Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Pantai Sardinia


__ADS_3


Di malam yang mencekam, kapal perang Kerajaan Navarre sudah nampak dari kejauhan mendekati garis pantai Sardinia. Karena tidak ada dermaga untuk melabuhkan 10 kapal berukuran besar itu, para awak kapal sudah sibuk untuk menurunkan sekoci yang terbuat dari kayu.


Raja Nelson tersenyum dalam hati.


‘Mereka tidak akan mengira aku akan menyerang kastil kecil di pantai Sardinia. Begitu aku merebut dan menduduki Kastil Sisilia, akses masuk ke Kerajaan Azov akan lebih mudah lagi.’


Dari kejauhan, tidak tampak ada aktivitas di Kastil Sisilia. Benteng panjang yang membentang itu kosong melompong tanpa pengawal. Raja Nelson semakin girang. Dia berpikir bahwa penyerangan ini akan berjalan mulus tanpa perlawanan.


Dia berteriak pada awak kapalnya, “Buka dek bawah!”


Teriakan itu disambung oleh teriakan lainnya hingga ke-10 kapal perang membuka dek bawah kapal mereka, mengeluarkan para vampir yang sudah kelaparan dan siap untuk menyerang. Sebagian dari mereka ada yang sudah berubah selama tiga minggu, namun banyak yang masih berusia satu sampai dua minggu.


Charlie, salah satu prajurit Raja Nelson yang diubah pertama kalinya yang akan memimpin bala tentara vampir itu. Walaupun matanya masih berwarna merah, namun kontrol dirinya sudah bagus.


185 vampir diturunkan ke dasar laut, kaki mereka menyentuh permukaan dan bergerak maju ke bibir pantai. Satu per satu kepala mereka muncul dari dalam air. Dengan tubuh yang basah, mereka naik ke daratan.



Raja Nelson tengah turun dari geladak kapalnya menuju sekoci ketika suara ledakan besar memekakkan telinga terdengar dari arah pantai. Beberapa bagian tubuh vampir terlempar dan berceceran di atas pasir berwarna putih cream itu. Asap besar mengepul.


“KITA DISERAAANG!!”


Nelson mengutuk dalam hati. Azov tau kalau mereka akan menyerang Kastil Sisilia!! Ada orang yang mengkhianatinya.


“Jerrickkk!” geram Nelson. Dia tidak menyangka penasihatnya berani berkhianat.


Setelah kepulan asap itu mereda, tiba-tiba benteng kastil yang tadinya kosong telah terisi penuh dengan para pemanah yang sudah membidik dari atas.



Secara serentak mereka melepaskan anak panah berapi ke arah kapal perang Nelson. Teriakan terdengar dari seluruh geladak, para awak kapal segera menyelamatkan diri dan terjun ke bawah. Api berkobar hebat dan menjalar dengan cepat, pantulannya membuat lautan itu menjadi merah.


Di pantai Sardinia, Charlie begitu murka menyaksikan bagaimana puluhan tubuh anak buahnya tercerai berai akibat terkena ledakan ranjau darat. Oh, mereka dapat dihidupkan kembali hanya saja tidak ada waktu sekarang!


Dia mengeluarkan jeritan yang begitu keras dan anak buahnya berlari untuk menyerang benteng kastil. Di saat itu juga, gerbang terbuka dan ratusan prajurit keluar.

__ADS_1


“SERANG TANPA AMPUNNN!!”


“Dimitri D’Arcy!” Mata Charlie hanya tertuju pada satu orang yang berada pada garis terdepan.


“Selamat menikmati santapan kalian!!”


Para vampir kelaparan menyerang para prajurit, tapi Charlie membelalak kaget ketika pedang mereka menghunus jantung anak buahnya. Lalu matanya menangkap sebuah seringai di wajah Dimitri yang terlihat puas.


Charlie semakin berang saat dia mendongakkan kepalanya ke atas benteng dan melihat seorang pemanah berbaju zirah lengkap dengan tangan yang sangat cepat mematikan para vampir dengan bidikan tepat di jantung.


Dia menarik keluar satu anak panah, tubuh vampir itu hancur dan menjadi abu bercampur dengan tanah. Ternyata anak panah itu terbuat dari perak asli!


