Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

...[Tenda Komandan Perang Azov]...


Dua orang prajurit masuk dengan masing-masing membawa dua ember air panas dan menuangkannya di bak mandi kayu berbentuk lingkaran. Mereka pergi setelah menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada jenderal mereka.


Chloe akhirnya bisa melepas baju zirahnya saat langit sudah gelap dan para prajurit sudah bersantai. Layla, pelayan Edric selalu setia ikut kemana pun nonanya pergi untuk membantu segala keperluannya.


Layla menuangkan minyak aroma bunga mawar yang disukai nonanya, lalu membantu Chloe melepas sepatu dan baju zirahnya.


“Nona Eliza, perwira itu sangat menyebalkan. Dia berani meragukan kekuatanmu dan akhirnya dipermalukan saat kalah bertarung melawanmu, nona.” Layla tertawa mengingat kejadian tadi siang.


“Terus dia berani untuk menyerang nona dari belakang? Pffft… Aku rasa dia ngompol di celana saat Jenderal Dimitri menebas pedangnya hingga terbelah jadi dua.”


Chloe teringat kembali dengan tatapan Dimitri D’Arcy. Dia sepertinya sangat penasaran dan ingin berbicara dengan Chloe hingga mengikutinya sampai ke tendanya.


Layla sudah selesai melepas baju zirah yang berat itu dan meletakkannya di lantai. Chloe membuka balutan kain yang melingkari bagian dadanya dan menghela napas lega saat kain itu terbuka.


Setiap saat dia memakai baju zirah, dia harus membalut bagian dadanya agar tidak kelihatan menonjol. Dia harus menutup rapat identitas dirinya sebagai seorang wanita.


Jenderal wanita di zaman ini dimana semua pria yang membuat dan mengeksekusi keputusan? Hampir tidak pernah terdengar.


Chloe mengusap kedua dadanya yang nyeri dan memasukkan kakinya ke dalam air panas yang begitu cepat hangat karena dinginnya udara malam. Minyak aroma bunga mawar kesukaannya telah menyeruak ke seluruh isi tenda, menenangkan pikiran Chloe.


Dia membenamkan tubuhnya hingga leher dan memejamkan matanya. Menikmati hangatnya air bersih yang membersihkan tubuhnya dari keringat dan debu.


Layla segera mengambil sabun batangan buatan pelayan di kastil kediaman Tuan Edric. Sabun batang tidak berwarna itu terbuat dari campuran madu, tar pinus dan kelopak bunga mawar.


Karena Layla tau nona Eliza lebih suka untuk mandi sendiri, dia memberikan sabun itu kepada Chloe. Layla membuka kunciran kepang yang dicepol dan membantunya mencuci rambut panjangnya.


Chloe mende*sah saat tangan Layla memijat kepalanya. Setelah Layla selesai mencuci rambutnya dengan air bersih, Chloe menyuruhnya keluar duluan.


“Layla, kamu sudah bisa istirahat sekarang. Aku ingin berendam sebentar lagi.”


“Baik, Nona Eliza. Disini handuk dan pakaian anda. Saya permisi, nona.”


Chloe memejamkan matanya kembali, menyandarkan punggungnya pada bak mandi itu lalu dia tersadar bahwa buku bacaan yang dia bawa belum diselesaikan. Hanya sisa dua halaman terakhir.


Lalu karena dia sudah ingin menghabiskan bacaannya, Chloe berdiri dari bak mandi. Tubuhnya sudah harum dan bersih berkat sabun mandi buatan pelayan Edric.

__ADS_1


Chloe memeras rambut panjangnya yang menyentuh pinggang dari sisa air lalu dia merasakan ada energi lain yang berada di tenda itu.


Dari pantulan teko perak yang ada di atas meja, seseorang telah berdiri di pintu masuk tenda. Chloe tidak berani menggerakkan badannya dan berdiri dengan sangat kaku. Kakinya masih terbenam dalam bak mandi.


Mata pria itu memperhatikan setiap lekuk tubuh bagian belakang Chloe.


Dasar baj*ingan! Kenapa dia bisa lolos masuk ke tendaku? Ah, dia pasti memakai kekuatan vampirnya! Tapi ada urusan apa dia berani sekali masuk tanpa seizinku?


“Maaf, aku tidak tau kalau komandan perang Azov membawa seorang wanita untuk menemaninya.”


Saat pria yang memakai mantel hitam panjang itu membalikkan badannya, Chloe terpaksa menggunakan kekuatan teleportasinya.


