Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Hidup Baru yang Hampa


__ADS_3


- Ivy Cottage di Tanah D’Arcy -


[Chloe’s POV]


Mataku tiba-tiba terbuka lebar, menatap langit-langit di kamar yang masih terasa asing meskipun aku telah tinggal selama 1 minggu di sini. Air mata mengucur deras membasahi bantal, dan mulutku menganga lebar berteriak namun tak ada suara yang keluar.


Jantungku berdegup sangat keras. Aku mengangkat tanganku yang masih kaku ke depan dada, menggenggam kalung titanium yang kupakai.


Sejak kapan aku memakai kalung ini?


Aku tidak tau tapi aku mengangkatnya keatas dan memperhatikan dengan seksama. Cahaya rembulan yang mengintip masuk dari jendela kamar, menerangi penglihatanku.


C. D. P.


Itu inisial yang tergrafir diatasnya. C mungkin adalah inisial namaku. Aku meletakannya kembali ke dadaku, tidak mau pusing memikirkan apa arti D dan P itu dan beranjak dari kasur.


Jam dinding masih menunjukkan pukul 02.00. Aku menghela napas panjang karena aku selalu terbangun jam segini. Aku mengganti baju tidurku dengan pakaian untuk berkuda. Lantai kayu berbunyi saat aku melangkah keluar dari kamar, melewati ruang tamu dan membuka pintu depan.


Angin malam berhembus kencang, menerbangkan rambutku yang tergerai namun anehnya aku tidak merasa dingin.


Elfin, penjaga kandang kuda terbangun ketika aku masuk dan mengambil pelana dari gantungannya.


“Nona Chloe…” dia mengusap matanya dan melihat ke depan pintu yang terbuka lebar, menunjukkan langit masih gelap.


“Anda mau pergi berkuda lagi jam segini, nona?” Elfin bangkit dari tidurnya di atas jerami, hendak membantuku untuk memakaikan pelana di punggung kuda.


Tapi dengan cekatan aku sudah memasang pelananya dengan sempurna. Satu-satunya kuda putih yang ada di kandang itu mendengus saat tanganku mengusap hidungnya. Alfin memberitahuku bahwa nama kuda ini adalah Twinkle.


Elfin menuntun Twinkle keluar dari kandang lalu aku menaikinya saat kami sudah berada di luar.


“Hati-hati nona, langit sangat gelap malam ini.” Elfin mendongak ke atas melihat wajahku yang hanya memberinya senyuman kecil.


Dengan satu sentakan, Twinkle berderap menjauh dari Ivy Cottage, meninggalkan Elfin yang masih berdiri disana.


Aku menghirup udara segar di malam hari itu, memenuhi paru-paru. Derap langkah kaki Twinkle berbunyi di jalan setapak lalu aku memacunya lebih cepat lagi, melewati beberapa pohon yang berdiri tegak di sisi jalan, kemudian masuk ke dalam hutan yang sudah kuhafal rutenya.


Selama seminggu tinggal di Ivy Cottage, aku selalu berkuda di malam hari. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, langit memang lebih gelap malam ini. Cahaya bintang berkelip redup, rembulan pun seakan malu dan menutup sebagian dirinya di balik awan.


Kami melaju dengan cepat melewati hutan, padang rumput yang terbuka lebar dan mendengar lolongan serigala. Anehnya, tidak ada rasa takut dalam diriku ketika berkuda pada malam hari.

__ADS_1


Malahan, diriku terasa hidup jika aku berada di atas Twinkle. Aku merasa lebih hidup di malam hari dibandingkan setelah matahari muncul di atas horizon.


Twinkle sudah tau aku akan mengarahkannya kemana. Rute yang kuambil tidak pernah berubah. Setelah melewati padang rumput yang luas itu, kami berbelok ke jalan terjal di sepanjang sisi tebing.


Di ujung tebing, ada pemandangan indah yang langsung memikat mataku saat pertama kali mengetahui tempat ini secara tidak sengaja. Kami tiba di sana dan aku turun dari punggung Twinkle, mengikatnya pada sebatang pohon yang tak lagi berdaun.


Aku menepuk punggungnya sebagai tanda apresiasi karena telah membangunkan tidurnya untuk menemaniku kesini. Twinkle hanya memberi dengusan sebagai jawaban.


Aku melangkah ke tepi tebing sambil melihat laut yang begitu luas tanpa batas. Aku berpikir, apa yang ada di ujung sana? Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku tidak pernah keluar dari Kerajaan Rudolmuv.


Hidupku disini terasa hampa. Aku ingin berkelana dan memulai hidup yang baru.


Berjam-jam aku hanya duduk menatap lautan luas itu, suara desiran ombak yang menghantam bebatuan jauh di bawah tebing menemani lamunanku.


Hingga akhirnya tiba saat langit mulai berwarna jingga dan kemerahan, aku menunggangi Twinkle untuk kembali ke Ivy Cottage.


***


Sierra, kakak tiriku sudah duduk di bangku teras bermandikan cahaya matahari. Aku melewatinya dan mengembalikan Twinkle ke kandang kuda dulu. Elfin sudah menyediakan makanan kesukaan Twinkle, apel.


Saat aku keluar dari kandang kuda dan melangkah ke arah cottage, Ulrysa keluar dari pintu depan dengan satu piring kue di tangannya.


“Nona Chloe, kamu sudah pulang!” nada sumbangnya menyambutku.


