Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
S2 - Berburu


__ADS_3

Dalam gelapnya lorong kastil ketua klan Children of The Night, Kiara bersembunyi di balik tembok. Tangan Kiara mengepal dengan erat dan dia berusaha mengatur ritme napasnya agar lebih tenang.


Akhirnya Kiara sudah semakin dekat dengan tujuannya menyamar sebagai budak dan melewati berbagai penderitaan agar bisa masuk ke dalam kastil ini!


Semuanya terbayarkan. Dia telah menemukan di mana Magnus menyembunyikan wanita yang harus dia selamatkan.


Sangat lama Kiara menunggu, namun Magnus tak kunjung keluar dari balik pintu rahasia yang menyatu dengan tembok. Di desain dengan begitu apik, agar tidak ada yang mengetahuinya.


Kiara kehabisan waktu. Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Setidaknya dia sudah tahu keberadaan Gwendolyn di hari pertama dia masuk ke kastil ini.


Dengan derap langkah pelan, nyaris tak berbunyi, Kiara pergi dari tempat itu dan kembali ke bagian utama kastil.


“Kemana saja kamu? Aku mencarimu dari tadi.” Suara Ansel mengagetkan Kiara.


Dengan senyum manis, Kiara membalikkan badannya. “Anda sudah selesai mandi, Tuan? Saya pergi ke dapur sebentar.”


“Dapur?” Ansel melihatnya dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. “Kamu bukan pelayan. Kenapa kamu pakai baju pelayan? Ganti pakaianmu sekarang.”

__ADS_1


“Ganti dengan pakaian apa, Tuan? Saya juga bukan pelac*ur, jadi saya tidak akan mengenakan pakaian itu.”


Tiba-tiba Ansel menarik Kiara hingga tubuh mereka hampir menempel. Pria itu mengernyitkan dahinya dan menghirup aroma tubuh Kiara.


“Kenapa bau darahmu tidak sekuat tadi?” Ansel terus mengendus dari rambut hingga leher Kiara, seperti anjing yang sedang melacak keberadaan kriminal.


“Lepaskan aku, Tuan. Kamu membuatku tidak nyaman.” Tangan Kiara terasa dingin, digenggam begitu erat oleh sang vampir.


“Aku sama sekali tidak mencium bau darahmu di kastil ini beberapa saat yang lalu. Aku pikir kamu melarikan diri.”


“Saya bisa melarikan diri ke mana, Tuan? Kastil ini berada di sebuah pulau.” Kiara menurunkan tatapan matanya. Dia tidak mungkin jujur bahwa dia baru saja meminum ramuan yang dibuatnya tadi.


“Aku menyuruhmu keluar dari kamar bukan berarti kamu dapat berkeliaran seenaknya. Mulai sekarang, jangan jauh-jauh dariku. Banyak utusan Magnus yang tidak akan segan meminum darahmu. Mengerti?”


Kiara menganggukkan kepalanya dengan cepat, lalu Ansel melepas cengkeraman tangannya dan menjauh dari Kiara.


“Setelah matahari terbenam, kita akan pergi berburu di hutan?”

__ADS_1


“Saya juga ikut, Tuan?” Kiara menelan ludahnya. Dia teringat dengan perkataan pria yang dia temui tadi di perbatasan hutan.


“Tentu saja kamu ikut.”


“S-saya tidak tahu caranya berburu. Lebih baik anda pergi sendiri saja. Saya akan menunggumu di kamar. Saya janji tidak akan keluar.”


“Kamu ikut denganku,” ucap Ansel tegas tanpa memberi ruang untuk negosiasi.


***


Ternyata Kiara disuruh ikut berburu hanya untuk dijadikan pengangkat barang bawaan Ansel. Kaki dan pundaknya pegal mengangkat beban yang begitu berat.


Kiara melirik sinis pada pria yang duduk di atas kuda jantan berwarna coklat. Ansel sama sekali tidak menawarkan tumpangannya.


“Kamu lambat sekali.”


“Saya berjalan dengan dua kaki, Tuan. Sedangkan anda duduk di atas hewan berkaki empat yang memang diciptakan Tuhan untuk berlari kencang.”

__ADS_1


Ansel menolehkan pandangannya ke arah Kiara. “Kamu memang selalu begitu? Selalu ada saja balasan yang keluar dari mulutmu. Aku jadi berpikir, apa yang membuatmu berakhir menjadi budak?”


__ADS_2