
Magnus mengelus dagunya setelah mendengar apa yang dikatakan Sofia. “Anak yang bernasib malang. Kamu sudah dimanfaatkan ayahmu sendiri.”
Chloe menggelengkan kepalanya pelan.
“Di mana dia saat anakmu diambil? Padahal Edric sudah tau kamu berada dalam genggaman Dimitri. Kenapa dia tidak menyelamatkanmu?” tanya Sofia.
“Tidak, kalian salah.”
“Sewaktu kamu berubah menjadi vampir, dia langsung mengangkatmu sebagai Komandan Perang. Ini memang sudah direncanakannya sejak lama. Kamu bagaikan pion untuk memuluskan jalannya.”
Dia ingin menjelaskan pada mereka semua kalau Edric tidak bermaksud seperti itu namun bibirnya tidak bisa bergerak. Apa yang dikatakan Sofia ada benarnya juga.
Kenapa Edric tidak menyelamatkannya dari Dimitri? Dia sudah tau kalau Chloe adalah anaknya. Apa yang akan terjadi kalau saat itu Edric membawa Chloe lari?
Kenapa selama ini dia buta? Dia begitu patuh menyetujui papanya.
“Saat kamu memutuskan untuk memaafkan Dimitri, dia langsung mendekati Permaisuri Juliana agar posisinya sebagai duta perdamaian tidak terancam. Aku dengar Pangeran Dixon dan Edric tidak memiliki hubungan yang bagus.”
Chloe ingin mendengar penjelasan dari mulut Edric langsung.
“Aku akan pulang sekarang juga dan membuktikan pada kalian semua kalau tuduhan kalian tidak benar.” Chloe membalikkan badannya.
“Chloe, tunggu!” Alaric hendak mencegahnya namun Magnus mengangkat tangan kirinya sebagai sinyal untuk membiarkan Chloe pergi.
Dengan perasaan berkecamuk, Chloe keluar dari kastil dan langkahnya terhenti ketika dua orang yang dia cari untuk diminta penjelasan sudah berjalan ke arahnya.
Dimitri dan Edric!
Kenapa mereka bisa tau aku ke sini? Pantas saja semalam aku merasa ada yang membuntutiku.
“Chloe, untung saja kamu tidak apa-apa. Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu kami?” Edric duluan yang bertanya sedangkan Dimitri hanya diam menatap istrinya.
“Aku… Kalau kalian berdua ada di sini, siapa yang menjaga Dwayne?”
“Dwayne ikut tapi dia menunggu di kapal bersama Eden.” Dimitri menjawab, lalu matanya menangkap satu sosok di belakang Chloe.
“Halo semuanya. Sungguh hari yang indah dapat berkumpul di sini.” Alaric menyapa.
“Bertepatan sekali putrimu memiliki beberapa pertanyaan untukmu, Edric.”
Edric mengernyitkan dahinya lalu matanya membeliak terkejut, dia mundur satu langkah. “Tidak mungkin.”
Sofia muncul begitu nyata di depan mereka semua. “Tidak perlu terkejut seperti melihat hantu.”
Mata Edric tidak bisa lepas dari Sofia.
“Well, well, well. Reuni yang mengharukan.”Suara Magnus terdengar sebelum orangnya muncul. “Tapi aku hanya akan melihat. Go on, kalian bisa berpelukan dan melepas rindu.”
Edric mengalihkan pandangannya ke Chloe. “Apa ini benar? Mamamu masih hidup. Wanita yang kucintai masih hidup!”
__ADS_1
“Tidak. Sofia yang kamu kenal sudah mati. Sofia yang kamu hapus ingatannya dan kamu tinggalkan!!”
Edric mengendus udara di sekitar mereka dan dia sadar. “Tidak ada bau darahmu. Siapa? Siapa yang telah mengubahmu?!”
Magnus mengangkat tangannya ketika tatapan tajam Edric mengarah padanya. “Bukan aku. Tapi kamu mengenalnya Edric.”
Sofia menyela, “Kamu tidak perlu tau siapa yang telah mengubahku. Kami menunggu jawabanmu. Ayo, kamu bilang sendiri pada putrimu kalau kamu hanya memanfaatkannya.”
Edric bertanya bingung. “Apa maksudmu, Sofia?”
“Apa benar papa membantu Permaisuri Juliana naik tahta? Papa yang sudah membuat dua kecelakaan itu?”
Wajah Edric langsung berubah dan dia tidak menepis. “Chloe…”
Hanya itu yang Chloe butuhkan. Pikiran rasionalnya diselimuti oleh kabut tebal. Dia telah dibohongi dan dikhianati selama ini dan parahnya lagi, oleh ayahnya sendiri.
“Semua dinas ke Kerajaan Rudolmuv itu karena papa sudah tau tentang Dwayne? Papa diam-diam bertemu dengannya tanpa memberitahuku?”
