Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Misi Penyelamatan


__ADS_3


Mereka tiba di depan gerbang penjara Noxus dan sedang sibuk merobohkan gerbang terbuat dari kayu kokoh. Biasanya para penjaga dengan busur sudah berada di atas, bersiap untuk melindungi penjara ini. Namun sejak kedatangan Nelson, semua manusia telah tewas.


Hanya tersisa para kriminal di sel bawah tanah yang dia simpan untuk dijadikan santapannya.


BRAAKK!


Gerbang itu berhasil roboh juga setelah dengan kekuatan empat vampir bergabung untuk mengayunkan batang kayu.


Mereka berjalan masuk ke lapangan penjara Noxus dan sudah disambut Nelson.


“Well, teman-teman. Sangat senang dapat melihat keramaian ini. Kalian datang khusus untuk menyambutku hadir ke dunia vampir?”


Nelson tertawa sambil menepukkan tangannya.


“Nelson, seharusnya aku membunuhmu langsung di pantai Sardinia!! Dimana anak kecil dan wanita yang kamu sandera?!” Dimitri sudah mengeluarkan pedangnya.


“Woah, woah. Tenang dulu… Selama mereka ada di tanganku, kalian jangan bertindak gegabah. Bagaimana kalau kita berkompromi dulu?”


“Dimana Adreana?!” seru Draven yang dari tadi sudah tidak tahan untuk membunuh Nelson.


Nelson memicingkan matanya, “Kamu siapanya Adreana? Wanita cantik itu sekarang adalah milikku.”


Draven menggeram dengan begitu keras namun pedang Dimitri menahan tubuhnya, dia menggelengkan kepala pada Draven.


“Bagus, bagus. Kamu tau apa yang akan terjadi jika kamu melangkah mendekatiku? Ya, Adreana akan mati hanya dengan jentikan jariku. Sekarang, di dalam aula, seorang kriminal sedang menunggu perintahku untuk membenamkan pedang berlapis perak ke jantung Adreana.”


Nelson menaikkan alisnya, “Tentu saja kalian tidak mau teman vampir kalian mati mengenaskan.”


“Apa kesepakatan yang ada di benakmu, Nelson?” tanya Alaric.


Nelson tampak berpikir sebentar. “Hmm… Tentu saja aku ingin bebas dari sini dengan selamat. Bagaimana kalau aku menukar Adreana dengan nyawaku?”


“Deal!” ucap Draven langsung.


“Tidak bisa. Kamu harus mati, Nelson. Sudah ada perintah dari atas untuk mengeksekusimu. Kamu bukan hanya membunuh manusia, namun kamu telah mengubah ratusan prajuritmu menjadi vampir dengan tujuan untuk membentuk bala tentara.”


“Apa aku mengenal kalian bertiga? Aku hanya tau wajah dia, Komandan Perang Kerajaan Rudolmuv!”


Selama mereka berbicara, Chloe terus mengintip ke dalam aula, dia harus tau bagaimana wujud aula itu baru dia bisa menggunakan kekuatannya.


“Aku Alaric, utusan Magnus, ketua klan Children of the Night.”


Nelson mendengus. “Apa dia orang penting?”


“Kamu tidak mau main-main dengannya, Nelson. Dia bahkan sudah ada sebelum dunia ini memiliki peradaban.”

__ADS_1


“Uhhh… Aku sangat takut…” Lalu dia mendangakkan kepalanya dan tertawa keras.


Di saat itu juga Chloe menghilang dari lapangan itu, masuk ke aula penjara Noxus. Benar saja seperti perkataan Nelson, seorang pria berpakaian compang-camping sedang memegang pedang berlapis perak.


Dengan sigap Chloe menjentikkan jarinya dan membuat kriminal itu berlari menyerang Nelson di luar. Lalu dia segera menebas rantai besi yang mengikat wanita itu.


Chloe membayangkan kamarnya sendiri namun kastil Edric terlalu jauh untuk dia berteleportasi dengan membawa satu tumpangan.


Sial! Aku masih tidak bisa teleportasi sejauh itu!


Wanita yang dari tadi hanya bisa membelalakkan matanya, akhirnya sanggup berbicara.


“C-Chloe? Kenapa kamu menyelamatkanku? Tidak… Kenapa kamu masih hidup?”


Rantai-rantai besi masih bergelantungan di kedua tangan dan kaki Adreana. Chloe sedang mencari kunci untuk membukanya, ketika tangan Adreana mencengkeram kakinya.


Dia masih tergeletak tak berdaya di lantai. Sudah terdengar suara keributan dari depan aula. Tiga vampir berpengalaman melawan satu vampir baru lahir? Tentu saja Chloe bisa tenang.


“Chloe, kamu benar-benar masih hidup.” Mata Adreana berair, dan air mata jatuh dengan deras.


Chloe melupakan pencarian kunci untuk sementara waktu dan berlutut di depan Adreana. Sepertinya wanita ini juga mengenalnya sewaktu dia masih seorang manusia. Mungkin saja mereka adalah teman baik hingga wanita cantik ini menangis tersendu-sendu.


