Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Bluebells and Birthday Boy


__ADS_3

...[Flashback Hari Ulang Tahun Pertama Dwayne]...


Subuh hari sebelum ayam sempat berkokok dan saat seluruh isi kastil masih sunyi senyap, Dimitri membuka pintu kamar anaknya.


Dwayne masih tertidur di box bayi yang sebentar lagi sudah tidak muat untuknya. Dia mengecup keningnya lembut dan senyuman kecil menghiasi wajah Dwayne namun dia tidak bangun.


Semalam dia terlalu banyak bermain dengan paman Draven dan bibi Adreana. Ini juga belum waktunya dia bangun jadi Dimitri menutup kembali pintu kamarnya.


Dimitri menghirup aroma segar di subuh hari, udara terasa sangat sejuk ketika dia memacu Onyx seperti biasanya, pergi ke ujung tebing Ashridge. Tidak ada hari yang terlewatkan tanpa dia pergi melewati jalur ini.


Biasanya Dimitri selalu membawakan bunga mawar untuk mengunjungi makam Chloe. Bunga yang sama seperti tanda lahir di punggungnya. Namun hari ini dia pergi terlalu cepat dan toko bunga yang menjual mawar segar belum buka.


Dia menyempatkan diri untuk berhenti di padang rumput yang luas di dalam hutan Ashridge, memetik bunga yang hanya mekar sepanjang musim semi.



Setelah dia membaca buku tentang tumbuh-tumbuhan, di umurnya yang ke-1001 Dimitri baru mengetahui bahwa jenis bunga ini bernama Bluebells. Bunga ini tumbuh dan mekar layaknya karpet berwarna biru keunguan.


Tampilan bunga ini tampak membungkuk dan sederhana saat mereka jatuh di atas paku bunga. Makna bunga Bluebells dikenal sebagai rendah hati.


Dimitri memetik beberapa tangkai bunga itu hingga tangannya penuh.


Chloe, aku bahkan belum sempat bertanya apa jenis bunga favoritmu sebelum kamu pergi dari hidupku untuk selamanya.



Kamu bagaikan bunga bluebells. Tenang, halus dan rapuh.


Dimitri melihat bunga yang berada di tangannya yang besar dan dingin.


Mungkin aku tidak pantas untuk menggenggammu, Chloe. Namun jika benar ada Tuhan di dunia ini, maka pintaku hanya satu. Aku ingin menyentuhmu sekali lagi.


Dia kembali melanjutkan perjalanannya ke tepi tebing. Mengikat Onyx pada satu batang pohon yang tak lagi berdaun, seakan hidup segan mati tak mau.


Sama seperti Dimitri yang hidup dalam


kesengsaraan.


Suara terpaan ombak di bawah sana sudah menyambut. Dimitri berjalan ke arah makam yang tidak berpenghuni di tepi tebing Ashridge.


Dia meletakkan bunga Bluebells di atas gundukan tanah itu. Tangan kirinya mengusap lembut papan nisan yang terbuat dari batu.


...Beloved Mother...


...Chloe Isabel...


...1491 - 27 April 1509...


...So Loved. So Missed. So Special....


Tidak ada catatan pertinggal tanggal pasti Chloe lahir ke dunia. Bahkan kakak tirinya, Sierra, tidak tau.


“Chloe, Dwayne hari ini berumur 1 tahun. Kalau kamu masih ada disini, apa yang akan kamu ucapkan untuknya? Apa keinginanmu untuk anak kita?”


Tidak ada jawaban yang membalas pertanyaannya.


“Kalau saja kamu tau kenapa aku tidak mengizinkanmu melihat anak kita... Tapi semuanya sudah terlambat. Kamu pergi tanpa sempat mendengarkan penjelasanku.”

__ADS_1


Dimitri merebahkan tubuhnya di samping makam Chloe, tidak memperdulikan mantel hitamnya akan kotor. Dia merasa lebih dekat bersama Chloe saat berada disini sambil memandang langit yang mulai menunjukkan tanda-tanda matahari akan terbit.


“Chloe, aku benar-benar serius dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku mencintaimu, babu kecil.”


***


Dwayne terbangun dari tidurnya dan mengusap matanya dengan tangan kecilnya. Dia membolak balekkan badannya sebentar lalu karena tidak bisa tidur lagi, Dwayne keluar dari box bayi dengan cekatan.


Orang pertama yang ingin dia lihat di pagi hari adalah papanya. Papa Dwayne selalu menggendongnya dan mengecup keningnya setelah dia bangun.


“Papa…”


Dwayne masuk ke kamar papanya tapi kamar itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Lalu dia menuruni anak tangga dengan cara membalikkan badannya dan merangkak turun.


Tangga itu dilapisi dengan karpet lembut jadi lututnya tidak sakit. Dwayne sudah terbiasa melakukan ini kalau dia lolos dari pengawasan orang dewasa, jadi tidak butuh waktu lama dia sudah sampai ke bawah.


Setelah itu Dwayne berlari ke kamar paman dan bibinya di kamar tamu yang ada di lantai bawah.


Pintu itu tidak pernah terkunci. Sambil berjinjit, Dwayne menarik gagang pintunya.


Ceklek!


Draven dan Adreana sedang tidur bersama di atas kasur besar. Dwayne menyelinap masuk dan dia mengguncang bahu pamannya yang tidak memakai baju.


“Daven…”


Dwayne belum bisa mengucapkan ‘r’.


“Ehhmmm…” Draven tidak mau bangun dan malah semakin memeluk wanita yang tidur di sebelahnya.


