
[Chloe’s POV]
Menang. Mereka menang.
Langit yang tadinya menunjukkan tanda-tanda matahari akan terbit pun berubah gelap. Bulan kembali menyinari dan bintang berkelip. Nenek tua berambut putih panjang itu terjatuh ke lantai batu benteng Kastil Sisilia.
Aku segera menurunkan busurku dan berlari ke sampingnya. Hanya tersisa beberapa vampir di bawah sana. Dimitri dapat mengurusnya.
“Kamu baik-baik saja, Eden?”
Tangannya yang keriput menyentuhku. “Aku hanya sedikit lelah. Sudah lama aku tidak memanggil sihir sehebat ini.” Dia menghela napas panjang.
“Chloe, maafkan aku.”
“Bagaimana kamu bisa tau siapa aku?”
Damn! Apa seantero Kerajaan Rudolmuv tau siapa komandan perang Azov yang sebenarnya?
Eden tersenyum, “Tentu saja. Kamu adalah wanita yang dicintai tuanku.”
Tuan yang dimaksud Eden adalah Dimitri D’Arcy. Wajahku merah padam seketika. Aku tau dari cara dia memandangku, Dimitri tertarik padaku. Bahkan tadi saat berperang pun, dia sempat-sempatnya menoleh untuk melihatku dan memikirkan hal kotor.
Tapi cinta? Aku tidak percaya Sang Penghancur mampu mencintai orang lain.
Raja Nelson menjadi tawanan perang. Dia berdiri di aula Kastil Sisilia dengan dua tangan diborgol dan dipegang oleh dua prajurit dari sisi kiri dan kanan.
Matanya merah, gigi taringnya keluar dan dia mendesis. Semua bala tentara vampir dan beberapa awak kapal yang juga sudah berubah, harus dimusnahkan.
Hanya tersisa pria kelaparan ini seorang.
“Apa yang akan kita lakukan padanya, jenderal?” tanya Tuan Bryce.
“Aku akan meminta Edric untuk membawanya ke hadapan ketua Klan Children of the Night. Untuk saat ini, dia adalah tawanan perang.”
Nelson menggeram, “Haus!! Cepat beri aku darah!!”
Aku bergerak maju dan memperhatikan wajahnya. Nelson adalah pria muda yang tampan. Sayang sekali dia memilih untuk berubah.
“Nelson, kamu akan hidup abadi menahan dahaga. Tidak bisa mati namun sangat sengsara hingga kamu berharap kamu bisa mati!”
Nelson menjerit dan meraung begitu keras, sampai dua prajurit itu kesulitan untuk menahannya.
“Jebloskan dia ke sel bawah tanah,” titahku.
“Tunggu. Aku akan ikut bersama mereka. Tuan Bryce, aku mau semua pengawal yang ada di Kastil Sisilia tau kalau tidak ada yang boleh masuk ke sel bawah tanah. Mengerti? Tidak ada yang boleh mendekatinya.”
__ADS_1
Tuan Bryce mengerutkan keningnya bingung namun dia mengangguk di bawah tatapan tajam Dimitri. Mereka pergi keluar aula bersama Nelson, lalu aku pun menjelaskan sebisa mungkin pada Tuan Bryce yang seorang manusia.
“Nanti akan ada seorang utusan yang datang untuk membawa Nelson pergi. Pria itu bernama Alaric.”
“Baik, jenderal. Istirahat lah hari ini di kastil Sisilia. Walaupun kecil, namun banyak kamar tersedia dan makanan yang enak akan saya hidangkan. Kemenangan ini harus kita rayakan!” undang Tuan Bryce.
“Kamu dan prajuritmu bisa berpesta hari ini, Tuan Bryce. Aku akan segera pulang untuk menyampaikan kabar kemenangan ini pada Raja Azov. Dia pasti akan memberi anda reward karena dengan bantuan anda, kita bisa mengantisipasi serangan Navarre.”
Tuan Bryce tersipu malu mendengar pujianku, “Tolong sampaikan pesan saya pada Raja Azov. Reward yang saya minta tidak berupa emas atau status. Tolong ampuni Kerajaan Navarre. Mereka juga tidak mau perang ini terjadi dan kita bisa menang juga karena ada bantuan Jerrick.”
“Tentu saja, Tuan Bryce. Anda tidak perlu khawatir.”
Eden dan para prajurit Rudolmuv juga memilih untuk pulang hari itu juga. Kami berpisah di pertigaan Hutan Sardinia. Mereka akan mengambil jalan kiri untuk pulang ke Rudolmuv dan aku bersama prajurit Azov yang tersisa kurang dari 10 orang mengambil rute kanan.
Aku tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Dimitri dan Eden. Namun aku melihat Dimitri tertawa dan wajahnya cerah seketika membuatku tertegun.
