Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
S2 - Hadiah Kemenangan Ansel


__ADS_3

Dua belas wanita yang baru selesai membersihkan tubuh mereka dari debu, keringat dan segala kotoran yang menempel, diberi pakaian baru.


Mereka digiring masuk ke kastil melalui pintu belakang dan dikumpulkan dalam sebuah ruangan untuk dipermak lebih lanjut.


“Maaf, Kiara. Tapi sewaktu mandi tadi, aku sempat melihat tubuhmu. Kulitmu sangat mulus dan bersih. Tidak seperti aku yang memiliki bekas cambukan.” Matilda mengangkat bajunya dan memperlihatkan goresan permanen pada punggungnya.


Kiara meringis dalam hati. Matilda adalah teman pertamanya saat dia menaiki kapal menuju Kastil Magnus. Pelayaran yang memakan waktu selama satu minggu itu membuat mereka menjadi teman akrab.


“Dan aku baru sadar kalau kamu tidak pernah cerita kenapa kamu berakhir menjadi budak,” bisik Matilda.


Kiara tidak dapat mengelak lagi. Tapi dia juga tidak bisa mengatakan identitas dirinya yang sebenarnya.


“Aku adalah putri dari seorang tukang kebun di kediaman keluarga bangsawan. Tuan Milford menaruh hati padaku dan gelagatnya mulai terendus oleh istrinya. Nyonya Milford akhirnya mengusirku dan menjualku pada agen budak.”


Matilda menutup mulutnya sendiri. “Ya ampun… Nyonya Milford sungguh kejam! Dia pasti cemburu karena kamu sangat cantik, Kiara.”


Kiara tersenyum kecut. Matilda tidak akan tahu kalau ceritanya hanya rekayasa. Tuan dan Nyonya Milford yang Kiara sebutkan adalah pasangan paling baik yang pernah dia kenal.


Selesai menyisir rambut pirangnya yang panjang bergelombang, Kiara mengepangnya menjadi satu. Tapi dia berubah pikiran.


Mungkin Magnus lebih suka melihat wanita yang rambutnya dibiarkan tergerai. Kiara membuka kembali kepangan rambutnya.


“Baik, semuanya. Berbaris menjadi satu.” Agnes menepuk tangannya.


Kedua belas wanita yang ada di ruangan tersebut langsung mengambil posisi.


“Berdiri tegak! Tegak! Tegak!”


Agnes memukul punggung beberapa wanita yang sedikit bungkuk dengan papan kayu. Mereka hanya bisa meringis kesakitan dan buru-buru membenarkan postur tubuh mereka.


“Bagus! Dengar baik-baik. Kalian harus menjaga perilaku kalian saat masuk ke dalam aula untuk bertemu dengan tamu penting Tuan Magnus.”


Kiara mengangkat tangannya. “Boleh aku bertanya?”


“Katakan.”


“Untuk apa kami diperlihatkan kepada tamu penting Tuan Magnus?”


Agnes mendengus. “Tentu saja untuk melayaninya.”


Para wanita saling melirik satu sama lain dan berbisik-bisik. Hanya Kiara yang mencerna informasi ini di dalam benaknya. Dia tahu bahwa Magnus bukan sekedar manusia biasa.

__ADS_1


Magnus adalah vampir yang gemar membeli budak atau tanda kutip ‘bahan makanannya’ dalam keadaan masih pera*wan.


Setahu Kiara, darah seorang pera*wan lebih nikmat. Jadi sebenarnya siapa ‘tamu penting’ ini sehingga Magnus rela membagi bahan makanannya?


Siapapun dia, semoga orang itu tidak memilih Kiara.


***


Dua pedang beradu dengan cepat. Saling menyerang atau bertahan. Tidak ada yang mau mengalah karena hanya ada satu pemenang setelah pertarungan ini berakhir.


“Teknik baru?” tanya Magnus saat dia diserang bertubi-tubi.


“Ya. Baru saja melintas di benakku dan langsung kupraktekkan.”


“Huh! Anak siapa kamu? Sombong sekali.” Magnus mengangkat pedangnya dan menyerang balik.


Ansel tertawa sambil menghindar. “Tentu saja putra satu-satunya Chloe dan Dimitri.” Dia mengucapkannya dengan bangga.


