
Name: Chloe Elizabeth Suarez
Nickname: Goddess of Death
Race: Vampire
Strength: Teleportation
Skill: Archery, Swords
Nama: Chloe Elizabeth Suarez
Nama Panggilan: Dewi Kematian
Kekuatan: Teleportasi
Keahlian: Memanah, pedang
...[Chloe’s POV]...
Semuanya terjadi begitu cepat. Satu tanganku berada dalam cengkeramannya dan satu lagi menarik belati kecil yang kuselipkan di bagian pinggang baju zirahku.
Saat pedangnya membuat helmetku jatuh, aku sangat murka dan langsung membenamkan belati itu ke perutnya. Lalu aku tersentak saat melihat wajah Dimitri D’Arcy berubah, namun bukan karena sakitnya tusukan belati itu.
“Chloe…”
Dia menyebut namaku dengan suara yang tidak bisa aku deskripsikan. Begitu lembut, namun ada kesedihan di baliknya. Aku mengerutkan dahiku.
“B-bagaimana kamu bisa tau namaku?”
Aku baru saja bertemu dengannya semalam. Jadi kenapa dia bisa tau namaku saat melihatku?
“Chloe, kamu benar-benar Chloe ku?”
Tatapan matanya yang lekat semakin membuatku ingin lari. Lari sejauh-jauhnya dari pria ini. Hanya itu insting pertama yang muncul. Aku mengambil satu langkah mundur dari pria bertubuh tinggi atletis ini, namun kedua tangannya yang besar memegang wajahku.
“Tuhan benar-benar menjawab doaku.”
Mata Dimitri D’Arcy berkaca-kaca. Apa aku tidak salah lihat? Dia menangis? Seorang vampir berusia 1 milenium lebih menangis karena melihat wajah wanita yang baru saja dia temui?
“Jangan pergi, Chloe. Jangan pernah pergi lagi.”
Aku mulai risih karena tidak mengerti apa yang dia maksud. Kerumunan itu mulai heboh karena mereka sudah melihat siapa sebenarnya yang ada di balik baju zirah.
Seorang wanita!
“Aku tidak percaya! Kita sudah dibohongi selama ini. Komandan perang kita seorang perempuan!”
“Tidak mungkin… Orang yang sudah memimpin dan melatih kita selama ini adalah dia??”
“Kalau begitu dia bukan Dewa Kematian! Melainkan Dewi Kematian!”
Dan banyak lagi lainnya yang dapat kudengar. Aku tidak terlalu peduli dengan pendapat mereka karena aku dapat menghapus ingatan manusia.
__ADS_1
Namun aku tidak dapat menghapus ingatan seorang vampir! Dimitri D’Arcy telah melihatku!
“Lepaskan aku sekarang juga.” Aku memberinya tatapan sinis dan menepis kedua tangannya.
“Chloe…”
Aku mendesis dan menunjuknya dengan jari telunjukku, “Jangan sebut namaku!”
Papa Edric mengangkat helmet yang jatuh itu dan menyodorkannya padaku, aku mengambil helmet itu dari tangannya dan memakainya kembali.
Aku menjentikkan jariku untuk menghapus ingatan para prajurit dan tentunya Raja Azov, yang sudah berdiri di tengah tenda paviliunnya nampak begitu marah.
Masih dengan wajah bingung, Dimitri bertanya, “Edric, apa yang terjadi?”
Aku menyela, “Yang terjadi adalah, kamu kalah! Edric, umumkan kemenanganku.”
Edric mencoba untuk tersenyum lalu dia mengangkat tanganku dan mengumumkan pada semuanya bahwa duel persahabatan ini dimenangkan oleh komandan perang Raja Azov.
“Bravo! Bravo!” Raja Azov tersenyum puas sembari bertepuk tangan lalu kembali duduk dan menyesap anggur merahnya.
Semuanya bersorak dan bertepuk tangan. Prajurit dari Kerajaan Rudolmuv tampak kecewa dengan hasil akhirnya, lalu perlahan para prajurit pun bubar untuk melanjutkan aktivitas mereka.
“Peti berisi emas akan diantarkan untukmu setelah kita kembali, Dewa Kematian.” Edric mengingatkan kembali bahwa aku berhak atas hadiah yang telah dijanjikan Raja Azov bagi pemenang duel persahabatan ini.
Aku hanya memberi papaku sebuah anggukan lalu hendak pergi ketika Dimitri mencegahku.
“Tunggu…”
“Kenapa? Kamu masih belum terima kenyataan kalau kamu sudah kalah, Dimitri D’Arcy?”
Aku melihat papa Edric, namun dia juga kesulitan untuk memberi jawaban. Aku kembali menatap pria itu sangat lama.
Apa mungkin aku mengenalnya sebelum aku berubah menjadi vampir?
“Dimitri, jangan disini. Ikut aku, kita akan bicara di tempat lain.”
Sang Penghancur masih ragu untuk mengikuti Edric, dia melirik Thunder yang dia buat jatuh ke tanah dan memungutnya.
“Setelah aku bicara dengan Edric, aku akan menemuimu. Ada banyak hal yang harus kubicarakan mengenai perang dengan Navarre.”
