Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
SEASON 2 - BEATING HEART


__ADS_3

Di depan Kastil Klan Children of The Night, Eden mengorbankan nyawanya demi mengulang waktu kembali dan menghapus kesalahan yang diperbuat Chloe. 20 tahun telah berlalu sejak kejadian itu dan cerita ini pun dimulai…


...- Pulau Klan Children of The Night -...


Cahaya putih dari kilat membelah langit kelam yang bergemuruh disertai dengan suara petir membahana. Seorang pengawal bertubuh besar menggenggam obor untuk menerangi jalan berbatu sedangkan tangan kirinya menyeret seorang gadis dengan kasar.


Gadis itu menatap dengan horor saat mengetahui dia dibawa kemana. “Apa salahku? Kenapa aku dikembalikan ke sini? Aku bekerja dengan baik! Aku tidak melakukan kesalahan! Aku mohon, jangan kurung aku di tempat gelap itu lagi!!”


Raungan dan rontaan gadis itu tidak diindahkan. Dia tetap dipaksa masuk, berjalan melalui lorong-lorong gelap yang hanya dicahayai oleh obor dinding.


“Diam! Aku hanya menjalankan tugasku. Kalau kamu ribut lagi, aku akan membuangmu ke laut. Tak akan ada yang menghitung hilangnya satu budak sepertimu,” geram sang pengawal.


Ancaman itu langsung membuat si gadis terdiam ketakutan. Mereka tiba di salah satu sel terdalam.



Suara kunci diputar untuk membuka gembok pada sel penjara bawah tanah terdengar, membangunkan beberapa gadis muda yang tidur meringkuk di atas jerami tipis. Tak cukup melindungi badan mereka dari dingin sehingga mereka tidur dalam jarak yang berdekatan. Saling memberi kehangatan.


Kiara merupakan salah satunya yang terbangun. Dia pikir ini sudah pagi saat mendengar pintu sel dibuka. Kiara bermimpi sedang makan paha ayam yang lezat sehingga ketika sadar bahwa tidak ada sinar matahari yang masuk melalui celah kecil di atas dinding, dia menghela napas kecewa.


Ternyata hanya mimpi.


“Masuk!” Sang pengawal mendorong gadis yang masih menangis itu masuk ke dalam sel. Lalu menguncinya kembali dan pergi setelah menggerutu.


Seketika kondisi sel menjadi gelap, hanya diterangi oleh cahaya rembulan.


“Matilda… Matilda!” bisik Kiara memanggil teman satu selnya itu. “Sini, tidur di sampingku.”


“Kiara… Aku tidak tahu kenapa aku dikembalikan ke sini.” Matilda merebahkan tubuhnya di atas jerami tipis.


“Apa yang kamu lakukan di dalam Kastil? Apakah kamu sudah melihat Tuan Magnus?” tanya Kiara sambil menyeka air mata gadis berambut ikal itu.


Matilda menggelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah melihat sosok Tuan Magnus. Aku hanya ditugaskan di bagian dapur… Memotong bahan makanan mungkin.”

__ADS_1


“Mungkin?”


“Aku tidak ingat jelas… Yang kutahu, aku tidak berbuat salah. Tapi aku dibawa kembali ke sini.”


Matilda adalah gadis pertama yang dibawa masuk ke kastil setelah rombongan para budak sampai ke pulau ini. Mereka menjadi budak karena alasan yang berbeda-beda. Ada yang karena mencuri, difitnah, dijual, dan yang paling menyeramkan adalah karena membunuh.


Jadi tentu saja para budak ini diperlakukan seperti kriminal. Tidur di balik jeruji besi, makan satu hari sekali, cahaya matahari yang didapat hanya dari celah kecil di atas dinding itu.


Mereka hanya tahu kalau mereka dikirim ke pulau ini untuk dipekerjakan sebagai pelayan.


Kiara menarik turun kerah baju Matilda untuk mengamati lehernya.


“Apa yang kamu lakukan, Kiara?”


“Tidak. Tidak apa-apa. Tidurlah.” Kiara menutup kembali kerah baju Matilda.


Bersih. Lehernya tidak ada bekas luka sama sekali. Kiara menggigit bibir bawahnya dan berpikir siapa yang akan menggantikan posisi Matilda besok.


***


Suara tongkat dipukulkan ke jeruji besi memekakkan telinga.


“Bangun tikus-tikus pemalas!! Kerjaan kalian hanya makan, tidur, buang air!! Ingat, kalian itu budak!” teriak Agnes, wanita yang paling dibenci oleh mereka semua.


Dia yang ditugaskan untuk mengurus para budak ketua Klan Children of The Night, Magnus.


“Kalau begitu, berikan kami pekerjaan daripada mengurung kami di sel bau dan gelap ini!” protes seorang gadis berambut merah.


Tanpa basa-basi, Agnes memukul kaki gadis itu dengan tongkat besi yang ada di tangannya. Dia melolong kesakitan.


“Ada lagi yang berani melawan?” Agnes memandang yang lain.


Mereka semua menunduk dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Bagus. Dengar ini baik-baik. Tuan Magnus kedatangan tamu penting semalam…,” Agnes mendes*ah dengan mata penuh mimpi. “Oh. Tamu yang sangat sangat penting dan tampan…”


Lalu dia berdehem. “Dan kalian semua akan diperlihatkan ke hadapannya. Ya, kalian budak rendahan, kumal dan bau.”


Agnes tidak mengerti apa yang ada di pikiran Tuan Magnus. Masih banyak pelayan lain yang cantik di kastil tapi Tuannya malah memilih budak-budak ini.


Mungkin untuk dipamerkan? Ah. Benar juga. Tidak semua orang bisa memiliki budak. Apalagi dua belas budak sekaligus.


“Sekarang kalian semua ikut denganku.”


Mereka semua membuntuti Agnes keluar dari sel. Matahari bahkan belum terbit ketika mereka disuruh untuk membuka baju dan mandi di sungai.



“Aku tidak mau! Airnya sangat dingin!” protes Matilda, memeluk dirinya sendiri.


“Shh! Jangan sampai Agnes mendengarmu.” Kiara mulai menanggalkan bajunya. Dia sendiri bergidik melihat air sungai yang tenang itu. Sudah pasti sangat dingin.


Tapi demi bisa masuk kastil, Kiara akan rela melakukan apa saja. Sekali pun berjalan di atas api.


Yang lain menyusul Kiara masuk ke dalam air sebelum Agnes mendorong mereka.


“Mandi yang bersih!! Cuci rambut kalian yang berkutu itu! Gosok badan kalian. Mengerti?”


“Ya, Agnes!” jawab mereka serempak.


Kiara menarik napas lalu membenamkan kepalanya ke dalam air dengan mata yang terbuka lebar.


‘Magnus. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu juga.’


...----------------...


Bagaimana? Bagaimana?

__ADS_1


Kalau bab ini mencapai 50++ comment, kita lanjut ke bab berikutnya \~


__ADS_2