
...Kastil Sheadore, Kerajaan Sheadore...
Beberapa bulan sebelumnya…
“Sampai kapan musim dingin ini berlangsung? Seharusnya satu bulan yang lalu kita sudah masuk musim semi! Bahan pangan darurat kita semakin menipis. Rakyat sudah menjerit, Tuan Putri.”
“Kiriman dari negara tetangga akan segera tiba. Pastikan rakyat jangan sampai kelaparan. Ambil makanan dari lumbung kerajaan dan bagikan kepada mereka. Jika ada yang ketahuan korupsi, hukumannya adalah pemenggalan.” Suara Kiara terdengar tegas.
Kiara sedang melakukan rapat dengan pejabat daerah dan para petugas Kerajaan Sheadore untuk membicarakan krisis yang sedang melanda kerajaannya.
“Pemenggalan bagian tubuh yang mana, Tuan Putri?”
Kiara mengangkat alisnya ke atas. “Tidak ada belas kasihan pada pejabat yang berani mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat. Terutama di masa krisis seperti ini. Hukuman bagi yang korupsi adalah pemenggalan kepala.”
Semuanya terkesiap. Biasanya hukuman itu hanya diberikan pada pembunuh. Tapi menurut Kiara, perbuatan mengambil hak orang lain apalagi sampai menyengsarakan orang lain demi menguntungkan diri sendiri adalah setara dengan aksi pembunuhan.
Rapat pun selesai dan tak ada yang berani memprotes kebijakan yang diambil Tuan Putri mereka.
Di balik ketegasan ekspresi Kiara, ada kegetiran yang tak dapat dia tunjukkan. Kiara menatap sekeliling kerajaannya yang diselimuti oleh salju tebal. Musim dingin seharusnya berakhir satu bulan yang lalu.
Apa yang terjadi? Ini adalah musim dingin terpanjang di Kerajaan Sheadore. Banyak yang percaya bahwa mereka sedang dikutuk.
“Bagaimana keadaan Cyrus?” tanya Kiara setelah membuka pintu sebuah kamar di bagian selatan kastil. Perapian menyala 24 jam, sehingga kamar itu tetap hangat.
Tampak seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, terbaring di atas kasur empuk yang besar.
Sang pelayan yang menjaga anak laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya. “Keadaan Tuan Cyrus masih sama, Putri. Belum membaik. Ini pasti karena musim dingin yang tak usai. Tabib sudah bilang kalau penyakit Tuan Cyrus bisa sembuh dengan matahari musim semi.”
Kiara mendekat dan duduk di ujung kasur. Hatinya berdenyut perih melihat keponakannya tak berdaya.
Sejak kedua orang tuanya meninggal, Cyrus yang masih berumur 6 tahun saat itu dinobatkan sebagai Putra Mahkota Kerajaan Sheadore. Dia masih sangat kecil, sehingga Kiara mengambil alih tugas Cyrus sampai dia cukup umur dan bijaksana untuk memimpin kerajaan ini.
Namun setahun yang lalu Cyrus tiba-tiba jatuh sakit. Kiara sudah mendatangkan seluruh tabib dari penjuru negeri dan menghabiskan banyak uang. Hasilnya sia-sia. Cyrus tak bisa sembuh dari penyakit misterius yang diidapnya.
__ADS_1
Kiara mengangkat lengan baju Cyrus ke atas. Ruam merah yang menghiasi seluruh tubuh Cyrus tidak menghilang. Malah sepertinya semakin parah.
“Tapi dia tak sepanas semalam,” ucap Kiara setelah menempelkan telapak tangannya di kening Cyrus.
Penyakit ini tak menyebar dari kulit ke kulit. Namun yang bisa masuk ke kamar dan menjaga Cyrus hanya beberapa orang yang Kiara percaya.
“Ya, Putri. Demam Tuan Cyrus tak separah semalam. Nafsu makannya juga bagus.”
Cyrus mengerjapkan matanya. Terbangun dari tidur lelapnya. “Kiara?”
“Selamat pagi, Cyrus. Bagaimana perasaanmu?”
“Badanku pegal karena di atas kasur terus. Aku ingin keluar, Kiara. Aku bosan di kamar ini terus. Aku ingin berkuda dan berburu denganmu.”
Ada batu besar yang mengganjal kerongkongan Kiara. Setiap kali dia mendengar rengekan Cyrus, hatinya tidak tega. Dia ingin Cyrus segera sembuh. Kalau bisa, dia yang akan menanggung penyakit Cyrus.
“Sabar sebentar lagi, Cy. Kamu belum cukup kuat.”
“Apakah matahari musim semi telah terbit?” Cyrus selalu menanyakan itu.
Kiara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Please, jangan berkata seperti itu Cyrus. Kamu harus semangat agar kamu cepat sembuh.”
Cyrus memaksakan sebuah senyuman. “Aku tahu, Kiara…”
“I love you.” Kiara mendaratkan kecupan di kening Cyrus. Mereka berbincang untuk beberapa saat sampai asisten kerajaan memanggil Kiara bahwa telah terjadi keributan saat membagikan bahan makanan kepada rakyat.
Kiara bergegas menuju gerbang terdepan kerajaan yang terbuka lebar agar rakyat bisa mengantri untuk mengambil jatah mereka.
Ternyata keributan itu terjadi karena rakyat berdesakan dan memperebutkan antrian karena takut mereka tidak kebagian makanan.
“Semuanya, harap tenang. Persediaan masih banyak. Tolong jangan saling sikut dan membahayakan diri kalian. Ini, silahkan diambil.” Kiara membantu membagikan paket berisi roti, keju dan susu.
“Terima kasih, terima kasih banyak, Tuan Putri.”
__ADS_1
Kiara terus membagikan paket-paket itu sampai saat seorang wanita berjubah hitam yang sedikit bungkuk, berdiri di hadapannya.
“Ini, silahkan.” Kiara berkata ramah. Namun wanita berjubah itu tak langsung mengambilnya dari tangan Kiara.
“Saya bisa menyembuhkan Putra Mahkota.”
“Apa?”
“Saya bisa menyembuhkan Putra Mahkota yang saat ini sedang sakit, Putri Kiara.”
“Kalian lanjutkan pekerjaan kalian,” ucap Kiara pada para petugasnya lalu dia menyuruh wanita berjubah itu mengikutinya.
Mereka berhenti di tempat yang cukup sunyi.
“Aku sudah pernah melihat semua tabib di penjuru negeri ini. Tapi kamu… Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Maafkan saya. Perkenalkan nama saya Hecate.”
“Hecate. Apakah benar kamu bisa menyembuhkan Putra Mahkota?”
“Saya jamin saya bisa menyembuhkan Putra Mahkota.”
“Kalau begitu, apa yang perlu ditunggu lagi? Ayo—“
“Namun anda harus memenuhi permintaan saya.”
Kiara sangat ingin Cyrus sembuh. Dia akan melakukan apapun demi Cyrus.
“Saya sebagai Putri Kerajaan Sheadore, pasti bisa menyanggupi permintaanmu. Apa yang kamu mau?”
“Anda harus menyelamatkan seorang wanita bernama Gwendolyn.”
...----------------...
Bab ini merupakan flashback tentang Kiara.
__ADS_1
Visual Kiara & Ansel bisa cek di Instagram.
@misscapri._