Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Vampir Posesif


__ADS_3

[Chloe’s POV]


“Jangan dekati Chloe lagi! Dia milikku!”


Aku dan semuanya yang berada dalam ruangan itu tercengang mendengar pernyataan Tuan Dimitri. Tangannya mencengkeram kerah leher Tuan Suarez, matanya merah seakan memancarkan api. Tuan Draven berada di tengah ke dua vampir itu dan Eden berdiri di depan pintu menyaksikan.


Eden berdehem, “Sebaiknya kalian para pria keluar dari ruangan ini. Aku akan mengganti obat Chloe.”


Tuan Draven mendorong tubuh mereka keluar dari ruangan, aku tersenyum kecil dan mengangguk pada Tuan Suarez yang telah berbaik hati datang menjengukku.


“Kita akan bertemu lagi, Chloe.”


Ucapan Tuan Suarez dibalas dengan geraman Tuan Dimitri, “Jangan harap aku akan membiarkan kalian berdua bertemu lagi!”


Pintu pun ditutup oleh Eden, “Tidak biasanya Dimitri bersikap begitu. Apa yang Tuan Suarez lakukan sampai mereka berkelahi?”


Aku beranjak dari kasur, badanku pegal dan nyeri tapi anehnya luka cambukan itu tidak terasa lagi.


“Tuan Suarez hanya ingin merasakan tendangan anak ini, sialnya Tuan Dimitri masuk di saat yang tidak tepat dan melihat Tuan Suarez sedang mengelus perutku.”


Aku berkaca di depan cermin, melihat bagian punggungku yang tidak tertutupi pakaian.


“Huh? Kenapa luka cambukannya sudah mengering secepat ini? Eden, kamu memberiku obat apa?”


Eden juga terkejut saat melihat punggungku, “Hanya obat racikanku sendiri… Tidak mungkin bisa kering secepat itu, perkiraanku adalah satu minggu.”


“Aneh… Tapi baguslah aku ingin segera pulang dari sini.”


Pulang? Pulang ke Kastil D’Arcy? Itu juga bukan rumahmu, Chloe. Kamu hanya akan tinggal disana sampai kamu melahirkan.


Berpikir tentang rumah, tiba-tiba aku teringat dengan Sierra yang terakhir dia lihat berjalan sendiri dalam gelapnya malam setelah dipermainkan dan diusir Lazarus.


“Sierra, entah bagaimana nasibmu sekarang…” gumamku.


“Suaramu sudah hampir habis, Chloe. Apa Tuan Dimitri tidak minum darahmu dari kemarin?” tanya nenek tua itu sambil mempersiapkan obat.


“Angkat kutukan ini, Eden. Walaupun aku bisa berbicara tapi sama saja, tidak ada yang percaya denganku. Lebih baik aku tetap menjadi gadis bisu.”


Eden memberikan obatnya kepadaku, “Minum ini, sepanjang malam Dimitri yang terus berada di sampingmu. Aku pikir dia juga percaya kalau pencuri berlian itu bukan kamu, Chloe.”


Aku mendengus, “Tetap saja dia yang telah mencambukku! Aku tidak akan memaafkannya begitu mudah.”


Eden mengoleskan obat salep secara perlahan pada luka yang telah mengering, seorang pelayan masuk dan menghidangkan sarapannya. Perutku langsung berbunyi mencium aroma hidangan itu.


Aku mengambil sebuah croissant dan menggigitnya ketika Tuan Dimitri masuk tanpa mengetuk pintu.


“Eden, biar aku yang mengoles obatnya.”


Aku tersedak secuil potongan croissant yang ku telan dan batuk dengan hebat.



Dimitri dengan cepat sudah berada di sampingku dan mengelus bagian atas punggungku yang tidak terkena cambuk, lalu memberikan segelas jus jeruk untukku.


“Kamu baik-baik saja? Ini, minum dulu.”


Aku terpaksa menerima perlakuan baik Dimitri dan dengan patuh meneguk jus jeruknya. Saat aku tidak terbatuk lagi, Eden sudah meninggalkan kami berdua sendiri di ruangan itu.


“K-kamu bisa keluar sekarang.”


Aku langsung menghindar dari Tuan Dimitri, membuat jarak di antara kita.


“Aku akan pergi setelah mengoles obat ini. Balikkan badanmu.”


Tidak ada senyuman di wajah Tuan Dimitri, dia kembali memasang ekspresi serius dan mau tidak mau, aku membalikkan badanku.


Jari-jarinya menyentuh setiap inci goresan luka itu, begitu lembut membuatku terbuai dan aku hampir menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya.


“Kamu belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku, babu kecil.”


Aku mendelik, panggilan babu kecil lagi!


“Untuk apa? Kamu juga pasti tidak membutuhkan ucapan dari mulut seorang pelayan,” bisikku.

__ADS_1


Tuan Dimitri menundukkan kepalanya dan menghirup dekat di leherku, “Suaramu sudah hampir habis, aku sudah 2 hari tidak minum darahmu, babu kecil.”


