Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
S2 - Kamu budakku, Mengerti?


__ADS_3

Apa?! Kiara masih tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat. Penebasan itu terjadi di depan matanya dengan begitu cepat hingga dia tidak sanggup bernapas, apalagi berteriak!


Pergelangan tangan dan kelima jari besar itu jatuh ke lantai, retak lalu berubah menjadi abu. Dia tahu kalau tangan Magnus pasti akan tumbuh lagi. Itu tidak akan membuatnya mati.


Oh, tapi rasa sakitnya tetap akan terasa seperti tanganmu benar-benar ditebas putus.


Perasaan Kiara campur aduk. Lega karena rambutnya tidak dijambak lagi dan juga merasa takut. Karena sekarang dia sudah menjadi budak pria brutal itu.


Ya, pria bernama Ansel itu sungguh brutal. Masih mending Magnus yang hanya menampar dia. Kalau Ansel… Apa yang akan dilakukan pria itu kalau Kiara berbuat salah?


“Ck, ck… Lihat apa yang dia lakukan untuk melindungimu, Kiara. Kamu masih menolak untuk menjadi budaknya?”


“Saya tidak—“


“Dia tidak memiliki hak untuk mengungkapkan pendapatnya.” Ansel mengarahkan ujung pedangnya ke tenggorokan wanita itu.


Kiara memejamkan matanya kembali. Dia akan mati karena kebodohannya sendiri. Namun Ansel bukan menghunuskan pedang itu, melainkan dia mengangkat dagu Kiara dengan ujung pedangnya.


“Mulai sekarang, kamu budakku sampai aku bosan padamu. Mengerti? Sekarang, berdiri dan ikut aku.” Ansel menjauhkan pedangnya dan menyimpannya kembali.

__ADS_1


Kiara berusaha untuk bangkit, namun kakinya terasa lemas. Dia hampir jatuh kembali ke lantai kalau tidak ada sepasang tangan menopangnya.


“Hati-hati.” Suara yang maskulin dan dalam itu menggetarkan tubuh Kiara. Ada kelembutan yang berbeda dengan cara dia berbicara tadi.


“Maaf, Tuan.”


Lalu sedetik kemudian, tubuhnya diangkat dengan mudah. Kiara memekik terkejut.


“Permisi, Magnus.”


“Sudah tidak sabar mencicipi makanan barumu, eh?” ujar Magnus.


PLAK!


Satu tamparan mendarat di bo*kong Kiara. “Diam. Jangan banyak bergerak atau aku akan menjatuhkanmu.”


Spontan, itu membuat Kiara terdiam. Wajahnya memerah karena aliran darah turun ke kepalanya. Sekaligus karena dia merasa sangat teramat malu!


Pria itu memukul bo*kongnya!!

__ADS_1


“Selamat menikmati.” Magnus berkata saat Ansel membawanya pergi.


***


Kiara tidak berani melawan lagi. Dia pasrah diangkat seperti boneka saat mereka berjalan menyusuri lorong-lorong gelap, naik ke atas tangga, dan tiba di sebuah kamar.


Sebelum masuk ke dalam, Ansel menyuruh pelayan menyiapkan bak mandi dengan air hangat. Lalu dia menjatuhkan Kiara ke atas ranjang.


Dengan cepat, Kiara bergeser ke ujung kasur sampai dia tidak dapat lari kemana-mana lagi karena ada dinding menghalanginya.


“J-jangan macam-macam, Tuan… atau aku akan menjerit,” ucap Kiara saat melihat Ansel membuka mantelnya.


“Apa yang kamu pikir akan kulakukan?” tanya Ansel santai, membuka bajunya tanpa ragu di hadapan seorang wanita.


Kiara mengalihkan tatapannya. Ansel memiliki badan yang bagus. Dadanya bidang, tangannya berotot dan perutnya berkotak-kotak. Kiara belum pernah melihat seorang pria bertelan*jang dada.


“Tuan Magnus bilang tentang makanan… Aku pernah mendengar bahwa vampir itu nyata. Apakah benar begitu? Anda dan Tuan Magnus adalah vampir? Karena tadi aku melihat taringnya keluar!”


“Ya, betul sekali. Kamu hanya budak yang dibeli untuk dijadikan makanan. Tapi aku tidak tertarik untuk menghi*sap darahmu.”

__ADS_1


Kiara menatapnya kembali. “Kenapa begitu? Kamu bisa tahan dengan bau darahku?”


__ADS_2