Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Pangeran Berkuda Putih


__ADS_3

“Sungguh tragis bahwa kamu harus hidup dalam keabadian, selamanya hanya memikirkan wanita yang telah mati dan tak bisa kembali.” ucapku tanpa sadar.


Dalam benakku, aku berpikir apa yang akan Dimitri lakukan jika suatu saat aku meninggalkan dunia ini.


Apakah dia akan mengingatku selamanya? Sebagai seorang pelayan yang berencana untuk membunuhnya atau wanita yang telah memberinya seorang anak?


Lazarus memegang kedua bahuku dari belakang dan aku langsung tegang, dia membelai rambutku, “Apakah Dimitri mencintaimu? Aku akan buat dia menderita sepertiku.”


Aku tertawa, suaraku yang tadinya serak menjadi berbisik, “Kamu sudah menculik orang yang salah, tuan. Aku sama sekali tidak berharga di mata vampir dingin itu!”


Ya, yang berharga di mata Tuan Dimitri adalah rahimku.


“Ck ck ck… Aku akan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana reaksi Dimitri saat aku menebas kepalamu dengan pedangku, sama seperti yang dia lakukan pada Charlotte.”


Aku menekan perutku pelan, jika aku mati maka anak ini juga akan ikut mati. Aku harus memikirkan cara untuk melarikan diri!


Tangan Lazarus di bahuku tiba-tiba mencengkeram dengan erat, “Dimitri sudah dekat. Sepertinya kamu memang berharga untuknya, babu kecil.”


Aku tidak suka Lazarus menggunakan nama panggilan Tuan Dimitri untukku. Nama itu hanya boleh diucapkan oleh mulut Tuan Dimitri.


“Ayo, ikut aku keluar untuk menyambut tuanmu.”


Lazarus menarik tanganku dengan kasar. Kami berjalan keluar dari gubuk tua itu. Angin malam menembus pakaianku yang tipis, aku lupa memakai jubah karena tergesa-gesa ingin pergi dari kastil.


Sungguh bodoh! Aku melarikan diri dari vampir hanya untuk diculik oleh seorang monster yang ingin balas dendam.


Derap kaki kuda semakin dekat, lalu aku melihat penunggangnya memakai jubah hitam melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti mendadak beberapa meter di depan kami.


Onyx mengangkat kedua kakinya dan meringkik. Tuan Dimitri turun dengan cepat dan melangkah ke arah kami. Matanya hanya tertuju pada wajahku, lalu dia melirik sebentar ke arah perutku.



“Well, well.. Pangeran berkuda putihmu sudah datang menolongmu, ups, maksudku berkuda hitam.”


Lazarus menggenggam lenganku erat.


“Lazarus, lepaskan gadis itu. Dia tidak memiliki kaitan dengan masalah kita berdua,” suara bariton Tuan Dimitri menggema di malam yang sunyi itu.


“Dimitri, kamu masih ingat saat kamu membunuh Charlotte? Aku juga akan membunuh babu kecilmu dengan cara yang sama. Namun, darahnya begitu menggoda. Kamu tidak keberatan kan aku mencicipinya sedikit?


Lazarus menjilat bibirnya dan aku semakin berontak.

__ADS_1


SNAP!


Lazarus menjentikkan jarinya dan aku langsung terdiam. Tiba-tiba muncul ide di benakku. Lazarus tidak tau kalau aku kebal terhadap kekuatan vampir.


Ekspresi wajah Tuan Dimitri mengeras, dia hendak mengambil satu langkah maju ketika Lazarus berdecak.


“Satu langkah saja, maka nyawa gadis ini akan melayang. Aku heran, Dimitri. Apa yang membuat gadis ini spesial di matamu? Masih banyak wanita yang lebih cantik darinya, tapi kamu memilih dia?”


Tuan Dimitri mengepal kedua tangannya, “Dia hanya pelayanku dan aku berkewajiban melindungi semua yang bekerja denganku. Kamu hanya akan membunuh satu nyawa dengan sia-sia karena dia tidak penting bagiku.”


JLEB!!


Perkataan Tuan Dimitri menusuk hatiku, aku sudah mengetahuinya bahwa aku tidak berartj di mata Tuan Dimitri, tapi tetap saja aku sakit hati ketika mendengarnya secara langsung.


“Aku sungguh kecewa. Bukan itu reaksi yang aku mau… Tapi aku sudah haus dan butuh tenaga untuk bertarung denganmu, Dimitri. Jadi aku akan meminum darah manusia tak berarti ini sampai habis.”


“Chloe, kamu tidak keberatan jika aku meminum darahmu?”


Aku masih dalam akting untuk mengelabuinya jadi aku mengangguk dan menyerahkan lenganku padanya.


