Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Dipermainkan Chloe


__ADS_3

“Pantas saja aku tidak mengingatnya, Dimitri. Kamu pasti pria paling membosankan yang pernah tidur denganku!”


Bahunya berguncang dan dia menahan tawa di balik telapak tangannya. Apa katanya? Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa Chloe yang sudah menjadi vampir sekarang akan mencari kesenangan di atas kasur pria lain.


Tidak pernah terlintas di benakku bahwa dia pasti minum darah pria lain. Aku membayangkan saat kedua taring kecilnya menancap di leher pria itu, menghi*sapnya, dan darahnya masuk melalui tenggorokan Chloe.


Aku menegakkan badanku, berusaha menahan amarah. Aku akan membunuh semua pria yang pernah menyentuh Chloe ku.


“Sudah berapa banyak pria yang tidur denganmu, Chloe? Sebut nama mereka.”


Chloe mendengus, “Terlalu banyak untuk kuhitung!”


“Kalau begitu mungkin aku harus mengingatkanmu kembali, Chloe. Aku tidak keberatan untuk melakukannya sekarang sebagai perbandingan.”


Dia hendak lari mengambil pedangnya namun tanganku sudah mencengkeram kedua lengan Chloe, mendorong tubuhnya hingga kami berdua jatuh ke atas kasur. Panas menjalar ke seluruh tubuhku saat Chloe berada di bawahku dengan ekspresi terkejut.


“Aku sangat merindukanmu, Chloe.”


Aku membenamkan kepalaku ke lehernya, menghirup aroma tubuhnya. Dia tidak memiliki aroma darah yang manis namun gigi taringku memanjang dengan sendirinya.


“Tunggu… Kamu bilang hubungan kita lebih dari pelayan dan majikan. Berarti kamu juga minum darahku?”


Aku mengangkat kepalaku dan mata kami bertatapan. “Tentu saja. Darahmu adalah darah termanis yang pernah kuminum. Setelah kamu pergi dari hidupku, aku tidak pernah menyentuh wanita lain.”


Tanganku hendak menyentuh pipinya tapi aku takut untuk melepaskan cengkeramanku pada kedua lengannya. Tanpa sengaja, mataku turun ke bawah dan melihat buah dadanya naik turun menggodaku. Entah bagaimana Chloe menyembunyikan asetnya di dalam baju zirah. Tak ada yang dapat menyangka Dewa Kematian memiliki tubuh seindah ini.


Chloe menggigit bibirnya dan aku menggeram karena kawanku di bawah sana sudah tidak tahan dengan siksaan ini.


“Apa aku juga wanita terakhir yang tidur denganmu?”


Aku menjawab dengan pasti bahwa hanya Chloe wanita terakhir yang tidur denganku. Tidak ada yang dapat menggantikannya.


“Hmm… Mungkin aku akan memberimu satu kesempatan untuk membuktikan perkataanmu kalau kamu benar-benar sehebat itu selain bertarung di arena.”


Tatapan seduktifnya membuatku menelan ludah.


“Aku tidak akan membuatmu kecewa, Chloe. Hanya namaku yang akan keluar dari mulutmu untuk sekarang dan selamanya,” geramku.


Chloe mengangkat satu alisnya dan tersenyum menggoda. “Kalau begitu, berilah aku sebuah ciuman, Dimitri D’Arcy.”

__ADS_1


Aku tidak percaya telingaku! Chloe memintaku untuk menciumnya? Aku langsung menurunkan wajahku dengan mata terpejam, namun bibirku bukan menyentuh bibirnya, melainkan bertemu dengan kain sprei kasurnya.


Aku membelalakkan mataku dan melihat tidak ada siapa-siapa di bawah tubuhku.


“Chloeee!!!” Aku menjerit frustasi.


Sungguh bodoh aku terjebak dalam permainannya. Dia tidak serius menggodaku! Aku lupa bahwa Chloe dianugerahi kekuatan. Kalau aku tidak salah menebak, dia mempunyai kekuatan berpindah tempat alias teleportasi.


Seharusnya aku jengkel, karena ini membuatnya mudah untuk menghindariku. Namun hanya ada rasa bangga yang menyelimuti hatiku. Chloe ku adalah seorang komandan perang yang ternama dan disegani. Dia juga seorang vampir dengan kekuatan yang besar.


Kemudian aku merebahkan diri ke atas kasurnya, satu tangan di atas perutku yang sakit menahan tawa. Seorang babu kecil berhasil mempermainkan Dimitri D’Arcy.


***



...-Istana Navarre-...


