
“Aku tahu diet aneh kedua orang tuamu. Jangan bilang, kamu juga mengikuti jejak mereka makanya kamu tidak tertarik?” tanya Magnus.
“Aku bebas memilih makananku.”
“Kalau begitu, pilih satu yang kamu suka. Selama kamu tinggal di sini, kamu butuh makanan.”
Ansel memperhatikan kedua belas wanita itu dengan tatapan datar. Tak ada yang secantik Gianna. Tapi dia harus memilih satu agar Magnus tidak mengganggunya terus menerus.
Semua wanita menatap Ansel dengan mata bersinar penuh harapan. Mereka ingin dipilih oleh pria tampan dengan tubuh tinggi tegap itu. Tak peduli mereka akan diapakan nantinya.
Ada sesuatu dalam diri Ansel yang membuat para wanita lengket dan tunduk. Seperti terhipnotis.
“Dari mana kamu mendapatkan wanita-wanita ini?”
“Yang pasti aku bukan menculik. Mereka kubeli dari slave market,” jawab Magnus santai sambil menyesap anggurnya.
Pasar budak sudah ilegal sekarang. Tidak sembarang orang bisa bertransaksi di pasar budak. Kebanyakan yang diperjual belikan adalah anak yatim piatu atau anak dari keluarga miskin untuk membayar utang.
“Lalu setelah kamu bosan, kamu kemanakan mereka semua? Pasti ini bukan pertama kalinya kamu melakukan ini.”
“Aku jual mereka kembali pada penjual terdahulu. Kamu pikir aku mau minum darah dari wanita yang sama terus menerus? Oh, tidak. Kamu pasti tahu maksudku. Jadi, kamu sudah menentukan pilihanmu?”
Sial!
“Dia. Aku mau dia.”
__ADS_1
Semua melihat ke arah wanita yang ditunjuk Ansel.
“Kiara… Kamu dipilih!” bisik Matilda sembari mencoel belakang punggung Kiara.
“Huh?” Kiara menoleh ke samping dan terkejut saat pria itu menunjuknya. “Aku??”
Sejak masuk ke ruangan besar yang kelihatannya seperti singgasana seorang raja—namun lebih menyeramkan—mata Kiara hanya tertuju pada satu orang.
Magnus.
“Ya, kamu. Siapa namamu?” tanya Ansel sedikit jengkel.
“Kiara, Tuan. Pilih saja yang lain. Saya tidak bisa melayanimu.”
Terdengar suara terkesiap karena Kiara dengan berani menentang tamu penting Magnus.
Dengan langkah penuh determinasi, Kiara melangkah ke hadapan Magnus. Begitu sampai, Magnus menamparnya dengan begitu keras sampai Kiara jatuh ke lantai.
Lalu Magnus mencengkeram rambut panjangnya. “Berani sekali kamu menolak keinginan temanku. Kamu pikir kamu siapa, huh? Kamu lebih rendah dari kuda peliharaanku!”
“Magnus, hentikan.”
“Kalau dia menyuruhmu untuk menjilat air kemihnya, kamu juga harus menurutinya!! Mengerti?!”
Kiara memejamkan matanya dengan erat. Pipinya sangat nyeri akibat tamparan keras dari tangan besar itu. Rambutnya ditarik tanpa ampun dan wajah penuh amarah Magnus membuat jantungnya berdebar kencang.
__ADS_1
Magnus bisa saja membunuh dia saat ini dan Kiara tidak dapat melakukan apa-apa.
“A-aku mengerti…” lirihnya.
“Dengan siapa kamu berbicara?!” Magnus masih belum melepaskan cengkeramannya.
“Aku mengerti, Tuan Mag—“
Tiba-tiba saja sebilah pedang menebas tangan Magnus yang mencengkeram rambut Kiara. Terdengar suara jeritan dari para wanita di belakang mereka.
Magnus menatap tangan kanannya yang putus, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat pelaku penebasan tersebut.
“Kamu telah memberikannya padaku. Itu artinya dia milikku. Dan aku tidak suka kalau barang milikku dipegang oleh orang lain.” Ansel menatapnya tajam.
Dia sama sekali tidak takut terhadap pria yang merupakan ketua klan Children of The Night. Ansel bisa saja menunggu sampai amarah Magnus berhenti dan dia dengan sendirinya akan melepas budak itu.
Namun tidak tahu mengapa, Ansel tidak suka Kiara diperlakukan seperti itu.
Gigi taring Magnus keluar. Menahan seluruh tubuhnya untuk tidak melakukan perlawanan balik. Lalu amarah itu reda dan menghilang.
“Ck, ck… Lihat apa yang dia lakukan untuk melindungimu, Kiara. Kamu masih menolak untuk menjadi budaknya?”
...----------------...
Terkejut setelah sekian lama tidak buka NT, tiba-tiba cover sudah berubah. Ternyata dapat cover gratis dari NT 😄
__ADS_1
Terima kasih yang sudah sabar nunggu UP cerita ini. Ada satu bab lagi menyusul ya \~