
Stefan berada di belakang Alaric, sambil menatap punggung pria tinggi dan angkuh itu. Dia memang pantas angkuh karena melayani ketua Klan Children of The Night.
Tidak sembarangan vampir yang dapat lulus melayani ketua klan. Klan Children of The Night adalah persatuan yang dibentuk sebagai wali dan menegakkan undang-undang bahwa semua vampir harus mematuhi atau mendapatkan hukuman mati jika melanggar.
Mereka mengintip dari balik semak tinggi dekat kastil terbengkalai setelah mendapat informasi dari prajurit yang melihat pergerakan aneh di sekitar sini.
Umpan telah dibuat. Seorang pria yang sudah dibawa oleh Alaric dan berada dalam pengaruh hipnotisnya sedang terbujur di tanah, darah mengalir keluar dari lengan kirinya.
Bau darah pria itu memenuhi udara di sekeliling mereka, cukup untuk menyembunyikan bau kehadiran Stefan dan Alaric. Vampir baru yang pikirannya dipenuhi oleh rasa haus pasti akan terkecoh.
Langit masih gelap, belum ada tanda-tanda matahari akan terbit tapi mereka telah siap siaga. Setiap beberapa detik sekali, Stefan melirik ke arah kanan, dia sudah tidak sabar untuk melihat kemampuan Alaric untuk menangkap vampir baru itu.
“Alaric, bagaimana kalau rencana ini gagal?” bisik Stefan dari belakang.
Alaric tidak menjawab pertanyaan vampir bodoh itu, dia hanya mengulurkan tangannya sebagai sinyal untuk menyuruh tangan kanan Edric Suarez diam.
Tentu saja rencana ini pasti berhasil. Tidak ada vampir baru yang dapat menolak bau darah segar. Mereka hanya memikirkan darah, darah dan darah.
Tidak lama kemudian, telinga Alaric duluan mendengar langkah kaki menyentuh tanah, semakin dekat dan cepat. Dia memberi sinyal dengan mengepalkan telapak tangannya pada Stefan.
Vampir baru itu terpancing!
Dia tidak dapat melihat wajah wanita itu karena terhalang rambut panjangnya yang tergerai berantakan, baju yang dia kenakan koyak di beberapa tempat dan lusuh.
Keparat! Siapa yang berani mengubah seorang wanita menjadi vampir dan membiarkannya begitu saja?
Siapapun yang melakukan itu akan mendapat hukuman setimpal. Hukuman mati.
Wanita itu berlari setelah mencium aroma darah dari pria yang tergeletak di tanah. Dia belum mati, dan dengan cepat menggigit lehernya.
Stefan bingung kenapa Alaric masih diam menyaksikan vampir baru itu minum. Jika ini dibiarkan lebih lama lagi, pria yang digunakan Alaric sebagai umpan bisa meninggal!
Baru saja Stefan hendak menyenggol punggung Alaric, dalam sekejap mata dia sudah berlari ke arah wanita itu tanpa mengeluarkan suara, baik dari langkah kakinya maupun gerakan tubuhnya.
Alaric menunggu waktu yang tepat untuk menangkap vampir baru itu. Matanya melihat ke bagian timur, sebentar lagi.
Saat cahaya kemerah-merahan membentang pada garis cakrawala, senyuman tersungging di mulutnya dan dengan cepat dia sudah berada di belakang wanita itu hendak mengalungkan segel perak.
Tidak disangka, vampir baru itu menoleh dengan mata merahnya menusuk, gigi taringnya yang kecil namun tajam masih ada bekas darah.
__ADS_1
Alaric terkejut sebentar karena terpesona dengan kecantikan vampir baru itu, namun dengan latihan selama ratusan tahun melayani ketua klan Children of the Night, dia tidak akan gagal.
Malahan Alaric semakin tertantang untuk menangkap vampir baru yang cantik itu.
Dia berhasil mengalungkan segel perak di lehernya, namun dia mendesis dan menerjang tubuh Alaric hingga dia terjatuh ke tanah. Vampir baru itu berada di atas tubuhnya dengan tangan terayun ke atas hendak mencabik wajah Alaric.
“Stefan!!”
Stefan muncul dari belakang dan segel perak kedua berhasil masuk ke lehernya, dia menarik tali itu sampai tubuh ringan si vampir baru terangkat dari atas tubuh Alaric dan jatuh ke atas tanah.
