Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Welcome, Baby Boy


__ADS_3


-Kamar Chloe di Kastil D’Arcy-


[Chloe’s POV]


“Tuan Dimitri, tolong ganti baju Chloe dengan yang lebih santai…” Eden mengeluarkan baju tidur putih panjang dari lemari pakaian.


“Dimana kepala pelayan? Aku hanya menyuruhnya untuk memasak air tapi dia lama sekali!” gerutu Eden sambil menjulurkan kepalanya keluar pintu kamar.


Tuan Dimitri membuka bajuku dengan penuh hati-hati. Wajahnya tersentak ketika melihat perutku dan aku melihat ke bawah. Garis urat biru menghiasi perutku yang keras.


“Chloe, semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa, babu kecil,” ucapnya lembut, tapi dia merobek bajuku dengan cepat.


Aku tidak banyak bergerak dan membiarkannya mengganti baju yang basah dengan yang baru. Aku hanya bisa merasakan sakit di seluruh tubuhku, bulir keringat mengucur deras, jantungku berdegup keras dan napasku terengah.


“Eden, apa ini normal?” Tuan Dimitri mengernyitkan dahinya khawatir.


“Melahirkan seorang bayi vampir tentu akan berbeda dengan melahirkan bayi manusia, tuan. Mungkin akan lebih sakit… Chloe, kamu harus mempersiapkan dirimu.”


Eden sudah memberitahuku bahwa kelahiran bayi ini akan lebih susah tapi aku tidak menyangka rasa sakitnya akan seperti ini. Seperti ada yang mencakar perutku dari dalam, berusaha keluar.


Kedua kaki terlentang lebar, telapak berada di atas kasur dan aku merasa ada kontraksi yang lebih hebat dari sebelumnya. Aku menjerit keras saat bayiku mencari jalan keluar.


“Dorong kuat, Chloe!” Eden dibawah kaki kasur, memberi semangat.


Semangat? Rasanya aku sudah mau mati. Semua tubuhku terasa remuk. Rasa sakit itu menjalar dari area panggul, perut, punggung dan pangkal paha.


“T-tuan, kalau aku mati, kamu berjanji akan merawat dan menyayangi… A-anak ini?”


Wajahnya yang sudah pucat, semakin pucat dan dia menggenggam tanganku erat. Satu tangannya mengelus keningku yang berkeringat.


“Kamu bicara apa, Chloe? Kamu dan bayi ini akan selamat. Kamu wanita yang kuat, Chloe.”


Pintu kamar terbuka, “Apa bayinya sudah keluar?”


Kepala Putri Adreana nongol dan Tuan Dimitri menggeram, “Keluar!”


Pintu pun ditutup kembali.


Aku menjerit keras dan aku dapat merasakan bayiku sudah menemukan jalan keluarnya.


“Kepalanya sudah keluar, Chloe!”


“Uggghhh!!”


Kepalaku berputar, penglihatanku kabur, yang ada di benakku hanyalah melahirkan anak ini dengan selamat.


“Selamat, Tuan Dimitri. Kamu punya anak laki-laki sekarang.”


Tangisan bayiku pecah dan aku tersenyum lemah saat mendengar suara tangisannya untuk pertama kali. Rasa bahagia memenuhi seluruh hatiku. Semua sakit dan derita terbayarkan dengan lahirnya peanut ke dunia.


“Bayi laki-laki seperti yang kamu mau, Tuan Dimitri…”


Dia melepas tanganku tanpa melihatku lagi. Tatapannya hanya terfokus pada sosok kecil yang masih merah di tangan Eden.


Dengan lembut, Eden memindahkan bayiku ke tangan besar ayahnya. Aku hanya dapat melihat punggung Tuan Dimitri dan mereka berbisik sesuatu.


“Selamat datang ke dunia, Dwayne Ansel D’Arcy.”

__ADS_1


DEG!


Tuan Dimitri sudah memilih nama untuk anak kami?


Aku mengangkat tanganku lemah ke arah mereka dan berkata, “Tuan Dimitri, aku juga mau melihat Dwayne…”


Aku pikir Tuan Dimitri akan membalikkan badannya setelah peanut ada di dekapannya tapi Tuan Dimitri malah melangkah ke arah pintu.


Aku bingung, rasa takut mulai menyelimuti.


“Tuan Dimitri, anakku…” ucapku lirih.


Dia hanya menolehkan kepalanya untuk melihatku, wajahnya sangat dingin tanpa ekspresi. Bibirku mulai bergetar, butir air mata yang memenuhi pelupuk mataku hampir jatuh.


Tanpa sepatah kata, Tuan Dimitri keluar dari kamar.


Aku panik dan menjerit, “Tuaaan, anakku!!”


Badanku masih terasa sakit tapi entah dari mana kekuatan itu, aku menggerakkan tubuhku untuk menggapai bayi yang dibawa pergi Tuan Dimitri. Badan bagian atasku terjatuh di lantai dengan kaki yang masih bertahan di atas kasur.


“Chloe!”


Eden mengangkat tubuhku kembali tapi aku berontak, “Eden! Anakku! Dia mau membawa anakku kemana??”


“Tenang, Chloe! Tuan Dimitri akan memandikannya di ruangan terpisah.”


Aku tidak bisa percaya perkataan Eden setelah melihat wajah Tuan Dimitri. Aku tidak percaya!