[Third POV]


Di seberang lautan yang dekat dengan Kerajaan Azov berdiri sebuah kerajaan yang lebih kecil. Populasi rakyat disana hanya berkisar 100.000 orang dan tanah mereka tidak seluas kerajaan yang lain. Namun kerajaan Navarre diberkahi dengan hasil laut yang besar. Selama beberapa ratus tahun berdiri, Raja Navarre selalu melakukan penjualan hasil laut ke kerajaan lain.


Semuanya berubah ketika putra mahkota, pangeran Nelson naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal dua tahun lalu. Ambisi anak muda itu untuk memperluas Kerajaan Navarre membuat rakyat takut.


Bagaimana tidak? Mereka yang tadinya hidup tentram dan nyaman harus dibayangi oleh perang yang tiada habisnya. Hasil laut yang mereka tangkap harus digunakan untuk memberi makan para prajurit perang.


Raja Nelson sudah kalah tiga kali dalam pertempuran, namun masih tidak jera untuk menyerang Kerajaan Azov. Dia tidak terima dengan kehebatan Dewa Kematian di medan perang yang membuat prajuritnya pontang panting.


“Sudah hentikan saja ini Nelson. Pernah kah kamu melihat ke bawah? Rakyatmu sudah sengsara karena ambisimu untuk merebut Kerajaan Azov. Beberapa kelompok pemberontak yang menentangmu untuk naik tahta dulu, sudah menyerukan propaganda untuk membuatmu turun dari kursi emas.”


Nelson menatap penasihat tua yang selalu mendampingi ayahnya dan juga mengajarinya banyak hal sewaktu dia masih kecil.


“Ini baru permulaan, Jerrick. Setelah aku menguasai Kerajaan Azov, aku akan menyerang Kerajaan Rudolmuv. Perang kali ini tidak akan gagal. Aku sendiri yang akan pergi untuk mengawasi perang ini berlangsung.”


Nelson menyeringai. Kali ini dia akan mengerahkan bala tentara vampir. Mengenai kelompok pemberontak itu, sudah ada dua ketua dari kelompok berbeda yang mendapat hukuman mati. Namun kelompok baru selalu bermunculan. Nelson yakin ini pasti pekerjaan adik tirinya, Pangeran Lewis yang ingin merebut tahtanya.


Jerrick hanya bisa menggelengkan kepalanya pada anak muda itu. Sedari kecil, dia sudah dapat melihat ambisi Nelson. Sayang sekali ambisi itu berubah ke arah negatif. Semua keputusan yang dia buat tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya.


“Nelson, kabar yang saya dengar bahwa dua kerajaan yang selama ini saling bertikai akhirnya bersatu untuk melawanmu di medan perang. Ancaman kita semakin besar sekarang.”

__ADS_1


“Jerrick, kamu semakin tua semakin penakut. Aku tidak ingin mendengarmu lagi. Silahkan pergi.”


Jerrick menundukkan kepalanya dan bergegas pergi. Di salah satu sudut istana, dia menemui pengawal setianya dan menyerahkan secarik kertas setelah menoleh ke samping kiri dan kanan.


“Berikan ini pada Pangeran Lewis. Dia akan tau apa yang harus dilakukan.”


Pengawal itu memberi hormat dan bergegas keluar dari istana untuk menyampaikan pesan tuannya. Jerrick berharap Lewis dapat menyelamatkan kerajaan ini sebelum lenyap tak bersisa karena amukan Klan Children of the Night.


Lalu Jerrick naik ke lantai paling atas di istana tersebut. Langit sangat cerah hari ini dan dia melepas seekor merpati, segulung kertas sudah diikat pada kaki kirinya.


“Pergilah. Bawa pesan ini pada Kerajaan Azov.”


Merpati itu terbang seakan sudah tau kemana arah tujuannya.



Di atas geladak kapal perang Navarre, Raja Nelson berdiri menatap 10 kapal perang berukuran besar siap berlayar menuju Kerajaan Azov. Semua bala tentara vampir berada di dek bawah yang gelap. Jauh dari paparan sinar matahari.


Seorang prajurit berlutut dengan satu kaki kiri di atas lantai kayu, memberi hormat pada rajanya.


“Raja Nelson. Semua persiapan sudah selesai.”


Nelson tersenyum puas dan berteriak keras yang disambut oleh para awak kapalnya.


“UNTUK KERAJAAN NAVARRE!!”


“UNTUK KERAJAAN NAVARRE!!”


Kapal perlahan bergerak maju mengarungi laut. Angin menerpa wajah dan rambut pirangnya, Nelson menatap lurus ke laut biru tak berujung itu.


“Aku datang khusus untukmu, Dewa Kematian.”


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2