Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Pria Paling Membosankan


__ADS_3

“Kamu sudah selesai meratapi nasibmu? Sekarang serahkan Dwayne kembali pada ibunya.”


Kepala Dimitri tertunduk, satu tangannya memegang pedang yang tertancap di tanah. Dia tertawa pelan lalu menjadi lebih kuat, membuat Edric bergidik mendengar suara tawanya.


Pantas saja Edric begitu melindungi Chloe ketika mereka baru saja bertemu di istana. Lalu, Edric selalu mengunjungi Dwayne. Semua orang berpikir itu karena kekuatan Dwayne yang memikat Edric.


Dimitri menegakkan tubuhnya, mengayunkan pedangnya sebelum dia simpan kembali dan seringai itu menghilang dari wajahnya.


“Lalu apa? Dari gelagatnya, Chloe tidak mengingatku sama sekali. Kalau aku menyerahkan Dwayne kepadamu, apa yang akan kamu bilang pada Chloe?”


Hanya ada satu penjelasan kenapa Chloe tidak mengingatnya. Chloe telah menggunakan kekuatannya sendiri untuk menghilangkan ingatannya. Dimitri bukanlah vampir yang baru menetas beberapa hari lalu, dia tau banyak dan ditambah lagi memiliki anak yang juga terlahir dari campuran vampir dan manusia.


Edric tau Dimitri tidak akan begitu mudah menyerahkan anaknya. Kastil D’Arcy dikawal begitu ketat sejak ada Dwayne. Penjaga setia cucunya, Draven dan Adreana juga selalu berada di sampingnya. Edric tidak mungkin bisa merampas Dwayne.


Dia kesal pada pria yang berdiri di depannya karena Dimitri telah diberi anugerah yang tidak semua vampir dapatkan. Wanita yang ditakdirkan untuknya adalah seorang vampir juga. Mereka dapat menghabiskan hidup dalam keabadian. Rasa sedih kembali menguasai pikiran Edric kalau membayangkan Sofia.


“Ada saatnya Chloe akan mengingat semuanya. Lebih baik kamu menyerahkan Dwayne sekarang daripada menunggu Chloe membalaskan dendamnya padamu.”


Perkataan Edric menusuk hati Dimitri begitu dalam. Chloe memang tidak pernah menyembunyikan perasaannya. Dia secara terang-terangan berkata bahwa dia membenci Dimitri.


“Setidaknya aku ada kesempatan untuk menyelesaikan masalahku dengan Chloe. Aku berjanji akan membayar semua kesalahanku. Tugasmu sudah selesai, Edric. Gantian aku yang akan menjaga Chloe mulai sekarang.”


“Tunggu! Apa yang kamu rencanakan lagi Dimitri?” tanya Edric dengan nada sedikit takut.


“Chloe Isabel meninggal dengan membenci diriku. Sekarang aku akan membuat Chloe Elizabeth Suarez jatuh cinta padaku.”


Mulut Edric terbuka begitu lebar. Dimitri tidak peduli padanya dan sudah tidak sabar untuk mengunjungi Chloe di tendanya. Dia terbayang dengan tubuh bak gitar spanyol yang semalam dia lihat.


Dimitri tidak berhalusinasi.


“Kamu sudah gila, Dimitri!” Edric menjerit dari belakang ketika Dimitri sudah melangkah jauh.


Chloe yang sekarang bukan Chloe dua tahun yang lalu dan Dimitri yang sekarang akan melakukan apa saja untuk membuat Chloe jatuh cinta padanya.


***


[Dimitri’s POV]


Aku menunggu sampai bulan menggantikan matahari menyinari gelapnya malam lalu berjalan menuju tenda komandan perang Azov. Udara malam ini sangat panas, berbeda dengan hari sebelumnya.

__ADS_1


Tanpa halangan dari pengawal, aku masuk dengan mudah ke tenda Dewi Kematian. Pelayan yang kulihat kemarin sedang menyisir rambut panjang Chloe, sedangkan dia sedang duduk sambil membaca sebuah buku.


Dia tersadar dan menutup buku itu, memberiku tatapan sinis. “Apa kamu tidak tau sopan santun, Dimitri D’Arcy? Aku menunggumu dari tadi tapi kamu tak kunjung datang. Ini sudah lewat jam tidur!”


Aku memberi sinyal pada pelayan itu untuk pergi keluar dari tenda dengan jariku. Tapi pelayan muda itu bergeming. Oh sialan. Aku lupa kalau dia pasti hanya akan menuruti perintah majikannya. Aku lupa kalau Chloe adalah anak seorang bangsawan sekarang.


“Kamu menungguku?” Aku menaikkan alis kiriku sedikit. “Well, kamu tidak pernah gagal untuk membuatku terkejut. Aku tersanjung karena seorang Dewi Kematian yang begitu garang di medan perang ternyata menunggu kedatanganku ke dalam tendanya.”