Aku mengangguk karena sadar aku tidak bisa terus menghindari Dimitri. Bagaimanapun juga kita harus bekerja sama untuk mencari cara memenangkan perang melawan bala tentara vampir.
Saat aku mengambil Thunder dari Dimitri, tangan kami bersentuhan. Sekali lagi aku tersentak karena seperti ada aliran listrik yang membuatku tersetrum.
Sialan juga pria ini! Kenapa dia bisa membuatku merasakan yang tidak seharusnya kurasakan?
Dia memberiku tatapan hangat sebelum pergi dengan Edric. Hmm… Mungkin wanita yang dikenal Dimitri D’Arcy memiliki wajah yang mirip denganku.
***
[Third POV]
Dimitri mengikuti Edric berjalan jauh dari pendengaran yang lain, masuk ke dalam hutan. Sinar matahari menyengat begitu terik bahkan daun pepohonan yang lebat tidak dapat menghalangi sinarnya.
“Well, aku menunggu penjelasanmu.” Dimitri berkata ketika Edric hanya berdiri membelakanginya dan membisu.
__ADS_1
“Identitas Dewa Kematian yang sebenarnya adalah Chloe Isabel atau bukan?”
Jika jantung Dimitri dapat berdegup, dia pasti sudah dapat mendengarnya memompa begitu cepat. Dia berharap wanita yang bertarung dengannya tadi adalah Chloe Isabel, ibu dari anaknya. Namun hati kecil Dimitri berkata bahwa itu tidak mungkin ini terjadi.
Chloe Isabel telah meninggal. Dia hanya manusia biasa. Sedangkan wanita tadi adalah seorang vampir dan dia memiliki wajah yang mirip dengan Chloe.
Mungkin ini adalah wujud penderitaan lain yang diberikan oleh Tuhan sebagai hukuman kepada dirinya yang sudah menyiksa Chloe. Ya, Dimitri sadar bahwa dua setengah tahun adalah waktu yang terlalu singkat. Dia pantas hidup abadi dalam penderitaan.
“Bukan. Dewa Kematian bukan Chloe Isabel.”
Dimitri merasa dunianya runtuh untuk kesekian kalinya ketika pernyataan Edric melenyapkan seluruh harapannya. Dia ingin menjerit keras, namun dia tahan dan itu malah lebih menyakitkan lagi.
Edric membalikkan badannya untuk menatap Dimitri. Di bawah sinar matahari, Dimitri baru sadar bahwa manik mata coklat Edric sama seperti Chloe.
“Chloe Isabel telah meninggal dan terlahir kembali. Namanya sekarang adalah Chloe Elizabeth Suarez.”
Dimitri berkata dengan suara yang menahan amarah, “Apa maksudmu, Edric? Katakan dengan jelas. Chloe Elizabeth Suarez itu Chloe yang kubawa menghadap raja atau bukan?!”
Entah dari mana, sebuah kepalan tangan mendarat di muka Dimitri. Begitu keras hingga dia hampir terjatuh.
Edric tersenyum puas. Dia sudah lama ingin menjotos muka pria yang telah melukai hati anaknya. Selama ini dia menahan diri untuk tidak membunuhnya demi dapat melihat Dwayne.
“Sakit? Itu tidak seberapa dibanding penderitaan yang kamu berikan pada Chloe! Seharusnya aku membunuhmu di sini dan sekarang juga!”
Dimitri mengelap bibirnya, matanya berapi-api. “Edric!! Ternyata selama ini kamu yang telah menculik Chloe dariku dan menyembunyikannya di Kerajaan Azov? Apa motifmu di balik ini semua? Selama dua tahun terakhir kamu selalu mengunjungi Dwayne tapi tidak pernah berpikir untuk memberitahuku!”
Dimitri menarik pedangnya dan hendak menebas kepala Edric, hanya tersisa satu inci dari lehernya. Namun Edric bergeming.
“Apa kamu tidak ingin tau apa yang terjadi pada Chloe?” ucapnya tenang.
Dimitri menggeretakkan rahangnya. “Jelaskan!”
“Chloe sendiri yang memilih untuk datang kepadaku. Bagaimanapun juga, dia adalah anak kandungku. Anak yang lahir dari rahim wanita yang ditakdirkan untukku.”
Tidak ada awan hitam namun petir menggelegar di telinga Dimitri.
“Wanita yang ditakdirkan untukmu…”
“Ya, sama seperti Chloe ditakdirkan untukmu. Sofia adalah manusia biasa yang melahirkan Chloe ke dunia.”
Dimitri menancapkan pedangnya ke dalam tanah, berpegangan begitu erat karena tubuhnya tiba-tiba lemas. Chloe adalah campuran vampir dan manusia, membuatnya dapat berubah menjadi vampir di usia 18 tahun. Dia bukan manusia biasa. Dia sama seperti anak mereka, Dwayne.
“Tidak mungkin…”
Hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. Semua hal jahat yang terpaksa dilakukan Dimitri terasa sia-sia karena pada akhirnya Chloe akan berubah menjadi vampir juga.
Dia berteriak begitu keras dan panjang hingga semua burung gagak yang bersembunyi dalam rindangnya pohon beterbangan keluar.
“Kamu sudah selesai meratapi nasibmu? Sekarang serahkan Dwayne kembali pada ibunya.”
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
__ADS_1
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...