
“Kenapa begitu? Kamu bisa tahan dengan bau darahku?” Mata Kiara membulat.
TOK TOK
“Permisi, Tuan. Kami datang membawakan bak mandi dan air hangat yang Tuan minta,” terdengar suara dari luar sana.
“Masuk.”
Sebuah bak mandi yang diangkat oleh dua orang pelayan, ditaruh di tengah ruangan. Setelah itu air panas dituangkan ke dalamnya.
“Tuan, kamu butuh kami untuk melayanimu?” tanya seorang pelayan muda. Dia menji*lat bibirnya yang kering sambil mengamati wajah dan tubuh Ansel.
“Tidak perlu. Kalian bisa keluar sekarang.”
“Tuan, saya sangat pintar memijat. Anda pasti lelah setelah perjalanan jauh kesini. Saya bisa membuatmu lebih rileks.” Pelayan muda itu tak menyerah.
“Kamu tidak lihat wanita yang di atas ranjang itu? Dia pelayan pribadiku dan kalau aku butuh pijatan atau servis lainnya, dia yang akan melayaniku. Sekarang, kalian keluar.”
Kiara mendapat tatapan sinis dari si pelayan muda. “Baiklah, Tuan. Tapi kalau anda berubah pikiran, saya akan menunggu di luar.”
Setelah pintu ditutup, Kiara sudah berada di tengah ranjang. Bukan menempel pada dinding seperti tadi lagi.
__ADS_1
“Kamu tidak tertarik minum darah manusia?” tanya Kiara antusias.
“Tidak. Aku tidak minum darah manusia.”
“Kalau begitu, kenapa kamu memilihku?” Kiara merasa sebal dalam hati.
Kalau Ansel tidak memilihnya, mungkin dia punya kesempatan untuk melayani Magnus. Tapi takdir berkata lain. Setidaknya Kiara bisa masuk ke dalam kediaman Magnus.
Dia harus bergerak cepat.
Ansel selesai mencelupkan tangannya ke dalam bak. Suhu airnya sempurna seperti yang dia suka.
Kiara memutar bola matanya. “Dunia berputar pada porosnya, tapi bukan kamu porosnya. Jadi kalau aku tidak berguna untukmu, aku bisa pergi sekarang?” Dia turun dari kasur, merasa tidak nyaman ditatap oleh Ansel dengan begitu intens.
“Tidak bisa. Kamu harus tetap berada di sisiku. Kalau Magnus tahu aku tidak menghi*sap darah manusia, dia bisa menertawakanku.”
“Yah, karena mana ada vampir yang tidak minum darah manusia? Pasti kamu akan ditertawakan. Gigi taringmu belum tumbuh, ya?” ejeknya.
“Kamu terlalu banyak bicara, nona. Tapi kamu tidak tahu, kalau pembicaraan ini tidak pernah terjadi. Kamu akan melupakannya hanya dengan sekali…,”
SNAP!
__ADS_1
Ansel menjentikkan jarinya di depan wajah wanita itu. Dia memang sengaja memberitahu ini semua pada Kiara. Toh Kiara juga akan lupa.
Mata bulat Kiara terbuka lebar sejenak, lalu dia mengerjap dan memiringkan kepalanya ke samping.
“Apa yang kamu lakukan? Aku akan lupa hanya dengan sekali apa? Ini?” Kiara menjentikkan jarinya juga. Meniru apa yang dilakukan Ansel.
Untuk sesaat, Ansel terperangah. Dia mengambil dua langkah mundur seakan wanita yang ada di hadapannya itu pembawa penyakit.
“Kamu tidak mempan dengan kekuatan vampir?” bisiknya. “Kenapa kamu tidak terpengaruh dengan kekuatanku? Jangan-jangan…”
“Apa maksudmu, Tuan?”
“Jangan-jangan kamu adalah wanita yang ditakdirkan untukku.”
Hanya ada satu cara untuk membuktikan kebenaran itu… atau ada beberapa cara kalau dia berkaca dari peristiwa yang menyatukan ayah dan ibunya.
Tidak! Ansel sudah punya wanita yang dia cintai. Dia tidak mungkin ditakdirkan dengan seorang budak!
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Tuan. Takdir?”
Ansel tidak menjawab pertanyaan Kiara. Dirinya dilanda kegundahan. “Berapa umurmu sekarang?”
__ADS_1