
“Peraturannya adalah siapa yang duluan keluar dari garis arena berarti dia gugur. Kedua, tidak boleh membunuh lawan. Ini bukan pertarungan hidup dan mati karena bisa gawat kalau sampai salah satu di antara kalian tewas.”
Setelah Edric selesai memberikan peraturan dalam pertarungan Sang Penghancur dan Dewa Kematian, dia melangkah mundur kembali ke tenda paviliun untuk duduk bersama Raja Azov.
Genderang perang selesai ditabuhkan dan suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada dua orang pria saling berhadapan di tengah arena.
Chloe menarik kaki kirinya ke belakang, tangan kanannya sudah melingkar di pegangan pedangnya. ‘Thunder’ adalah nama yang dia berikan untuk pedang pertamanya. Thunder terbuat dari batu meteor dan berlapiskan perak.
Dia sudah dalam posisi ancang-ancang namun lawannya hanya diam berdiri disana. Walaupun begitu Chloe tau mata hitamnya fokus dan memperhatikan. Mereka sama-sama menunggu siapa yang akan menyerang duluan.
Dia membuka mulutnya dan berkata, “Kamu yakin mau bertarung dengan baju zirahmu? Kalau aku menang, kamu harus memperlihatkan jati dirimu yang sebenarnya.”
Cih, hanya dalam mimpimu!
Chloe menarik pedangnya dan maju duluan membuka pertarungan itu.
CLANG!
Pedang mereka beradu begitu dekat, Chloe bahkan tidak sempat melihat dia menarik pedangnya.
Dimitri memperhatikan cara sang Dewa Kematian memberi serangan demi serangan beruntun ke arahnya. Mengejutkan, dengan mengenakan baju zirah lengkap dia dapat bergerak begitu cepat. Seakan tubuhnya sangat ringan dan tak terbebani.
Dimitri terlalu fokus melihat tubuh pria kecil ini bergerak menghunuskan pedangnya dan tidak sadar bahwa hanya selangkah lagi dia akan keluar dari arena pertarungan.
Dia menunduk ketika tebasan pedang itu hampir menebas lehernya, dan dia membalas setiap ayunan pedangnya sampai mereka kembali ke tengah arena. Sepertinya belum ada tanda-tanda bahwa pertarungan akan selesai.
Raja Azov yang duduk menikmati anggur merahnya dan dikipas oleh dua orang dayang berkata pada Edric.
“Baru kali ini Dewa Kematian mendapat lawan yang sebanding. Sayang sekali Dimitri D’Arcy bukan prajuritku.”
Edric melirik rajanya, “Apa komandan perang yang kupilihkan untukmu belum cukup, Yang Mulia?”
Raja Azov tertawa, “Aku sudah puas dengan pilihanmu, Edric. Namun bayangkan jika mereka berdua ada di tanganku. Kerajaan Azov akan sangat hebat dan tidak dapat ditandingi.”
Mata Azov tidak lepas dari Dimitri D’Arcy. Salah satu vampir yang hidup sudah sangat lama di dunia ini, sayangnya dia setia dan mengabdi pada Kerajaan Rudolmuv.
Walaupun Dewa Kematian sudah mempersembahkan tiga kali kemenangan mutlak hanya dalam 2 tahun untuk kerajaannya, tetap saja dirinya adalah seorang wanita. Azov terpaksa memilih Chloe Elizabeth Suarez, anak gelap Edric Suarez sebagai komandan perangnya karena tidak ada pilihan lain lagi.
Azov sebenarnya tidak suka dan takut ditertawakan oleh orang lain jika mereka tau bahwa komandan perangnya adalah seorang wanita. Itu sebabnya, Azov meminta Edric untuk tetap menyembunyikan identitas Dewa Kematian yang sebenarnya.
__ADS_1
Seorang wanita menjadi jenderal dan memimpin prajurit? Tak peduli seberapa hebat wanita itu, kodratnya adalah memuaskan pria dan melahirkan anak.
Semua mata masih menatap duel sengit. Kemampuan mereka mengayunkan pedang sama-sama cepat sehingga jika kamu mengedipkan mata sekali saja, kamu akan melewatkan satu ayunan.
“Menyerahlah. Sepertinya kamu sudah capek bertarung dengan baju zirahmu,” ucap Dimitri ketika pedang Chloe hampir menusuk matanya namun dengan sigap dia bisa menghindar.
