Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
S2 - Kehidupan Yang Lebih Baik


__ADS_3

“Mulai sekarang, kamu makananku.”


Wanita di bawahnya terlalu lemah untuk menjawab. Matanya perlahan tertutup.


“Kiara! Kiara!” panggil Ansel.


Damn! Dia pingsan. Mungkin aku kebanyakan minum darahnya. Ternyata ini rasanya minum darah manusia… Aku bisa merasakan darah segar yang manis itu mengalir melewati kerongkonganku. Mengalir ke seluruh tubuhku. Aku merasa berbeda…


Ansel memperhatikan bekas gigitan yang perlahan menghilang dari leher Kiara. Ada rasa lega karena itu berarti Kiara bukan wanita yang ditakdirkan untuknya. Namun Ansel juga merasa sedikit kecewa.


“Bodoh! Kenapa kecewa? Justru kamu harus senang karena budak rendahan ini bukan wanita yang ditakdirkan untukmu!!” Ansel merutuki dirinya sendiri.


Dada Kiara naik turun seiring dengan tarikan dan hembusan napasnya yang pelan. Wajah polos tanpa riasan itu begitu damai dilihat. “Gadis bodoh. Jangan tertidur pulas saat bersama seorang pria. Untung saja aku hanya terpikat dengan darahmu!”


Ansel melepaskan jubahnya dan menutup badan Kiara agar dia tak kedinginan. Setelah itu Ansel pergi keluar dari tenda. Baru sebentar saja dia berpisah dengan Kiara, dia sudah merindukan aroma darah wanita itu.


Kalau Kiara bukan wanita yang ditakdirkan untuk Ansel, kenapa Kiara tak terpengaruh dengan kekuatan vampir?


***


Silau. Kiara merasa matanya silau terkena cahaya matahari. Dia mengerang dan menutup matanya dengan punggung telapak tangannya.


“Tutup gordennya. Aku masih ngantuk.”


Namun perintah Kiara tak diindahkan. Kenapa kasurnya tiba-tiba jadi begitu keras seakan dia tidur di tanah?


Sesuatu menjilat pipinya membuat Kiara tersentak. Dia menjerit karena ketika membuka matanya, hidung kuda mendengus di wajahnya. Kuda coklat yang ditunggangi Ansel!!

__ADS_1


“Ew!” Kiara menyeka bekas ludah kuda di pipinya. Sepenuhnya sadar bahwa dia bukan berada di Kerajaan Sheadore, melainkan berada di hutan pulau tersembunyi ini bersama seorang vampir.


Ansel sedang membereskan tenda. Melipatnya menjadi kecil. “Sudah bangun?”


Pipi Kiara memerah. Ansel melihatnya tidur semalam? Apakah dia tanpa sadar ngences? Mungkin Kiara menggigau yang aneh-aneh. Namun Ansel tak berkata apa-apa.


Saat Kiara beranjak duduk, dia memegang jubah hitam yang berada di atas tubuhnya. Kiara hendak mengucapkan terima kasih karena Ansel sudah begitu baik meminjamkan jubah itu kepadanya.


Lalu Kiara teringat apa yang terjadi semalam.


“Kamu menghi*sap darahku!” jerit Kiara sambil memegang lehernya. “Jangan pernah melakukan itu lagi!!”


Kalau sedang marah atau kesal, Kiara pasti suka lupa diri kalau dia harus memakai ‘Saya-Anda’.


“Kamu tidak mendengar apa yang kukatakan semalam sebelum kamu pingsan? Kamu makananku.” Ansel meletakkan pekerjaannya dan menghampiri Kiara.


“Dengar, Kiara. Kamu tidak mungkin bisa kembali bekerja pada majikanmu yang dulu. Ataupun menginjakkan kakimu di Sheadore. Kalau kamu kukembalikan pada Magnus, dia akan menjualmu pada agen budak dan selamanya tetap menjadi budak. Kamu mau nasibmu begitu?”


Ansel mengelus sehelai rambut pirang bergelombang milik Kiara. “Namun kalau kamu ikut denganku, aku bisa memberi kamu kehidupan yang lebih baik. Kamu bahkan tidak perlu bekerja seperti pelayan.”


“Tapi aku harus memberi darahku padamu,” ucap Kiara pelan.


Ansel tersenyum. Sangat tidak adil seorang vampir bisa memiliki senyuman seindah itu!


“Benar. Saat aku menggigit lehermu dan menghi*sap darahmu, apakah kamu merasa sakit?”


Pipi Kiara bersemu merah. Dia menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


“Apa yang kamu rasakan, Kiara?”


“A-aku tidak tahu… Aku tak pernah merasa seperti itu sebelumnya jadi aku tak bisa menjelaskannya… Tubuhku seperti terbakar.”


Ansel menggenggam dagu kecil Kiara hingga mata mereka bertemu. “Kamu sangat polos.”


Untuk beberapa saat, Ansel mengamati wajah Kiara. Seakan ingin merekam bentuk hidung celestial di antara kedua mata biru indahnya, bibir ranum dan tulang pipi Kiara yang tinggi ke dalam benaknya.


Lalu kelembutan di wajah Ansel hilang. “Berdiri dan lanjutkan melipat tenda itu. Kita harus segera balik ke kastil.”


Kiara bingung namun hanya bisa menuruti perintah Ansel. Sesampainya di kastil, tubuh Kiara remuk. Dia sangat lelah karena disuruh berjalan kaki lagi sambil mengangkut barang bawaan Ansel.


Walaupun turun gunung tak secapek naik gunung, tetap saja Kiara hanya wanita biasa yang bisa lelah.


“Saya boleh pamit istirahat sekarang, Tuan?” tanya Kiara saat Ansel turun dari kudanya.


“Pergilah.”


“Terima kasih, Tuan.”


“Tunggu.” Ansel menarik tangan Kiara dan berbisik di telinganya. “Istirahat yang cukup dan simpan tenagamu untuk malam ini.”


Sekujur tubuh Kiara merinding membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.


...----------------...


...Thank you semuanya yg udah ...

__ADS_1


...Like, Vote & Comment ...


__ADS_2