Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Peanut, Kamu adalah Cucuku!


__ADS_3

[Third POV]


“Apakah dia sedang hamil anakmu?”


Katakan tidak, Dimitri!


Dimitri berbalik menghadapnya dan dengan tatapan lembut melihat ke arah wanita yang terbaring di atas kasur.


“Ya, Edric. Dia sedang mengandung anakku.”


Apa? Berani-beraninya kamu menghamili anak gadisku! Sialan kamu, Dimitriiiii!!


Edric tidak dapat menahan amarahnya lagi dan hendak menghunjamkan bogem mentah ke wajah Dimitri ketika mereka mendengar Chloe mengerang pelan.


“Ugh… Aku dimana?”


Mereka berdua langsung mengerubungi gadis itu. Edric duluan berada di sampingnya, disusul oleh Dimitri.


“Chloe, akhirnya kamu sadar. Kamu ingat semalam kamu dihukum cambuk sampai pingsan?” ucap Edric pelan.


Mata sayu Chloe langsung mendelik lebar dan dia mengangkat badannya untuk berdiri tapi Edric mencegahnya.


“Tuan Suarez, tolong aku… Dia… Dia yang sudah melakukannya, tuan. Aku benci dia! Aku benci dia!”


Dimitri mengambil satu langkah mundur mendengar jeritan Chloe, tertampar oleh perkataannya. Chloe panik dan menggenggam tangan Edric dengan kuat, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar seakan teringat dengan cambukan demi cambukan yang Dimitri berikan.


“Aku bukan pencuri, tuan. Aku tidak mencuri kalung berlian milik Putri Adreana… Tapi mereka semua tidak percaya padaku, Tuan Suarez.”


Edric Suarez merapikan rambut panjang Chloe yang menutupi wajahnya, tangannya masih digenggam erat oleh gadis yang sedang gemetaran itu.


“Ssshh… Aku sudah membuktikan bahwa bukan kamu yang mencurinya, Chloe. Kalung berlian asli yang hilang itu juga sudah ditemukan. Ternyata pelayan yang melayanimu, Dorothy lah yang telah menjebakmu atas perintah Putri Adreana.”


Chloe mengernyitkan dahinya, “Lalu? Apa yang akan mereka lakukan pada Putri Adreana?”


Edric menggeleng kepalanya dengan wajah kecewa, “Tidak ada, Chloe. Masalah ini dianggap tidak pernah terjadi. Mereka tidak mungkin mengumumkan ke semua orang bahwa pencurian kalung berlian itu adalah sandiwara yang dibuat pemiliknya sendiri.”


“J-jadi aku telah menerima hukuman tak berarti, Tuan Suarez! Aku menahan rasa sakit di cambuk 20 kali dan dia dapat lolos begitu saja?”


“Maaf, Chloe. Tapi Tuan Petrova tidak mau nama baik putrinya tercemar… Sebagai gantinya, dia akan memberimu kompensasi karena telah merugikanmu.”


Lalu Edric menatap Dimitri yang masih berdiri kaku melihat mereka disana. Edric duduk di samping ranjang dan Chloe memegang tangan Edric kuat.


“Aku datang kesini untuk mengatakan itu, Dimitri. Raja dan Tuan Petrova ingin bertemu denganmu untuk membicarakan kompensasi yang akan mereka berikan untuk keponakanmu.”


“Aku tidak butuh kompensasi itu. Aku telah dipermalukan di hadapan semua orang, dihukum secara tidak adil.”


Chloe membuang mukanya, dia sama sekali tidak mau melihat wajah Dimitri.


“Chloe…” Dimitri hendak mendekati gadis itu, tapi dia langsung menghindar lebih jauh.


“Tuan Suarez, aku tidak ingin melihat wajahnya. Suruh dia pergi!”


Dimitri mengatupkan rahangnya keras dan berkata dengan nada tinggi, “Chloe… Hentikan ini! Aku berusaha untuk tidak mencambukmu begitu keras, luka itu juga tidak akan membekas! Kalau Tuan Petrova yang mencambukmu, pasti lukamu akan lebih parah dari ini!”