Papa Edric, aku tidak melanggar aturanmu. Aku menggunakan kekuatanku di depan seorang vampir juga! Dia bukan manusia. Aku harus melakukannya kalau tidak, identitasku akan ketahuan!


Chloe dapat teleportasi ke tempat yang pernah dia lihat dan dalam jarak yang masih dekat. Kekuatannya masih sebatas itu. Namun Edric bilang bahwa kekuatannya mungkin masih bisa berkembang lagi, mengingat umur Chloe yang baru menginjak dua tahun sebagai vampir.


Karena dia memikirkan satu-satunya tempat menghilang untuk sementara, Chloe teleportasi ke dalam hutan.


Seorang prajurit dari Kerajaan Rudolmuv sedang buang air kecil di batang pohon ketika entah dari mana muncul seorang wanita cantik tanpa satu helai pun pakaian pada tubuhnya.


Mata pria itu melebar dan dia hampir mati di tempat!


Huh, menyusahkan saja. Tepat sekali ada seorang manusia di hadapanku padahal hutan ini sangat luas.


SNAP!


Satu jentikan jari Chloe untuk menghilangkan ingatan prajurit itu, lalu dia teleportasi kembali ke tendanya.


Untung saja pria mesu*m itu sudah pergi. Dia pikir aku membawa wanita untuk menemaniku?


Chloe tertawa dalam hati. Namun dia sedikit jengkel karena belum pernah ada pria yang melihatnya tanpa pakaian.


Dimitri D’Arcy! Aku akan membuatmu menyesal telah berani melihat tubuhku yang s*uci dan tak pernah tern*odai!!


Badannya sudah setengah kering karena dinginnya angin malam, dia memakai baju tidur putihnya dan mengambil buku yang ada di atas meja. Dia melihat satu selendang dari balik kotak koper dan menariknya keluar.


Chloe menutupi kepala dan mulutnya dengan selendang itu hingga hanya matanya yang kelihatan. Berjaga-jaga kalau tamu tak diundang tadi masuk kembali.

__ADS_1


Dia bisa berpura-pura sebagai wanita simpanan Dewa Kematian.


Setelah puas dengan penampilannya, Chloe merebahkan tubuhnya di atas kasur dan melanjutkan bacaannya.


Sepanjang malam, bukan kata-kata yang ada di depan matanya yang masuk ke pikirannya, namun wajah Dimitri D’Arcy.


****


Keesokan paginya kabar bahwa duel persahabatan antara Sang Penghancur dan Dewa Kematian akan terjadi. Semua prajurit sudah tidak sabar untuk menyaksikan duel yang jarang dapat mereka lihat.


Raja Rudolmuv dan perwiranya, Geoffrey, sudah bergerak kembali ke istananya sedangkan Raja Azov masih menetap disana, tidak mau melewatkan pertarungan seru itu.


Dimitri dan Chloe sudah berdiri di dataran rumput luas, angin berhembus kencang pagi itu namun mereka berdiri tak gentar saat mata mereka saling menatap satu sama lain.


Raja Azov dapat menyaksikan siaran langsung, dia memilih tempat yang paling nyaman untuk menggelar tenda paviliunnya. Kursi nyaman sudah disediakan untuk sang raja duduk, buah-buahan dan anggur merah tersaji di atas meja.



Edric sudah berdiri di tengah dua orang yang akan bertarung itu.


“Di pagi yang cerah ini akan digelar duel persahabatan antara dua kerajaan. Untuk memeriahkan duel, Raja Azov bersedia untuk memberi hadiah bagi pemenangnya berupa satu peti emas!”


Para prajurit yang berkumpul sudah membentuk lingkaran dan mereka bersorak, tidak sabar untuk memulai pertarungan. Tidak ada yang menyangka karena ancaman dari Navarre, dua kerajaan yang selama ini saling bertemu dan bertarung di medan perang bisa berdiri berdampingan untuk menyaksikan duel persahabatan.


Walaupun sangat banyak orang berada di sekeliling mereka dan Edric berdiri di tengah, Chloe dan Dimitri seakan hanyut dalam dunia mereka sendiri.


“Peraturannya adalah siapa yang duluan keluar dari garis arena berarti dia gugur. Kedua, tidak boleh membunuh lawan. Ini bukan pertarungan hidup dan mati karena bisa gawat kalau sampai salah satu di antara kalian tewas.”


Semuanya tertawa lalu mereka secara serentak menepukkan tangan 3 kali dibarengi dengan sentakan kaki. Terdengar suara genderang perang ditabuhkan.


Tanda duel persahabatan telah dimulai.


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...

__ADS_1


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...


__ADS_2