Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Kiss and Make Up


__ADS_3

Ungkapan idiomatik kiss and make up berarti kembali berteman setelah melalui sebuah pertengkaran atau bahkan pertengkaran yang kejam. Kiss and make up juga menunjukkan akhir yang bahagia dari sebuah insiden yang buruk.


...ღღღ...


“Berani-beraninya kamu! Kamu pikir aku wanita murahan? Semalam aku tidak minum darahnya, apalagi tidur dengannya!! Aku mengatakan itu hanya untuk membuatmu marah karena kamu bersikap panas dan dingin padaku. Apa ini salah satu cara yang kamu pelajari dari buku sialan itu?”


Dimitri mendorong kepalaku ke dadanya. Aku bisa merasakan tubuhnya berguncang dan bergemuruh seperti sedang tertawa tanpa suara. Aku mendongakkan kepalaku dan benar saja! Si iblis ini sedang menahan tawanya.


“Dimitri!”


Dia tidak bisa menahan tawanya lagi dan burung-burung sampai terbang keluar dari tempat peristirahatan mereka. Aku berdiri di sana menunggu dia selesai dengan jengkel.


Dimitri mengusap ujung matanya, “Maaf. Aku harus mencoba taktik ini agar kamu mau mengatakan yang sebenarnya. Aku percaya kamu tidak akan mengkhianatiku.”


“Kamu! Ini sama sekali tidak lucu.” Aku membalikkan badanku namun dia menarik lenganku.


“Kembali ke sini, darling.” Dimitri mendekapku dengan erat. “Kalaupun kamu benar-benar melakukannya, aku akan sulit untuk hidup tanpa membelaimu. Jadi kamu sudah memaafkanku?”


“Kamu curang. Aku harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan penjelasan dan kata maafmu, tapi kamu dengan mudah mendapat permintaan maafku. Ini tidak adil.”


“Chloe, yang aku pelajari sejak kepergianmu adalah hidup ini terlalu singkat untuk menyimpan perasaan. Kalau merasa bersalah, kita harus segera minta maaf.”


Dia menangkup kedua pipiku, “Kalau memang masih cinta, kita harus segera berbaikan.”


Lalu dia men*cium bibirku dengan lembut dan manis. Tidak seperti ciu*man ganas dan penuh gelora seperti semalam, tapi itu tidak mengurangi tanda cintanya padaku.


Kami duduk di bawah pohon maple yang berdaun merah. Kepalaku bersandar di dadanya. Lengannya melingkar di bahuku dan jarinya menari-nari di sana.


“Aku juga banyak berpikir setelah ingatanku kembali. Aku bisa memaafkanmu, tapi keegoisanku mencegah. Aku merasa harus menyiksamu terlebih dahulu. Saat aku menghi*sap darah Lewis, aku ingin muntah saat itu juga. Namun kamu masuk, dan tentu saja aku semakin senang saat melihat ekspresimu.”


“Aku sangat marah dan cemburu. Tapi rasa takutku lebih besar. Aku takut kamu akan meninggalkanku lagi.”


“Aku teringat apa yang terjadi pada Lazarus dan Charlotte. Aku tidak ingin terjebak dalam masa lalu dan berakhir sepertinya. Hidup dalam keabadian dengan hati yang diselimuti dendam. Jadi sebenarnya pagi ini sebelum kita pulang, aku sudah memutuskan untuk memaafkanmu.”


Dimitri terdiam sebentar. Menyerap semua perkataanku.


“Kamu yakin? Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk membuat keputusan.”


Aku memukul dadanya pelan, “Kamu meragukan perasaanku?”


Dia terkekeh dan menggenggam tanganku yang masih berada di atas dadanya.

__ADS_1


“Aku hanya merasa tidak pantas dimaafkan. Kamu dari dulu memang tidak berubah. Tetap saja menjadi Chloe yang baik hati dan pemaaf.”


Aku mengangkat alisku ke atas. “Kamu yakin aku tidak berubah?”


Dimitri mencubit gemas hidungku. “Ada juga perubahan pada satu dua hal. Misalnya seperti kamu yang dulunya hanya bisa menggunakan pisau dapur, sekarang sudah bisa bertarung dengan pedang.”


“Hei!” protesku. Lalu?”


Dimitri berbisik di dekat telingaku. “Lalu kamu yang sekarang semakin terampil di atas ranjang.”


