
[Chloe’s POV]
Aku sedang duduk di salah satu sofa di perpustakaan pribadi milik Edric dan membaca sebuah buku dengan topik yang selalu sama ketika suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasiku.
“Maaf Nona Eliza, tuan Argo sudah menunggu di bawah.”
“Baik, terima kasih Layla. Aku akan segera turun ke bawah.”
Aku menutup buku dengan sampul coklat tua itu, ada lambang daun palminervis di atasnya. Kupeluk buku itu di dadaku dan menatap ke bawah dari jendela perpustakaan yang besar.
Hangatnya sinar matahari pagi itu membuatku sadar bahwa aku telah menghabiskan waktu semalaman disini, tenggelam dalam bacaan dan informasi baru yang kudapat.
Aku langsung tertarik dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit atau bahkan membunuh manusia.
“Selamat pagi, Nona Eliza.”
Seorang pelayan pria menundukkan kepalanya saat berpapasan denganku. Aku masih tertarik dengan bau darah manusia namun sekarang sudah lebih baik dalam mengontrol diriku sendiri.
Aku tidak pernah melanggar aturan Edric. Aku tidak minum darah manusia dan tidak menggunakan kekuatan teleportasi di depan mereka.
Disini aku hanya seorang Nona Eliza, namun di medan perang aku memiliki nama yang berbeda.
Entah dari mana, sebilah pedang hampir menusuk kepalaku dari belakang tapi dengan santai aku mengesampingkan badanku sedikit. Bilah pedang itu berada sejajar dengan mataku, dan aku dapat melihat pantulan wajahku sendiri.
“Tes terakhir sebelum kamu dinobatkan sebagai komandan perang, Chloe.”
Aku memutar bola mataku saat mendengar suara Argo dan menoleh untuk melihatnya berdiri dengan senyuman menyeringai.
“Tidak ada tes yang lebih sulit, Argo? Ini seperti permainan anak kecil.”
Argo bersiul. “Apakah kamu benar-benar anak didikku? Hanya dalam waktu setengah tahun kamu sudah diangkat sebagai komandan perang. Aku masih tidak percaya.”
Edric yang sedari tadi duduk melihat pun berkata, “Sudah kubilang Argo. Kamu akan menarik kata-katamu sendiri.”
Argo meletakkan pedang itu kembali pada tempatnya di dinding kastil.
“Kamu menang, Edric. Aku harus akui anak didikku yang satu ini memang berbeda.”
Pria tua itu menepuk pundakku. Dia yang mengajariku bertarung dengan pedang dan aku belajar semua strategi perang darinya. Walaupun memanah lebih gampang, namun tidak butuh waktu yang lama aku sudah dilemparkan ke medan perang.
Perang pertama yang pecah antara Kerajaan Azov dengan Navarre, berlangsung selama dua hari.
Untuk membuktikan aku layak menjadi komandan perang dan menarik perhatian Raja Azov, Edric menempatkanku di barisan paling depan.
__ADS_1
“Tentu saja. Dia anakku,” ucap Edric bangga dan aku hanya memberinya senyuman kecil.
***
Hari penobatan pun tiba. Semua pejabat penting telah berkumpul di aula kerajaan untuk menyaksikan upacara simbolik saat Raja Azov mengangkat komandan perang yang baru.
Dengan baju zirah lengkap, aku berlutut di hadapannya memberi hormat. Lalu dia bangkit berdiri dan mengambil pedang yang telah disodorkan dengan kedua tangan oleh seorang pelayan di samping.
Dia meletakkan bilah pedang yang panjang itu di bahu kananku sebagai tanda simbolik penganugerahan status baru.
Tanpa menyebut namaku, raja mengumumkan kepada semuanya bahwa komandan perang yang baru telah lahir. Seisi aula bertepuk tangan walaupun aku juga menerima tatapan sinis beberapa orang yang tidak senang dengan cara Raja Azov tergesa-gesa mengangkat seorang prajurit.
Di hari yang cerah itu, aku duduk di atas kuda putihku, Stormy. Aku jatuh cinta dengan Stormy saat Edric membawaku pergi untuk membeli kuda sebagai hadiah saat aku sudah kebal dengan cahaya matahari.
