Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Melarikan Diri dengan Alaric?


__ADS_3

“Layla, tolong bantu aku packing beberapa baju.”


Chloe terlihat sibuk mondar-mandir dari tadi seperti memikirkan sesuatu. Tidak. Sudah beberapa hari ini dia seperti banyak pikiran setelah bertemu dengan Permaisuri Juliana.


Saat Layla masuk, dia langsung menyuruh pelayan itu membantunya packing baju. Tentu saja hal ini membuat Dimitri bingung.


Mereka belum membicarakan akan berangkat pulang ke Kerajaan Rudolmuv, lagi pula Eden baru saja tiba tadi pagi. Nenek tua itu sudah rindu dengan Dwayne dan menyusul mereka, sedangkan Draven dan Adreana masih pergi berlibur.



“Istriku, kamu tidak bilang akhirnya kamu mau pulang ke Kerajaan Rudolmuv denganku hari ini.” Dimitri menaikkan satu alisnya. Dia sedang rebahan di atas sofa dengan satu buku yang dia letakkan di perutnya.


Chloe menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai ke belakang telinganya sambil menunduk ke laci meja rias. “Aku bukan mau ikut kamu pulang, maksudku aku mau pergi ke suatu tempat dulu.”


Dimitri langsung beranjak duduk. “Kamu berubah pikiran? Bukannya kamu sudah mengundurkan diri untuk ikut pulang denganku?”


Chloe mengeluarkan sisir dan beberapa barang wanita yang tidak penting bagi Dimitri.


“Aku akan ikut kamu dan Dwayne pulang, tapi beri aku waktu sehari saja. Setelah aku kembali, kita bisa langsung berangkat pulang ke Kerajaan Rudolmuv.”


Chloe berjalan ke kasur dan memasukkan barang-barang itu ke dalam tas tangan. Layla sudah selesai mengambil dan menyusun bajunya juga.


“Saya permisi, Nona Eliza. Tuan Dimitri.”


Setelah Layla keluar, Dimitri duduk di atas kasur dan menatap Chloe yang memeriksa kembali isi tasnya.


“Kamu bukan sedang melarikan diri, kan?” tanya Dimitri ragu.


Chloe tertawa dan menutup tas berwarna coklat tua itu. “Tentu saja tidak, Dimitri. Mana ada orang yang secara terang-terangan menyusun pakaian untuk melarikan diri di hadapan suaminya.”


Dimitri menarik pinggang Chloe sehingga dia berada di tengah pahanya yang terbuka. Dia mendongakkan kepalanya dengan wajah memelas dan mata seperti anjing yang takut ditinggal tuannya.


“Benarkah? Kamu tidak sedang lari dariku?”


Chloe tersenyum, namun Dimitri dapat melihat ada kesedihan di sana. Dia menangkup pipi Dimitri dan mengec*up keningnya cepat.


“Aku akan pulang besok malam, kamu bahkan tidak akan sadar aku pergi.”


Dimitri melingkarkan lengannya di pinggang Chloe dan meletakkan kepalanya di perutnya.


“Janji? I’ll miss you, darling. Dwayne juga. Kamu belum bilang padanya mau pergi.”


Dia tidak mau melepas istrinya pergi. Tapi dia juga takut kalau menggenggam Chloe terlalu erat, malah akan membuat Chloe menjauh.


Chloe mengelus rambutnya. “Kamu harus melepasku dulu baru aku bisa say goodbye.”


Dimitri menggelengkan kepalanya. “Kamu harus bilang dulu mau kemana?”


“Aku akan memberitahumu setelah aku kembali. Ada kapal yang harus kukejar dua jam lagi.”


“Kalau begitu aku masih punya waktu.”

__ADS_1


Chloe mengernyitkan dahinya. “Waktu buat apa?”


Dimitri mengecu*p perutnya. “Jatah malam ini.” Bibirnya semakin naik ke atas menuju puncak.


“Dimitri!” Chloe mendorong kepalanya. “Tidak bisa. Aku harus segera pergi.”


“Come on, hanya beberapa menit saja. Aku janji akan cepat.”


Chloe mengusap alisnya yang berkerut. “Nanti setelah aku pulang saja. Kamu bisa melakukannya seharian penuh dan aku tidak akan menolak.”


Dengan berat hati, Dimitri melepas tangannya. Dia tau Chloe bisa menghilang dari genggamannya kapan saja.


“Baiklah aku akan ikut mengantarmu.”


Chloe mengambil tas tangan itu dan melangkah ke luar kamar. “Benar-benar tidak perlu, Dimitri. Kamu di sini saja menjaga Dwayne.”


Setelah berpamitan dengan anaknya yang harus dibujuk dan merengek minta ikut, Chloe akhirnya bisa masuk ke dalam kereta kudanya. Dari jendela, dia melambaikan tangan pada Dwayne yang digendong papanya.


“Eden, bawa Dwayne masuk dulu.”


Eden tidak berkata apa-apa dan menggendong Dwayne masuk ke dalam. Setelah itu, dia memanggil seorang pengawal.