Aku menahan senyum saat pipi Chloe memerah. Dia berdiri begitu tegak dari kursinya.


“Layla, kamu bisa pergi istirahat sekarang.”


“T-tapi, nona Eliza…”


Oh, jadi nama pelayan itu Layla. Dia menatap nonanya ragu lalu menatapku lagi. Seakan takut untuk meninggalkan nonanya sendiri dengan seekor serigala yang siap menerkam.


“Pergilah. Kalau ada apa-apa, bukan aku yang perlu kamu khawatirkan.” Mata Chloe melirik pedang yang tergeletak tak jauh darinya.


“Baik, nona Eliza. Selamat malam.”


Aku menggeserkan badanku ke samping untuk memberi Layla akses keluar.


Layla memberiku tatapan tajam sebagai peringatan untuk tidak macam-macam dengan nonanya, lalu keluar dari tenda.


“Tentang Navarre, apa yang mau kamu bicarakan, Dimitri?”


“Aku seorang tamu disini dan sebuah kursi pun tidak kamu berikan, Chloe?”


Chloe mendesis. “Sudah kubilang jangan sebut namaku! Cepat katakan apa yang mau kamu sampaikan.”


Aku melangkah mendekatinya dengan santai walau yang ingin aku lakukan adalah berlari untuk memeluknya dengan erat. Chloe benar-benar berdiri di depanku, kelihatan lebih cantik dari sebelumnya. Mataku tidak bisa lepas. Sambil melangkah, aku memperhatikannya dari atas ke bawah.


Dia memakai baju tidur dari sutra berwarna merah yang panjang sampai menutupi mata kakinya. Rambutnya yang panjang tergerai begitu indah.


“Apa kamu tidak penasaran kenapa aku tau namamu?”


Aku berhenti di depannya dengan jarak tiga langkah kaki memisahkan kami. Chloe yang dulu mungkin akan bergerak mundur. Namun Chloe yang sekarang berdiri dan mengangkat dagunya.


“Edric sudah menceritakannya padaku. Dulu aku adalah pelayan di kastilmu sebelum aku berubah menjadi vampir. Tapi aku sama sekali tidak ingat denganmu. Sekarang aku bukan pelayanmu Dimitri, jadi aku harap kamu tidak bersikap angkuh karena derajat kita sama.”

__ADS_1


Dasar Edric sialan.


“Ya, kamu memang pernah bekerja sebagai pelayanku, Chloe. Makanya aku sangat terkejut saat aku tau siapa yang ada di balik baju zirah itu.”


Aku mengambil satu langkah mendekatinya, tanganku meraih rambut panjang dan lembut itu.


“Tapi hubungan kita bukan sekedar pelayan dan majikan biasa.”


Aku dapat melihat tenggorokannya menelan ludah, dia menepis tanganku dengan murka.


“Apa maksudmu, Dimitri! Aku tidak mungkin…”


Aku menundukkan kepalaku sejajar dengannya. “Ada tanda lahir di punggungmu, benar? Sebuah kelopak bunga mawar yang indah.”


Mata Chloe membesar dan satu tamparan keras melayang di pipiku. Aku bisa menghindar saat tangannya terangkat ke atas, aku sudah tau akan menerima tamparan itu. Tapi aku mau merasakannya.


Sakit di pipi kiriku menandakan bahwa aku sedang tidak bermimpi.


“Dasar mes*um! Kamu tau karena kamu masuk tanpa izin dan melihat punggungku semalam!”


Aku tertawa dan berbisik di telinganya. “Aku bukan hanya sudah melihat tubuhmu, Dewi Kematian. Aku sudah hapal setiap lekuk tubuhmu, semua titik yang dapat membuatmu menjerit. Apa perlu aku lanjutkan agar kamu ingat apa hubungan kita dua tahun yang lalu?”


Rambutnya sangat wangi aroma bunga mawar, membuat kepalaku berputar dan tidak bisa berpikir rasional. Udara di dalam tenda sangat panas, atau mungkin karena aku berada dekat dengannya?


Sesuatu di bawah sana sudah tidak sabar untuk beraksi. Sudah dua tahun lebih dia tersiksa karena aku berjanji tidak akan tidur dengan wanita lain. Tapi aku menahan diri. Belum saatnya kamu beraksi, kawan!


Chloe tertawa. Ah, sudah lama aku tidak mendengar suara tawanya. Bagaikan melodi yang indah dan akan terus terngiang di benakku.


“Pantas saja aku tidak mengingatnya, Dimitri. Kamu pasti pria paling membosankan yang pernah tidur denganku!”


...----------------...


...Author mulai crazy up hari ini ya tapi please uda baca 1 bab langsung Like & Comment 🤣🤣...


...Jangan sampe lupa karna kesoran baca...


...Kalau suka cerita ini bisa apresiasi dengan memberikan Vote kalian 🙏❣️...


...Thank you so muuchhhh \~...

__ADS_1


__ADS_2