Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Melanjutkan Hidup tanpa Belahan Jiwa


__ADS_3

[Third POV]


Dimitri sudah tidak dapat menghitung berapa kali dia mengunjungi Ivy Cottage selama seminggu terakhir. Saat malam hari, dia selalu duduk di atas kudanya melihat ke arah rumah yang telah dia sediakan sebagai tempat tinggal Chloe dan kakak tirinya.


Membayangkan bagaimana hidup Chloe di sana dan dia pasti sedang tidur lelap di kamarnya.


‘Chloe, kamu tidak perlu bekerja lagi seumur hidupmu. Aku akan menjamin kamu hidup dengan nyaman dan semua kebutuhanmu terpenuhi.’


Dimitri sengaja mencari Sierra kembali di kota dan mendapati bahwa kakak Chloe bekerja di salah satu kedai bir sambil menjual tubuhnya juga. Sejak kejadian dengan Lazarus, hidup Sierra hancur. Dia tidak menolak untuk tinggal dengan Chloe karena Dimitri menjanjikan bayaran yang banyak.


Sebenarnya Dimitri juga tidak mau Chloe tinggal satu atap dengan kakak tiri yang hendak mencelakakan adiknya sendiri tapi dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Hubungan kakak adik itu baik-baik saja sebelum kejadian di kediaman Tuan Myres.


Sihir Eden hanya bisa dipakai sekali pada orang yang sama. Itulah alasannya mengapa Dimitri tidak pernah berkunjung untuk melihat Chloe, walaupun terkadang tanpa dia sadari, kakinya membawa dirinya sendiri berjalan ke depan pagar. Lalu dia tersentak dan berbalik.


Tidak biasanya Dimitri mengunjungi Ivy Cottage pada pagi hari. Dia terkejut sendiri saat dia berhenti dan melihat dari kejauhan, Chloe dan Ulrich sedang berbincang di halaman depan rumahnya.


Pria itu sedang tersipu malu dan tersenyum melihat wanita di depannya. Dimitri sampai mencengkeram erat tali kekang Onyx untuk menahan dirinya tidak berjalan ke arah mereka dan menghabisi Ulrich dengan tangannya sendiri.


Cemburu. Dimitri dibakar api cemburu karena seharusnya hanya dia pria yang boleh berada di sisi Chloe. Saat wanita itu menoleh untuk melihatnya, Dimitri langsung membalikkan Onyx dan bergegas pergi dari sana sebelum dia kehilangan akal sehatnya.


Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak datang ke Ivy Cottage lagi. Sesusah apapun itu, Dimitri tidak boleh melihat Chloe lagi.


***


“Ohhh, anak kesayangan onty uda minum susu ya? Sini onty gendong…”


Adreana mengambil bayi yang tertidur lelap dari tangan seorang wanita setelah dia kenyang minum susu. Wanita yang bekerja sebagai ibu susu Dwayne pun pamit dari kamar.


“Adre, biarkan Dwayne tidur dulu…” suara bariton Draven terdengar dari ujung ruangan, dia hanya berdiri di situ dengan bahu bersandar di dinding.


Adreana mengelus pipi tembemnya, “Kerjanya hanya minum susu dan tidur, Draven! Aku kan pengen main sama dia…” sahutnya.

__ADS_1


Pria itu menggelengkan kepalanya melihat Adreana yang tidak bisa lepas dari si bayi dan berjalan ke sisi wanita itu.


“Iya dong, dia kan baru berusia seminggu lebih… Nanti kamu akan punya waktu berabad-abad lamanya bermain dengan Dwayne.”


Mata Adreana tidak bisa lepas dari bayi kecil di pelukannya, membuat Draven sedikit cemburu karena perhatian Adreana hanya untuk Dwayne.


“Aku juga bisa memberimu seorang bayi kalau kamu mau, Adre…” ucap Draven jahil.


Adreana tersentak dan akhirnya matanya beralih untuk melihat pria menyebalkan itu.


Senyum menawan tersungging disana, “Mumpung Dwayne lagi tidur, kita bisa melakukannya sekarang juga. Gimana?”


Kalau saja Adreana tidak sedang memeluk seorang bayi di tangannya, wajah Draven pasti sudah babak belur oleh pukulan Adreana.


