
“You may now kiss the bride,” ucap pendeta yang sudah tidak memiliki rambut di kepalanya. Dia tersenyum haru karena berhasil menikahkan satu pasangan lagi.
Bibir mereka bertemu dalam ciu*man yang sangat manis dan lama. Dimitri merasa ada yang menarik bajunya dan membuka matanya untuk melihat ke bawah, lalu sadar semua tamu undangan tertawa lagi saat si kecil Dwayne mengganggu wedding kiss orang tuanya.
“Papa, Dwayne juga mau cium mama…”
Dimitri menggendong Dwayne sehingga dia bisa mendaratkan kecu*pan di pipi mamanya. Semua tamu undangan pun dipersilahkan berpindah tempat untuk mencicipi makanan yang telah disediakan dan ditata dengan indah, meninggalkan tiga orang yang masih berada di altar.
“Kita akan menjadi keluarga yang bahagia sekarang. Dwayne senang?” tanya Dimitri.
“I’m so happy, papa! Sekarang mama bisa ikut kita pulang ke rumah. Dwayne udah kangen rumah dan Eden.”
Karena mereka tergesa-gesa pergi ke Kerajaan Navarre, Dimitri tidak memberitahu kepada Eden tentang kejadian yang menimpa anaknya itu. Kalau Eden tau, nenek tua yang sudah menganggap Dwayne sebagai Tuan Muda, pasti akan menyusul mereka juga.
“Baiklah, mama akan ikut Dwayne pulang. Tapi sebelum itu, mama harus mengurus beberapa pekerjaan di Kerajaan Azov dulu. Dwayne bisa tunggu mama, ya?” Chloe tidak ingin anaknya kecewa, tapi dia yakin Dwayne pasti bisa mengerti.
“Emangnya kerjaan apa, ma?”
“Pekerjaan mamamu seperti papa, peanut. Dia adalah Komandan Perang. Tapi bedanya mama bekerja untuk kerajaan lain.”
“Oh, Dwayne mengerti. Kalau seperti papa, berarti mama juga jago bertarung. Dwayne juga mau cepat besar biar bisa bermain pedang asli.”
Mereka berdua tertawa melihat ketertarikan Dwayne dalam bertarung. Anak mereka pasti akan menjadi seorang pejuang yang tangguh.
“Jangan terlalu cepat besar ya, peanut. Mama masih pengen gendong Dwayne.”
Bagi vampir, 18 tahun adalah waktu yang sangat singkat. Chloe ingin menikmati setiap detiknya, melihat tumbuh kembang Dwayne, bersama dengan pria yang baru saja sah menjadi suaminya.
Draven dan Adreana tampak menikmati malam pernikahan sahabat mereka dan Dimitri sedang berbicara dengan beberapa pejabat penting di Kerajaan Navarre. Mereka penasaran dan ingin menghadiri pernikahannya, jadi Dimitri tidak mungkin menolak.
Dwayne baru saja dibawa pergi oleh kakeknya untuk melihat kerlap-kerlip cahaya yang mendekorasi taman belakang dan Chloe hendak bergabung ke tempat resepsi ketika Raja Lewis datang menghampirinya.
“Selamat atas pernikahanmu, Chloe. Aku turut bahagia.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Kami sudah merepotkan anda. Aku tidak menyangka taman belakang Kerajaan Navarre yang sudah indah, bisa disulap bagaikan negeri dongeng. Oh, dan juga gaun ini. Terima kasih banyak karena sudah sengaja mempersiapkan gaun pengantin untukku.”
“Chloe, panggil aku Lewis. Aku rasa kita sudah menjadi teman sejak kamu menerima hadiahku dan memakai gaun ini. You look fabulous tonight, Chloe.”
“Terima kasih, Yang—Lewis. Aku tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikanmu. Kalau kamu berkunjung ke Kerajaan Azov, jangan segan untuk memberitahuku. Ah, tapi mungkin aku akan segera pindah ikut Dimitri ke Kerajaan Rudolmuv.”
Chloe menangkap mata Dimitri yang berdiri di meja tamu, sedang berbincang dengan beberapa orang berpakaian mewah layaknya bangsawan. Dia melihat ke punggung Lewis dengan tatapan tajam.