Perutku langsung berdenyut dan tanpa sadar sudah memindahkan tubuh kami berdua saat gambaran kasur di kamarku melintas.


Dimitri mendorong punggungku jatuh. “Aku semakin suka dengan kekuatanmu.”


Lalu tidak ada percakapan lagi yang terjadi karena kami sama-sama sibuk merobek pakaian di tubuh kami.


*


*


*


Dimitri baru saja keluar dari kamar mandi saat aku masuk. Ini sudah jam tidur Dwayne, jadi aku juga tidak terburu-buru untuk melihatnya.


Aku dan Edric baru saja pulang dari rapat penting untuk memilih raja yang baru. Raja Azov memiliki banyak istri dan selir. Istri ketiganya, Permaisuri Juliana, adalah permaisuri yang mendampinginya sampai akhir hayatnya, namun anaknya yang baru berumur 6 tahun adalah putra kedua.


Putra pertama adalah Pangeran Dixon, lahir dari rahim istri pertama Azov, Permaisuri Anette, yang sudah meninggal saat melahirkannya. Jadi secara urutan, Dixon lah yang harus menjadi penerus raja berikutnya.


Tapi semua juga tau kalau Raja Azov tidak menyukai kelakuan putra sulungnya itu.


“Tebak siapa yang terakhir berada di samping Raja Azov sebelum dia meninggal.” Aku duduk di atas sofa sambil membuka sepatu bootku.


Dimitri mengangkat satu alisnya ke atas. “Pangeran Dixon?”


Aku mengangguk dan beranjak berdiri, membalikkan tubuhku agar Dimitri dapat membuka baju zirahku.


“Kenapa kalian sangat menentangnya? Angkat saja dia menjadi raja dan urusan akan selesai. Setelah itu kamu bisa mengundurkan diri dan pulang bersamaku ke kastil D’Arcy. Kamu tidak perlu pening memikirkan kerajaan ini.”


Dia meletakkan baju zirahku ke lantai dan aku menurunkan celanaku.


“Tidak semudah itu. Saat kita pulang, aku bisa melihat ketakutan di wajah rakyat. Kamu tidak tau betapa licik dan bengisnya Pangeran Dixon. Dia mendapatkan keistimewaan hanya karena dia seorang anak raja.”

__ADS_1


Aku bicara panjang lebar tapi sepertinya Dimitri tidak berkonsentrasi pada perkataanku. Dia lebih fokus mengerjakan tugasnya.


“Hmm… Pantas saja tidak ada yang tau kamu seorang perempuan. Lihat dadamu yang indah, kamu perban seperti ini.” Tangannya mulai membuka kain putih yang melingkar melilingi dadaku.


“Aku bisa sendiri.”


Dia menepis tanganku. “Ini sudah tugasku sebagai suami.”


Aku bernapas lega saat kain itu terbuka. Tanpa ragu, dia membantu mengusapnya.


“Dimitri!”


“Santai saja, serahkan urusan ini padaku.”


“Dasar. Mengambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Kamu pasti mau mandi. Aku sudah menyiapkan air panas untukmu.” Kepalanya menunjuk ke arah kamar mandi.


“Layla di mana? Biasanya dia tetap menungguku meskipun aku pulang telat.”


Pelayan satu itu memang sangat perhatian padaku. Aku bersyukur ada Layla saat pertama kali aku masuk untuk tinggal bersama Edric.


“Dia tadi ada masuk. Tapi aku sudah menyuruhnya pergi. Ada aku di sini yang akan membantumu mandi. Untuk apa kamu mencari Layla?” Dia memberikan senyuman yang maknanya sangat mudah untuk diartikan.


Aku tidak menolak lagi karena memang saat ini yang kuperlukan adalah berendam di air hangat. Kepulan asapnya memanggilku dan aku membenamkan seluruh tubuhku di dalam bak mandi.


Dimitri mengambil sabun batang yang biasa kupakai. “Pantas saja kamu selalu wangi bunga mawar,” lalu berlutut di lantai.


“Dimitri, aku bisa mandi sendiri. Bahkan dengan Layla saja aku tidak suka dimandikan.”


“Ini berbeda, Chloe. Aku bukan pelayanmu, melainkan suamimu.”


Dia mengerlingkan mata kirinya. Menikah dengan Dimitri memang keputusan terbaik yang pernah kuambil.


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2