“Aku mau memeluk anakku, Eden! Kembalikan bayiku, Eden!!”


Aku kembali berontak, tubuhku yang masih lemah semakin tak berdaya. Kesadaranku lambat laun sirna, aku memaksa kedua mataku terbuka lebar tapi aku tidak mampu.


Aku hilang kesadaran sebelum dapat mendengar apa yang akan dikatakan Eden.


***


Gelap.


Hening.


Aku menggerakkan tanganku perlahan untuk memastikan bahwa aku telah sadar, Mengedipkan kedua mataku tapi tidak dapat melihat apa-apa.


Aku mengangkat tanganku dan meraba mataku, ada sehelai kain yang terikat disana.


“Ughhh…”


Tanganku hendak membuka penutup mata itu tapi seseorang mencegahnya.


“Chloe, jangan dilepas. Kalau kamu mau memeluk anakmu, kamu tidak boleh melepas penutup mata ini. Mengerti?” suara Eden terdengar.


Aku tidak mengerti. Kenapa aku tidak boleh melihat anakku sendiri?


“E-eden… Dimana anakku?” tenggorokanku kering, aku haus.


Aku merasa sebuah cangkir didekatkan ke mulutku dan aku meneguk airnya dengan cepat. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku.


“Dwayne memuntahkan susu sapi yang dia minum, sepertinya dia tidak suka susu sapi. Jadi tidak ada pilihan lain, kamu harus menyusuinya.”


“Tentu saja, Eden. Aku bisa menyusui anakku sendiri, kenapa kalian memberinya susu sapi?”

__ADS_1


Eden tidak menjawab tapi dia memperingatkan lagi padaku untuk tidak membuka penutup mata itu. Aku mendengar pintu kamar terbuka dan suara tangis bayi itu sangat lemah. Sepertinya dia telah menangis berjam-jam.


Aku mengangkat kedua tanganku, ingin segera memeluk bayi malang itu. Mereka tega memisahkan Dwayne dengan ibunya.


“Dwayne tidak mau berhenti menangis… Aku coba memberikan susu sapi lagi tapi dia muntah lagi,” ucap Adreana.


Sepasang tangan meletakkan bayi itu di dadaku, dari sentuhannya aku tau itu tangan Tuan Dimitri.


Senyum merekah di wajahku saat pertama kali aku merasakan bayi mungil itu berada di lenganku. Aku langsung membuka kancing bajuku, tapi aku tidak bisa melihat sehingga bayi kecilku kebingungan mencari sumber.


“Disini, sayang,” ucap Tuan Dimitri lembut dan mengarahkan sumber ASI ke mulut Dwayne yang mungil.


Aku terkesiap ketika pertama kali dia menghisap, tapi selanjutnya semua terasa natural. Senyuman tidak dapat hilang dari wajahku saat kudengar bayiku minum dengan lahap.


Seisi ruangan dipenuhi suara Dwayne sedang menyusu. Aku menyentuh kulit halusnya, tangan dan kakinya yang masih mungil. Mungkin ada 25 menit berlalu aku menikmati keberadaan Dwayne dalam dekapanku.


Aku sudah menjadi seorang ibu! Tapi ada satu hal yang janggal.


“Tuan, aku mau melihat wajah Dwayne. Kenapa kalian menutup mataku?”


Adreana yang masih berdiri disana menyaksikan, langsung menyambar, “Tidak boleh, Chloe! Kamu tidak boleh melihat bayi ini karena…”


“Adreana!” hardik Tuan Dimitri.


Senyumanku hilang, “Karena apa? Kenapa aku tidak boleh melihat anakku sendiri?!”


Aku hendak membuka penutup mataku lagi, tapi tangan besar mencengkeram lenganku dengan erat.


“Kalau kamu membuka penutup mata ini, aku akan mengambil Dwayne pergi.”


“Tidaak! Ini anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri! Aku ibunya! Kalian tidak berhak untuk mengambilnya pergi!” jeritku dan mulut Dwayne berhenti minum.


Dia kembali menangis karena terkejut mendengar jeritanku, aku mendekapnya erat, takut jika mereka merampas bayi kecil ini dari pelukanku.


Tuan Dimitri berdecak, dia hendak mengangkat Dwayne dari dekapanku.


“Tidak, Tuan! Jangan ambil anakku!”


Tapi aku tidak mungkin menarik tubuh mungil Dwayne. Tuan Dimitri menggendongnya dan aku menangis. Penutup mata itu basah oleh air mataku, mengalir turun ke pipi.


“Aku janji tidak akan membukanya, tuan… Kembalikan Dwayne…” isakku lirih.


Dwayne langsung terdiam ketika dia berada di pelukan ayahnya.


“Dia sudah kenyang dan mengantuk.”


Aku mendengar langkah kakinya menjauh dan aku hendak mengejar tapi Eden mencegahku. Kedua tangannya di bahuku menahan.


“Chloe, tenang saja. Kalau Dwayne lapar, aku akan membawanya kembali.”


Kepalaku berputar dengan penuh keheranan, banyak pertanyaan yang melintas tapi rasa takut akan kehilangan anakku melebihi segalanya.


“Kenapa? Kenapa Eden? Kenapa kalian tidak bisa memberiku jawaban kenapa aku tidak boleh melihat anakku sendiri?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...

__ADS_1


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...


__ADS_2