Apa yang mereka bicarakan sampai Dimitri bisa tergelak seperti itu?
“Dewa Kematian, kita pasti akan bertemu lagi.” Eden menundukkan kepalanya.
Pasukan itu bergerak pulang namun tidak dengan komandan perang mereka.
“Kenapa kamu masih disini, Dimitri?”
“Oh, kamu tidak tau? Raja Azov mengundangku untuk mengunjungi istananya setelah perang selesai. Pesta besar akan dirayakan untuk kemenangan dua kerajaan.”
“Well then… Selamat datang di Kerajaan Azov, Dimitri.”
Dimitri tampak terkejut mendengarku menyambutnya, lalu dia tersenyum dan melajukan Onyx hingga kita bersampingan. Stormy mendengus ketika dia didekati kuda jantan itu, sedangkan Onyx penasaran dengan kuda putih yang kutunggangi.
“Lihat, bahkan kuda milikmu juga memiliki sifat yang sama denganmu.”
“Apa maksudmu, Dimitri?”
“Jual mahal padahal sebenarnya mau.”
“Kamu minta dihajar, Dimitri D’Arcy!” Tanganku sudah hampir menarik thunder keluar dari sabuknya.
Dimitri memacukan Onyx lebih cepat, “Ayo kita lomba! Siapa yang duluan keluar dari Hutan Sardinia, dapat makan sepuasnya!”
Aku tidak mau ikut dalam permainan konyolnya. Namun tidak tahan juga ketika angin pagi yang menerpa membuatku memacu Stormy mengejar pria itu.
Mungkin Dimitri sudah lupa akan satu hal. Dia belum mengatakan apa permintaan yang harus aku kabulkan.
***
...-Sel bawah tanah, Kastil Sisilia-...
__ADS_1
[Third POV]
Dua orang prajurit tampak memasuki sel terlarang itu, mereka tertawa dengan wajah yang merah, tampak sempoyongan. Di aula kastil, pesta perayaan kemenangan sedang berlangsung. Banyak makanan dan minuman enak yang disuguhkan.
Kedua prajurit ini tengah mabuk.
“Hei, kita dilarang untuk mendekati sel bawah tanah apalagi masuk ke dalamnya,” ucap seorang prajurit yang juga mabuk namun masih ingat perintah tuannya.
“Ah, kamu takut amat. Tangan dan kakinya diborgol, dia tidak bisa kemana-mana! Aku akan memberinya pelajaran. Jangan dia pikir seorang raja bisa semena-mena.”
Tidak menghiraukan peringatan temannya, prajurit itu melangkah masuk dan mendekati sel gelap yang berada paling ujung. Satu gelas anggur merah di tangannya, dia mendentingkan sel besi itu dengan gelasnya.
“Hey! Mantan Raja Navarre! Dimana anak buahmu? Ahh, mereka sudah mati dan tidak ada yang dapat menyelamatkanmu sekarang!” prajurit itu tertawa mengejek.
Lalu dia membuka kancing celananya, “Kamu haus, Raja Nelson? Kamu bisa minum ini!”
Temannya tertawa, “Semprotanmu terlalu pendek, Agnor. Lihat ini punyaku.”
Pria itu hendak membuka celananya juga, namun tiba-tiba tangannya malah merampas kunci yang bergantung di pinggang temannya.
“Hey, hey. Kamu ngapain ambil kunci sel?” Agnor yang belum selesai kencing, dibuat takut oleh tatapan kosong temannya.
Namun sesaat kemudian, dia juga sama seperti Agnor. Pikiran mereka dikendalikan oleh orang yang berada di dalam sel gelap itu.
Pintu sel bawah tanah yang mengurung Nelson sudah terbuka dalam keadaan kosong. Dua orang prajurit tergeletak tewas tak jauh dari pintu sel.
Kastil yang tadinya hiruk pikuk dengan tawa dan nyanyian keras mendadak hening. Nelson telah membungkam mulut Tuan Bryce dan prajuritnya, untuk selamanya.
Setelah itu dia menyusup keluar dari Kastil Sisilia, siap untuk membalaskan dendamnya.
“Sang Penghancur dan Dewa Kematian, tunggu pembalasanku!”
...----------------...
...Instagram: @misscapri._...
...Berharap kalian bisa menikmati cerita ini walaupun banyak actionnya. Kalau romance melulu tiap bab kan bosen juga ya…...
...Setelah ini kita akan menuju adegan panasnya 🔥...
...Kalian suka gaya penulisan author ga sih? Apa sulit di mengerti atau bagaimana?...
...Boleh komentar saran or kritik yang membangun supaya author bisa belajar lebih baik lagi....
...Thank you uda Vote, Like, Favorit...
__ADS_1
...♚ MTD ♚...