Tanganku menutup bekas gigitannya, “Tidak perlu, Tuan Dimitri. Aku tidak akan memberimu setetes darah pun… Lebih baik aku kembali bisu.”


Tuan Dimitri terkekeh, “Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu mau bicara dengan peanut?”


Kedua tangannya melingkar di perutku, mendekapku dari belakang. Begitu saja dan pertahananku runtuh. Aku tidak sanggup marah dengan Tuan Dimitri jika dia bersikap lembut padaku.


“Peanut bisa mengerti apa yang kurasakan tanpa aku mengucapkannya, tuan. Itulah ikatan batin antara ibu dan anak… Dan kamu ingin memisahkan kami nantinya?”


Air mataku jatuh, tidak dapat ditahan lagi.


“Aku tidak rela jika nantinya peanut akan dirawat oleh Putri Adreana! Dia anakku, tuan! Apa kamu tega berbohong pada anak ini kalau Putri Adreana adalah ibunya? Apa kamu tidak akan pernah memberitahunya tentang aku?”


Tuan Dimitri mengecup kepalaku, “Jangan berpikir terlalu jauh, Chloe. Kamu masih punya waktu 3 minggu sebelum anak ini lahir. Semuanya dapat berubah.”


“Benarkah? Apa kamu mempertimbangkan untuk mengubahku menjadi vampir juga?”


“Aku belum tau, Chloe… Aku takut kamu akan menyesal seperti Charlotte, kekasih Lazarus.”


Suara Tuan Dimitri terasa jauh, walaupun dirinya hanya berjarak satu langkah di belakangku. Ternyata Tuan Dimitri tidak ingin mengubahku menjadi vampir karena takut aku akan menyesal dan memintanya untuk membunuhku jika saat itu tiba.


“Aku berbeda dengan Charlotte, tuan. Ada anak ini yang pasti bisa membuatku bertahan.”


Tuan Dimitri melepas pelukannya, “Kamu tidak tau apa yang kamu minta, Chloe! Kita tidak akan membahasnya lagi.”


Aku tertunduk dan mengusap air mataku. Hanya tersisa 3 minggu untuk mengetahui bagaimana takdirku.


“Oh ya, aku menemukan ini di tanganmu saat kamu pingsan, mengepalnya dengan erat. Hm? Ada yang digrafir di kalung ini, C D P?”


Tuan Dimitri melihat kalung titanium itu dengan seksama, membaliknya dan mengangkatnya ke atas.


Wajahku merah padam karena bukan begini cara yang ada di benakku untuk memberinya hadiah.


“Itu untukmu, Tuan Dimitri. Sebagai hadiah ulang tahunmu… Ada nama kita bertiga terukir di sana… Ehmm, kita belum mencari nama untuk peanut jadi aku memberinya inisial P. Maaf, uangku hanya cukup untuk membeli itu…”


“Sungguh tidak romantis! Setidaknya kamu mengkalungkan ini ke leherku, cepat sini!” titahnya.


Apa yang ada di benak si setan ini?


Aku mengambil kalung itu dari tangannya, berjinjit sedikit karena Tuan Dimitri lebih tinggi dariku, kepalaku hanya mencapai dadanya, lalu dia menunduk sedikit.


“Selamat ulang tahun yang ke 1 milenium, Tuan Dimitri.”


Kalung itu bergantung di lehernya, tapi Tuan Dimitri malah menarik lenganku dan mel*umat bibirku dalam ciuman yang dalam, memagut bibir bawahku sampai aku terkesiap dan akhirnya dia dapat memasukkan lidahnya ke dalam.


Dengan kikuk, aku membalas setiap sentilan lidahnya. Ini terasa aneh tapi juga menggetarkan seluruh tubuhku. Sangat lama dia menciumku sampai aku hampir kehabisan napas, aku mendorong dadanya dan sedikit berontak baru Tuan Dimitri melepaskan ciumannya.


Dia terkekeh, “Maaf, aku lupa kamu harus mengambil napas.”


Aku mendorongnya lagi sambil cemberut, “Sudah, aku lapar, mau makan.”


Tuan Dimitri menggeser bangku dan duduk di atasnya, dia menepuk pahanya, “Duduk disini, aku akan menyuapimu makan.”


“Apa? Tidak mau!”


“Chloe… Jangan buat aku turun tangan,” ancamnya.


Aku mendengus tapi duduk dengan patuh di atas paha Tuan Dimitri, dia memberiku roti dan aku memakannya sampai habis. Semua yang dihidangkan itu satu per satu kulahap.


Mungkin dengan aku bertingkah patuh dan menuruti semua kehendaknya, dia akan berubah pikiran. Aku masih berharap Tuan Dimitri akan mengubahku seperti dirinya, hidup dalam keabadian.


Dengan begitu, aku bisa selalu ada di samping anakku, bersama peanut selamanya.


“Kamu sudah kenyang?” dia bertanya lembut.