“Chloe, aku juga tidak tau kamu masih hidup dan tinggal bersama Edric. Tapi kamu harus mengerti. Edric…”
“Diam! Aku sedang tidak bicara denganmu.” Mata Chloe tampak berapi-api, tapi itu ditujukan untuk Edric.
Seharusnya Edric lah pria yang paling dia percaya. Pengkhianatan Edric melebihi segalanya.
Dia menarik belati dari sepatunya dan dalam sekejap sudah berpindah tempat. Chloe tidak benar-benar bermaksud untuk membunuh ayahnya. Dia hanya marah dan ingin menggertak, bukan menghunuskan belati itu ke jantungnya.
Gagang belati itu masih dia pegang, namun ujungnya sudah tertancap di dada seorang pria berjubah hitam. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya, air mata mulai jatuh dari kedua pipinya saat melihat wajah pria yang dia cintai mulai muncul retakan-retakan halus.
“Tidak… Tidak…”
Tapi dia menyunggingkan senyuman kecil. “It’s allright, little rose. It’s allright.”
“Tidak, Dimitri… Aku tidak bermaksud untuk…”
Dimitri membuka mulutnya untuk menjawab tapi tidak bisa karena retakan di wajahnya semakin dalam.
“NOOOO!!!” Suara jeritan Chloe menggema begitu keras. Memanggil kembali belahan jiwanya yang direnggut pergi.
Ini mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Angin menyapu lembut wajahnya dan perlahan sebagian menjadi debu, lalu semuanya sampai hanya tersisa pakaian Dimitri yang jatuh ke tangan Chloe, bersama dengan belati itu.
Chloe jatuh terduduk di lantai, tangannya masih menggenggam pakaian Dimitri. Dia menunggu saatnya dia terbangun dari mimpi buruk ini. Tapi detik demi detik berlalu.
Tidak ada yang membangunkannya dengan suara rendah, mendekapnya dan mengelus alisnya sambil berkata bahwa ini semua hanya mimpi buruk.
Tikaman bertubi-tubi menyerang dadanya, begitu menyesakkan. Chloe menjerit histeris dan mencengkeram dadanya. Suaranya terdengar seperti lolongan binatang yang terluka.
*
__ADS_1
*
*
Di suatu tempat, jauh dari Kastil Klan Children of The Night, dua tubuh sedang melebur menjadi satu. Napas mereka terengah-engah untuk mencapai ketinggian.
“Draven, aku sudah capek dan tidak tahan lagi.”
“Sabar sedikit, Adreana. Kamu hanya perlu diam dan aku yang bergerak.”
Wanita itu memang terlihat tidak bergerak dan mempercayai pasangannya. Lengannya melingkar di leher kokoh, kedua kakinya disilangkan ke tubuh pria itu.
Dengan napas tidak teratur dia berkata, “Sudah. Hampir. Sampai.”
Mereka sama-sama mendaki menuju puncak dan wanita itu mengeratkan lengannya dan memekik takjub.
“Lihat! Matahari terbit! Kita benar-benar ada di puncak Gunung Evermount!!”
Draven menghela napas lega. Jerih payahnya terbayarkan sudah. Kekasihnya itu minta dibawa jalan-jalan ke gunung tertinggi dan terdingin yang ada di Kerajaan Rudolmuv hanya untuk melihat matahari terbit!
Dia terpaksa setuju. Dia pikir Adreana jago mendaki gunung. Rupanya hanya sampai setengah jalan, dia sudah mengeluh kakinya tidak kuat lagi. Jadi Draven yang harus membopongnya naik.
Dia menurunkan Adreana dari punggungnya. Adreana berlari ke ujung puncak dan memutar badannya dengan wajah yang begitu bahagia. Ditambah lagi dengan keagungan matahari yang bersinar di belakangnya, menambah kecantikan Adreana.
“Senang?”
“Senang sekali!”
Adreana membalikkan tubuhnya untuk menatap matahari lagi. Dia memang vampir yang aneh. Cita-citanya adalah melihat matahari terbit bersama kekasihnya.
Walaupun sebenarnya Adreana menginginkan satu hal lagi saat berada di puncak gunung. Tapi sepertinya itu mustahil.
Draven menarik bajunya dari belakang.
“Hm?”
Adreana membalikkan tubuhnya dan melihat Draven sudah berlutut di bawah dengan kedua tangan memegang lingkaran kecil yang berkilap terkena cahaya matahari.
“Will you marry me, Adreana Petrova?”
Mulut Adreana terbuka lebar dan dia langsung memeluk Draven sampai mereka terjatuh di atas salju lembut.
“Yes, yes, yes I will.”
Mereka berciu*man di atas puncak Gunung Evermount dengan matahari sebagai saksinya.
...----------------...
...Ending yang bahagia, kan?...
__ADS_1