“Aku akan minum langsung dari lehermu. Lihat baik-baik, Dimitri.”


Lazarus menarik kerah leherku turun dan tersentak kaget ketika melihat bekas gigitan Tuan Dimitri yang tidak bisa hilang.


“Kamu salah paham, Lazarus. Lepaskan dia dan aku akan menjelaskannya.”


“Salah paham katamu? Aku melihatmu membunuhnya dengan mata kepalaku sendiri! Apakah kamu akan mengubahnya menjadi seorang vampir juga? Hmm..”


Lazarus membalikkan badanku sehingga aku dapat melihat wajah berangnya, tapi aku tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi. Dia bukan pria yang terlalu tinggi, kepalaku sejajar dengan hidungnya.


“Charlotte yang memintaku untuk membunuhnya, Lazarus.”


Mata perak Lazarus mendelik begitu besar, “Kamu bohong!”


“Memang begitu kenyataannya… Charlotte menyesal telah membiarkanmu mengubahnya menjadi vampir. Dia memohon padaku untuk membunuh dan membakarnya, dengan begitu dia tidak akan pernah bangkit kembali. Kamu harus merelakannya pergi.”


Lazarus menggeram lalu menjerit sampai matanya berubah merah dan kedua gigi taringnya keluar.


“Kalau begitu aku akan mengubah gadis ini menjadi vampir dan membunuhnya dengan cara yang sama. Dengan begitu kamu akan tau rasa sakit ini!!”


Gigi taring menancap di leherku dan dalam waktu yang bersamaan, aku mengeluarkan pisau berlapis perak itu dan menghunusnya dengan tepat di jantung Lazarus.

__ADS_1


Dia menatapku dengan mata tak percaya, gigi taringnya masih bersimbah darah segarku.


“Kamu akan bertemu dengan Charlotte-mu, Lazarus.” bisikku dan kembali menekan pedang itu.


Wajah putih Lazarus dengan ekspresi terkejut dihiasi oleh garis-garis retak. Aku melangkah mundur dengan tangan bergetar, menubruk tubuh seseorang. Dia memelukku dari belakang dan tebasan pedangnya memisahkan kepala Lazarus dari badannya.


Lazarus terjatuh ke lantai dengan keadaan tidak utuh, lalu wajahnya yang retak lenyap menjadi abu dan diterpa oleh angin.


Aku tidak sadar telah terisak begitu kuat, bukan menangisi Lazarus yang berusaha membalaskan dendamnya karena Tuan Dimitri membunuh wanita yang dicintainya.


Aku menangis karena jika aku berhasil pada malam itu, Tuan Dimitri akan mati dengan tragis seperti ini.


Tuan Dimitri mendekap tubuhku, tapi aku malah semakin gemetaran. Dia membuka jubahnya dan menutupi tubuhku yang kedinginan, tangan Tuan Dimitri memegang perutku dengan posesif.


“Dasar keparat itu. Dia menghisap darahmu? Sini ku lihat.”


Tuan Dimitri menggeser kerah bajuku, dia menggeram dan menggigit leherku. Aku melingkarkan lenganku pada bahunya.


Ubah aku menjadi vampir, Tuan Dimitri!


Tuan Dimitri berhenti dan menggendong tubuhku. Selama perjalanan pulang, aku tertidur bersandar pada dadanya.


Aku tidak tau berapa lama sampai akhirnya kami pulang dan bak mandi berisi air hangat telah tersedia di kamarku, dengan lembut Tuan Dimitri melucuti pakaianku.


“Berendam lah sebentar, kamu sangat pucat. Aku akan menyuruh Eden memberimu obat,” ucapnya lembut.


Air hangat itu merilekskan badanku, Tuan Dimitri pergi dan kembali dalam sekejap. Dia memberiku obat yang katanya tidak akan membahayakan nyawa anaknya.


Dengan patuh, aku teguk obat itu beserta air hangat. Setelah mengeringkan badanku, Tuan Dimitri menyelimutiku di atas kasur.


“Aku sangat bangga padamu, Chloe. Kamu sungguh berani membunuh Lazarus demi melindungi anak kita. Dia pasti akan terlahir sebagai vampir terkuat di dunia.”


“Kamu tidak marah lagi denganku, Dimitri? Aku telah membunuh anak pertamamu…” setetes air mata jatuh tapi aku buru-buru mengusapnya.


Tuan Dimitri mengelus rambut coklatku, “Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, yang penting kamu fokus pada kandunganmu yang sekarang. Ok?”


Aku mengangguk dan menguap, dia duduk di sampingku sampai aku menutup mata terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya Chloe menerima kenyataan kalau dia harus melahirkan seorang anak vampir ke dunia…

__ADS_1


Tapi badai belum berlalu guysss!


__ADS_2