Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Serangan Tak Terduga


__ADS_3

[Chloe’s POV]


Suara teriakan para prajurit yang berlatih di pagi hari begitu menggelegar. Aku secara khusus mengawasi untuk memacu semangat mereka.


“Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan! Kita akan menghadapi perang besar bulan depan!” seruku dengan suara lantang.


Suara pedang saling beradu membuat aku tersenyum. Ini pemandangan yang ingin ku lihat. Aku melirik ke perkemahan sebelah. Sisa api unggun yang hidup semalam sudah redup, tenda-tenda berwarna coklat terang masih tertutup rapat.


Tidak ada tanda bahwa sisa prajurit Kerajaan Rudolmuv yang ikut dengan Dimitri akan segera bangun. Aku mendengus di balik baju zirahku tapi mataku menatap tenda paling besar yang ada di tengah.


Semalam aku berhasil menjahili pria pembohong itu. Enak saja dia bilang bahwa hubunganku dengannya lebih dari sekedar pelayan dan majikan. Itu pasti hanya akal-akalan Dimitri untuk merayuku naik ke atas kasur bersamanya.


Cih! Maaf saja aku bukan wanita gampangan. Oh, aku bukannya tidak tertarik pada Dimitri D’Arcy. Dia memiliki wajah yang tampan, tubuh atletis dan aura maskulinnya menarik perhatianku. Dia juga seorang komandan perang dengan rekam jejak yang bagus.


Bisa dikatakan, dia adalah pria yang diinginkan oleh banyak wanita. Tapi aku ingin lebih dari itu. Aku ingin dicintai sama besarnya seperti aku mencintai. Mungkin itu juga yang membuatku selama ini tidak tertarik pada para lelaki yang mengejarku.


Jadi kalau Dimitri mendekatiku hanya karena ego besarnya untuk menaklukkan Dewa Kematian, sebaiknya dia mencium mata pedangku dulu sebelum dia mencium bibirku!


Aku begitu hanyut dalam pikiranku sendiri, memikirkan bagaimana tubuh Dimitri berada di atasku semalam. Wajahnya begitu dekat, bahkan dia membenamkannya di leherku. Aku tidak sadar mataku masih menatap tendanya saat pria yang kupikirkan keluar dan manik mata hitamnya langsung menangkapku.


Sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Aku sangat ingin menamparnya lagi, tapi aku memalingkan wajahku.


Dari kejauhan, aku melihat seorang pria memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Tangan kirinya terangkat ke atas untuk menunjukkan lencana berwarna hijau gelap dengan lambang tanduk rusa.


Dia turun dari kudanya dan menghadapku yang sudah berjalan ke arahnya, disusul oleh Dimitri yang dengan cepat sudah berada di sampingku.


“Jenderal, aku adalah Bryce Sardinia dari kastil Sisilia. Aku datang untuk mengabarkan bahwa Kerajaan Navarre sedang berlayar menuju pantai Sardinia. Mereka akan tiba malam ini juga.”


Kastil Sisilia adalah kastil yang terletak paling dekat dengan pantai Sardinia. Tuan tanah yang menempati kastil itu adalah Bryce Sardinia sendiri. Dia adalah pria berusia sekitar 40an tahun dengan kepala bagian depan sudah botak dan perut yang buncit.


“Tuan Bryce, apa kamu yakin kabar ini benar? Dari siapa kamu mendengarnya?”


Sejauh yang aku tau, vampir baru yang dibentuk Raja Navarre belum akan siap untuk sekarang. Mereka masih rentan terhadap sinar matahari, jika dihitung-hitung umur mereka baru berjalan dua minggu.


“Ini, jenderal. Seekor merpati membawa surat ini saat tengah malam. Saya tidak berpikir panjang lagi dan dengan cepat ingin menemui anda untuk menyampaikannya.”


Aku mengambil surat yang disodorkan Tuan Bryce. Ada lambang kuda laut yang tersemat dalam segel surat dari lilin yang dicairkan. Segel itu sudah pecah menandakan kalau Tuan Bryce sudah membaca isinya.


Bryce, sobatku.


Ketika surat ini sampai di tanganmu, Raja Nelson pasti sudah berlayar menuju pantai Sardinia. Dia akan menyerang kastilmu dan mendudukinya terlebih dahulu untuk mendapat akses masuk ke Kerajaan Azov.

__ADS_1


Aku dan banyak rakyat disini tidak menginginkan peperangan ini terjadi. Aku harap suratku tiba tepat waktu.


Sekian dulu, Bryce. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyampaikan pesan ini.


Sobatmu yang setia, Jerrick.


“Jerrick?” Aku selesai membaca surat itu dan Dimitri mengambilnya dari tanganku.


“Jerrick adalah penasihat Raja Navarre.”


“Betul, ehmm… Anda pasti Jenderal Dimitri D’Arcy.”


“Bagaimana kamu bisa yakin kalau ini bukan jebakan? Pantai Sardinia adalah pantai yang kecil untuk melabuhkan kapal perangnya. Tidak ada keuntungan jika dia memilih untuk menyerang Kastil Sisilia.”