“Ikuti kereta kuda itu. Kemana tujuan kapalnya dan dengan siapa Nona Eliza pergi.”


“Siap, tuan!”


Dimitri menunggu beberapa jam sampai pengawal itu pulang. Napasnya tidak beraturan saat dia menghadap tuannya.


“Tuan Dimitri, saya sudah mengikuti kereta Nona Eliza. Dia memang pergi ke pelabuhan tapi saya tidak tau tujuannya karena dia naik ke kapal pribadi. Kapal itu memiliki kepala yang berbentuk kelelawar, tuan.”


“Dia pergi dengan siapa?”


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang melintas di benak Dimitri. Dia tau kemana tujuan kapal itu tapi tidak mengerti kenapa istrinya pergi ke sana.


“Itu dengan tuan yang beberapa kali pernah datang ke sini… Aduh, saya lupa namanya, tuan.”


Pengawal itu memutar otaknya, sedikit membuat Dimitri kesal menunggu.


“Oh!” Kepalan tangannya menepuk telapak tangannya sendiri.


“Aku sudah ingat. Tuan Alaric! Nona Eliza pergi dengan Tuan Alaric!”


*


*


*


Kapal mereka tiba di suatu pulau terpencil yang tersembunyi di antara banyaknya bebatuan besar. Dari kejauhan, seperti ada badai yang terjadi, namun saat kapal mendekat, cuaca di sana normal.


Alaric menjelaskan bahwa ini lah yang membuat Magnus memilih pulau ini untuk mendirikan kastilnya.

__ADS_1


Bangunan yang ada di hadapan Chloe bahkan lebih kuno dari semua bangunan yang pernah dia lihat. Kuno dan menyeramkan. Dia semakin penasaran seperti apa ketua klan yang tinggal di kastil ini.


Alaric mengarahkannya ke satu ruangan yang tak terduga bernuansa lembut, kontras dengan penampilan luar kastil.


Berdiri satu sosok yang membelakangi pintu dan menatap ke luar jendela. Chloe bingung, di bayangannya Magnus adalah seorang pria. Apa dia salah?



“Aku akan meninggalkan kalian untuk memberi privasi.” Alaric menutup pintu ruangan.


Wanita itu membalikkan tubuhnya dan Chloe terkesiap. Dia tidak pernah sekaget ini sejak berubah menjadi vampir.


“Mama?” bisiknya lirih.


Chloe tidak percaya dengan matanya sendiri. Berkali-kali dia mengedipkan matanya dengan cepat, seakan dia bisa menghapus orang yang berdiri dengan nyata di hadapannya.


“Bagaimana bisa? Kamu sudah…”


Sofia tersenyum lembut. “Chloe. Lama tidak bertemu.”


Ada yang aneh dengan gerak geriknya. Dia terlihat kaku, badannya tegak, terlihat lebih pucat. Tapi bukan pucat seperti saat dia sakit. Dia juga tidak memiliki bau darah.


Seakan ekspresi Chloe begitu transparan, Sofia menjawab. “Betul. Mama bukan meninggal karena sakit. Mama diubah menjadi vampir.”


“Tapi aku ikut pergi menguburmu, ma. Aku melihat bagaimana pasir itu menutupi petimu.”


Sofia bergerak maju, tapi Chloe melangkah mundur. Dia tidak percaya. Mungkin ada semacam sihir yang sedang bekerja sekarang untuk mengelabuinya.


“Mama sudah di ambang kematian. Kamu juga tau penyakit mama tidak bisa sembuh lagi.” Sofia berkata dengan wajah sedih, seakan mengingat bagaimana dulu dia menderita batuk darah.


“Lalu di malam itu, karena perasaan mama sedang kacau dan tubuh mama sakit sekali, mama pergi keluar rumah dan berjalan entah kemana. Tiba-tiba saja ada yang menyambar mama dan menghilangkan rasa sakit di tubuh mama.”


Sofia mengingat kembali bagaimana pria yang tidak dia kenal itu menghi*sap darahnya dan membuatnya lupa kalau dia sakit. Saat dia berhenti, Sofia memohon untuk menarik rasa sakitnya.


“Singkat cerita, dia mengembalikan mama ke rumah dengan keadaan sudah tidak bernyawa agar mama bisa meninggal dengan wajar. Sebenarnya racun itu sudah bekerja di tubuh mama. Lalu kalian menemukan mama.”


Chloe ingat bagaimana dia duluan yang menemukan mamanya tidak bernyawa. Namun masih ada yang hilang dari cerita Sofia dan membuat kepala Chloe berputar.


“Kenapa mama tidak mencari aku dan Sierra? Apa mama lupa? Tunggu, kalau mama menjadi vampir, berarti mama ingat semuanya...”


...----------------...


Yang semangat besok finale siapaaa? 😄


Tapi setelah ending, bakal update beberapa extra bab manatau kalian rindu dan pengen tau kehidupan mereka bagaimana setelahnya… hihi


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2