Stormy juga yang menemaniku dalam medan tempur pertama. Dia bagaikan lucky charm yang membawa kemenangan untuk Kerajaan Azov sehingga aku bisa diangkat sebagai komandan.
Aku melihat pada lautan prajurit di hadapanku mendengar perkataan Raja Azov.
“Mulai hari ini, God of Death adalah komandan perang kalian yang baru!”
Semua secara serentak berlutut memberi hormat. Mereka tidak akan tau identitasku yang sebenarnya karena aku tidak pernah melepas baju zirah ini di hadapan orang lain.
God of Death.
Entah bagaimana aku bisa mendapat nama panggilan itu. Mungkin berasal dari para prajurit yang bertarung di sampingku dan melihat bagaimana aku membunuh musuh dengan begitu mudah.
Aku hanya melakukan ini untuk menyenangkan Edric. Dia adalah orang pertama yang memperlakukanku dengan baik saat aku membuka mata dan melihatnya menangis. Walaupun aku tidak ingat, tapi dia adalah ayahku.
“Selamat bertugas, Jenderal!” Argo menepuk pundakku.
“Terima kasih, Argo. Ini semua berkat jasamu.”
Dari balik helmet zirah suaraku tidak terdengar seperti suara seorang wanita. Aku juga merendahkan nadaku dan tidak terlalu banyak berbicara.
Aku menengadahkan kepalaku dan melihat teriknya matahari di atas langit. Di hari yang seharusnya mengisi hatiku dengan rasa bangga akan pencapaian yang diidamkan semua prajurit, aku malah tidak merasakan apapun.
Mengemban tugas ini bukan panggilan hatiku.
***
[Third POV]
__ADS_1
Edric selalu tau dimana mencari putrinya itu. Setelah berburu, dia selalu mengasingkan diri di perpustakaan. Dia duduk dengan tegak di salah satu sofa paling dekat dengan jendela, perapian menyala dan suara kayu terbakar menemaninya.
“Chloe… Aku akan pergi ke Kerajaan Rudolmuv selama seminggu. Kamu tidak apa-apa kutinggal sendiri?”
Matanya beralih ke Edric.
“Pergi ke Kerajaan Rudolmuv lagi? Hampir setiap bulan kamu selalu pergi kesana, Edric.”
Chloe kembali melihat bukunya dan Edric berjalan masuk, berdiri di depannya. Baru kali ini Chloe menyatakan keheranannya padahal Edric sudah melakukan perjalanan ini beberapa kali.
“Apa kamu mau ikut denganku?”
Chloe tertawa kecil dan membalik halaman buku, “Kamu tau aku tidak bisa, Edric. Besok aku harus mengawasi latihan para prajurit baru. Mungkin kamu lupa siapa aku sekarang.”
Edric mengelus rambut lembutnya dan mengecup kepalanya. “Tentu saja, Chloe. Aku sangat bangga padamu, anakku.”
Chloe hanya memberinya senyuman kecil. Edric selalu memujinya dan mengatakan bahwa dia sangat bangga sampai Chloe bosan mendengarnya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Kalau saja kamu tau alasan aku yang selalu pergi ke kerajaan tetangga. Aku pergi untuk melihat cucuku, Chloe. Dwayne akan berumur 1 tahun beberapa hari lagi dan aku tidak mau melewatkan pesta ulang tahunnya.
Edric sudah sampai di depan pintu saat dia mendengar suara lembut Chloe.
“Hati-hati, papa.”
Mata Edric melebar dan dia menoleh tak percaya. Senyuman hangat menghiasi Chloe saat melihat wajah Edric begitu terkejut.
“A-apa aku tidak salah dengar? Kamu memanggilku…”
“Papa. Atau kamu lebih memilih aku memanggilmu seperti biasa?”
Mulut Edric merekah ke atas, “Tentu saja aku lebih suka kamu memanggilku papa!”
Ayah dan anak itu saling tersenyum satu sama lain. Begitu lama sampai Chloe berdehem.
“Bukannya keretamu sudah menunggu di bawah?”
“Oh ya, maaf. Sampai jumpa Chloe. I’ll miss you.”
“Bye, papa.”
Pintu besar perpustakaan tertutup dan Chloe dapat mendengar jeritan senang Edric dari dalam.
__ADS_1
Dengan senyum yang menghiasi wajah, dia melanjutkan bacaannya.