Ya, aku harus mengambil hati Tuan Dimitri. Terpaksa aku harus menuruti semua yang dia mau.


Aku mengangguk dan mengelus perutku, “Anakmu sudah kenyang, tuan.”


Tuan Dimitri tersenyum, “Kalau begitu ini giliranku untuk makan.”


Dia menurunkan kepalanya ke leherku dan menggigitnya, menghisap darahku tanpa persetujuan. Tanganku memegang kedua bahunya saat tubuhku lemas tidak berdaya dihisap oleh vampir brengsek ini!

__ADS_1


Dia berhenti.


“Apa hubunganmu dengan Edric Suarez? Kalian baru saja bertemu tapi sudah begitu dekat?”


Aku membuka mataku dan menatapnya, “Tidak tau, aku merasa nyaman berada di samping Tuan Suarez,” jawabku jujur.


Tuan Dimitri kembali menghisap darahku dengan kasar sampai aku menjerit. Bukan karena sakit, tapi karena aku dapat merasakan bagian bawahku sudah basah dan aku ingin tangannya merabaku disana!


Tanpa sadar aku mengambil tangan Tuan Dimitri dan meletakannya di bagian tubuhku yang butuh belaian itu.


Tuan Dimitri menggeram tapi masih menghisap leherku dan dia menarik bajuku keatas, mengelus pahaku sampai aku tidak tahan lagi dan mendesaknya.


“Cepat, Tuan Dimitri! Aku tidak tahan lagi!”


Tuan Dimitri malah terkekeh dan menjilat darah di leherku dengan pelan.


“Apa kamu mau bertemu dengan Edric Suarez lagi? Kalau jawabanmu iya, aku akan berhenti.”


Dasar vampir posesif! Kamu cemburu tapi menyampaikannya dengan arogan!


Tapi tubuhku sudah tersulut, aku tidak mau Tuan Dimitri berhenti.


“Tidak, tuan. Aku tidak akan bertemu dengan Tuan Suarez lagi. Aku berjanji…”


Aku menarik tangan Tuan Dimitri maju dan dia membungkam jeritanku dalam bibirnya saat jarinya menerobos masuk ke dalam tubuhku yang sudah basah.


Dua jarinya berputar di dalam, keluar dan masuk, bermain dengan tubuhku dan aku pasrah sambil menikmati setiap sentuhannya. Dia hendak memasukkan jari ketiga dan aku tersentak kaget.


“Tidakkkk… Tidak bisa muat, tuan…”


Aku merasa sangat penuh hanya dengan dua jari, bagaimana mungkin jari ketiga dapat masuk?


Dimitri tertawa kecil, dia mengeluarkan tangannya dan aku mendesah kecewa.


“Kenapa berhenti, tuan? Aku belum…” pipiku memerah, tidak sanggup melanjutkan ucapanku.


“Belum apa, Chloe? Kamu masih mau?”


Tuan Dimitri memutar badanku, membuatku duduk di atasnya dengan kedua paha terbuka lebar. Aku menggigit bibir bawahku dan mengangguk malu.


“Kalau jari ketiga saja tidak bisa masuk, gimana dengan yang ada di dalam celanaku, darling?”


Aku menelan ludah saat kulihat ada sesuatu yang menonjol besar di balik celananya. Tuan Dimitri membuka celananya dan muncullah senjata panjang dan besar itu.


“Tuan!!” aku membenamkan wajahku pada dada bidangnya karena terkejut melihat ‘itu’-nya.


“Jadi sekarang pilih, Chloe. Mau tiga jari atau yang satu ini,” bisiknya jahil.


“Ehmm.. Yang ini saja, tuan.”


Tuan Dimitri menepuk bo*kongku, “Dasar babu kecil! Jadi maksudmu ketiga jariku digabung lebih besar daripada ini?”


Dia mempraktikkannya dengan mendorong senjata tumpul dan lembut namun keras itu ke dalam bagian in*timku sedikit, kepalanya masuk dan aku mengerang.


“T-tidak tuan, maksudku yang ini lebih enak.”


Tuan Dimitri memukul bo*kongku lagi dan menekan pinggulku turun dalam sekali hentakan, membenamkan seluruhnya. Aku menjerit keras, tidak peduli kalau kami sedang berada di istana raja.


“Lupakan Edric Suarez. Hanya ada Dimitri D’Arcy di hidupmu, babu kecil.”


Tuan Dimitri mengucapkannya seakan dia bisa menghapus ingatanku tentang Tuan Suarez, seakan dia bisa memanipulasi pikiranku dengan kekuatan vampirnya.


“Baik, Tuan Dimitri. Hanya ada kamu di hidupku…”


Dan juga anak yang akan kulahirkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Guys, ga perlu pake WARNING ⛔️ ...


seharusnya uda tau karna di awal sinopsis uda bilang cerita ini untuk 18++


Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba DUAR ada adegan hotnya 🔥

__ADS_1


__ADS_2