Tentu saja Ansel bangga. Dia terlahir dari rahim seorang manusia, dari benih seorang vampir. Membuatnya memiliki kekuatan yang tak biasa, bahkan sejak dia lahir.


Mamanya—Chloe—seorang manusia biasa, sampai harus dipisahkan dari dirinya saat Ansel masih bayi.


Namun ketika dipisah, Ansel alergi minum susu sapi. Perutnya hanya bisa menerima air susu ibunya. Akhirnya Dimitri mengizinkan Chloe menyusui bayinya, namun Chloe tidak dapat melihat Ansel.


Singkat cerita, dua tahun setelah Dimitri berpikir bahwa Chloe telah meninggal, mereka dipertemukan kembali. Chloe ternyata seorang vampir yang dilahirkan dari rahim manusia juga!


Penyesalan dan rasa bersalah membuat Dimitri harus mengejar Chloe. Sampai akhirnya demi Ansel, Chloe mencoba untuk memaafkan Dimitri. Dan mereka masih hidup bersama sampai detik ini.


Mereka pasti sedang bermesraan sekarang. Ansel tersenyum dalam hati.


“Jadi bagaimana dengan kehidupan percintaanmu, Ansel? Sudah ada wanita yang menjadi incaranmu?” tanya Magnus.


“Bukan urusanmu, pak tua!”


“Tua? Aku sama sekali tidak menua. Bahkan ketika kamu masih orok, wajahku masih tetap ganteng seperti ini.”


Ansel tertawa keras, namun matanya fokus memperhatikan gerak-gerik lawannya.


“Bagaimana denganmu? Sudah hidup entah berapa ratus abad, tapi belum menemukan wanita yang ditakdirkan untukmu? Aku merasa kasihan karena kamu pasti kesepian.”


Ya, hidup Magnus terlalu kesepian sampai-sampai hobinya memecah belah pasangan vampir yang lain.

__ADS_1


Masih banyak hobi aneh Magnus. Biasa… dia sudah hidup terlalu lama di dunia ini.


Sesuatu berkilat dari manik mata merah Magnus. Dia kehilangan fokusnya untuk sesaat dan Ansel mengambil kesempatan itu untuk melumpuhkannya.


Magnus terkejut. Dengan cepat, Ansel sudah berada di belakang tubuhnya. Sebilah pedang berada tepat di lehernya.


“Kamu kalah, pak tua.”


Tidak tersinggung, Magnus malah tertawa. “Baiklah. Kemenangan untukmu, anak muda.”


Ansel melepasnya lalu memutar pedang yang terbuat dari meteorit dengan gagang hitam ke dalam sabuk.


Berjalan ke atas singgasananya, Magnus berkata, “Dan tepat sekali aku berencana memberi kamu hadiah. Anggap saja ini sebagai hadiah kemenanganmu. Hadiah yang tidak boleh kamu tolak.”


Ansel mengernyitkan dahinya ketika Magnus menepuk tangannya dua kali.


Seorang wanita berpakaian pelayan masuk ke dalam aula, diikuti oleh beberapa gadis muda di belakangnya. Bukan hanya beberapa. Tapi banyak. Puluhan mungkin.


Mereka berjalan dalam satu baris dengan kepala tertunduk. Pakaian yang mereka kenakan sangat indah dan provokatif.


Lebih tepatnya, kurang bahan. Seperti pakaian yang digunakan para pelac*ur di rumah bordil.


Mereka berhenti di tengah-tengah aula.


“Tuan Magnus, ini kedua belas budak anda yang sudah saya persiapkan sesuai dengan perintah anda.”


“Terima kasih, Agnes. Kamu boleh pergi sekarang.”


Agnes menundukkan kepalanya dan pergi dari aula.


Magnus mengamati semua gadis muda yang baru datang minggu lalu sambil tersenyum puas.


“Well? Apa pendapatmu? Pilih satu atau dua… Terserah yang kamu suka.”


Ansel menaikkan satu alisnya ke atas. “Hadiah yang kamu maksud adalah para pelacu… gadis-gadis ini? Maaf, Magnus. Kamu bisa menikmati mereka sendiri. I’ll pass.”


...----------------...


Bab berikutnya pertemuan Ransel (Kiara & Ansel)


Nggak pake lama, langsung adegan yang membara keluar 🔥🔥🤣 200++ likes kita lanjut.

__ADS_1


__ADS_2