“Justru itu, jenderal. Kita pasti tidak akan menyangka kalau Navarre akan menyerang pantai Sardinia dan tanpa sepengetahuan kita, Kastil Sisilia sudah jatuh ke tangannya. Tapi dia tidak berpikir bahwa Jerrick akan mengkhianatinya.”


Dimitri selesai membaca surat itu dan bertanya, “Kenapa Jerrick mau mengkhianati rajanya sendiri?”


“Banyak orang yang tidak suka dengan cara Raja Nelson mengurus kerajaannya dan ingin dia turun tahta. Kalian dapat mempercayai kebenaran surat ini karena Jerrick dan saya sudah bersahabat begitu lama.”


Sialan! Walaupun kita mendapat kabar lebih cepat namun jumlah prajurit yang ada disini tidak akan cukup untuk melawan Navarre.


“Kurang dari 70 orang, jenderal. Namun mereka sudah terlatih.”


“Kita mendapat keuntungan setengah hari berkat informasi Jerrick. Sekarang kamu pulang kembali ke kastilmu dan persiapkan semua pasukanmu dan pertahanan pantai.”


Kastil Sisilia memiliki pertahanan pantai sepanjang 1500 mil yang dibentengi dengan ranjau darat. Benteng yang membentang dan menghadap pantai dapat digunakan untuk para pemanah.


“Baik, jenderal. Saya pamit dulu.”


Lonceng pun dibunyikan, semua prajurit yang ada di perkemahan bergegas menyusun persiapan mereka.


Dimitri memanggil prajuritnya dan berkata, “Kamu segera pergi ke persimpangan hutan Sardinia. Kalau waktu berada di pihak kita, prajurit yang dijanjikan Raja Rudolmuv akan tiba beberapa jam lagi. Ubah rute mereka dan kita akan bertemu di Kastil Sisilia.”


“Baik, Tuan Dimitri.”


Dia menghampiriku yang sudah selesai berbincang dengan Raja Azov dan Edric. Mereka menaiki kereta kuda kerajaannya dan bergegas pergi dari perkemahan.


“Raja Azov memilih untuk pergi?” tanya Dimitri menatap kereta kuda itu dan beberapa prajuritnya melaju.


“Dia pergi duluan untuk membawa pasukan tambahan. Kalau Kastil Sisilia jatuh ke tangan Nelson, kita harus mengepung kastil itu.”

__ADS_1


Dimitri menyentuh bahuku. “Chloe, Kastil Sisilia tidak akan jatuh ke tangan Nelson. Ada dua komandan perang yang mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Kerajaan Azov.”


Aku menepis tangan Dimitri dengan dingin. “Jangan sok akrab, Sang Penghancur. Apa kamu sudah memikirkan strategi untuk melawan Navarre? Kamu bilang akan membicarakannya semalam, tapi kamu malah lebih sibuk merayuku.”


Dimitri tertegun sejenak lalu tertawa. “Ya, kamu memang sangat pandai menyiksa pria, Chloe. Satu skor untukmu. Begini saja, kalau strategi yang aku buat berhasil dalam memenangkan perang ini, kamu harus mengabulkan satu permintaanku.”


“Hanya satu?”


Dimitri mengangkat bahunya, “Kalau kamu mau mengabulkan lebih, aku tidak keberatan.”


“Apa strategi yang ada di benakmu?”


Aku ingin mendengar apa yang ada di benak Dimitri karena tentunya dia lebih pengalaman dalam dunia vampir. Seorang prajurit datang menghampirinya bersama dengan seekor kuda hitam. Dimitri mengambil tali kekang yang sudah dipasangkan dari tangan prajuritnya.


“Kita akan bertemu dengan prajurit Raja Rudolmuv di Kastil Sisilia. Ada seorang mage yang ikut dengan rombongan itu. Kita akan mengelabui bala tentara Navarre.”


Mage? Seorang penyihir. Aku mengerutkan keningku saat hidung kuda hitam itu mendorong bahuku dan mengendus.



“Lihat, Onyx saja ingat kamu. Kamu masih tidak percaya kita punya hubungan spesial?”


“Onyx?” Aku mengelus hidung kuda itu dan dia meringkik.


“Kamu pernah duduk di atasnya dan aku memelukmu dari belakang. Ah, sayang sekali kamu tidak ingat. Jantungmu berdegup kencang dan bau darahmu memanggilku. Kita menghabiskan waktu di tengah hutan yang gelap…”


Aku menjotos bahunya, untung saja aku mengenakan helmet zirah. Kalau tidak, dia pasti akan lebih senang saat melihat wajahku yang tersipu. Aku tidak tau apa perasaan aneh ini saat Dimitri berada di sampingku.


Aku ingin menjauh namun di saat yang bersamaan diriku ditarik oleh magnet untuk tetap berada di sisinya.


Dimitri tertawa lalu dia menaiki punggung Onyx, menatapku dari atas. “Sampai jumpa di Kastil Sisilia, Chloe. Aku tidak sabar untuk memenangkan perang ini dan ingat janjimu…Kamu akan mengabulkan satu permintaanku.”


Aku hendak berteriak kalau aku belum setuju. Namun Onyx sudah membawa pria itu pergi.


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2