
Flashback setelah Draven dan Adreana keluar dari Ruang Tamu
[Third POV]
Draven menutup pintu ruang tamu Dimitri, dan mengikuti Adreana dari belakang.
Adreana mendesis, “Mau apa kamu, Draven?”
Dia hendak berjalan mengikuti bau darah Ulrich, tapi vampir jahil itu berjalan membuntuti di belakang Adreana.
“Kamu berani sekali menunjukkan ketertarikan pada pelayan calon suamimu sendiri…”
Adreana berhenti mendadak dan Draven hampir menabrak punggungnya. Wanita itu berbalik dan menatap Draven dengan mata merah.
“Dengar baik-baik. Dimitri dan aku memiliki kesepakatan sendiri! Dia dapat menikmati Chloe selama beberapa hari lagi dan aku juga bebas menentukan mangsaku.”
Lalu Adreana mengernyitkan dahinya, “Kenapa jadi kamu yang sibuk, Draven? Kalau cemburu bilang saja.”
Draven tertawa begitu keras, tawanya menggema, “Cemburu? Kamu perlu hidup 100 tahun lagi baru kita lihat kamu mampu membuatku cemburu atau tidak!”
Adreana memicingkan matanya, “Kamu juga perlu bertapa 500 tahun lagi untuk menandingi Dimitri!”
Adreana hendak melangkah ke arah dapur tapi Draven menarik lengannya.
“Serius, Adreana. Kenapa kamu tiba-tiba berubah baik?”
Draven memicingkan matanya curiga, memperhatikan wajah Adreana apakah ada maksud tersembunyi dibalik sikap baiknya. Setau Draven, Adreana memang gadis serigala berbulu domba.
Adreana kesal dengan tatapan menuduh dari pria menyebalkan itu.
“Kamu juga tidak merasa terancam dengan kehadiran bayi vampir baru itu, Draven?”
Draven tertegun. Seharusnya para vampir akan berebutan untuk membunuh bayi itu karena sifat vampir tidak suka akan kehadiran vampir baru yang dapat mengancam kekuasaan ataupun wilayah mereka.
Dia juga jadi berpikir mengapa Tuan Suarez, duta besar perdamaian kerajaan Azov sangat mengkhawatirkan Chloe, bahkan terkesan melindunginya.
“Tidak sama sekali, Adreana. Dimitri setuju kalau aku akan berada dalam hidup anak ini sebagai pamannya.”
“Kalau begitu Dimitri juga tidak bisa menolak kehadiranku dalam hidupnya karena aku akan menjadi istri Dimitri sebentar lagi!” ketus Adreana.
Draven tertawa kecil, “Sebagai ibunya? Hmm… Aku penasaran apakah kamu bisa mengganti popok bayi? Sedangkan ketika kamu menginjak kotoran kuda, kamu menjerit setengah mati.”
Wajah Adreana merah padam, “Kenapa kamu mengungkit kejadian beratus-ratus tahun yang lalu? Huh! Sikapmu masih sama saja, tidak berubah.”
Wanita itu menepis tangan Draven dan Draven membiarkannya pergi. Dia berpikir untuk menyelinap masuk ke salah satu kamar pelayan Dimitri.
***
Ulrich sedang membersihkan meja dapur setelah koki utama selesai memanggang pie untuk Nona Chloe dan duluan pergi ke kamarnya, membiarkan Ulrich yang sendirian bekerja saat Adreana masuk ke dapur.
Ulrich terlonjak karena seorang nona muda sepertinya tidak pantas untuk masuk ke dapur yang kotor.
“Nona Adreana… Ada keperluan apa? Anda bisa menekan bel untuk memanggil pelayan jika anda membutuhkan sesuatu, nona.”
Adreana melirik pria bertubuh tinggi itu dari atas ke bawah.
Hmm… Pelayan Dimitri yang satu ini memang tampan, tubuhnya juga tegap. Dia mangsa yang sempurna untuk memuaskan rasa hausku selama aku berada di kastil ini.
“Kamu sudah lama bekerja disini?” tanya Adreana basa-basi.
Dia tidak suka langsung menerkam mangsanya. Akan lebih asyik kalau menggoda dan membuat pria ini tidak tahan lagi hingga mempersembahkan darahnya sendiri.
Ulrich menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berpikir kalau baru kali ini ada seorang nona dari keturunan bangsawan yang peduli sudah berapa lama orang tanpa status sepertinya bekerja.
