
Ini adalah tahun sial bagi Kerajaan Azov. Banyak peristiwa yang terjadi, mulai dari peperangan di Pantai Sardinia, meninggalnya Raja Azov XVIII, lalu kematian Pangeran Dixon yang sebentar lagi akan dinobatkan.
Siapa yang akan menjadi raja sekarang? Kalau mengangkat putra Permaisuri Juliana yang masih berumur 9 tahun, maka dia hanya akan menyandang status raja. Sedangkan yang memimpin adalah Permaisuri.
“Omong kosong! Masa kita dipimpin oleh seorang wanita?”
“Aku tidak setuju, tapi siapa lagi yang bisa diangkat menjadi raja? Kita semua tau Azov tidak mempunyai adik.”
“Sungguh sial. Siapa yang menyangka dia akan mati di umur yang begitu muda.”
Dengungan demi dengungan terdengar di seluruh Istana Azov ketika Dewa Kematian melangkahkan kakinya menuju parlor permaisuri Juliana.
Seorang pengawal memberi hormat dan membuka pintu untuknya. “Dewa Kematian telah datang, Permaisuri.”
Chloe sedikit terkejut saat melihat Edric juga berada di ruangan itu. Edric berdiri di belakang sofa dengan kedua tangan berada di punggungnya, sedikit menunduk untuk berbicara dengan Permaisuri Juliana yang duduk di sofa.
Mereka menyadari kehadiran Chloe. Edric berdehem dan menegakkan badannya, sedangkan Permaisuri Juliana meletakkan cangkir tehnya dengan jari-jari elegan dan berdiri untuk menghadap Chloe.
Chloe berlutut di lantai. “Selamat siang, Permaisuri Juliana, Tuan Suarez.”
“Selamat siang, Dewa Kematian, atau aku harus memanggilmu Chloe saja sekarang.”
Chloe mengangkat kepalanya. Wajahnya tertutup helmet jadi mereka tidak dapat melihat bahwa dia terkejut.
“Permaisuri?” Dia bertanya bingung.
“Aku sudah tau siapa kamu yang sebenarnya. Berdiri lah dan kamu tidak perlu berlutut lagi kalau tidak di depan umum.”
Chloe berdiri dan melepas helmetnya. “Edric yang memberitahumu?” dia bertanya sambil menatap Edric bingung.
Kenapa papa mengungkapkan identitas asliku pada Permaisuri Juliana? Mereka juga kelihatannya sangat akrab. Aku tidak tau kalau papa dan Permaisuri Juliana ternyata sedekat ini.
“Chloe, mulai sekarang kamu tidak perlu menyamar lagi. Saat penobatan Pangeran Greyson, dia juga akan mengumumkan jati dirimu yang sebenarnya.”
“Soal itu… Sebenarnya aku berencana untuk mengundurkan diri. Tapi tiba-tiba kejadian seperti ini menimpa. Maaf, Permaisuri Juliana. Sepertinya anda harus mencari pengganti komandan perang yang baru.”
Permaisuri Juliana terlihat kecewa. “Padahal kamu sangat handal bertarung. Kalau begitu aku akan kehilangan satu orang yang bisa kupercaya di sisiku.”
Lalu dia menatap Edric. “Bagaimana ini, Edric?”
Permaisuri juga memanggil papa dengan nama depannya?
__ADS_1
“Chloe, kamu benar-benar yakin mau melepas semua pencapaianmu sebagai komandan perang? Papa tau kamu punya Dwayne sekarang, tapi itu tidak menjadi penghalang untuk mengejar mimpimu.”
Karena sepertinya tidak ada lagi rahasia di hadapan Permaisuri Juliana, maka Chloe berani berkata, “Papa. Aku menjadi komandan perang karena ingin menyenangkanmu. Sebenarnya aku tidak berambisi untuk menjadi orang yang mengatur puluhan ribu prajurit di bawahnya. Aku sudah memutuskan untuk memilih keluarga kecilku.”
Edric mengangguk mengerti. “Baiklah. Papa juga lihat kamu sudah bisa move on dari masa lalu dan memaafkan Dimitri.”
Chloe merasa tidak nyaman membicarakan hal ini di depan orang asing, jadi dia mengalihkan pembicaraan. “Apakah ada orang di benak Permasuri yang mungkin cocok untuk menjadi komandan perang menggantikanku?”
Permaisuri Juliana tampak berpikir sebentar. “Aku punya sepupu bernama Cedric yang sudah berlatih ketat selama bertahun-tahun untuk diangkat menjadi komandan perang. Namun, Raja Azov tidak menyukainya.”