“Ngarep! Dwayne sudah cukup untukku… Aku tidak mau bayi lainnya.”


Draven tertawa melihat wanita itu tersipu malu. Dwayne memang bayi yang spesial. Jika bukan karena kekuatannya yang bisa memikat hati para vampir, Adreana pasti sudah mencabik bayi ini ketika dia masih berada dalam kandungan.


Contohnya seperti Adreana. Dia berubah karena digigit saat berumur 17 tahun oleh seorang vampir 310 tahun yang lalu. Vampir yang menggigit Adreana bertanggung jawab dengan menjadikan Adreana sebagai putrinya.


Tugas terpenting adalah untuk mengontrol na*fsu vampir baru akan darah. Vampir tidak boleh membunuh manusia dengan meminum darahnya sampai habis. Jika aturan ini dilarang, bersiaplah karena Klan Children of the Night akan turun tangan.



- Baby Dwayne dan topi rajut Onty Adreana


Draven mengangkat dagu wanita itu, “Aku merasa tersingkirkan, Adre… Kamu tega sekali. Mungkin malam ini aku akan pergi mencari wanita lain saja… Dwayne seorang sudah cukup untukmu kan? Kamu bisa menggendongnya sampai kamu puas.”


Adreana menahan tawa melihat wajah cemberut Draven, “Kan aku bilang bayi, Draven. Emangnya kamu bayi?”


Mata Draven mengkilap saat dia mengerti apa yang dimaksud Adreana, dia hampir menundukkan kepalanya untuk mencium bibir wanita itu ketika ujung matanya melihat sosok Dimitri berdiri di balik pintu.

__ADS_1


Dia tidak masuk ke kamar, hanya melihat dari celah pintu ke arah mereka, ke bayi yang ada di tangan Adreana, lalu dia pergi tanpa mengucapkan sesuatu.


“Siapa, Draven?” tanya Adreana bingung ketika Draven tidak jadi menciumnya.


“Dimitri. Sejak dia mengusir Chloe, dia seperti vampir yang hilang arah. Bahkan dia tidak pernah masuk ke kamar ini lagi dan menggendong Dwayne. Apa kamu memperhatikannya juga?”


Adreana tampak berpikir, “Betul juga… Untung saja ada kita berdua disini untuk menjaga Dwayne.”


Adreana menyaksikan semuanya terjadi di kamar ini. Setelah ingatan Chloe dihapus, dia terjatuh tidak sadarkan diri di tangan Dimitri. Dimitri melepas kain yang menutup mata Chloe, memandangi wajahnya begitu lama lalu mencium bibirnya lembut untuk terakhir kalinya.


Di saat itu juga Adreana tau kalau Dimitri benar-benar mencintai wanita miskin itu. Walaupun Adreana tak mengerti mengapa Dimitri bisa jatuh cinta pada seorang manusia, tapi dengan melihat wajah Dimitri begitu kesakitan memeluk wanita di tangannya, Adreana jadi belajar.


Dia juga ingin dicintai seperti Dimitri mencintai Chloe.


Setelah keadaan membaik, Adreana akan pulang dan memohon pada ayahnya untuk membatalkan pertunangan mereka. Adreana tidak mau terikat dengan seseorang yang tidak mencintainya.


Lalu dia menatap pria di sebelahnya. Adreana pernah menolak cintanya karena dia pikir bisa mendapat yang lebih baik dari Draven. Oh, Draven memang menyebalkan. Dia bahkan merenggut kehormatan Adreana yang dia jaga selama ini.


Tapi setiap malam, Adreana pasti merindukan pelukan dan bisikan jahil Draven. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran nakal yang terlintas di benaknya.


“Bagaimana kalau ini terus berlanjut?” ucap Adreana khawatir akan masa depan anak ini bila Dimitri tidak mengacuhkannya.


“Aku akan cari waktu untuk bicara dengan Dimitri. Untuk saat ini, Dwayne punya onty dan uncle yang menyayanginya… Ya kan Dwayne?”


Bayi itu cuma mengecap bibirnya dengan mata tertutup, lalu tidur kembali di pelukan Adreana.


...----------------...


...Ayuk temenan sama author di IG...


...Instagram: @misscapri._...

__ADS_1


__ADS_2