“Oh, tentu saja kamu akan ikut kemana pun suamimu pergi. Kalau saja aku duluan yang bertemu denganmu…,” ucap Lewis sangat pelan.
__ADS_1
Dalam sekejap, Dimitri sudah menghampiri mereka dan merangkul bahu istrinya. “Raja Lewis, terima kasih atas bantuanmu. Besok kami akan berlayar pulang. Kapal yang kusewa tidak mungkin terus menunggu. Kalau kamu ada waktu, berkunjung lah ke Kerajaan Rudolmuv dan ke kastil kami.”
Raja Lewis menarik napasnya, “Tuan Dimitri. Anda sungguh berbaik hati. Aku tidak akan segan untuk berkunjung ke kastilmu.”
“Baiklah kalau begitu, aku dan Nyonya D’Arcy akan naik ke atas duluan.”
Walaupun nada dua pria itu berbicara terdengar normal dan santai, namun siapa pun yang berdiri di dekat mereka pasti dapat merasakan hawa panas yang membakar di bawah cahaya rembulan. Dimitri berjalan pergi sambil merangkul Chloe dan mengec*up kepalanya.
Draven bersiul, “Pengantin baru sudah tidak sabar! Tenang saja, malam ini Dwayne akan tidur di kamar kami.”
Dimitri melambaikan tangannya tanpa menoleh, “Thanks, Draven. Kamu memang teman yang bisa diandalkan.”
*
*
*
Mereka masuk melalui pintu belakang istana dan melewati beberapa pelayan yang sibuk menghidangkan makanan untuk dibawa keluar. Setelah berjalan agak depan dan tidak ada orang di sana, Dimitri berbisik.
“Istriku, bukankah ini saatnya kamu menggunakan kekuatanmu untuk pindah ke kamar? Aku sudah tidak sabar untuk menyantapmu.”
Dimitri belum selesai berkedip, mereka sudah berada di dalam kamar tamu istana.
“Istri yang patuh. Kamu sudah melakukan tugas pertamamu dengan baik. Sekarang giliran aku yang menjalankan tugasku sebagai suami yang baik.”
SREEEK!!
“Dimitri! Kamu mengoyak gaun ini?!” pekik Chloe. “Ini pemberian Lewis! Aku berencana untuk mengembalikan gaun ini besok. Mana mungkin aku menerima barang semahal ini.”
“Lewis??” Dimitri menurunkan gaun itu dari bahu Chloe. “Sekarang kamu memanggilnya dengan nama depan?” Dia menangkupkan tangannya ke buah dada Chloe yang tidak tertutup oleh apapun.
“Ohhhh… I-itu karena dia sudah berbaik hati mengizinkan… Ahh! Mengizinkan kita menikah di sini.”
Dia tidak dapat berkonsentrasi lagi, karena satu tangan Dimitri menyusup masuk turun dari perut ratanya, ke bawah. Jari-jarinya dengan terampil meliuk masuk dan menari. Sedangkan satu tangannya lagi mencubit dan memeli*ntir puncak buah dadanya.
“Ini sebagai hukuman untuk istri yang berani memuji pria lain di malam pernikahan mereka.”
Chloe memejamkan matanya. “D-Dimitri. Aku memang layak dihukum. Ahhh…”
Dia ingin membuka kakinya yang bergetar lebih lebar, tangannya memegang lengan kokoh Dimitri. Suaminya itu melu*mat cuping telinganya dari belakang dan mempercepat dorongan masuk dan keluar dua jarinya dari rongga yang sangat basah. Tidak ada lagi yang menahan desa*han Chloe, jadi suaranya memenuhi seluruh isi ruangan.
“Dimitri! Lebih cepat! Aku mau…,”
Di saat dia hampir klima*ks, Dimitri malah berhenti. Dia tertawa pelan di samping telinga Chloe, membuatnya marah.
“Aku salah memberi hukuman, istriku tercinta. Mana ada orang yang menikmati hukuman mereka.
__ADS_1
Seperti ada kepulan asap yang keluar dari ubun-ubunnya, Chloe benar-benar dibuat sebal dengan tingkah suaminya.
