
TICK TOCK TICK TOCK!
Suara jam dinding menemani lamunanku, aku duduk di sofa depan jendela merasakan hangatnya sinar matahari yang masuk menembus kulit.
Aku mengangkat tanganku dan meraba kain sutra putih yang sudah diikat kembali. Sebentar lagi aku bisa memeluk anakku dan menyusuinya. Aku ingin sekali melihat warna mata dan rambutnya, apakah dia lebih mirip mamanya atau papanya?
Tapi aku tidak bisa.
Sebelum pintu terbuka, aku sudah mendengar tangisannya.
Anakku, mama disini.
Aku beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu tapi aku terjatuh karena tersandung sebuah meja yang ada di tengah ruangan.
CEKLEK!
“Chloe! Kenapa kamu bergerak?” Tuan Dimitri berusaha memelankan suaranya tapi ada amarah yang tertahan disana.
Jadi bergerak pun aku tidak boleh?
“A-aku mau menggendong anakku, Tuan Dimitri.”
“Bagaimana kamu bisa menggendongnya coba? Kamu duduk dulu yang bagus.”
Aku mengangkat tubuhku sendiri dengan satu tangan di atas meja yang membuatku terjatuh, lalu tangan Tuan Dimitri mencengkeram lenganku kasar dan mengarahkanku ke sofa kembali.
“Buka bajumu, anakku sudah haus.”
Dengan patuh aku membuka kancing bajuku sedikit di bawah buah dada dan menyibaknya ke samping.
“Hati-hati,” ucapnya sambil meletakkan Dwayne dalam dekapanku.
Tidak butuh waktu lama untuk bayi itu mendapatkan sumber ASI dan minum dengan lahap.
“Tuan, dia lebih mirip siapa? Apakah mata dan rambutmu mirip dengan papamu, Dwayne?” tanyaku lembut sambil mengelus pipi chubby-nya.
“Rambutnya hitam sepertiku tapi warna matanya coklat seperti ibunya…” ada nada hangat di deskripsi singkat Tuan Dimitri.
“Dwayne Ansel D’Arcy, kamu pasti sangat tampan, anakku…” nadaku sendu.
“Tuan, kapan aku baru bisa melihat Dwayne?”
Lalu terselip rasa khawatir dan aku menyentuh semua tubuhnya, tapi aku tidak merasakan ada hal yang janggal. Kulitnya sangat mulus.
“Kenapa aku tidak boleh melihatnya, tuan? Apa… Apakah dia cacat?”
Aku ingin menangis hanya dengan memikirkannya saja.
“Jangan berkata yang tidak-tidak. Dia bayi paling sempurna yang pernah ku lihat. Selesaikan tugasmu dan aku akan membawanya kembali. Kamu tidak akan pernah bisa melihatnya, Chloe.”
Aku terhenyak dan anak itu kudekap erat, “A-apa maksudmu, tuan?”
“Kamu akan lupa kalau kamu pernah melahirkan seorang anak, Chloe. Lebih baik kamu tidak pernah melihatnya karena itu akan menyusahkan Eden untuk menghapus ingatanmu.”
__ADS_1
Aku terkesiap, “Kekuatan vampir tidak mempan bagiku, tuan. Kamu tidak bisa menghilangkan ingatanku!!”
“Bukan dengan kekuatan vampir. Eden akan menggunakan sihir untuk membuatmu lupa. Semua kejadian sejak kamu masuk ke dalam hidupku, kamu akan melupakannya. Waktumu disini hanya sampai anakku tidak perlu ASI.”
Aku beranjak berdiri dan mulut Dwayne lepas dari put*ngku, dia menangis dengan jeritan yang keras. Membuat hatiku semakin pilu dan tersayat.
“Kalian gila!”
Tapi Tuan Dimitri menekan bahuku turun dan aku terduduk lagi. Untuk menghentikan tangisan Dwayne, aku langsung mengarahkan kepalanya ke dadaku lagi.
“Please, Dimitri… Jangan pisahkan aku dari Dwayne. Aku ibunya dan dia membutuhkanku, Dimitri… Aku mohon…”
Aku tidak dapat menahan tangis lagi, air mataku mengalir dengan deras.
“Ingat, aku hanya memintamu untuk memberikanku seorang anak. Setelah ini kamu bebas, Chloe. Kamu dapat bertemu dengan pria lain, jatuh cinta dengannya, membangun keluarga dan kamu bisa punya anak lagi, Chloe.”
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, aku tidak ingin mendengar perkataan Tuan Dimitri yang dingin dan tidak berperasaan.
“Aku hanya minta kamu tinggalkan dan lupakan anak ini, babu kecil. Kamu juga tidak bisa bersamanya seumur hidupmu. Lebih cepat kamu melupakannya, lebih baik.”
Aku merasa Tuan Dimitri sangat dekat di depanku, badannya mengungkung dengan tangan berada di kedua sisi lengan sofa dan aku tidak dapat beranjak.
“Tidak, tuan. Aku lebih baik mati daripada aku lupa pernah melahirkan Dwayne ke dunia! Aku yang menjaganya di dalam perutku selama 1 bulan dan aku yang sakit saat melahirkannya!!”
Aku ingin lari! Lari sekencang-kencangnya dari tempat ini bersama dengan Dwayne. Mereka sudah gila jika mereka pikir aku akan
merelakan Dwayne.
Tuan Dimitri berdecak, “Jangan mempersulit keadaan, Chloe. Atau aku bisa mencari ASI dari wanita lain! Kamu mau itu terjadi?”
Dari nadanya, dia kedengaran sangat serius dan tidak akan luluh meskipun aku memohon sampai aku nangis darah.