“Onty…”


Dwayne cemberut. Mereka sudah janji akan memberikan kado untuknya. Anak itu sudah ngambek dan mau merangkak turun dari kasur ketika Adreana tidak bisa menahan tawanya lagi.


Lalu sepasang tangan mengangkat tubuhnya. Mereka cuma mau menjahili Dwayne.


“Happy birthday, Dwayne!” ucap mereka secara serentak.


Wajahnya yang cemberut langsung berubah riang dan dia memeluk pamannya. Draven mengecup kepala Dwayne yang sudah menggenggam erat hatinya dalam telapak tangannya yang kecil.


Lalu dia memeluk Adreana dengan erat. Dwayne masih belum mengerti apa itu ulang tahun. Yang dia tau, dia dijanjikan mainan dan makanan yang enak.


“Papa…” kata Dwayne mencari ayahnya.


“Kalau Dimitri nggak ada di kamarnya berarti dia sedang pergi ke tempat yang biasa.”


Draven dan Adreana saling memandang satu sama lain. Mereka sudah tau tujuan utama Dimitri setiap harinya selama satu tahun terakhir. Makam Chloe sudah bagaikan rumah keduanya.


Adreana mengelus kepala Dwayne. Walaupun dia membenci ibunya, tapi anak ini tidak bersalah. Dia masih kecil dan bahkan belum mengerti peran ibu dalam sebuah keluarga.


Semenjak kedatangan Edric, duta perdamaian Kerajaan Azov disini dan mengabarkan bahwa raja mereka tidak akan perhitungan atas kematian Lazarus, pertunangan Dimitri dan Adreana akhirnya bisa dibatalkan.


Petrova, papa Adreana, sangat murka dengan Dimitri karena berani membatalkan pertunangan yang sudah direncanakan itu. Namun Adreana meyakinkan papanya kalau dia sendiri yang tidak mau menikah dengan Dimitri.


Di hati Adreana hanya ada seorang pria yang setiap malam menemani tidurnya. Eh, tidur adalah hal terakhir yang mereka lakukan. Sudah satu tahun mereka bersama, namun Draven belum kunjung menyatakan keseriusannya pada Adreana.


Dia menghela napas panjang.

__ADS_1


“Kenapa, sayang?” Draven mengelus rambut pirangnya yang lembut.


Adreana tidak mengacuhkannya dan menggendong Dwayne keluar kamar.


“Yuk kita jalan-jalan sambil nunggu papamu di luar.”


***


Penjaga gerbang membuka pintu besar untuk memberi akses masuk pada tuannya. Dimitri baru saja kembali dari tebing Ashridge, memacu kudanya masuk ke pekarangan luas kastil dan melihat anaknya sedang berjalan di taman dengan pengawasan Adreana dan Draven.


Mereka berdua tidak mau pergi dari kastil ini dan masih numpang hidup dengan alasan ingin selalu bersama Dwayne.


Bagus juga ada mereka yang menjaga anak Dimitri karena dia beberapa kali harus pergi ke daerah lain atas utusan Raja Rudolmuv.


Dimitri tidak perlu khawatir akan ancaman vampir lain karena kekuatan yang sudah Dwayne bawa sejak lahir.


Dwayne dapat membuat semua vampir terpikat dan jatuh hati hanya dalam tatapan pertama. Kekuatan ini tidak pernah tercatat sebelumnya.


Kekuatan Dwayne yang membuat sikap Adreana berubah manis ketika Chloe hamil di minggu ketiganya sampai dia melahirkan. Dimitri percaya anak ini juga yang membuat Edric begitu dekat dengan Chloe saat berada di istana.


“Papa!”


“Good morning, anak papa.”


Dimitri mengangkat badan Dwayne karena anak itu sudah langsung tersenyum saat melihat wajah ayahnya dan mengulurkan tangannya ke atas.


Dia mencium kepalanya dan menghirup aroma bayi yang dia suka.


“Hmm… Happy birthday, baby boy.”


Mungkin aku harus mengajak Dwayne untuk melihat makam Chloe. Dia sudah berumur 1 tahun dan tidak pernah tau siapa ibunya.


Dimitri tidak pernah mengajak Dwayne ikut pergi karena sangat bahaya untuk menggendong seorang bayi sambil berkuda. Kereta kuda juga tidak mungkin bisa masuk karena jalan tebing yang terjal.


Dia berpikir akan mengajari anaknya duduk di atas kuda, setelah dia terbiasa baru Dimitri akan mengajaknya pergi.


Ya, sudah saatnya kamu bertemu mamamu, Dwayne.


Suara kereta kuda terdengar.


“Sepertinya itu Edric Suarez,” ucap Draven melihat warna kereta kuda itu dari kejauhan.


“Ya, Edric sudah berjanji akan datang di hari ulang tahun Dwayne.”


Mereka menunggu di depan kastil sampai kereta kuda Edric berhenti dan dia keluar dengan senyuman cerah saat melihat Dwayne.


“Ed!”


Mereka semua terkejut. Edric sangat sering mengunjungi mereka sampai Dwayne sudah mengenal wajahnya. Namun baru kali ini Dwayne mengucapkan namanya.


Mata Edric berkaca-kaca saat melihat cucunya.


Kalau saja Chloe tau kamu sudah tumbuh besar dan sehat, Dwayne. Tapi grandpa harus merahasiakan keberadaanmu dulu. Chloe belum siap untuk menghadapi kenyataan.


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...

__ADS_1


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...


__ADS_2