Chloe menutup telinganya, “Pergi! Aku tidak mau melihatmu, pergiiii!!”

__ADS_1


Edric mendekap tubuh Chloe dan gadis itu membenamkan wajahnya di dada Edric, bahunya gemetaran seperti sedang menangis.


“Dimitri, aku akan mengurus Chloe. Kamu pergi menghadap Raja Rudolmuv dan Tuan Petrova dulu. Dia sedang histeris.”


Dimitri mengepalkan tangannya, dia menatap Edric dengan sinis dan ada rasa cemburu di dalam hatinya saat Chloe begitu dekat dengan pria yang baru saja dia temui.


“Aku akan memanggil Eden kesini. Chloe, setelah aku kembali, aku harap kamu hentikan reaksimu yang berlebihan ini,” ketus Dimitri.


Chloe mengangkat kepalanya hendak berteriak lagi tapi Dimitri telah menghilang dari kamar itu.


Dasar arogan! Reaksi berlebihan katanya? Aku harus menanggung sakit dan malu… Belum lagi ada seorang anak di rahimku…


Tangan Chloe meraba perutnya dengan khawatir.


Anakku!


Lalu dia bernapas lega saat peanut menendang perut Chloe, seakan menjawab panggilan ibunya.


Kamu pasti sudah lapar nak… Mama akan cari makan dulu… Apa kamu juga merasakan sakit saat mama dicambuk? Kamu sungguh kuat, peanut.


Edric tersenyum kecil, “Kamu pasti lapar ya? Aku akan menyuruh pelayan mengantar sarapan untukmu… Kamu harus makan yang banyak dan bergizi karena sekarang kamu makan untuk dua orang.”


Chloe tersentak dan melepas tangannya dari atas perut. “K-kamu tau aku hamil, Tuan Suarez?”


Edric berdiri dan menekan bel di samping kasur, “Tidak perlu takut, Chloe. Aku akan merahasiakan kehamilanmu. Tapi aku ingin bertanya sesuatu…”


Wajah Edric berubah serius dan Chloe menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.


“Apa itu, Tuan Suarez?”


Chloe menatap tangan yang tergeletak di pahanya begitu lama, lalu menarik napas panjang dan berkata, “Ini kehamilanku yang kedua, Tuan Suarez.”


Edric membelalakkan matanya dan tanpa sadar dia mengguncang bahu gadis itu, tapi tidak kuat.


“Dimana anak yang pertama, Chloe? Kamu sudah melahirkannya dengan selamat? Sebenarnya sudah berapa lama kamu mengenal Dimitri?”


Hati Edric menjerit pedih, dia melihat wajah anaknya yang menderita. Lalu teringat akan jeritan Chloe yang mengatakan bahwa dia membenci pria itu.


Chloe pasti dipaksa hamil oleh si brengsek Dimitri! Seharusnya aku tidak menahan diri untuk menghantammu, vampir sialan!


Air mata Chloe jatuh ke telapak tangannya sendiri, “Aku sudah membunuh anak yang pertama sebelum dia dapat lahir ke dunia, Tuan Suarez… Walaupun dia masih berupa gumpalan darah, tapi aku sengaja minum teh pahit itu untuk menggugurkan kandunganku, tuan… Aku telah gagal sebelum aku sempat menjadi seorang ibu…”


Chloe tidak tau mengapa dia bisa merasa nyaman ketika berada di dekat Tuan Suarez. Walaupun pria itu masih muda, tapi ada aura seorang ayah yang membuat hati Chloe tenang dan dapat terbuka mengutarakan isi hatinya.


“Ssshh… Kamu pasti syok saat mengetahuinya, Chloe. Ini bukan salahmu.” Edric membelai rambut lembutnya.


