Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Mengubah Takdir


__ADS_3

“Papa, papa…” Dwayne melangkahkan kakinya menuju ujung kapal, dia ingat tadi bagaimana papanya dan Edric turun dari sana.


Belum sempat anak kecil itu merangkak turun, sepasang tangan sudah mengangkatnya. “Papa sebentar lagi kembali.”


“Dwayne mau ikut papa.” Dia menunjuk ke arah papanya pergi.


“Baik, baik. Kita cuma akan mengintip dari kejauhan karena anak kecil tidak boleh masuk kastil menyeramkan ini. Mengerti?”


“Cepat, Eden!” rengeknya.


Eden dengan hati-hati turun dari kapal dan menuntun tangan Dwayne. Dia sudah tua, tidak kuat menggendong anak kecil lama-lama. Apalagi badan Dwayne yang semakin berat seiring dia bertumbuh besar.


Tiba-tiba dia berhenti. Badannya begitu kaku dan tatapannya kosong. Dwayne sampai tersentak ketika tangan yang menggandengnya tidak bergerak.


“Eden, eden. Kamu kenapa?” Dia menarik-narik baju Eden tapi nenek itu bergeming.


Lalu tiba-tiba Eden mengedipkan matanya dengan cepat, membuat Dwayne kebingungan.


“Kamu sakit?”


Eden menundukkan badannya dan mengusap rambut anak kecil itu. “Dwayne tunggu di sini ya. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Hanya sebentar dan Dwayne tidak boleh lari kemana-mana. Mengerti?”


“Tapi Dwayne mau cari papa…”


“Iya, nanti papa jemput Dwayne. Yang patuh ya duduk di sini.”


Eden menuntun bahu anak itu untuk duduk di atas sebuah batu. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Sepi melompong dan tidak ada apa-apa. Pulau ini juga tandus, sehingga tidak mungkin ada hewan buas yang mengancam.


Sepertinya Dwayne mengerti kalau Eden mencemaskannya sehingga dia berkata, “Cepat pergi kalau kamu ada urusan. Tidak ada yang bisa menyakiti Dwayne. Dwayne akan menunggu kalian di sini.”


Ah, benar juga. Tidak akan ada yang tega menyakiti Dwayne karena kekuatan spesialnya. Eden tersenyum dan memberi elusan terakhir di kepalanya.


“Aku akan merindukanmu, peanut. Goodbye.”


Dwayne melambaikan tangannya seperti biasa. “Bye bye Eden!”


Eden menaiki tanjakan tinggi dan panjang, sampai dia dapat melihat kastil yang menjulang tinggi itu. Dia menoleh ke belakang dan sosok Dwayne kecil tidak terlihat lagi. Dia tersenyum tipis lalu dengan langkah pasti bergerak menuju kastil.


Terdengar suara Dimitri. “Chloe, aku juga tidak tau kamu masih hidup dan tinggal bersama Edric. Tapi kamu harus mengerti. Edric…”


““Diam! Aku sedang tidak bicara denganmu.”


Semuanya terjadi begitu cepat. Mungkin hanya dalam sekali kedipan mata, Chloe yang berdiri beberapa meter jauhnya tiba-tiba sudah berada di depan Edric.

__ADS_1


Namun seakan Dimitri tau apa yang akan dilakukan Chloe, Dimitri melangkah menutupi badan Edric, membuat pria itu terkejut dan mundur beberapa langkah.


Eden tidak dapat melihat apa yang terjadi selanjutnya namun dia tau. Teriakan Chloe terdengar dan tubuh Dimitri perlahan-lahan menjadi debu.


Awan-awan bergerak berkumpul menutupi matahari membuat langit di sekitar kastil mendadak gelap. Guntur terdengar dari kejauhan dan kilatan cahaya menyambar disertai dengan gemuruh yang keras.


*


*


*


[Chloe’s POV]


Tikaman bertubi-tubi menyerang dadaku, sesak dan sakit ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku memeluk jubah Dimitri dan mencengkeram dadaku. Apa itu suaraku? Lolongannya terdengar pilu.


Kenapa ini bisa terjadi? Aku tidak bermaksud untuk membunuh Edric, apalagi Dimitri. Aku bermaksud untuk menghentikan serangan itu tepat sebelum belatiku menggores kulit Edric. Dimitri mungkin salah sangka sehingga dia melindungi Edric.


Tapi ini hanya mimpi buruk.