Aku menyapa dengan gerakan tangan karena Ulrysa dapat mengerti bahasa isyarat. Dia gadis berumur 16 tahun dan terlahir sebagai tunarungu. Ulrysa memiliki wajah yang manis dan manik biru yang indah. Kakaknya, Ulrich bekerja di kastil D’Arcy sebagai asisten koki.


“Ini kue yang kamu minta untuk sarapan, nona Sierra.” Ulrysa menyodorkan piring itu di hadapan Sierra.


“Aarrggh! Aku tidak mau makan ini!” Sierra menepis piring itu sehingga terjatuh ke atas rumput pendek di halaman depan rumah.


“Aku bisa gila jika lama-lama tinggal dengan kalian! Yang satu bisu dan yang satu tuli.” Sierra beranjak dari duduknya dan berlari keluar dari pagar putih pendek yang membatasi rumah dengan jalanan.


“M-maaf, nona Chloe. Sepertinya Sierra marah lagi padaku.” Ulrysa memungut piring dan kue yang terbuang sia-sia itu.


{Tidak, ini bukan salahmu. Sierra memang orangnya pemarah, jangan dimasukin ke hati ya Ulrysa… Aku lapar, kamu sudah selesai masak?}


Kesedihan hilang dari wajah Ulrysa dan dia memberiku senyuman, “Ehm! Sudah nona Chloe. Oh iya, hari ini Ulrich akan datang lagi untuk mengantar bahan makanan.”


Beberapa hari yang lalu, Ulrich datang untuk melihat adiknya dan aku sudah berkenalan dengannya. Dia pria yang sopan dan baik, aku merasa nyaman saat berbincang dengan Ulrich.


Ulrysa membuntutiku dari belakang, aku berjalan masuk ke dapur dan wangi makanan memenuhi ruangan. Kelihatannya sangat enak tapi aku tidak terlalu selera. Aku hanya makan untuk menyenangkan hati Ulrysa yang sudah lelah memasak untuk kami.

__ADS_1



Suara kereta barang yang ditarik oleh kuda terdengar sampai ke belakang tapi Ulrysa yang sedang mengaduk sup di atas tungku api tidak dapat mendengarnya. Aku mengetuk bahunya pelan dan menunjuk ke arah pintu.


Senyum Ulrysa langsung merekah dan dia berlari ke depan rumah untuk menyambut kakaknya. Samar-samar terdengar percakapan mereka dari depan. Aku menyiapkan satu set piring lagi ketika mereka masuk ke dapur.


“Selamat pagi, nona Chloe. Saya datang untuk mengantar bahan makanan yang kalian perlukan.” Ulrich menyapa, tangannya membawa sekantong sayur dan buah.


{Pagi, Ulrich. Kamu mau ikut kita sarapan? Kebetulan sekali adikmu sudah selesai masak.}


Karena adiknya tidak dapat mendengar, Ulrich juga belajar bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi dengan Ulrysa.


{Terima kasih nona Chloe. Tapi saya harus segera pulang ke Kastil D’Arcy. Masih banyak pekerjaan yang menunggu saya.}


Ulrysa melirik kakaknya lalu melirikku sambil senyum-senyum. Aku tau apa yang dipikirkannya karena Ulrysa pernah bilang kalau dia suka melihat kami bersama.


“Ah, aku harus mengaduk sup dulu. Kak Ulrich, sering-sering main kesini ya kalau senggang. Nona Chloe tolong antar kakak saya ke depan ya…”


Aku tidak melewatkan kerlingan mata Ulrysa ke kakaknya dan wajah Ulrich memerah karena malu. Kami jalan berdampingan sampai ke depan pagar saat dia menoleh untuk melihatku.


Ulrich memiliki badan yang tinggi dan tegap, dia juga tampan. Lalu mataku turun dari wajahnya melihat ke kerongkongannya yang bergerak ketika dia menelan ludah.


*“*Ehmm… Nona Chloe, hari sabtu nanti ada perayaan thanksgiving yang diadakan di balai desa. Apa nona tertarik untuk pergi? Aku bisa menjemput anda kalau anda tidak keberatan.”


Mataku tidak bisa lepas dari lehernya, sebutir keringat jatuh melintasi leher kokohnya ke balik baju menambah ketertarikan ini. Tiba-tiba aku merasa haus.


Wangi darahnya seakan memanggilku.


Aku mengernyitkan dahi dengan bingung.


Darah? Aku bisa mencium aroma darah!


...----------------...


Guys, author mau info kalau di cerita ini vampir yang diubah karena gigitan tidak akan mempunyai kekuatan spesial seperti yang biasa kalian baca di novel lainnya (kekuatan bisa membaca pikiran, mengendalikan elemen, punya kekuatan shield untuk melindungi diri, dsb)


Seperti yang sudah dijelaskan di awal pengenalan tokoh. Vampir juga harus mengasah kemampuan bertarungnya untuk bertahan hidup melawan vampir yang lain. Kalau mereka lemah, mereka akan dengan mudah disikat oleh vampir yang sudah hidup lebih lama & lebih kuat.


Kekuatan umum vampir (semua vampir bisa melakukan) : memanipulasi dan menghapus ingatan manusia.


Terkecuali untuk vampir yang lahir dari rahim manusia, mereka akan punya gift.

__ADS_1


Gift yang seperti apa?


Tunggu bab-bab selanjutnya \~


__ADS_2