Charlie mengesampingkan badannya dengan sigap dan anak panah yang melesat ke arahnya menusuk tangannya. Dia menggeram dan bergerak maju.


“Sebelum aku membunuhmu, aku akan mengurus yang di bawah dulu.”


Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Jumlah mereka kalah banyak, ada yang berhasil membunuh vampir dan banyak juga yang gagal. Setelah melawan beberapa prajurit dengan mudah, dia akhirnya berhadapan dengan Dimitri.


“Sang Penghancur, kali ini aku yang akan menghancurkanmu.”


Dimitri lalu menghunus jantung dari tubuh yang sudah tidak berkepala itu.


“Delapan puluh empat,” ucap Dimitri yang menghitung setiap vampir yang dia musnahkan malam ini.


Satu vampir menyerang ke arahnya, sangat disayangkan dia harus membunuh mereka semua padahal mereka tidak bersalah. Bala tentara ini dibentuk hanya karena ambisi seorang raja muda.


“Delapan puluh li—“ Dia hendak mengayunkan pedangnya untuk menebas ketika wajah pria itu sudah retak. Anak panah menancap di jantungnya.


Dimitri menoleh ke belakang dan melihat Chloe di atas benteng. Orang lain dapat melihat keganasannya dalam memanah. Dimitri sendiri terkejut ketika melihat Chloe begitu mahir menarik dan membidik sasarannya dengan anak panah perak yang begitu berat.


Tidak ada satu pun yang meleset.


Kalau saja dia punya kekuatan teleportasi, dia pasti sudah berada di atas benteng itu dalam sekejap mata hanya untuk melepas helmet zirah bodoh itu dan mencium wanita yang ada di baliknya.


Dimitri menyunggingkan senyum saat memikirkannya dan satu anak panah melesat ke jantungnya.


Sialan! Kamu mau membunuhku, Dewi Kematian? Bahkan Chloe yang hilang ingatan masih berusaha untuk membunuhku. Segitu bencinya kamu padaku? Aku rela mati di tanganmu, tapi tidak sekarang, darling.

__ADS_1


Dengan cepat Dimitri menepis anak panah itu, lalu dia berkonsentrasi untuk melenyapkan sisa vampir. Dia mendapati bahwa beberapa prajuritnya juga sudah berubah karena gigitan vampir Raja Nelson.


Dengan berat hati, Dimitri harus membunuh mereka semua.


Raja Nelson yang dari tadi tidak berani mendarat, melihat langit yang gelap berubah semakin terang.


“A-apa? Ini belum waktunya matahari terbit!”


Bala tentaranya berhenti menyerang. Mereka lebih takut pada cahaya matahari dibanding yang lain. Beberapa detik kelengahan mereka, membawa keuntungan untuk prajurit Azov dan Navarre.


Raja Nelson dibuat tak berkutik. Dia tidak bisa berbalik arah. Kapalnya sudah hangus dilalap api dan dia juga tidak bisa maju. Dia hanya dapat melihat dari sekoci kayu itu bersama beberapa awak kapal yang selamat.


Lalu terbesit di benaknya kalau dia berubah menjadi vampir, dia tidak akan mudah mati.


“Kayuh lebih cepat!!”


“K-kemana, Yang Mulia?” tanya seorang awak dengan nada bergetar.


“Tentu saja ke daratan, bodoh! Apa perlu aku yang mendayung sekoci sialan ini?”


Mereka menelan ludahnya tapi tidak berani melawan. Dengan cepat, mereka sampai ke daratan dan bertemu dengan para vampir yang bergerak mundur, menutupi mata mereka.


Nelson membalikkan tubuh seorang vampir dan berkata, “Gigit aku sekarang dan ubah aku menjadi vampir!”


Tidak perlu Nelson mengulang perkataannya karena pria itu dengan sigap sudah menyerang leher Nelson. Satu-satunya jalan untuk tetap hidup adalah berubah menjadi sama dengan mereka. Kedudukannya menjadi seorang Raja Navarre sudah lenyap.


Vampir tidak boleh menjadi raja, namun yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawanya dulu!


Bola mata sejernih air laut itu pun berubah merah.


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2