“Aku pasti bangun sebentar lagi. Aku pasti akan terbangun. Ini hanya mimpi buruk. Kamu akan memelukku dan mengatakan bahwa ini semua hanya mimpi. Dimitri, please, please come back to me….”


Petir menyambar lalu semuanya menjadi putih. Aku masih dalam posisi terduduk tapi tanganku tidak ada apa-apa. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Eden di sana.


“Eden, Dimitri… Apa kamu melihatnya? Dimitri kemana?”


“Chloe, kamu benar-benar membunuhnya. Dimitri telah tiada.”


Aku memegang kepalaku yang hampir pecah. “Tidak, tidak. Aku tidak percaya. Dia pasti sedang mempermainkanku.”


Lalu aku tertawa dan berteriak. “Dimitri! Hentikan permainan ini!”


“Tidak, tidak. Kalau kamu mau aku menjadi mainanmu, kamu harus keluar dulu. Aku akan dengan senang hati menjadi mainanmu. Apa kamu mendengarnya?!”


Aku memegang kepalaku kembali, tidak bisa berhenti meracau sampai sepasang tangan keriput menurunkan tanganku.


“Chloe, aku bisa membantumu. Tapi kamu harus memilih dengan cepat.”


Aku memiringkan kepalaku sedikit ke samping.


“Aku akan memberi kamu dua pilihan. Memutar waktu kembali di saat kamu memasuki kamar Dimitri dua setengah tahun yang lalu, atau memutar waktu kembali di saat kamu menarik belatimu beberapa menit yang lalu.”


“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia kembali. Eden, tolong bantu aku menemukannya.”

__ADS_1


“Chloe!” Eden menampar pipiku dan aku langsung terdiam.


Kalau Eden memutar waktu kembali ke dua setengah tahun yang lalu, mungkin aku tidak perlu melewati penderitaan ini. Mungkin jalan ceritaku dengan Dimitri akan berbeda.


Tapi Dwayne…


“Kembalikan waktu ke beberapa menit yang lalu sebelum ini semua terjadi.”


“Kamu yakin?”


Aku mengangguk pasti. Semua yang telah terjadi menjadi pelajaran berharga bagiku. Aku tidak mau mengubah jalan takdir ini. Aku memang diciptakan untuk menjadi belahan jiwa Dimitri.


Kami memang ditakdirkan bersama.


Eden tersenyum dan mengelus pipiku dengan tangan keriputnya. “Maafkan aku karena telah menghapus ingatanmu, Chloe. Katakan pada Dimitri bahwa aku bangga melayaninya dan selamanya dia adalah tuanku.”


Perkataan Eden terdengar seperti kata perpisahan, aku belum sempat bertanya dan tiba-tiba latar putih yang ada di sekitar kami menghilang.


“Chloe, aku juga tidak tau kamu masih hidup—“


Aku mengedipkan mataku tidak percaya. Dimitri benar-benar ada di sana berdiri sedang berbicara. Mulutnya bergerak, suara yang kurindukan itu… Dimitri masih hidup!


“Edric melakukan ini semua demi menjaga perasaanmu. Dia berpikir kalau kamu belum siap untuk mengetahui sebelum kamu bertemu denganku.”


Dalam sekejap aku sudah memeluknya. “Dimitri!”


Dia hampir jatuh namun dengan cepat bisa menstabilkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di punggungku.


“Chloe?”


“Kamu benar-benar nyata. Kamu masih ada di sini.”


Aku menc*ium seluruh wajahnya yang terlihat terkejut. Lalu dia memegang kepalaku dan menatap mataku.


“Kamu istri yang aneh. Bukannya kamu diam-diam melarikan diri dengan Alaric? Oh, kamu sudah sadar dan akhirnya menyesal?”


Aku bahkan tidak bisa marah saat dia menggunakan nada menyebalkan seperti itu dan memeluknya kembali.


“Tunggu, Eden yang sudah mengembalikanmu padaku.”


Dimitri mengernyitkan dahinya bingung tapi dia ikut menoleh.


Cahaya kemerah-merahan tampak di langit sebelah timur menjelang matahari terbit, memancar secara horizontal pada garis cakrawala. Eden berjalan pergi lalu sosoknya luruh menjadi pasir, menyatu ke tanah.

__ADS_1


Sihir Eden ternyata ada konsekuensinya dan dia tau itu, makanya dia mengucapkan kata perpisahan seperti tadi.


Terima kasih, Eden. Ucapku dalam hati. Karena kamu juga yang mempertemukanku dengan Dimitri.


__ADS_2