“Dimitri! Kamu benar-benar iblis!” Chloe membalikkan badannya dan mendorong dada Dimitri, dan mereka berpindah tempat ke atas kasur dengan Chloe duduk di atas perutnya. Dia mengoyak gaun yang masih menutupi dari perut sampai ke bawah dan melemparnya ke lantai.
Selanjutnya, dia menundukkan kepalanya dan melu*mat bibir suaminya. Lidah mereka bertemu dan berlaga di dalam. Ketika Dimitri hendak membalik posisi mereka, Chloe menahan Dimitri dengan kedua tangan menekan di samping kepalanya.
Tapi dia tidak memiliki kuasa saat tangan Dimitri menelusuri kakinya, naik ke atas paha yang mulus tanpa berhenti membalas keganasan luma*tan Chloe. Dia dikejutkan dengan ujung kejantanan Dimitri yang sudah mendorong masuk.
“Hmmppphh…” Chloe menarik bibirnya dan di saat itu juga Dimitri menurunkan pinggul Chloe dengan sekali hentakan keras, membenamkan seluruh dirinya ke dalam mahkota Chloe yang basah.
“Aaahhh… Dimitri!” Kedua tangannya berpindah untuk menopang dirinya sendiri di atas dada kekar Dimitri.
Ketika dia menurunkan pinggul Chloe untuk ketiga kalinya, dia berhenti.
“Kenapa berhenti, Dimitri?” tanya Chloe dengan napas tersengal.
Tangan Dimitri yang semua berada di samping pinggulnya, dia angkat ke belakang kepalanya sambil menyunggingkan seringai jahat. Satu alisnya terangkat ke atas.
“Kamu mau melanjutkannya? Silahkan, Chloe. Seluruh jiwa dan ragaku adalah milikmu.”
Si iblis! Sempat-sempatnya dia memikirkan cara untuk menyiksaku di saat genting seperti ini!
Chloe tidak mungkin menarik tubuhnya, dia sudah merasa penuh dan panas, jadi Chloe menggerakkan pinggulnya, memberi mereka kenikmatan yang tertunda.
Di bawah istrinya, Dimitri menikmati semua liukan tubuh Chloe, matanya terpejam sambil menggigit bibir bawahnya, buah dadanya mengguncang dengan hebat seiring dengan temponya yang semakin cepat. Gigi taring Dimitri gatal untuk menghi*sap dua puncak merah muda itu, namun dia tahan.
Malam masih panjang, rembulan belum menunjukkan tanda-tandanya akan berganti peran dengan matahari. Dimitri ingin merekam memori erot*is ini di benaknya.
Erang*an dan des*ahan Chloe semakin lepas, Dimitri mengeraskan rahangnya saat mahkota Chloe menghimpit kejan*tanannya dengan begitu kuat saat dia mencapai kli*maks.
“F***ck, Chloe!!”
Dimitri menahan dirinya sendiri dan ketika Chloe hampir jatuh di dadanya, dengan cepat Dimitri membalik posisi mereka. Tubuh mereka masih bersatu, dan dia membuka kedua kaki Chloe lebih lebar untuk memberikan beberapa kali hentakan keras sampai dia juga menyusul istrinya dalam kesenangan yang sempurna.
Sebelum badannya yang berat jatuh menimpa Chloe, Dimitri merebahkan tubuhnya di samping badan istrinya dan mendekapnya. Napas mereka menderu silih berganti. Dimitri mengelus rambut Chloe, kepalanya berada di atas dada Dimitri.
Chloe sangat diam. Mungkin dia sudah lelah jadi Dimitri pun memejamkan matanya sebentar. Dia merasakan istrinya bergerak turun dari ranjang.
Setengah matanya terbuka. “Chloe? Kembali kesini, darling.”
Dia berjalan menuju sofa, mencari sesuatu di tumpukan bajunya.
“Chloe? Kamu sedang mencari apa?”
Dimitri baru saja mau beranjak ketika Chloe yang tadinya ada di ujung kamar, sudah duduk di atasnya dengan mengayunkan sesuatu ke dada Dimitri.
Mata belati itu bersinar saat menangkap cahaya rembulan yang menyusup masuk dari jendela yang terbuka lebar, siap untuk mencelakakan korbannya.
__ADS_1