnya. “Apakah ada masalah lain yang terjadi? Nelson telah meninggal dan Raja Lewis ingin berdamai dan minta maaf atas perbuatan saudaranya tirinya.”
“Bukan. Kami bukan datang untuk urusan politik. Apakah ada seorang anak kecil yang dikirim Nelson kesini?”
Mata Jerrick langsung melebar. “Oh ya! Dia datang empat hari yang lalu dengan seorang wanita yang berkata bahwa Nelson menyuruhnya mengantar anak itu sebagai penerusnya.”
Jerrick terkekeh, “Tentu saja tidak ada yang percaya! Anak itu sungguh berbeda dengan Nelson. Malah kamu lebih mirip dengannya, Tuan Dimitri.”
Lalu Jerrick terdiam, seakan sadar.
“Dimana dia sekarang?”
“D-dia ada di dalam istana dengan Raja Lewis, tuan. Mari ikut dengan saya.”
Jerrick menuntun mereka semua untuk masuk. Tapi di depan pintu besar, mereka dihalangi oleh dua orang penjaga pintu yang memblokir akses masuk mereka dengan dua pedang disilangkan.
“Maaf, tuan dan nona. Segala pedang dan pisau tidak boleh ikut masuk ke dalam Istana. Mohon tuan dan nona melepaskan senjata kalian.”
Draven tidak percaya dengan peraturan itu dan protes, sedangkan Dimitri segera melepas sabuk pedangnya dan menyodorkan pada seorang pelayan yang sudah menunggu, disusul oleh Chloe.
__ADS_1
“Maaf atas ketidaknyamanan ini. Tapi senjata kalian akan kami simpan dengan aman.” Jerrick tersenyum kecut.
“Ukuti saja peraturan mereka, Draven. Kita akan pergi setelah bertemu dengan Dwayne,” bisik Adreana.
Dengan patuh, Draven pun merelakan pedangnya dibawa pergi.
“Kamar kalian telah disiapkan, begitu pula dengan makan siang.”
“Tidak perlu, Jerrick. Selesai menjemput anak itu, kita akan kembali ke Kerajaan Azov.” Edric berkata dengan nada tidak sabaran.
Jerrick terlihat kecewa, “Kenapa terburu-buru? Kalian pasti akan terpana dengan keindahan kerajaan ini. Raja Lewis juga pasti ingin menjamu kedatangan kalian.”
“Terima kasih atas tawaranmu, Jerrick.”
“Mari ikut dengan saya. Mereka pasti sedang bermain di taman. Raja Lewis tidak bisa pisah dari anak kecil itu.”
“Itu mereka di sana, bermain dengan burung elang peliharaan Raja Lewis.”
Di taman dengan pepohonan hijau yang rindang, seorang anak kecil berambut coklat terlihat melompat-lompat untuk menggapai seekor burung elang yang bertengger di tangan pria berbadan tinggi.
Ketika Chloe dan yang lainnya mendekat, anak kecil itu menoleh.
Dwayne mengedipkan matanya beberapa kali dan melihat siapa yang menggendongnya.
Sedangkan di ujung sana, Edric menepuk keningnya. Chloe lupa dengan perjanjian mereka untuk tidak menggunakan kekuatan teleportasinya di depan manusia! Jadi dia cepat-cepat menghilangkan ingatan beberapa detik itu dari Raja Lewis dan Jerrick.
Chloe tersenyum lembut, “Hai. Kamu pasti Dwayne.”
Dwayne mengalihkan pandangannya ke Dimitri yang sudah berdiri di samping mereka, lalu menatapnya lagi. “Mama!”
Chloe terperangah. Tangan kecilnya memegang pipi Chloe. Dia hanya mengikuti instingnya saat anak ini hampir jatuh dan masa bodoh dengan kehadiran manusia di sekitarnya. Dia ingin melindungi bocah kecil ini yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan mama!
“Mama?” Chloe mengerutkan keningnya dan menatap Dimitri bingung. Dia mengembalikan Dwayne ke pelukan Dimitri.
“Dwayne, kamu tidak apa-apa, sayang? I miss you so much.” Dimitri menge*cup pipi chubby-nya.
“Dia menyebutmu papa? Jadi kamu sudah punya seorang anak, Dimitri?? Tapi kamu… Bagaimana bisa kamu punya seorang anak? Atau dia hanya anak angkat?”
Kulitnya hangat, menandakan Dwayne adalah seorang anak manusia. Lalu Chloe ingat kalau Dimitri pernah bilang Dwayne itu sama dengannya. Tapi Chloe tidak berpikir bagaimana Dwayne bisa lahir ke dunia.
__ADS_1
Manik mata coklat itu menatap Chloe. Walaupun wajah anak kecil itu mirip dengan Dimitri, tapi dia memiliki warna rambut dan mata yang sama dengan Chloe.
Dimitri menoleh ke belakang, “Maaf. Bisakah kalian memberi kami sedikit privasi?”
Edric mengangguk dan membubarkan mereka semua dari sana. Namun Raja Lewis yang tadinya hanya menatap dari kejauhan, akhirnya mendekati mereka.
“Kalian orang tua Dwayne yang sebenarnya? Aku sudah tau kalau saudaraku berbohong saat dia mengirim Dwayne kesini dan bilang bahwa Dwayne adalah penerusnya.”
Lewis memperhatikan Dimitri dari atas ke bawah. Walaupun di tangannya ada seorang anak kecil, tapi postur tubuhnya tetap mengintimidasi. Tatapan mata itu menunjukkan bahwa dia bukan pria biasa.
Lalu Lewis melihat wanita yang di samping Dimitri. Dia adalah wanita paling cantik dan menawan yang pernah Lewis lihat. Sayang sekali dia sudah menjadi milik orang lain.
“Selamat datang di Kerajaan Navarre. Setelah kalian melepas rindu, temui aku di dalam. Bye, Dwayne.”
“Bye, Lewis. Nanti kita main-main lagi yaaa…” Dwayne melambaikan tangan kecilnya.
Setelah yang lainnya semua masuk ke dalam, hanya tersisa tiga orang itu di taman yang penuh kicauan merdu burung-burung peliharaan Lewis.
“Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Dimitri.” Chloe memicingkan matanya, “Saat aku bertanya di pelabuhan itu, kamu mengalihkan topik pembicaraan. Kamu tidak menjawabku secara langsung. Jadi aku akan bertanya sekali lagi…”
Dwayne kebingungan melihat dua orang dewasa itu. “Mama, please, jangan marah.”
“Maaf, tapi aku bukan mamamu, Dwayne.”
Anak itu langsung mengerutkan keningnya dan hendak menangis. Dimitri menepuk punggungnya pelan.
“Mama cuma lupa, Dwayne. Mama tidak ingat kalau dia pernah melahirkan seorang anak menggemaskan ke dunia ini.”
...----------------...
Hello hello!
Author kembali aktif nulis lagi yah. Dengan membawa kabar gembira!! Terima kasih semuanya yang masih setia menunggu update novel ini 🥰🥰
Banyak alasan yang membuat author selama hampir dua minggu tidak aktif di sini. Selain karena sibuk di real life, juga sedang urus kontrak di PF lain.
Terusss, tiba-tiba ada notif masuk kalau rekomendasi crazy up MTD uda dimasukin ke daftar Crazy Up. Jadi kalian tau kan berapa lama author nunggu dari kemarin cuma untuk bisa dapat promosi aja di sini.
Kabar bahagianya:
...Satu minggu full akan update 3 bab per hari!!...
__ADS_1
...Please support dengan like vote comment kalian yaaa 😍😍😍...