
Api membara di perapian, memberi kehangatan di malam yang dingin itu. Aku mendekap mantelku lebih erat lalu mengelus perutku dan tersenyum kecil, menikmati waktu yang tenang di malam sunyi.
Tuan Dimitri sedang duduk di atas meja kerjanya, kelihatannya sibuk menulis sesuatu. Dia bilang tidak akan kembali ke perbatasan utara untuk menunggu kelahiran anaknya. Aku sedikit tenang dengan adanya Tuan Dimitri di sampingku.
Putri Adreana duduk di seberang sofa, sedang merajut dengan penuh konsentrasi. Benang wol berserakan di sekitarnya, dia memilih warna biru untuk membuat topi rajut.
Eden, nenek tua itu sudah kembali ke kamarnya sendiri setelah makan malam. Dia lebih memilih untuk menyendiri.
Tuan Draven juga telah tiba pagi tadi, dia tidak ingin melewatkan kelahiran peanut. Dia duduk di ujung sofa yang sama denganku, menyesap anggur merahnya tapi kulihat sesekali matanya melirik Adreana yang tidak mengacuhkannya.
“Hey, Adreana…” suara Tuan Draven memecah keheningan. Putri Adreana mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Draven sinis.
“Kamu tidak sedang bersandiwara kan? Dengan berpura-pura baik menjahitkan topi rajut untuk anak Chloe… Kamu tidak menyelipkan jarum beracun di dalam topi itu kan?”
Putri Adreana mendesis, “Apa maksudmu, Draven? Kamu pikir aku akan mencelakakan seorang bayi? Aku memang licik tapi aku masih punya hati nurani!”
Tuan Draven tertawa begitu keras, “Ahh, akhirnya kamu mengakui bahwa kamu licik, Adreana. Apa kamu juga sudah minta maaf pada Chloe tentang drama kalung berlian itu?”
Wajah Putri Adreana merah padam, “A-aku sudah minta maaf, ya kan Chloe?”
Aku mengangguk. Sejak kejadian di ruang tamu, Putri Adreana bersikap baik padaku. Dia bahkan tidak membalas tamparan yang sudah kuberikan tapi dengan syarat aku harus memaafkan perbuatannya di istana. Aku tidak ingin berseteru dengan siapa pun jadi aku menyetujuinya.
TOK! TOK!
“Permisi, tuan dan nona. Saya mengantar kudapan yang baru selesai dipanggang koki utama. Silahkan dinikmati.”
Perutku langsung bergemuruh ketika mencium wangi pie yang dibawa masuk oleh Ulrich. Dia meletakkannya di atas meja depan sofa.
“Terima kasih, Ulrich. Maaf sudah malam begini aku masih minta dibuatkan kudapan.”
Ulrich tersenyum ramah, “Tidak masalah, Nona Chloe. Anda pasti lapar meskipun sudah makan malam… Jika kalian butuh sesuatu, katakan saja.”
Sejak perutku sudah tidak bisa disembunyikan lagi, Tuan Dimitri menghapus semua ingatan para pelayan dan pengawal. Bagi mereka, aku adalah Nona Chloe yang dibawa pulang oleh Tuan Dimitri dari Istana Rudolf.
Tidak ada yang berani mengeluarkan gunjingan tapi aku tau dari lirikan mata mereka yang menatapku rendah. Bagaimana tidak? Aku hamil tanpa seorang suami, dan Tuan Dimitri sudah punya tunangan.
Di mata mereka, aku adalah wanita simpanan Tuan Dimitri.
Aku sedikit merasa sedih karena Ulrich juga tidak mengingat aku sebagai Chloe yang bisu. Semua memori tentang pertemanan kami dihapus begitu saja.
__ADS_1
“Kalian mau makan juga?” tanyaku pada ketiga vampir itu.
Mereka hanya makan untuk menghindari kecurigaan manusia. Makanan utama vampir tetaplah darah, walaupun Tuan Draven bilang dia menikmati makanan manusia juga.
Putri Adreana menghentikan kerjaan tangannya dan menatap Ulrich lekat, tanpa mengalihkan pandangannya, dia menjilat bibirnya dan matanya berkilap.
Aku tau tatapan vampir yang sedang lapar, “Itu saja, Ulrich. Kamu bisa istirahat malam ini.”
“Baik, permisi nona, permisi tuan.”