Wanita itu menjerit dan memegang lehernya yang tercekik. Alaric melihat ke bawah dengan senyum sinis.
“Kamu tidak bisa lari kemana-mana lagi, sweety.”
Alaric menarik tali itu, semakin mengencangkan segelnya. Lalu dia turun untuk melihat wajah wanita itu lebih dekat, lutut kirinya di tanah.
“Siapa namamu, vampir baru?”
Alaric menggenggam dagu kecilnya, namun sebagai balasan dia diludahi tepat di wajah. Alaric terkekeh dan menyapu ludah bercampur sedikit darah dari wajah tampannya.
“Masih bisa melawan, hm?”
Alaric mengesampingkan badannya dan sinar matahari redup menyinari wajah vampir baru itu. Dia mendesis dan menutup kedua matanya.
“Stefan, bawa kandang besi itu kesini. Kita akan memperlihatkan hasil buruan kita pada Tuan Edric.”
Stefan bergegas mengambil kandang besi yang sudah mereka bawa dan disembunyikan agak jauh. Saat Stefan menghilang dari pandangan Alaric, dia kembali menutup wajah vampir baru itu dari sinar matahari dengan tubuhnya.
Alaric menggenggam dagunya, membuat wanita itu melihatnya dengan mata yang masih merah. Mata itu masih akan tetap berwarna merah sampai dia bisa mengontrol naf*sunya.
“Kita akan lihat apa yang bisa aku taklukkan lagi dari dirimu, sweety.”
***
[Sementara itu di Kediaman Edric Suarez]
Edric bangkit berdiri dari meja kerjanya dan membanting meja kayu oak yang sudah dia gunakan selama beratus-ratus tahun dengan kepalan tangan kanannya.
__ADS_1
Dia menggeretakkan rahangnya dan sumpah serapah keluar dari mulutnya, mengagetkan kepala pelayan yang baru saja masuk dan mengantar beberapa surat di atas nampan perak.
“A-apa saya berbuat salah, Tuan Suarez?” tanya pelayan itu dengan nada takut.
Jarang sekali dia melihat tuannya begitu berang.
“Tidak, bukan kamu, Jack. Ini sudah kelima kalinya suratku dikembalikan tanpa dibuka.”
Jack, kepala pelayan mengamati surat itu dengan seksama lalu mengerti kenapa tuannya marah. Itu adalah surat yang dikirim dengan tujuan ke Kerajaan Rudolmuv.
Edric menggenggam surat dengan amplop putih itu di tangannya lalu menghempaskannya di atas meja. Tanpa membuka surat itu, dia tau apa yang tertulis di dalamnya karena isinya selalu sama.
Tuan Dimitri D’Arcy yang terhormat,
Bagaimana kabar kalian? Saya harap kalian semua baik-baik saja. Sebenarnya maksud saya menulis surat ini adalah karena mengkhawatirkan Chloe. Apakah dia sudah melahirkan?
Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan namun tidak dapat menulisnya disini. Saya harap kamu membalas surat ini dan kita dapat mengatur pertemuan.
Sampaikan salam hangat saya pada Chloe.
Edric Suarez.
Kalau bukan karena Raja Azov membutuhkan dia di sampingnya, lalu kemunculan vampir baru yang membuat kegetiran di tengah masyarakat, Edric pasti sudah pergi untuk melihat Chloe.
Dia semakin takut sesuatu terjadi pada putrinya. Beberapa pelayan yang masih setia dan berada di Kerajaan Rudolmuv melaporkan kalau mereka tidak diberi akses masuk ke kediaman Dimitri.
Sedangkan untuk wanita yang pernah dicintai Edric 18 tahun yang lalu, dan masih mencintainya sampai saat ini, telah meninggal. Dia pergi tanpa permintaan maaf dari Edric, meninggalkan sebuah hadiah penting dalam hidupnya.
Chloe Isabel, buah cinta mereka.
“Tuan Edric, kami telah berhasil menangkap vampir baru itu. Dia sudah berada di aula bersama Alaric.”
Suara Stefan memecahkan lamunan Edric. Setelah masalah vampir baru ini selesai, dia akan langsung pergi menemui anaknya.
Chloe, tunggu aku. Papa akan menjemputmu pulang, nak!
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
__ADS_1
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...