Aku hanya bisa duduk tegak disana sambil menyusui Dwayne. Tapi isi kepalaku penuh kegetiran, aku harus menyusun rencana untuk lari dari sini.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap sampai Dwayne sudah kenyang dan selesai minum. Aku tidak ingin ini berakhir dan aku menekan kepalanya di dadaku, tapi bayi itu menolak.
“S-sebentar lagi tuan… Aku mau menggendongnya sebentar lagi saja… Aku mohon, jangan ambil anakku…”
Tapi Tuan Dimitri tidak mengindahkan permintaanku dan menarik Dwayne dari tanganku.
“Kamu dapat menggendongnya saat dia lapar, Chloe.”
Saat kurasa dia hendak pergi bersama bayiku, aku langsung jatuh berlutut di kakinya dan menarik ujung celana Tuan Dimitri.
“Aku mohon jangan hapus ingatanku, Tuan Dimitri… Kamu boleh mengusirku tapi biarkan aku mengunjunginya sesekali, atau.. Atau aku bisa melihatnya dari kejauhan! Aku janji tidak akan bicara dengannya!”
Aku menundukkan kepalaku dan dapat kudengar air mataku jatuh di atas sepatunya.
TES! TES!
Tuan Dimitri menarik kakinya dari cengkeraman tanganku dengan kasar, “Jangan mengemis seperti itu, Chloe. Kamu tidak akan mendapatkan simpatiku. Istirahat dan habiskan makanmu sampai aku membawa Dwayne kembali jika dia butuh ASI.”
Aku tidak menghabiskan sarapan yang diantar pelayan. Bagaimana aku bisa punya selera makan dengan tekanan batin ini?
Pintu kamar tertutup dan aku menangis sejadi-jadinya di atas lantai berkarpet lembut di kamar yang Tuan Dimitri berikan.
__ADS_1
***
Malam harinya, aku dapat memeluk anakku kembali. Tangan mungilnya di atas dadaku sambil minum seperti tidak ada hari esok.
Aku ingin Dwayne melihat senyuman ibunya, tapi mulutku terlalu kaku untuk membentuk sebuah senyuman manis.
Dwayne, ini mama, nak… Apakah kamu bisa mengingat wajah mama setelah kamu besar nanti? Papamu ingin memisahkan kita, mama tidak rela, Dwayne! Mama ingin melihatmu tumbuh besar, mama masih mau memelukmu lebih lama lagi…
Begitu cepat waktu berlalu dan Dwayne diangkat dari lenganku. Aku menangis lagi saat hatiku kembali hampa.
Kamu bukan hanya membawa pergi anakku, Dimitri. Tapi kamu juga pergi membawa jiwaku.
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku dipenuhi dengan perkataan dan ancaman Tuan Dimitri. Aku hanya punya waktu sampai Dwayne tidak memerlukan ASI-ku lagi.
Perlahan aku turun dari kasur dan membuka pintu kamar.
Terkunci!
Aku merasa dipenjara di dalam kamar yang indah ini.
Belum sempat aku meratapi nasibku, kunci pintu kamar terbuka dan seseorang masuk. Aku segera melangkah mundur saat melihat sosok Tuan Dimitri di hadapanku.
“Mau apa kamu? Jangan masuk ke kamarku kalau Dwayne tidak bersamamu!”
Aku tidak ingin melihat mukanya tapi aku tidak mau menunjukkan kalau aku lemah. Aku mengangkat daguku dan menatap matanya lekat sampai aku tidak sanggup dan memalingkan pandanganku.
“Chloe, bukan hanya Dwayne yang haus. Ayahnya juga bisa haus.”
Aku mendelik tak percaya dan dengan cepat tanganku menyambar tatakan lilin di meja terdekat dan melemparnya ke arah Tuan Dimitri.
“Keluar!! Jangan harap aku akan memberi darahku! Satu tetes pun tidak akan kuberikan!”
Dia menepis benda yang kulempar dan api yang masih menyala di lilin itu padam, jatuh ke lantai. Dia mengambil satu langkah dan aku panik. Semua barang yang bisa kugapai, ku lempar ke arahnya sambil berteriak seperti orang gila.
Mungkin memang aku sudah gila. Mereka yang membuatku seperti ini! Pria ini yang sudah menghancurkan hidupku.
Tuan Dimitri melahap jarak di antara kita dan semua barang yang kulempar tidak menggores kulitnya sedikit pun. Dia mendekapku erat dan hanya begitu saja, pertahananku runtuh.
Aku cuma manusia biasa yang tidak berdaya. Seluruh hidupku berada dalam telapak tangannya dan dia hanya perlu menekan satu tombol untuk menghancurkannya. Aku takut kalau Tuan Dimitri benar-benar memisahkanku dan bayiku seperti ancamannya tadi siang.
Aku menangis di dadanya dan dia mengelus rambutku sambil berkata, “Sedikit saja Chloe dan aku akan pergi.”
Dia menyibak rambutku ke samping dan menghisap darahku tanpa persetujuan. Aku sudah lelah untuk berontak jadi kubiarkan saja dia minum sepuasnya sambil menatap nanar ke secercah cahaya dari pintu kamar yang sedikit terbuka.
Tuan Dimitri menjilat leherku lalu berkata lembut, “Besok aku akan membawanya kembali, ok?”
Aku hanya berdiri diam disana dan dia menatapku untuk beberapa saat sebelum melangkah keluar dan menutup pintu.
Suara pintu dikunci dari luar seakan menyegel takdirku.
......................
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
__ADS_1
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...