“Tenang saja, Juliana. Kamu bebas memilih komandan perang yang baru. Aku bisa melihat potensi dalam diri pria muda itu,” ucap Edric dengan nada menenangkan.
Permaisuri Juliana masih ragu. “Aku harap kamu bisa membimbingnya menjadi sepertimu, Chloe.”
Chloe teringat dengan suami dan anaknya di rumah. Mereka memang tinggal bersama, namun itu adalah rumah Edric. Membimbing seorang murid berarti Chloe harus terikat dengan Kerajaan Azov.
“Maaf, permaisuri. Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama tinggal di sini karena aku harus ikut pulang ke kerajaan suamiku. Tapi ada Argo yang pasti dengan sabar akan menuntun Cedric menjadi lebih hebat. Aku ada sekarang karena jasanya.”
Permaisuri Juliana tersenyum. “Baiklah, terima kasih, Chloe. Aku mendoakan kebahagiaanmu.”
Setelah berbincang sebentar, Chloe berpamitan dengannya. Dia pikir papanya akan ikut keluar, tapi Edric malah bergeming.
“Oh, baik. Aku akan mengantarmu keluar kastil.”
Edric dan Permaisuri Juliana saling melempar senyum. Chloe semakin merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.
Saat mereka keluar, Chloe baru berani bertanya.
“Papa, kenapa kamu mengatakan pada permaisuri siapa Dewa Kematian yang sebenarnya?”
“Permaisuri Juliana tidak seperti suaminya. Kalau Raja Azov malu memiliki seorang Komandan perang wanita, justru Juliana sebaliknya. Dia merasa bangga seorang wanita bisa menduduki peran penting sepertimu.”
“Banyak yang menentang Pangeran Greyson diangkat menjadi raja. Dia baru berusia berapa? 8 atau 9 tahun. Tentu saja banyak yang curiga kalau kerajaan ini akan dikendalikan oleh permaisuri.”
“Ya, 9 tahun. Setelah dia berumur 17 tahun, Permaisuri Juliana akan mundur dari tugasnya. Dia sudah siap untuk membimbing anaknya menjadi raja yang bijaksana, Chloe.”
“Sepertinya papa sangat percaya padanya,” sindir Chloe.
“Pengamatanku tidak salah, sayang. Lihat saja kamu. Papa yakin kamu akan menjadi komandan perang yang hebat, dan dibuktikan dengan semua pencapaianmu dalam medan perang.”
Mereka sudah berjalan keluar dari kastil. Edric berhenti. “Mengenai keputusanmu untuk pergi ke Kerajaan Rudolmuv, papa tidak menentang. Selama kamu bahagia, papa pasti mendukung. Masih ada yang harus kubicarakan dengan Juliana. Kamu pulang duluan ya.”
__ADS_1
“Baiklah, papa jangan kemalaman pulang. Dwayne sudah berhari-hari tidak melihat batang hidung kakeknya.”
Edric tertawa. “Bilang pada Dwayne, kakeknya ini akan usahakan untuk cepat pulang sebelum dia tertidur.”
*
*
*
Chloe sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan bersantai dengan keluarga kecilnya. Beberapa jam di luar terasa seperti melewati beberapa hari tanpa mereka di sisinya. Ini semakin membuatnya yakin untuk ikut pulang ke rumah Dimitri. Ah, rumahnya juga sekarang.
Di persimpangan menuju kediaman Edric, seseorang yang dia kenal sudah tersenyum melihatnya. Dia melambaikan tangannya dari kejauhan. Chloe mengambil waktunya dan tidak tergesa-gesa.
Dia menghentikan kudanya tepat beberapa langkah di depan pria itu.
“Alaric.”
“Hai, Chloe. Masih saja dingin dan cuek seperti biasa. Aku dengar kamu sudah menikah dengan Dimitri? Selamat ya, walaupun kamu tidak mengundangku.”
“Hanya pesta yang dirayakan kecil-kecilan. Ada keperluan apa ke sini? Bukankah tugasmu sudah selesai?”
Chloe menjalankan Stormy dengan pelan, Alaric mengikutinya.
“Ada tugas baru untukku makanya aku datang.” Dia berkata dengan nada riang.
“Alaric yang patuh. Apa tugas barumu itu?” tanya Chloe sinis.
“Magnus sudah mengetahui tentang dirimu dan juga anak kecil yang ada di kediaman Edric sekarang.”
Chloe menghentikan kudanya, menunggu apa yang akan dikatakan Alaric selanjutnya.
“Ya, dia sudah tau kalau kamu pernah melahirkan seorang putra bernama Dwayne.”
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...
__ADS_1