“Dan sekarang aku hamil anak kedua Dimitri. Aku sudah terlanjur sayang pada peanut, tuan… Dia bahkan bisa mengerti apa yang kukatakan, aneh ya? Dia baru berumur 1 minggu lebih tapi sudah bisa menendangku.”


Edric menatap kagum pada perut Chloe. Dia melewatkan fase kehamilan Sofia, tidak sempat merasakan bagaimana Chloe berada di dalam rahim wanita yang dicintainya.


“Peanut? Nama yang sangat lucu. B-boleh aku memegang perutmu?” tanya Edric ragu, dia takut Chloe akan menolak.


Tapi Chloe menganggukkan kepalanya, menyeka matanya yang sembab dan bersandar ke kepala tempat tidur.


“Itu nama panggilan dari ayahnya. Kita belum mencari nama untuk anak ini, tuan.”

__ADS_1


Edric tidak dapat menahan rasa senangnya dan segera meletakkan tangan besarnya di perut Chloe yang sudah kelihatan lebih besar dari semalam.


Peanut memberikan tendangan kecil saat tangan Edric berada di atasnya. Chloe terkekeh pelan, “Peanut, itu adalah paman Suarez. Dia hanya ingin mengucapkan halo. Kamu sangat aneh, peanut. Papamu ingin merasakan tendanganmu, tapi kamu malah diam.”


Edric semakin senang karena dia menang banyak dari Dimitri.


“Benarkah?” matanya berkilap.


“Ya, tuan… Baru kamu orang lain yang merasakan tendangan peanut.”


Ah, anakku… Sangat indah senyumanmu, Chloe. Kamu mengingatkanku pada ibumu… Kalian sama-sama memiliki senyuman yang menawan walau warna mata dan rambutmu lebih mirip denganku, Chloe.


“Boleh aku mendengarnya?”


Edric tidak menunggu jawaban Chloe dan langsung menurunkan kepalanya ke perut wanita itu, tangannya masih berada di atas.


Peanut, kamu adalah cucuku! Tidak dapat dipercaya, aku baru saja menemukan anak gadisku dan sekarang diberi bonus seorang cucu.


THUD!


“Ah, dia menendangku lagi, Chloe.”


Belum sempat Chloe menjawab, tiba-tiba dalam sekejap mata, tubuh Edric Suarez sudah melayang dan terbanting ke dinding.


Geraman Dimitri menggetarkan kaca-kaca di dalam ruangan, dan dia menghantam perut Edric dengan keras. Edric yang dari tadi sudah menahan amarah terhadap Dimitri, langsung membalas dengan meninju wajah Dimitri.


Mereka saling membalas hantaman satu dengan yang lain. Chloe menarik selimutnya erat, dia hanya bisa berkata lirih, “Hentikan! Kalian berdua, hentikan ini!”


Tapi kedua pria itu tidak berhenti, merusak semua perabotan yang berada di sekitar mereka. Kamar itu hancur lebur, namun kasur yang ditempati Chloe tidak tersentuh sedikit pun.


Chloe tidak tahan lagi, dia berteriak tapi suara yang keluar dari tenggorokannya mulai hilang. Dimitri sudah 2 hari tidak minum darahnya!


“Berhentiii…”


“Hey! Hey! Apa yang terjadi?!” Draven masuk ke kamar dan segera melerai kedua vampir yang sedang bergelut.


Mata mereka merah, gigi taring sama-sama muncul, wajah mereka hancur namun perlahan pulih sendirinya.


“Kalian sudah gila? Lihat apa yang kalian perbuat di hadapan Chloe!” jerit Draven saat dia berhasil melerai.


Kedua vampir itu melihat ke arah wanita yang duduk ketakutan di atas kasur.


“Chloe…” Edric duluan yang tenang, dia dapat mengontrol emosinya stabil dan sadar telah menakuti anaknya.


Edric hendak berjalan ke arah Chloe, tapi Dimitri mencengkeram kerah pria itu.


“Jangan dekati Chloe lagi! Dia milikku!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2