Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
S2 - Misi Rahasia Kiara


__ADS_3

“Berapa umurmu sekarang?”


Kiara bingung. Apa hubungan semua ini dengan usianya? Namun dia tetap menjawab.


“Dua bulan lagi genap dua puluh tahun, Tuan.”


Kalau vampir bisa bernapas lega, itu yang dirasakan Ansel sekarang. Meskipun dahinya masih mengernyit.


“Lupakan saja. Anggap aku tidak berkata apa-apa,” ucap Ansel.


Masih ada kemungkinan kalau Kiara bukan wanita yang ditakdirkan untuknya.


“Kalau begitu, aku boleh keluar? Sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Aku akan keluar untuk memberimu ketenangan.”


Ansel memberinya izin untuk pergi dari kamar itu. Dengan hati-hati, Kiara segera turun ke sisi kastil untuk pelayan. Dia menyelinap masuk ke ruang laundry dan memilih satu pakaian pelayan yang mendekati ukurannya.


Lalu mengikat rambutnya seperti model para pelayan yang bekerja di sini dan menyempurnakan penyamarannya dengan penutup kepala yang biasa dipakai pelayan.


Hmm… Kiara merasa puas setelah melihat penampilannya di cermin.


Setelah itu dia pergi ke pekarangan luar untuk mencari daun cervinervis dan jamur ganoderma yang tumbuh di batang pohon. Kiara mengumpulkan lebih banyak untuk stok jadi dia tidak perlu selalu keluar untuk mengambilnya.


“Hey! Apa yang kamu lakukan?” tanya seorang pria yang sedang memikul keranjang berisi ranting kayu. Sepertinya dia bertugas sebagai pengumpul ranting.

__ADS_1


“A-aku sedang mencari beberapa bahan keperluan dapur.”


Pria tua itu mengernyitkan dahi. “Biasanya tidak ada pelayan yang keluar untuk mencari bahan keperluan dapur di dekat hutan seperti kamu. Kembali ke kastil. Jangan mendekati hutan karena hutan ini berbahaya.”


“Berbahaya?” Kiara melirik ke sisi kirinya. Hutan lebat dengan tanah berkontur itu memang mengeluarkan aura yang menyeramkan.


“Ya, banyak teman kami yang masuk dan tak pernah kembali lagi.”


Ah! Siapa lagi kalau bukan kerjaan para vampir yang tinggal di kastil ini? Mereka pasti suka sengaja melepas manusia ke dalam hutan lalu mengejar manusia-manusia itu sebagai permainan.


“Baik, aku mengerti. Terima kasih atas peringatanmu.”


Untung saja Kiara sudah mengutip daun dan jamur yang dia butuhkan. Kiara kembali ke dapur yang sepi karena vampir memang tidak butuh makanannya dimasak!


Dia mempertaruhkan nyawa untuk membuat racikan ini. Kalau sampai ketahuan, Kiara tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.


Racikan itu selesai dengan cepat. Kiara mengisinya ke dalam botol-botol kaca kecil sekali teguk. Lalu dia langsung meminum satu botol.


Kiara ingin muntah. Baunya aneh seperti bau kotoran kuda dan rasanya pahit! Dia menunggu beberapa saat agar ramuan itu bekerja di dalam tubuhnya.


***


Magnus berjalan santai menuju suatu tempat paling rahasia di dalam kastil megahnya. Gigi taringnya sudah keluar, tidak sabar merasakan darah segar yang akan mengalir ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Dia memutar tembok rahasia yang berada di sisi kanan lorong gelap itu. Tanpa melihat ke kiri dan ke kanan karena dia yakin tak ada yang mengikutinya, dia masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia di balik tembok.


“Gwendolyn. Bangun, sayang.”


Bisikan Magnus membuat gadis itu terbangun dari tidur lelapnya. Rambut hitamnya yang lurus dan panjang, tergerai di atas kasur besar. Satu-satunya perabot yang ada di ruangan itu.


“Magnus!” Gadis itu langsung memeluk Magnus dengan erat. “Aku pikir kamu tidak akan kembali lagi. Aku pikir kamu meninggalkanku seorang diri di sini. Maaf, maafkan aku… Jangan tinggalkan aku di sini seorang diri!”


“Kamu berjanji tidak akan lari dariku lagi? Kamu berjanji akan memberi apa yang aku mau?”


Dengan berlinang air mata, Gwendolyn menganggukan kepalanya. “Aku berjanji… Aku tidak akan lari. Aku akan memberi darahku.”


Magnus melepas pelukannya dan gadis itu panik. Dia langsung mencengkeram lengan Magnus karena takut dia akan ditinggalkan di dalam ruangan ini seorang diri.


“Kalau begitu, tunjukkan apa yang aku mau.”


Gwendolyn memiringkan kepalanya ke samping dan menarik kerah bajunya. Memperlihatkan kolom lehernya pada Magnus.


Manik mata merah itu bersinar dan sebelum dia menyantap darah segar dengan rasa yang tidak bisa dia dapatkan dari wanita lain, Magnus berkata, “Selamanya kamu akan berada di sini. Kamu tidak akan pernah melihat dunia luar lagi. Tempatmu adalah dalam kegelapan.”


...----------------...


Sudah bisa ditebak benang merah cerita ini?

__ADS_1


Komen tebakanmu di bawah yaaa \~


__ADS_2