“Tidak akan. Kamu yang harus menyerah atau mati di tanganku.”
Dimitri memberinya senyum kecil yang membuat Chloe lebih jengkel lagi dan terbakar.
“Sepertinya kamu sangat dendam padaku, padahal kita baru saja bertemu. Apa aku berbuat salah?”
Dimitri berusaha menyerang helmet zirahnya. Chloe tau dia berusaha untuk membuka penutup wajahnya.
“Kamu berani bertanya? Ada urusan apa kamu masuk ke tendaku semalam?”
Dimitri mengangkat alisnya ke atas. “Oh, jadi kamu tau? Apa kamu menyembunyikan seorang wanita di dalam?”
Mereka mengitari arena itu, dalam posisi menyerang dan percakapan mereka tidak berhenti walaupun mereka sedang bertarung.
“Sungguh lancang!”
Wajah Chloe panas mengingat bagaimana mata hitam itu memandang tubuh bagian belakangnya dari atas ke bawah. Sepertinya dia juga tidak akan melupakan kejadian itu begitu cepat.
Dimitri menyunggingkan satu senyuman kecil.
Got you!
Dengan mudah dia mengesampingkan badannya, menyergap tangan Chloe yang masih menjulur dan memukul punggung tangannya begitu keras hingga pedang Chloe terjatuh ke tanah.
Chloe terkesiap saat menyaksikan pedang itu jatuh dari tangannya.
Tidak!
Dimitri bergerak mendekat ke hadapannya, masih menggenggam tangan kanan Chloe, dia berkata, “Kamu kalah, Dewa Kematian. Buka…“
Belum sempat dia selesai berbicara, entah dari mana mata belati kecil sudah menyentuh perut Dimitri.
“Siapa yang kalah, Sang Penghancur?”
__ADS_1
CLAP! CLAP! CLAP!
Suara tepukan tangan datang dari tenda paviliun. Raja Azov sudah berdiri dan tersenyum puas. Begitu pula dengan Edric yang segera datang untuk menengahi kedua orang itu sebelum semuanya menjadi runyam.
“Curang. Kamu duluan yang kalah.” Dimitri melihatnya dengan tatapan mematikan.
Chloe tersenyum di balik helmet zirahnya, “Tidak ada peraturan yang mengatakan kalau hanya boleh memakai satu pedang.”
Dimitri tidak suka kalah. Dia tidak pernah kalah! Karena sang Dewa Kematian sudah berbuat curang duluan, dia juga akan menggunakan cara kotor untuk menguak jati diri komandan perang Raja Azov yang sebenarnya.
Dia mengibaskan pedangnya dan helmet sang Dewa Kematian pun lepas dari kepalanya. Helmet itu jatuh ke tanah, menggelinding tepat di kaki Edric yang hanya beberapa langkah dari kedua orang itu.
Belati kecil dengan mata tajam itu menusuk perut Dimitri. Namun dia tidak merasakan sakit. Dia hanya bisa terperangah.
Beberapa helai rambutnya yang tidak terikat beterbangan ditiup oleh angin. Kedua mata berwarna coklat yang selalu menghantui mimpinya. Wajah yang selalu dia ingat saat melihat anaknya. Pedang Dimitri jatuh ke tanah.
“Chloe…”
Wanita itu juga sama terkejutnya dengan Dimitri.
“B-bagaimana kamu bisa tau namaku?”
Kepala Dimitri berputar. Begitu banyak pertanyaan ada di benaknya. Tangan kirinya masih melingkar di lengan kanan Chloe, menggenggamnya begitu erat seakan takut ini hanya halusinasinya seperti kejadian di tenda Dewa Kematian semalam.
Wanita itu memiringkan kepalanya ke samping, heran dengan sikap aneh Dimitri.
“Chloe, kamu benar-benar Chloe ku?”
Dia hendak melangkah mundur menjauh dari Dimitri, namun kedua tangan Dimitri sudah menangkup wajahnya. Dia tidak peduli jika ini hanya tipu muslihat.
Dia bahkan tidak memperdulikan ketika tangan wanita itu menarik keluar pisau dari perut Dimitri. Semua sakit dan deritanya terbayarkan saat melihat wajah yang dia rindukan.
“Tuhan benar-benar menjawab doaku.”
...----------------...
...- Everyone deserves a chance to clean up their mistakes -...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
__ADS_1
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...