Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Keinginan Terdalam


__ADS_3

Chloe menengadahkan kepalanya, bibirnya penuh dengan darah rusa dan perlahan manik merahnya yang berkilau berubah warna menjadi coklat hazel.


“Jangan-jangan kekuatanmu adalah teleportasi?”


Dia tidak menjawab dan melanjutkan santapannya. Edric masih terpukau karena menyaksikan kekuatan Chloe secara langsung di hadapannya. Rasa bangga dan kagum berkembang memenuhi dadanya.


Ini juga menjelaskan bagaimana Chloe bisa sampai ke Kerajaan Azov. Bukan Dimitri yang membuangnya disini.


Dia tidak percaya kalau Dimitri begitu tega terhadap Chloe karena terakhir kalinya mereka bertemu, Dimitri sangat posesif pada anaknya.


Chloe sendiri yang mau kesini!


Edric ingin memeluk anaknya dengan erat, tapi dia takut Chloe akan menolak. Hubungan mereka tidak seperti layaknya hubungan ayah dan anak biasanya. Namun Edric akan melakukan apa saja untuk membuat Chloe bahagia.


Untuk sekarang, Edric akan menuntunnya mengambil langkah kecil. Chloe belum siap untuk berlari. Edric juga belum berani untuk menguak masa lalu yang dikubur rapat secara tidak sadar oleh Chloe.


Pasti ada alasan mengapa Chloe melakukannya.


Chloe mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, “Aku sudah selesai. Kamu tidak mau, Edric?”


Edric. Setidaknya dia memanggilku dengan nama depan. Bukan Tuan Suarez lagi. Walau hatiku berharap dia memanggilku ‘papa’.


“Aku sudah berburu sebelum membawamu keluar, Chloe. Kamu mau istirahat kembali di kamarmu?”


Chloe bangkit berdiri dan melirik busur yang ada di tangan Edric.


“Aku mau mencobanya.”


Edric mengangkat busur itu, “Oh, kamu mau berlatih memanah? Baik, aku akan mengajarimu dengan senang hati.”


Senyuman tidak bisa lepas dari wajah Edric. Dia melihat wajah anaknya yang penuh konsentrasi mendengar penjelasan Edric tentang hal dasar memanah.


Percobaan pertama, anak panah nyaris berhasil menancap di titik tengah dari sebuah tanda yang dilingkari Edric di batang pohon.


“Kamu punya tangan yang stabil dan kuat, Chloe!”


Chloe kembali mengambil anak panah, membusungkan dadanya, menarik busur dan membidik sasaran.


Tepuk tangan Edric menggema, “Perfect! Kamu punya bakat terpendam, Chloe.”


Tanpa sadar Edric mengelus kepalanya dan Chloe tidak menghindar.


“Apa sebelumnya aku tidak bisa memanah, Edric? Aku rasa ini sangat mudah.”


Chloe bingung karena saat busur dan anak panah itu ada di tangannya, semua terasa natural. Seperti dia sudah pernah melakukan ini sebelumnya.


Edric tidak dapat memberi jawaban yang pasti karena dia tidak tau apa kegiatan Chloe sebagai manusia dulunya!


“Ehmm… Beberapa orang memang terlahir dengan bakat yang tidak dapat dijelaskan, Chloe. Ditambah lagi kamu adalah vampir sekarang. Aku jadi tidak sabar untuk melihat apa yang bisa kamu lakukan lagi.”


Energi Chloe menggebu-gebu.


“Aku ingin memanah sasaran yang bisa bergerak.”

__ADS_1


Edric melihat sekeliling mereka, langit sudah gelap namun penglihatan vampir membuat semuanya menjadi jelas. Semua hewan telah bersembunyi, hanya ada suara jangkrik dan serangga kecil lainnya.


“Setelah badanmu lebih tahan dengan sinar matahari, kita bisa berburu di pagi hari.”


Chloe mengangguk dan mereka berjalan bersama kembali ke kastil. Tidak lupa Edric mengingatkan Chloe untuk tidak menggunakan kekuatannya di depan manusia.


Begitu banyak yang harus diselesaikan oleh Edric. Dia harus berhadapan dengan keluarga besar Suarez dan ketua klan Children of the Night, Magnus.


Anakku, sangat banyak rintangan yang ada di depanmu tapi papa akan selalu berada di sampingmu.


Mereka masuk ke aula kastil dan seorang pelayan muda memberikan surat pada tuannya.


“Tuan Suarez, kebetulan sekali saya baru saja mau ke ruang kerja anda. Ada surat yang baru datang.”


Lalu mata pelayan itu melihat Chloe, dia tersipu malu dan menundukkan kepalanya.


Ternyata Chloe sedang menjilat bibirnya sendiri! Bau darah pria itu memanggilnya walaupun dia sudah kenyang.


SNAP!


“Kamu bisa pergi sekarang, terima kasih.” Edric mengambil surat itu dari tangan pelayannya.


“Baik, Tuan Suarez. Permisi.”


Edric menggenggam kedua bahu Chloe, “Kamu harus bisa mengontrol nafs*mu. Tidak ada seorang nona yang bersikap begitu di depan pelayannya.”


Chloe sadar diri kalau yang dilakukannya salah.