Ulrich keluar dari ruangan dan dalam hitungan detik Putri Adreana meletakkan rajutannya ke atas sofa dan pergi mengikutinya.
Tuan Draven dengan cepat menarik lengan Putri Adreana, “Mau kemana, Adreana?” dia menaikkan satu alisnya dengan jahil.
Wajah Putri Adreana memerah dan menepis tangan pria itu, “Mencari mangsa… Kamu mau ikut, Draven? Ah, tapi aku lebih suka menikmati mangsaku seorang diri. Aku tidak suka berbagi!”
Tuan Draven tertawa kecil, “Jadi seleramu manusia seperti itu?”
Putri Adreana melipat kedua tangannya di depan dada, “Emangnya kenapa? Dia pria yang tampan dan bisa memuaskan rasa hausku.”
“Hei, bisakah kalian membicarakannya di luar?” tegur Tuan Dimitri.
Kedua vampir itu menoleh melihatku dan nyengir lalu pergi keluar.
“Kamu sedang menulis apa, tuan?” aku meletakkan piring itu di mejanya, melihat dengan bingung pada tulisan yang tidak aku mengerti.
Tuan Dimitri merebahkan punggungnya pada kursi, “Hanya menyusun beberapa strategi baru bila nanti perang beneran terjadi.”
Dia menarik lenganku dan mendudukkanku di pahanya, lalu mengelus perutku.
“Aku khawatir peanut akan tumbuh besar di saat perang terjadi…”
“Masih belum ada kabar pasti bahwa Raja Azov akan menyerang. Tenang saja, babu kecil. Kamu dan anakku akan aman disini.”
Aku menyendok secuil pie dan menyuapi Tuan Dimitri, dengan patuh dia mengunyah, “Ehmm.. Ini enak tapi yang aku mau bukan ini.”
Matanya melihat leherku.
“Kamu baru saja minum darahku tadi pagi, tuan. Apa tidak cukup?” protesku tapi tanganku melepas kancing kerah dan menggesernya ke samping.
Tuan Dimitri menjilat bekas gigitan di leherku, “Tidak akan ada kata cukup untuk darahmu, Chloe.”
__ADS_1
“T-tunggu! Kita belum memilih nama untuk peanut,” ucapku berusaha menghindar.
“Menurutmu apa nama yang tepat untuk anak kita?” Tuan Dimitri menghirup aroma di sekitar leherku.
Aku berpikir keras, beberapa nama sudah terlintas di benakku, tapi aku ingin melihat langsung wajah anak ini dulu baru menentukan nama yang tepat.
“Apa kamu yakin anak ini cowok, tuan? Kalau begitu aku ingin memberikannya nama yang gagah namun memiliki arti yang baik.”
“Ok, kamu bisa berpikir dulu sambil aku minum darahmu, Chloe.”
Aku meringis saat merasakan gigi taringnya di leherku.
Berpikir? Aku tidak sanggup memikirkan apapun selain namamu yang keluar dari mulutku, Dimitri.
“Aah… Aaarrghh, aduhh…”
“Kenapa, Chloe? Apa aku menggigit terlalu keras?” nadanya bingung dan khawatir saat aku menjerit kesakitan.
“B-bukan… Arrghhh, perutku terasa kencang.”
Dimitri meletakkan tangannya di perutku, “Kamu kontraksi, Chloe. Mungkin dia akan lahir malam ini…”
Apa? Ini lebih cepat beberapa hari dari perkiraan Eden!
Tuan Dimitri mengangkat tubuhku dan berlari menaiki tangga ke kamarku, dia membaringkanku di atas kasur.
Aku menjerit lagi saat kurasakan ada sensasi letupan kemudian cairan keluar dari bawah, “D-dimitri, sepertinya air ketubannya sudah pecah…”
Tuan Dimitri mendelik, “Tunggu sebentar, Chloe! Aku akan memanggil Eden!”
Tidak butuh lama, Eden masuk dan memeriksa perutku. Tubuhku sudah berkeringat dan kontraksi yang semakin lama semakin kencang.
“Anakmu akan lahir malam ini, Tuan Dimitri. Kamu bisa keluar dan menunggu di bawah.”
Wajah Tuan Dimitri penuh kekhawatiran, “Aku akan menyaksikan anakku lahir dengan mata kepalaku sendiri.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
__ADS_1
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...