“Adreana, kamu sudah aman sekarang. Dimitri dan Draven juga ada di depan. Mereka datang untuk menyelamatkanmu.”


“Draven… Dia juga datang?”


Tangisan Adreana semakin pecah dan Chloe menyingkir untuk memberi dua insan itu privasi.


Tangan Draven menangkup di wajah Adreana, “Maaf, maafkan aku, Adreana. Kenapa kamu lari dariku?”


Adreana memukul dada Draven. “Kamu jahat, Draven! Aku sebal karena kamu tidak kunjung melamarku! Jadi aku lari untuk membawa Dwayne bertemu Dimitri. Nelson… Dia menyiksaku hingga aku berpikir lebih baik mati daripada menderita karena siksaannya!”


Draven membenamkan kepala Adreana ke dadanya, “Shhh… Semuanya sudah berakhir, Adreana. Nelson tidak dapat menyiksamu lagi.”


“Maaf, tapi dimana anak kecil itu?”


Adreana mengangkat kepalanya dan mengusap matanya, “Dwayne… Nelson membawa dia pergi…”


“Pergi kemana, Adreana??”


Dimitri dan Alaric sudah masuk ke aula penjara setelah selesai mengurus Nelson. Berkat seorang kriminal yang berlari dengan pedang ke arahnya dan membuat perhatiannya terkecoh, tiga vampir itu dapat membekuk Nelson.


Dimitri menebas kepala Nelson menjadi dua, Alaric menghunjam jantungnya dengan pisau berlapis perak. Draven membuang penggalan kepala Nelson di atas api unggun yang menyala.


“Dimitri! Dia bilang dia sudah mengirim Dwayne ke Kerajaan Navarre. Mungkin saat ini kapalnya sudah mengarungi lautan lepas!”


“Sialan! Aku akan pergi ke pelabuhan sekarang juga!” Dimitri bergegas lari keluar.

__ADS_1


“Draven, bawa Adreana ke kastilku. Kalian bisa tinggal disana untuk sementara waktu!” teriak Chloe sambil menyusul Dimitri.


“Dimitri!” panggil Chloe saat mereka sudah keluar dari penjara Noxus menuju kuda mereka yang dibiarkan lepas untuk mencari makan sendiri.


Dimitri sudah naik ke atas Onyx.


“Kapal terakhir sudah pergi dari pelabuhan beberapa jam yang lalu. Kamu tidak mungkin bisa menyusulnya lagi. Kita harus menunggu kapal keberangkatan besok.”


“Apa tidak ada kapal lain, Chloe? Aku harus segera kesana!” Dimitri melajukan kudanya meninggalkan Chloe.


Chloe merutuk dan segera naik ke punggung Stormy untuk mengejar Dimitri.


***



...- Pelabuhan St. Milway -...


Langit sudah gelap saat mereka tiba di pelabuhan St. Milway, pelabuhan yang paling ramai karena menjadi pusat masuk keluarnya barang dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya. Pelabuhan ini juga menjadi satu-satunya tempat kapal berlabuh dari Kerajaan Navarre.


Dimitri sedang bertekak dengan seorang awak kapal. Hanya tersisa satu kapal disana.


“Tidak mungkin, tuan. Tidak peduli seberapa banyak anda membayar, saya tetap tidak akan mengambil resiko untuk mengarungi laut dengan cuaca seperti ini.”


Chloe yang belakangan datang bertanya heran, “Ada apa ini?”


“Nona, tuan ini memaksa untuk menyewa kapal saya pergi ke Kerajaan Navarre. Tapi saya benar-benar tidak berani menantang alam. Semua awak kapal saya juga tidak mau. Lihat… Awan hitam yang berkumpul disana… Badai besar akan terjadi malam ini.”


Ya, Chloe dapat melihatnya dengan jelas bagai amukan langit. Bahkan kilat-kilat menyambar, membelah awan hitam itu dengan cahaya putihnya.


Dia memegang lengan Dimitri, “Kita bisa berlayar besok, Dimitri.”


“Maaf, nona. Badai ini akan berlangsung selama beberapa hari. Percaya pada saya yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja sebagai nahkoda. Banyak teman pelaut yang nekat menerjang badai jenis ini, dan mereka tidak pernah kembali lagi.”


Pria itu membungkukkan badannya memberi hormat dan berlalu pergi. Chloe tidak dapat menerka apa yang dipikirkan oleh Dimitri. Yang dia tau, wajah Dimitri sudah segelap awan di ujung lautan itu.


“Dimitri, kita dapat menyewa salah satu penginapan disini sampai badai reda. Bagaimana?”


Dimitri tidak memberinya jawaban. Lalu Chloe berdiri di hadapannya dan memegang kedua pipi Dimitri.


“Sebenarnya Dwayne itu siapa?”


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...

__ADS_1


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...


__ADS_2