“Baik, tapi apa yang kamu lakukan padanya, Edric? Aku lihat kamu menjentikkan jarimu.”


Chloe mencobanya sendiri saat seorang pelayan wanita kebetulan lewat untuk mengganti lilin yang sudah hampir habis.


“A-aku sangat ingin menikah dengan pacarku, Nona Eliza. Tapi dia tidak kunjung melamar.”


Lalu pelayan itu tersentak dan menutup mulut dengan tangannya sendiri, “Maaf, nona…”


Chloe tersenyum jahil saat pelayan itu dengan wajah merah padam berlalu pergi. Edric ikut senang saat melihat senyuman pertama Chloe.


“Apa yang kamu tanyakan padanya, Chloe?”


“Aku bertanya apa keinginan terdalamnya, Edric.”


“Kalau begitu, apa keinginanmu yang paling dalam Chloe?”


Chloe tampak berpikir sebentar.


“Aku ingin mengingat semuanya kembali, Edric. Aku ingin melihat wajah ibuku… Aku mau tau apa yang menyebabkan ingatanku terkunci.”


Edric menatapnya nanar. “Hanya kamu yang bisa membuka kembali ingatanmu, Chloe.”


***


Dia berada sendirian di ruang kerjanya, membuka surat yang baru saja dia terima tadi. Surat dari mata-matanya di Kerajaan Rudolmuv.

__ADS_1


Tuan Suarez yang terhormat,


Kami akhirnya berhasil mendapat informasi tentang keberadaan gadis bernama Chloe Isabel. Gadis itu telah meninggal, tuan.


Edric berhenti membaca lanjutan surat itu dan memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Walaupun dia tau Chloe sekarang aman di sampingnya, namun membaca surat ini menyakitkan hatinya.


Gadis itu telah meninggal, tuan. Kami mengikuti jejak Tuan Dimitri D’Arcy dan setiap hari dia selalu pergi ke tempat yang sama. Di ujung tebing itu ada makam yang masih baru. Kami sangat yakin karena tertulis nama Chloe Isabel disana, tuan.


Edric masih bertanya-tanya mengapa makam Chloe berada di ujung tebing. Namun tidak ada penjelasan lagi.


Selanjutnya isi surat itu memberitakan tentang keadaan politik di Kerajaan Rudolmuv. Raja mereka sedang mempersiapkan diri untuk berperang namun tidak akan menyerang terlebih dahulu. Mereka masih menunggu kabar dari Raja Azov.


“Kalau saja mereka tau Raja Azov sedang kelimpungan mencari komandan perang yang baru untuk menggantikan Lazarus…”


Lalu sebuah ide muncul di benaknya. Dia tersenyum karena dia dapat membunuh dua burung dengan satu batu atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


Chloe akan menjadi komandan perang Raja Azov dan membuat keluarga besar Suarez tak berkutik.


Edric percaya anaknya itu bisa mengemban tanggung jawab yang besar. Dia memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu dengan cepat namun Chloe harus lebih kuat lagi.


“Tuan, anda mau keluar?” tanya kepala pelayan saat melihat Edric sudah mengenakan mantelnya.


“Ya, Jack. Aku akan pergi menemui Argo, mantan komandan perang Raja Azov.”


Jack menundukkan kepalanya saat Edric menuruni tangga kastil sambil bersiul.


Sejak kedatangan Nona Eliza di kastil ini, tuan jadi lebih semangat dan murah senyum.


***


...[Kediaman Argo, Mantan Komandan Perang]...


“Apa? Jangan ada-ada Edric. Kamu menyuruhku membimbing seorang wanita yang tidak terlatih dari kecil untuk menjadi seorang prajurit? Yang sudah berlatih selama bertahun-tahun saja belum pasti lolos.”


Edric menyesap anggur yang disediakan oleh tuan rumah, mengamati luka goresan di pipi kiri Argo. Kenang-kenangan yang diberikan oleh musuh perang pada masa kejayaannya.


“Bukan untuk menjadi prajurit, Argo. Dia akan menjadi komandan perang Raja Azov.”


“Terserah kamu saja apa itu, Edric. Tapi aku tidak akan menerima tawaranmu.”


Edric berjanji akan memberi bayaran yang besar jika dia setuju untuk melatih Chloe. Namun bukan bayaran yang dikejar oleh Argo. Hidupnya sudah nyaman dan diberi banyak fasilitas sejak dia pensiun.


“Kamu harus bertemu dengan dia dulu, Argo. Aku yakin kamu akan menarik kembali kata-katamu.”


Argo tersenyum remeh.


“Baiklah, Edric. Karena aku sudah menganggapmu sebagai teman lama, aku akan melihat apakah gadis itu benar-benar hebat seperti perkataanmu. Tapi aku berhak untuk menolak jika dia tidak pantas untuk kulatih dan kamu tidak boleh sakit hati.”


Edric tertawa dan mengangkat gelas anggurnya ke atas.


“Terima kasih Argo, kamu memang teman yang bisa diandalkan.”


...----------------...

__ADS_1


...Sewaktu Chloe masih manusia juga sudah kelihatan dia dapat mempelajari sesuatu dengan cepat....


...Ingat di bab 1 saat Eden melatihnya cara membunuh Dimitri? ...


__ADS_2