Ah, Nona Adreana akan menjadi Nyonya besar di kastil ini. Dia tentu saja ingin mengenal semua pekerja Tuan Dimitri.
“Saya sudah menjadi asisten koki selama 2 tahun disini, nona Adreana.”
__ADS_1
Adreana berjalan mendekati pria yang gugup itu dan duduk di atas meja yang sedang dia bersihkan.
Ulrich mendelik, “Nona, jangan duduk disini, nanti baju anda kotor!”
Wanita itu tertawa dan Ulrich terpukau dengan wajah indah Adreana, kulitnya putih sekali dan bibirnya merah menawan.
Nona Adreana memilki senyuman yang indah… Aku pikir dia seperti kebanyakan anak bangsawan yang sombong dan angkuh. Tapi dia mau masuk ke dapur dan duduk di meja yang kotor.
“Namamu Ulrich?”
Bahkan suara Nona Adreana juga sangat merdu. Walaupun aku lebih suka dengan wajah polos dan suara Nona Chloe.
Ulrich menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh memikirkan dua wanita yang berada di dalam hidup majikannya.
Alis Adreana naik ke atas, “Bukan?”
Ulrich mengangguk, “Bukan, eh maksudku benar nona. Nama saya Ulrich.”
“Ulrich, kamu mau naik pangkat jadi koki utama? Gaji koki utama pasti lebih banyak daripada gaji asisten kan?”
Adreana turun dari meja dan menepuk bagian belakang gaunnya.
Ulrich mengernyitkan dahi bingung, “Maksud anda apa, Nona Adreana?”
Adreana mendorong Ulrich sampai dia terduduk di atas kursi kayu. Badan pria itu bergetar saat Adreana menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Ulrich.
“Aku bisa menaikkan pangkatmu jadi koki utama setelah aku menjadi nyonya besar di kastil ini. Tapi kamu harus menjadi mainanku, Ulrich.”
Jantung Ulrich hampir loncat keluar, tubuh Adreana sangat dekat dan jika Ulrich melirik ke bawah sedikit saja, dia dapat melihat bagian atas Adreana yang memikat.
GULP!
Ulrich menelan ludahnya, “A-aku tidak akan mengkhianati kepercayaan Tuan Dimitri, nona. Aku adalah orang yang setia dan Tuan Dimitri tidak pernah kasar pada pekerjanya.”
Ulrich berusaha teguh dan menahan godaan Adreana.
Mainan katanya? Ternyata semua nona bangsawan sama saja. Menganggap kami rakyat jelata akan tergoda dengan uang dan status! Dia memang cantik tapi kelakuannya sangat jelek!
SNAP!
Adreana tidak punya pilihan lain, dia menggunakan kekuatannya untuk membuat Ulrich patuh. Dia tidak menyangka Ulrich akan menolak godaan tubuhnya yang dipuja-puja semua pria.
Adreana mengeluarkan taringnya dan menancapkannya pada leher Ulrich. Pria itu mulai mengeluarkan desaha*n.
Hmm… Darahmu lezat juga, pelayan murahan. Walau bukan yang terenak yang pernah kurasakan. Tapi boleh lah, untuk memuaskan dahagaku.
Langkah sepatu boot seseorang masuk ke ruangan terdengar, Adreana mendesis saat melihat sosok yang muncul dan menghampiri mereka.
Draven! Hama pengganggu!
Tapi Adreana tidak berhenti walaupun Draven melihatnya menghisap bahkan Adreana sengaja membuka baju Ulrich. Tangan lembutnya menyentuh dada bidang pria itu.
Mulut Draven naik ke atas membentuk seringai, mata hitamnya telah berubah menjadi merah saat menyaksikan Adreana mendekap tubuh pria itu dan menghisap darahnya.
Mata Adreana mengikuti tubuh Draven yang berjalan mengitari meja makan lalu dia tidak dapat melihat Draven lagi. Tapi Adreana merasa Draven berhenti di belakangnya.
“Kamu tau apa yang lebih nikmat selain menghisap darah manusia?”
Adreana mendelik saat dia merasa gaunnya ditarik ke atas oleh Draven. Angin malam yang bertiup masuk dari jendela yang terbuka lebar menyapu kulit kaki dan pahanya.
“Putih? Aku tidak menyangka warna cela*na da*lam seorang Putri Adreana begitu... Hmm.. Aku pikir akan melihat warna merah.”
Draven mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar pelayan. Tiba-tiba dia iseng untuk mengganggu Adreana dan tidak menyangka saat melihatnya bersama Ulrich, Draven cemburu.
Draven bersiul, “Baru saja kupegang dan kamu langsung basah, Adreana? Mungkin aku tidak perlu bertapa 500 tahun untuk membuatmu bereaksi, putri.”
Paha Adreana bergetar saat Draven menyelipkan satu jarinya ke dalam. Draven sedikit terkejut karena nona sombong itu sangat sempit untuk ukuran vampir yang sering berpindah dari kasur yang satu ke yang lain.
Draven tidak ragu untuk mendorong masuk tapi wanita itu seakan menolak Draven.
__ADS_1
Sialan! Bahkan di saat begini pun dia bisa menolakku! Aku akan membuatmu takluk, Adreana. Aku bukan Draven 240 tahun yang lalu.
Adreana memejamkan matanya, tubuhnya terbakar, meskipun hatinya berteriak kalau dia bukan orang yang tepat!
Adreana seharusnya memberikan saat pertamanya untuk suaminya, Dimitri.
JLEB!
“Mmmmhhhh!!!” erang Adreana yang masih menancapkan gigi taringnya di leher Ulrich.
Setengah dari Draven lolos masuk dan pria itu tercengang saat melihat sedikit darah perlahan turun mengalir ke paha Adreana.
“Adreana….”
Draven tidak percaya kalau wanita angkuh yang pernah menolak cintanya 240 tahun yang lalu masih….!
Tapi tubuhnya yang sempit mencengkeram Draven dan tidak mungkin pria itu mau mencabut kenikmatan yang bisa dia ambil dari tubuh si nona angkuh.
Dengan sekali dorongan kasar, Draven terbenam seluruhnya. Dia merasa bangga karena telah menaklukkan singa betina ini!
Rasakan ini, Adreana! Aku akan membuatmu tak bisa berpaling dariku! Walaupun kamu tunangan Dimitri, tapi kamu milikku, Adreana!
“Aaahhh!!”
Draven menutup mulut Adreana dengan telapak tangannya dari belakang.
“Jangan terlalu kencang Adreana. Kamu mau calon suamimu mendengar kita di dapur miliknya?”
Satu tangan Draven melingkar di perut Adreana, menahan tubuh wanita itu untuk tidak bergerak terlalu liar atau dia bakal selesai dengan cepat. Adreana tertawa di balik tangan Draven.
Dasar cewek gila! Merasa sok hebat padahal ini pertama kalinya untukmu!
Adreana menjerit di balik tangan Draven dan pria itu dapat merasakan dirinya dipeluk begitu erat.
“Sialllan! Adreana!”
Dia menjerit nama wanita yang pernah dicintainya itu ketika mereka sama-sama menuju puncak.
“Nona Chloe akan melahirkan!! Nona Chloe akan melahirkan sekarang!!”
Denis tergopoh-gopoh berlari sambil berteriak membangunkan seluruh isi kastil. Dia masuk ke dapur untuk menyalakan tungku dan memasak air ketika melihat 3 orang berada di sana.
Denis mendelik saat melihat siapa wanita yang berada di tengah dua pria itu.
“N-nona Adreana?”
Calon nyonya besar Kastil D’Arcy!!!
Denis hampir pingsan melihat adegan di depannya. Adreana melepas tangannya dari bahu Ulrich dan merapikan bajunya, menyisir rambut pirangnya yang sedikit berantakan. Draven dengan tenang mengancing celananya kembali.
SNAP!!
Adreana dan Draven melihat satu sama lain, lalu mereka tertawa karena telah memanipulasi pikiran Denis dan Ulrich dalam waktu yang bersamaan.
“Nona Chloe akan melahirkan sebentar lagi, saya harus memasak air. Mungkin tuan dan nona bisa menunggu di luar. Ulrich, cepat bantu aku,” ucap Denis dengan tenang.
Adreana berlari keluar dapur, tidak sabar untuk melihat bayi yang akan dilahirkan Chloe.
“Cepat! Aku akan menjadi seorang aunty sebentar lagi.”
Draven mengerutkan keningnya, seharusnya Adreana membenci anak itu karena dia berasal dari rahim Chloe. Tapi Adreana malah sangat bersemangat menyambut kelahiran peanut, tanpa dibuat-buat.
Apa mungkin kekuatan peanut sudah terlihat sejak dia berada di dalam kandungan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
__ADS_1
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...